Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Amel, Tempat Pendengar yang Baik
Suasana di dalam ruang kelas X6 selalu bervariasi setiap harinya.
Ada kalanya ruangan tersebut dipenuhi gelak tawa saat jam istirahat, namun ada kalanya pula atmosfer berubah menjadi sendu, diwarnai dengan bisikan-bisikan pelan dan mata yang berkaca-kaca.
Di tengah dinamika kehidupan anak-anak kelas sepuluh yang sedang mencari jati diri, ada satu nama yang selalu menjadi rujukan pertama ketika seseorang butuh didengarkan: Amel.
Amelia Putri, atau yang lebih akrab disapa Amel, bukanlah ketua kelas yang tegas mengatur tata tertib, bukan pula siswa yang paling vokal saat sesi diskusi.
Namun, Amel memiliki sebuah keistimewaan yang langka dan berharga, yaitu kemampuan luar biasa untuk mendengarkan.
Ia memiliki telinga yang selalu terbuka dan hati yang siap menampung segala macam cerita.
Bagi anak-anak kelas X6, Amel adalah rumah yang aman.
Di sekolah, tempat di mana ekspektasi akademis sering kali membebani pikiran, dan masalah pertemanan bisa terasa seperti akhir dunia, kehadiran Amel menjadi sangat krusial.
Kisah kebaikan Amel bermula sejak awal masuk sekolah. Di saat teman-teman lain masih canggung dan sibuk membentuk kelompok masing-masing, Amel adalah orang pertama yang menyapa siapa saja tanpa pandang bulu.
Ia selalu ingat detail-detail kecil tentang teman-temannya—siapa yang menyukai K-pop, siapa yang memelihara kucing di rumah, atau siapa yang sering kesulitan memahami materi pelajaran Kimia.
____________________
Suatu sore, di bawah rindangnya pohon mangga di belakang sekolah, Rina—salah satu teman sekelasnya—terlihat menangis sesenggukan.
Rina merasa tertekan karena tuntutan orang tuanya yang memintanya selalu mendapat peringkat pertama.
Ditambah lagi, ia merasa dijauhi oleh sahabat dekatnya sendiri.
Melihat Rina yang hancur, Amel tidak lantas menghakiminya atau memberikan nasihat klise seperti, "Sudahlah, jangan menangis," atau "Kamu terlalu berlebihan."
Amel justru duduk di samping Rina, memberikan sapu tangan, dan membiarkan Rina mengeluarkan seluruh emosinya.
Amel mempraktikkan seni mendengarkan dengan sepenuh hati.
Ia tidak memotong pembicaraan, tidak sibuk dengan gawainya, dan tidak pula mencoba membandingkan masalah Rina dengan masalah orang lain.
Ia hanya memberikan tatapan mata yang hangat dan sesekali mengangguk, menunjukkan bahwa ia benar-benar hadir untuk Rina.
Ketika Rina akhirnya selesai bercerita, Amel tidak langsung menggurui.
Ia bertanya dengan lembut, "Ada lagi yang mau kamu ceritakan, Rin? Aku di sini mendengarkan."
Kalimat sederhana itu memberikan dampak yang luar biasa. Rina merasa dirinya dihargai dan tidak sendirian.
Beban di pundaknya terasa berkurang drastis hanya karena ada seseorang yang bersedia membagi bebannya.
Keahlian Amel dalam mendengarkan bukanlah bakat instan.
Ia pernah bercerita kepada sahabat dekatnya bahwa ia belajar untuk mendengarkan bukan sekadar untuk merespons, melainkan untuk memahami.
Amel percaya bahwa setiap orang yang berbicara sering kali tidak membutuhkan jawaban atau solusi rumit atas masalah mereka.
Mereka hanya butuh didengar, diakui keberadaannya, dan divalidasi perasaannya.
___________________
Hal ini pula yang ia terapkan saat menghadapi Gian. Gian dikenal sebagai pembuat onar di kelas X6.
Ia sering kali berbuat usil dan mengganggu teman-temannya.
Suatu hari, Gian tertidur di kelas dan dimarahi oleh guru piket.
Di jam istirahat, Gian terlihat sangat kesal dan memukul-mukul meja kantin.
Banyak teman sekelas yang menjauhi Gian karena takut atau kesal dengan sikapnya. Namun, Amel justru mendekatinya secara perlahan.
Tap...
Dengan tenang, Amel meletakkan dua kotak susu di meja dan duduk di hadapan Gian.
"Gian, kalau ada yang mengganjal di hati, cerita saja. Tidak perlu dipendam sendiri sampai harus marah-marah begitu," ucap Amel dengan suara yang sangat lembut.
Pertahanan Gian runtuh.
Di luar dugaan, pemuda yang keras kepala itu menceritakan kondisi keluarganya yang sedang di ambang perpisahan.
Gian merasa tidak punya tempat untuk bersandar, sehingga ia mencari perhatian di sekolah dengan cara yang salah.
Amel mendengarkan kisah Gian tanpa menghakimi masa lalunya atau perilakunya.
Ia mendengarkan dengan seluruh empati yang ia miliki.
___________________
Mulai hari itu, Gian perlahan berubah. Ia tidak lagi mengganggu teman-temannya, bahkan ia menjadi lebih fokus belajar.
Ia menghormati Amel sebagai satu-satunya teman yang melihat sisi lain dari dirinya dan menerimanya apa adanya.
Bagi Amel sendiri, menjadi tempat sampah emosional tentu bukanlah hal yang mudah.
Terkadang, cerita-cerita berat yang ia dengar ikut membebani pikirannya. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk menjaga kestabilan mentalnya.
Ia selalu memastikan untuk menyempatkan waktu bagi dirinya sendiri, melepaskan energi negatif melalui hobi menggambarnya, dan bercerita kepada ibunya saat ia merasa kewalahan.
Sebagai pendengar, Amel juga sangat menjaga rahasia.
_________________
Teman-teman kelas X6 percaya seratus persen kepadanya karena ia tidak pernah menyebarkan aib atau cerita pribadi orang lain.
Ia memegang teguh prinsip bahwa kepercayaan adalah hal yang paling mahal dalam sebuah persahabatan.
Berkat keberadaan Amel, kelas X6 memiliki ikatan emosional yang sangat kuat.
Kelas yang awalnya diisi oleh anak-anak dengan berbagai latar belakang dan kepribadian yang berbeda, kini berubah menjadi sebuah keluarga kecil yang solid.
Mereka saling mendukung satu sama lain, karena mereka tahu bahwa di kelas tersebut ada Amel yang akan siap menjadi pendengar jika suatu saat mereka jatuh.
Sikap Amel ini memberikan dampak yang besar bagi lingkungan sekitarnya.
Teman-temannya mulai meniru kebiasaan baik Amel.
Mereka belajar untuk lebih peka terhadap teman sebangkunya, menawarkan bantuan ketika melihat temannya kesulitan, dan tidak segan untuk sekadar bertanya, "Kamu baik-baik saja hari ini?"
Kisah Amel di kelas X6 menjadi bukti nyata bahwa kepedulian yang tulus dapat mengubah sebuah lingkungan.
Ia tidak butuh kekuatan super untuk menjadi pahlawan. Cukup dengan duduk, memberikan waktu, dan membuka hati untuk mendengarkan, Amel telah menyelamatkan banyak hari-hari buruk teman-temannya.
______________
Di penghujung semester, saat pembagian rapor, anak-anak kelas X6 berkumpul dan memberikan sebuah kenang-kenangan untuk Amel.
Mereka memberikan sebuah buku catatan khusus yang dihiasi dengan tulisan tangan dari masing-masing siswa.
Di halaman pertama, tertulis sebuah kalimat yang sangat menyentuh: "Untuk Amel, pendengar terbaik kami. Terima kasih telah menjadi rumah saat dunia terlalu bising. Kami menyayangimu."
Amel membaca tulisan tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia tidak pernah menyangka bahwa kebiasaan sederhananya mendengarkan keluh kesah teman-temannya bisa memberikan dampak sebesar itu.
Hatinya membuncah oleh rasa syukur.
Bagi Amel, teman-teman sekelasnya adalah guru terbaik dalam hidupnya. Dari setiap cerita yang ia dengar, ia belajar tentang arti kesabaran, kekuatan, dan keberagaman hidup.
Ia belajar bahwa di balik senyum ceria seseorang, mungkin tersimpan perjuangan yang luar biasa berat.
Kisah Amel ini akan terus berlanjut seiring berjalannya waktu. Meskipun mereka akan naik ke kelas XI dan mungkin berpisah jurusan, kenangan indah sebagai keluarga di kelas X6 akan selalu melekat erat.
Dan yang terpenting, Amel akan terus menjadi pendengar yang baik, siap merangkul siapa saja yang membutuhkan telinga untuk mendengar dan bahu untuk bersandar.
Bersambung~~~
Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~