NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Sementara itu...

Di kediaman keluarga Raymond.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ruang keluarga yang biasanya ramai kini masih terang benderang.

Raina mondar-mandir sambil sesekali melirik jam di dinding.

"Richard."

"Hm?"

"Menurut lo, Kak Raymond ke mana, sih?"

Richard yang lagi rebahan di sofa sambil main ponsel mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

"Tapi feeling gue..."

Dia menurunkan ponselnya lalu nyengir.

"...pasti sama Kak Angela."

Raina langsung menyenggol kepala adiknya pakai bantal.

"Dasar!"

"Aduh!" Richard tertawa sambil mengusap kepalanya.

"Sakit tau."

"Biarin."

"Orang Kak Raymond juga nggak pernah pergi lama-lama kalau nggak ada urusan penting."

Richard mengangguk.

"Nah, makanya."

"Berarti memang ada urusan penting."

"Dan urusan penting itu..." Dia menggerak-gerakkan alisnya. "...Kak Angela."

Raina mendengus geli.

"Ih, mulut lo." Belum sempat Richard membalas...

Pintu ruang kerja terbuka.

Edward Wijaya, ayah Raymond, keluar sambil melepas kacamata bacanya.

"Raymond belum pulang?" Raina langsung berdiri.

"Belum, Yah."

Edward mengernyit.

"Biasanya dia selalu ngabarin."

"Nah, itu dia." Richard ikut duduk tegak.

"HP-nya juga susah dihubungi."

Edward mengambil ponselnya lalu mencoba menelepon Raymond.

Tersambung.

Namun...

Panggilannya ditolak.

Edward mengangkat sebelah alis.

"Ditolak?" Raina langsung panik.

"Kenapa ditolak?" Richard buru-buru menenangkan kakaknya.

"Tenang dulu."

"Mungkin lagi nyetir." Edward mengangguk pelan.

"Kalau Raymond lagi nyetir..." ucapannya terjeda "..dia memang nggak pernah angkat telepon."

"Tapi biasanya dia kirim pesan."

Belum sempat mereka melanjutkan obrolan...

Pintu utama kembali terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk sambil membawa secangkir teh.

Diana, ibu Raymond.

"Lho? Masih pada belum tidur?" Raina langsung menghampiri ibunya.

"Ma...Kak Raymond belum pulang." Diana tersenyum kecil.

"Paling juga masih kerja." Richard langsung menggeleng.

"Nggak mungkin."

"Kenapa?"

"Mobil sport hitamnya nggak masuk garasi dari tadi sore." Diana mulai ikut penasaran.

"Terus ke mana?" Raina menghela napas.

"Kami juga nggak tahu." Suasana mendadak hening.

Tiba-tiba...

Ting!

Ponsel Richard berbunyi.

Dia langsung melihat layarnya.

"Oh."

"Ada pesan dari Kak Raymond."

Raina langsung mendekat.

"Apa katanya?"

Richard membuka pesan suara itu.

Suara Raymond terdengar tenang seperti biasa.

«"Aku ke luar kota."»

«"Ada urusan penting."»

«"Jangan tunggu aku."»

Pesan itu selesai.

Raina langsung mengerucutkan bibir.

"Cuma segitu?" Richard mengangguk.

"Iya."

Edward menyilangkan kedua tangan.

"Dia nggak pernah pergi mendadak tanpa alasan." Diana tiba-tiba tersenyum tipis.

"Aku rasa..." Semua langsung menoleh.

"Apa, Ma?"

Diana duduk di sofa sambil menyeruput tehnya.

"Kalau urusannya sampai bikin Raymond ninggalin semua pekerjaan..." perketaannya terjeda sejenak "...berarti orang itu sangat penting buat dia."

Richard langsung menyeringai.

"Angela."

Raina ikut mengangguk semangat.

"Pasti Kak Angela."

Edward menatap istri dan kedua anaknya bergantian.

"Kalian tahu sesuatu?"

Richard langsung batuk kecil.

"Ehem..."

"Nggak juga."

"Cuma nebak."

Raina buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Yah..."

"Kalau misalnya..."

"Kak Raymond benar-benar suka sama Kak Angela..."

"Ayah setuju nggak?"

Edward belum sempat menjawab.

Diana lebih dulu tersenyum.

"Kalau perempuan itu bisa bikin Raymond tersenyum..."

"...Mama nggak butuh alasan lain buat menerimanya."

Raina langsung memekik pelan.

"Yes!"

Richard mengepalkan tangan.

"Gue menang taruhan!"

Leonard mengernyit.

"Taruhan?"

Richard langsung membekap mulutnya sendiri.

"Waduh..."

Raina menepuk jidat.

"Ketahuan."

Edward menatap kedua anaknya dengan tatapan penuh selidik.

"Kalian bertaruh apa?" Richard nyengir canggung.

"Hehe..."

"Cuma taruhan kecil."

"Kalau tahun ini Kak Raymond jatuh cinta..."

"...Raina harus traktir aku sebulan."

"Richard!" seru Raina sambil menjitak kepala adiknya.

"Aduh! Sakit!"

Suasana ruang keluarga yang tadi tegang seketika berubah penuh tawa.

Hanya saja...

Di balik senyum mereka. Edward masih menatap layar ponselnya.

Entah kenapa...

Dia merasa perjalanan Raymond malam ini bukan sekadar perjalanan biasa.

Ada firasat...

Bahwa kepulangan putra sulungnya nanti akan membawa seseorang yang mengubah kehidupan keluarga mereka.

Di ruang keluarga Kediaman Wijaya...

Suasana yang sempat dipenuhi tawa kembali hening.

Edward Wijaya masih menatap layar ponselnya. Entah kenapa, firasatnya sejak tadi tidak tenang.

Pria paruh baya itu kemudian menghela napas pelan.

"Richard."

"Iya, Yah?"

"Kirim pesan ke Rendi."

Richard langsung mengangguk.

"Siap."

Jarinya dengan lincah mengetik pesan kepada Arga, asisten pribadi Raymond.

Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar.

"Udah dibalas."

Edward mengangkat wajah.

"Apa katanya?"

Richard membaca isi pesannya keras-keras.

«"Pak Raymond mendadak membatalkan seluruh agenda besok pagi. Beliau juga meminta saya menggeser rapat direksi ke pekan depan. Katanya ada urusan keluarga yang harus didahulukan."»

Raina langsung membulatkan mata.

"Lho?"

"Kak Raymond sampai nunda rapat?"

Richard mengangguk.

"Iya."

"Ini pertama kalinya, deh."

Diana yang sejak tadi diam akhirnya tersenyum tipis.

"Berarti memang penting." Edward menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Bukan sekadar penting." Tatapannya berubah serius.

"Kalau sampai Raymond meninggalkan pekerjaan..."

"...berarti orang yang sedang dia temui jauh lebih berharga daripada semua jadwal itu."

Ucapan Edward membuat ruang keluarga kembali sunyi.

Raina saling pandang dengan Richard.

Mereka sama-sama memikirkan satu nama.

Angela.

Richard berdeham pelan.

"Yah..."

"Boleh nanya sesuatu?"

Edward mengangguk.

"Tanya aja."

"Kalau..."

Richard menggaruk tengkuknya.

"...misalnya Kak Raymond bawa seorang perempuan ke rumah..."

Edward mengangkat sebelah alis.

"Terus?"

"Ayah bakal gimana?"

Edward tersenyum tipis.

"Ayah cuma punya satu syarat." Raina langsung mendekat penasaran.

"Syarat apa?"Edward menatap kedua anaknya bergantian.

"Perempuan itu harus mencintai Raymond...bukan mencintai nama keluarga Wijaya." Raina terdiam. Richard pun ikut mengangguk pelan. Mereka tahu betul maksud ayahnya.

Sejak kecil, Raymond selalu didekati banyak perempuan. Sebagian besar bukan karena dirinya. Melainkan karena statusnya sebagai pewaris Grup Wijaya. Diana menggenggam lembut tangan suaminya.

"Aku rasa..."

"...anak itu sudah menemukannya."

Edward menoleh.

"Kamu yakin?"

Diana tersenyum hangat.

"Perasaan seorang ibu jarang salah."

"Setiap kali nama Angela disebut..."

"...tatapan Raymond selalu berubah."

Edward terkekeh pelan.

"Padahal dia paling susah nunjukin perasaan."

"Itu justru yang bikin Mama yakin." Raina langsung tersenyum lebar.

"Berarti Mama setuju kalau Kak Angela jadi menantu?"

Diana tertawa kecil.

"Kalau dia memang perempuan yang bisa membuat kakakmu bahagia..."

"...kenapa harus ditolak?"

"Yeay!" Raina langsung memeluk ibunya.

"Mama memang paling baik!" Richard ikut tertawa.

"Kasihan juga Kak Angela."

"Lho, kenapa?"

"Belum jadian aja..."

"...udah diwawancarai calon mertua." Semua langsung tertawa.

Bahkan Edward yang biasanya paling serius pun ikut menggeleng sambil tersenyum.

Namun...

Belum sempat suasana hangat itu bertahan lama...

Ponsel Edward tiba-tiba berdering.

Tring... Tring...

Layar menunjukkan nama yang sangat dikenalnya.

Raymond.

Edward langsung mengangkat panggilan itu.

"Raymond."

Suara Raymond terdengar tenang dari seberang.

«"Yah."»

"Kamu di mana sekarang?"

«"Masih di jalan."»

"Semua baik-baik saja?"

Beberapa detik Raymond terdiam.

Lalu ia menjawab pelan.

«"Aku lagi nganter Angela pulang ke kampung."»

Edward saling pandang dengan Diana. Tatapan keduanya langsung berubah.

"Ada apa?"

Suara Raymond terdengar lebih berat dari biasanya.

«"Ibu Angela sakit keras."»

«"Kondisinya kritis."»

Ruang keluarga yang tadi penuh tawa mendadak sunyi. Raina spontan menutup mulutnya. Richard pun tak lagi bercanda.

Edward menarik napas panjang.

"Kamu sudah melakukan hal yang benar."

«"Iya, Yah."»

"Dengarkan Ayah." Suara Edward terdengar mantap.

"Selama Angela membutuhkan bantuan..."

"...jangan pernah tinggalkan dia sendirian."

Raymond terdiam sesaat. Lalu menjawab dengan penuh keyakinan.

«"Saya juga nggak berniat ninggalin dia."»

Mendengar jawaban itu, sudut bibir Edward terangkat membentuk senyum tipis.

"Bagus."

"Kalau butuh apa pun..."

"...telepon Ayah."

«"Siap."»

Panggilan pun berakhir.

Edward menurunkan ponselnya perlahan.

Diana menatap suaminya penuh tanya.

"Gimana?"

Edward tersenyum tipis.

"Anak kita..."

"...akhirnya menemukan seseorang yang ingin dia lindungi seumur hidupnya."

Kalimat itu membuat Raina langsung memekik pelan sambil memeluk Richard.

Sedangkan di luar rumah...

Langit masih diselimuti awan gelap.

****

Mobil Raymond terus melaju membelah gelapnya malam. Gerimis yang tadi turun perlahan mulai reda, menyisakan jalanan yang masih basah. Lampu-lampu desa mulai terlihat di kejauhan. Angela menatap keluar jendela. Matanya sembab, tapi tatapannya jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu. Dia melirik jam di dashboard.

"Pukul setengah dua..." gumamnya pelan.

"Sebentar lagi kita sampai."

Raymond mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

"Iya."

Angela melirik wajah Raymond dari samping.

Rambutnya masih sedikit berantakan karena hujan tadi. Matanya tampak lelah.

Namun kedua tangannya tetap mantap menggenggam setir. Angela menggigit bibir pelan.

"Ray."

"Hm?"

"Kamu belum istirahat dari tadi."

"Nggak apa-apa."

"Bohong." Raymond terkekeh pelan.

"Kenapa yakin aku bohong?"

"Soalnya mata kamu merah." Raymond hanya tersenyum tipis. Angela menghela napas, lalu membuka tasnya.

"Tunggu sebentar."

"Hm?" Dia mengobrak-abrik isi tas sampai akhirnya menemukan sebungkus tisu basah.

"Nih." Raymond melirik sekilas.

"Buat apa?"

"Bersihin muka kamu." Raymond mengangkat sebelah alis.

"Sekarang?"

"Iya."

"Nanti aja." Angela langsung mendelik.

"Raymond."

"Hm?"

"Aku nggak suka ngulang dua kali."

Raymond terkekeh kecil.

"Iya, Bu Guru."

"Nah, gitu." Angela mengambil satu lembar tisu basah.

"Lepas tangan kiri kamu sebentar."

Raymond menurut.

Angela dengan hati-hati mengusap pelan wajah Raymond.

Mulai dari pelipis...

Pipi...

Sampai sisa cipratan lumpur kecil yang menempel di rahangnya.

Gerakannya lembut.

Penuh perhatian.

Raymond diam saja.

Sesekali matanya melirik Angela yang terlihat sangat fokus.

"Udah."

Angela membuang tisu itu ke kantong sampah kecil di pintu mobil.

"Nah."

"Sekarang kelihatan ganteng lagi."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Begitu sadar apa yang baru diucapkannya...

Angela langsung membeku.

Matanya membulat.

"Eh..."

"Maksud aku..."

"Bukan..."

Raymond menahan senyum.

"Bukan apa?"

Angela buru-buru melambaikan kedua tangannya.

"Maksudnya..."

"...lebih rapi."

"Iya."

"Bukan ganteng."

"Oh."

Angela memukul pelan lengannya.

"Ih, jangan diulang!"

Raymond terkekeh pelan.

"Padahal aku nggak bilang apa-apa."

Angela langsung mengerang malu.

"Ya Allah..."

"Kok mulut aku keceplosan, sih."

Melihat reaksi Angela, sudut bibir Raymond kembali terangkat.

Senyumnya kali ini lebih jelas.

Angela yang melihatnya langsung menunjuk wajah Raymond.

"Nah!"

"Apa?"

"Kamu senyum lagi."

Raymond pura-pura nggak tahu.

"Emang?"

"Iya."

Angela menyilangkan tangan di depan dada.

"Fix."

"Apa?"

"Kevin , Arga sama Rio pasti nggak bakal percaya kalau lihat ini."

Raymond menggeleng pelan.

"Jangan kasih tahu mereka."

Angela tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Nanti mereka berisik."

"Hahaha..."

Suasana di dalam mobil yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan berubah hangat.

Namun...

Kebahagiaan kecil itu hanya bertahan beberapa menit.

Di tikungan menuju Desa Sukamaju...

Dari kejauhan terlihat kerumunan warga.

Lampu kendaraan memenuhi pinggir jalan.

Beberapa orang berdiri sambil berbisik-bisik.

Angela langsung menegakkan badan.

Keningnya berkerut.

"Ray..."

"Hm?"

"Itu..."

Dia menunjuk ke depan dengan tangan gemetar.

"Itu jalan masuk ke desaku."

"Tapi..."

"Kenapa ramai banget?"

Raymond ikut memperlambat laju mobil.

Sorot matanya berubah tajam.

Firasat buruk kembali muncul.

Mobil terus mendekat.

Semakin dekat...

Semakin jelas terlihat sebuah ambulans terparkir di depan gang menuju rumah Angela.

Jantung Angela langsung berdegup sangat kencang.

Wajahnya seketika pucat.

"Nggak..."

Air matanya kembali menggenang.

"Nggak... jangan bilang..."

Belum sempat mobil berhenti sempurna...

Angela sudah membuka sabuk pengamannya.

"Angela!"

Raymond belum selesai memanggil.

Angela lebih dulu membuka pintu mobil dan berlari sekencang mungkin menuju kerumunan warga.

"IBUUU!!"

Teriakannya memecah sunyinya dini hari.

Raymond langsung mematikan mesin mobil dan mengejar Angela tanpa membuang waktu sedetik pun.

Di balik kerumunan warga...

Seorang perempuan paruh baya sedang dibaringkan di atas brankar ambulans.

Matanya masih terpejam.

Wajahnya pucat.

Dan tangan kanannya...

Masih menggenggam erat selembar foto kecil Angela semasa wisuda SMA.

"Ibu...!"

Suara Angela bergetar, nyaris berubah menjadi isak tangis.

Dia menerobos kerumunan warga tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

"Permisi... permisi!"

"Angela datang!"

"Itu Angela!"

"Kasihan, baru sampai..."

Bisik-bisik warga terdengar di mana-mana.

Namun Angela sudah tidak peduli.

Begitu melihat sosok ibunya terbaring di atas brankar ambulans, kedua kakinya langsung melemas.

"Ibu..."

Dia berlutut di samping brankar.

Tangannya yang gemetar perlahan menggenggam tangan ibunya.

Tangan itu terasa dingin.

Sangat dingin.

"Ibu..."

Angela mengusap perlahan punggung tangan wanita yang telah membesarkannya seorang diri.

"Angela pulang, Bu..."

"Maaf..."

"Maaf Angela baru sampai...."

Air matanya jatuh satu per satu membasahi selimut tipis yang menutupi tubuh sang ibu.

Seorang perawat menghampiri.

"Mbak, tolong jangan terlalu mengguncang pasien."

Angela buru-buru mengangguk.

"I-iya..."

Dia mengusap air matanya, berusaha menenangkan diri.

Saat itulah...

Kelopak mata sang ibu bergerak pelan.

"Ibu!"

Angela langsung mendekat.

"Bu... ini Angela."

Pelan-pelan, wanita paruh baya itu membuka mata.

Pandangannya masih buram.

Namun saat melihat wajah putrinya...

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tipis.

"...Nduk..."

Suara itu begitu lirih.

Hampir tak terdengar.

Angela langsung menggenggam tangan ibunya lebih erat.

"Iya, Bu."

"Angela di sini."

"Aku pulang."

Sang ibu mengangkat tangan kirinya dengan susah payah.

Jemarinya yang kurus menyentuh pipi Angela.

"Kamu..."

"...kurusan."

Angela tertawa di sela tangisnya.

"Ibu malah sempat-sempatnya ngomongin aku."

"Ibu yang bikin Angela khawatir."

Wanita itu menggeleng pelan.

"Ibu..."

"...nggak mau..."

"...ganggu kuliahmu."

Angela menunduk.

Tangisnya pecah lagi.

"Ibu jangan ngomong gitu."

"Angela lebih milih nggak kuliah daripada kehilangan Ibu."

Ucapan itu membuat beberapa warga ikut menyeka sudut mata.

Pak RT yang berdiri tak jauh dari sana menghela napas panjang.

"Anak itu memang sayang banget sama ibunya."

Di sisi lain...

Raymond baru saja tiba.

Dia berhenti beberapa langkah di belakang Angela.

Tatapannya tertuju pada pemandangan di depannya.

Dada Raymond terasa sesak.

Dia tidak ikut mendekat.

Dia tahu...

Saat ini yang dibutuhkan Angela adalah waktu bersama ibunya.

Pak RT menghampiri Raymond.

"Kamu Raymond, ya?"

Raymond mengangguk sopan.

"Iya, Pak."

"Terima kasih sudah nganter Angela."

Raymond menggeleng pelan.

"Sudah seharusnya."

Pak RT memperhatikan Raymond beberapa saat.

Tatapan pemuda itu tenang.

Namun jelas terlihat penuh rasa khawatir.

"Kamu temannya Angela?"

Raymond sempat melirik ke arah Angela.

Lalu menjawab pelan.

"...Orang yang ingin selalu ada buat dia."

Jawaban itu membuat Pak RT tersenyum tipis.

"Bagus."

"Soalnya mulai malam ini..."

"...Angela pasti butuh seseorang yang bisa jadi tempat dia bersandar."

Raymond mengangguk mantap.

"Saya akan tetap di sini."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut...

Seorang dokter keluar dari ambulans.

"Siapa keluarga pasien?"

"Saya!"

Angela langsung berdiri.

Dokter membuka map di tangannya.

"Kondisi ibu Anda cukup lemah."

"Kami harus segera membawa beliau ke rumah sakit kabupaten."

Angela langsung mengangguk.

"Iya, Dok."

"Silakan."

"Tapi..."

Dokter berhenti sejenak.

"Pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut."

"Biaya perawatannya kemungkinan tidak sedikit."

Kalimat itu membuat Angela kembali menunduk.

Jarinya saling menggenggam erat.

Raymond yang berdiri di belakangnya melangkah maju.

Dengan tenang, dia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyerahkannya kepada dokter.

"Dok."

Dokter menerima kartu itu sambil membaca nama yang tertera.

Beberapa detik kemudian...

Ekspresinya berubah kaget.

"Anda..."

Raymond mengangguk singkat.

"Selamatkan ibu beliau dulu."

"Soal administrasi..."

"...saya yang bertanggung jawab."

Angela spontan menoleh.

"Ray, jangan..."

Raymond menatapnya lembut.

"Kita bahas nanti."

"Sekarang..."

Dia mengangguk ke arah ambulans.

"...fokus sama Ibu."

Angela menggigit bibirnya.

Air matanya kembali mengalir.

Namun kali ini...

Bukan karena putus asa.

Melainkan karena untuk kesekian kalinya...

Raymond diam-diam berdiri di depannya, menjadi tameng saat dirinya hampir runtuh.

Di tengah kepanikan itu...

Sirene ambulans kembali meraung.

Pintu ambulans dibuka lebar.

Perawat mulai mendorong brankar masuk.

Angela segera naik ke dalam ambulans sambil tetap menggenggam tangan ibunya.

Sebelum pintu ditutup...

Tatapan Angela bertemu dengan tatapan Raymond.

Tak ada kata-kata.

Raymond hanya mengangguk pelan.

Isyarat sederhana yang seolah berkata,

"Tenang... apa pun yang terjadi, aku ada di belakangmu."

Angela membalas anggukan itu dengan mata yang masih basah.

Lalu...

Pintu ambulans tertutup.

Sirene kembali meraung, membelah sunyi malam menuju rumah sakit.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!