"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radini vs Kenanga
"Hei anak kurang ajar! sudah tua juga bukannya tobat malah mau jadi pebinor!' teriak Dimas terkekeh dan ikut menuju ke arah depan rumah Lingga.
"Dimas berisik" ucap Sahara yang berada di pohon kelengkeng milik Bintang.
"Kamu ngapain di situ?" tanya Dimas
"Sahara lelah habis begadang mengawasi jari itu supaya tidak nempel ke hidung Sahara, jari itu semalam mencoba masuk ke dalam rumah cah Bagus juga" jawab Sahara
"Kenapa tidak kamu bakar langsung?" tanya Dimas
"Aduh Sahara lupa, mungkin karena Sahara tidak minum Agua" jawab Sahara langsung pindah ke punggung Dimas.
"Aku mau kerja"
"Ya sudah kerja saja Sahara tidak akan ganggu"
"Ya kamu turun, pindah sana ke kerajaan Gandradana"
"Malas, maunya sama Dimas saja"
"Dasar hantu pemalas"
"Iya.. Sahara malas" jawab Sahara mulai tertidur dengan tangan melingkar di leher Dimas.
Dimas langsung ke bengkel karena dia sudah sarapan, di sana juga Gibran sudah menunggu bersama para sahabat Dimas yang lain, tapi dia tidak melihat Kenanga yang biasanya sudah menyiapkan kopi untuk semua orang.
"Kenanga mana? perasaan Sigit sudah datang tadi" tanya Dimas
"Aku minta beli persediaan kopi dan gula yang habis di sini, sekalian pesan cup kopi dan beberapa bahan kue" jawab Sadam
"Ko nggak Lo yang beli? kan bisa telepon Cici juga supaya di antar" tanya Dimas
"Itu juga kan di antar, tadi Kenanga sekalian mau membeli bumbu dapur yang habis katanya dan mau mampir ke tempat Anisa untuk mengambil baju Khanza yang sudah selesai di jahit, tadi lupa pas ke sana dengan Sigit" jawab Sadam dan Dimas mengangguk.
"Mbah Dimas mau kopi?" tanya seorang pemuda.
"Tidak ah, saya biasa minum susu" jawab Dimas bercanda.
"Susu?" pekik Sahara terbangun dan langsung turun dari gendongan Dimas.
"Mana susunya? Sahara juga mau susu" tanya Sahara tapi laki laki itu tidak menatap Sahara.
"Mbah mau susu? kebetulan saya bawa susu kotak adik saya, mau?" tanya pemuda itu tersenyum menyodorkan susu coklat pada Dimas.
"Mau! tidak!" jawab Sahara dan Dimas
"Yah... padahal saya ikhlas Mbah, saya mau berterima kasih karena Mbah sudah menyembuhkan adik saya yang kesurupan satu bulan lalu" ungkapnya terlihat murung karena dia tidak bisa melihat Sahara.
"Dimas jangan begitu, kasihan dia" bisik Sahara
"Bilang saja kamu mau susunya" sinis Dimas berbisik juga membuat Sahara cekikikan.
Dimas mengalah, akhirnya dia mengambil susu yang di berikan pemuda itu yang langsung terlihat senang karena Dimas mau menerima pemberiannya, karena saat menolong adik pemuda itu, Dimas sama sekali tidak menerima bayaran.
"Terima kasih ya, nanti jangan biarkan adik kamu bermain di danau tanpa pengawasan orang tua lagi, di sana banyak jin nya" ucap Dimas
"Iya Mbah" jawabnya
"Panggil kak Dimas atau Om Dimas juga boleh" ucap Dimas datar.
"Saya tidak berani Mbah, nanti kuwalat" jawabnya membuat teman teman Dimas tertawa.
"Terserah kamu saja lah" malas Dimas memilih untuk masuk ke ruangannya dan memberikan tiga susu coklat itu pada Sahara yang langsung meminumnya lalu tidur kembali.
••••••••••••••
Di toko Cici.
"Kenapa tidak telepon saja seperti biasa? Nanti Cici antar?" tanya Cici yang sudah mengemas semua pesanan Sadam dan Kenanga.
"Kebetulan Kenanga mau ke tempat kak Anisa ci, mau ambil bajunya Khanza yang sudah selesai di jahit" jawab Kenanga
"Kuliah Khanza lancar?" tanya Cici
"Alhamdulillah lancar ci" jawab Kenanga membayar semua belanjaan itu dan berbalik untuk ke tempat Anisa karena barangnya akan di antar orang Cici.
Bruk.
"Aws... Kang mas kakiku sakit!"
"Astagfirullah, nyai tidak apa apa?" tanya Kenanga saat tiba tiba saja dia bertabrakan dengan Radini di depan toko Cici.
"Kamu sengaja kan menabrak saya supaya saya jatuh!" kesal Radini
"Tidak nyai, kan tadi nyai yang jalan sambil lihat handphone" jawab Kenanga
"Alasan! kamu pasti ingin membuat saya jatuh supaya saya jadi tidak bisa bekerja dan cacat!" bentak Radini
"Nyai sudah, tadi Kenanga memang tidak sengaja, ayo katanya kamu mau beli coklat dan permen untuk anak anak panti" bujuk Hatta mengusap punggung Radini.
"Kang mas saja yang masuk dan beli, saya mau tunggu di mobil karena sepertinya kaki saya keseleo" jawab Radini
"Biar saya bantu berjalan ke dalam mobil" ucap Kenanga.
"Maaf ya Kenanga jadi merepotkan" ucap Hatta
"Tidak apa apa juragan" jawab Kenanga sopan lalu memapah Radini yang masih menatapnya tajam karena kesal Hatta juga bersikap lembut pada Kenanga.
Kenanga tahu dia sedang di tatap tajam Radini, bahkan Kenanga juga melihat keberadaan Luca yang sedang menyeringai ke arahnya di dalam mobil.
"Maafkan saya nyai, saya benar benar tidak sengaja" ungkap Kenanga
"Sengaja ataupun tidak saya tidak peduli, saya hanya ingin memastikan satu hal Kenanga, kamu itu aslinya sudah mati kan" ucap Radini
Kenanga yang tadinya menunduk langsung menegakkan kepalanya dan menatap mata Radini dengan tatapan kosong, dia tidak tahu dari mana Radini punya pemikiran seperti itu tapi Kenanga tidak peduli karena Kenanga bukanlah orang mati
"Nyai yakin bicara seperti itu pada saya yang bisa nyai sentuh, bisa berbicara dengan nyai, makan, bejalan, memiliki anak dan tidur di malam hari?" tanya Kenanga mencibir
"Kamu! Kamu sedang bersandiwara sekarang, aku tahu kamu itu hanya cangkang kosong yang di isi mahluk tak kasat mata!" kesal Radini
"Seperti nyai yang jadi budak Iblis setiap tiga bulan sekali hanya demi kekayaan yang tidak seberapa?" tanya Kenanga menyeringai ke arah Luca yang terlihat terkejut.
Plak.
"Wani sia ngomong Kitu!" bentak Radini menampar Kenanga hingga bibirnya terluka.
"Tentu saja aku berani karena aku bukan budak siapapun, aku sudah kaya tanpa harus menjadi budak Iblis bahkan tanpa harus mengorbankan tubuhku hanya demi kepuasan iblis dan satu lagi... Aku tidak memberikan tumbal keluarga sendiri pada siapapun" bisik Kenanga semakin membuat Radini emosi dan melayangkan tangannya lagi ke arah Kenanga.
Grep.
"Jangan angkat tanganmu lagi kearah istri Sigit Rajasa, atau kamu akan menyesal karena seluruh pasukan ayah Badaruddin akan menyerang tempatmu dan menghabisi seluruh keluarga Sukarna, dan satu lagi, aku tidak takut padamu Radini!" ancam Kenanga memelintir tangan Radini.
"Aakhhh! Kang mas!" pekik Radini mendorong Kenanga sampai terjatuh.
Bruk.
"Ya ampun nyai! Kenanga!" panik Hatta yang malah menolong Kenanga karena Kenanga terjatuh di depannya dengan bibir terluka.
"Kang mas! Aku yang dia lukai dan terluka! Lihat tanganku sakit dia pelintir!" pekik Radini kesal dan berjalan dengan normal padahal tadi dia pincang.
"Hiks... Tidak apa apa juragan, saya tahu saya salah, saya minta maaf" lirih Kenanga berpura pura menangis dan meringis saat mengusap darah di bibirnya.
"Dia berpura pura kang mas, tadi dia menyakiti aku" ucap Radini shok karena tiba-tiba Kenanga berakting tersakiti olehnya.
"Tapi nyai, nyai yang tadi dorong Kenanga, sudah ya jangan begitu lagi, sebaiknya kita pergi, Kenanga kamu mau saya antar ke puskesmas?" tanya Hatta
"Tidak perlu juragan, saya akan di jemput mas Sigit" jawab Kenanga masih terisak.
"Dia bohong!"
"Sudah nyai, Kenanga, tolong maafkan istri saya ya"
"Tidak apa apa juragan" jawab Kenanga melirik Luca yang sedang menatapnya kesal karena gagal membuat Radini di bela Hatta.