Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Memulai hari
Keesokan paginya, Rima terbangun karena suara burung berkicau riang di dahan pohon mangga depan kamar dan aroma nasi uduk hangat yang tercium samar dari dapur Bu Aminah.
Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal, dan tersenyum lebar.
Rasanya seperti baru saja pulang dari perjalanan panjang yang melelahkan, dan kini akhirnya bisa beristirahat di tempat yang paling nyaman di dunia.
Rima bangkit, merapikan tempat tidurnya dengan rapi, lalu membuka lebar jendela kamar.
Udara pagi Jogja yang sejuk dan segar langsung masuk, menyapu wajahnya lembut.
Dari jendela itu ia bisa melihat jalan setapak kecil di depan gang, serta pepohonan hijau yang melambai ditiup angin.
Rasanya damai sekali di sini. Sangat berbeda dengan hiruk-pikuk Jakarta, namun masing-masing memiliki kenangan berharga tersendiri baginya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Rima berjalan ke dapur untuk menyapa Bu Aminah.
Pemilik kost itu sedang menyusun piring di meja makan.
Bu Aminah memang selalu menyediakan sarapan sederhana untuk keluarganya dan juga anak-anak yang kost di situ.
"Pagi Bu Aminah!" sapa Rima ramah.
"Pagi juga Nak Rima. Sudah segar ya. Mari sarapan dulu, ibu sudah siapkan nasi uduk kesukaanmu," ajak Bu Aminah sambil menuangkan teh hangat ke gelas.
"Terima kasih banyak Bu! Ibu benar-benar ingat semua kebiasaanku," kata Rima haru sambil duduk.
"Tentu saja, kamu sudah seperti anak perempuan Bu sendiri.'' jawab bu Aminah sambil tersenyum.
''Yang lain kemana ya bu. Apa belum sarapan?'' tanya Rima sambil memperhatikan kamar-kamar kost yang pintunya masih tertutup rapat.
'' Masih pada di kamar. Mungkin masuk siang. Nanti juga kalau lapar biasanya akan ke sini juga.
Bagaimana rasanya magang di Jakarta? Pasti banyak pengalaman seru dan pelajaran yang didapat ya?" tanya Bu Aminah sambil tersenyum ingin tahu.
Rima mengangguk semangat, lalu bercerita sedikit tentang kesibukannya di kantor, tentang teman-teman yang baik.
Tentang Bu Tia yang sabar membimbingnya, dan tentu saja, tentang seseorang yang sangat berkesan dan mengubah cara pandangnya tentang hidup.
Ia tidak menceritakan semuanya secara detail, cukup menyampaikan bahwa ia bertemu orang yang sangat baik dan tulus padanya.
Bu Aminah mendengarkan dengan saksama, lalu tersenyum bijak.
"Syukurlah kalau begitu Nak. Pengalaman jauh dari rumah itu akan membuat hatimu makin kuat dan matang.''
'' Jalani apa yang kamu rasa benar, dan jangan lupa berdoa serta meminta restu pada orang tuamu ya."
"Iya Bu, terima kasih banyak nasihatnya," jawab Rima mantap.
Setelah sarapan, Rima berjalan kaki perlahan menuju kampus Universitas Gadjah Mada.
Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki sekitar lima belas menit melewati jalanan yang dipenuhi pohon rindang.
Banyak hal yang terasa sama, namun ada juga yang sedikit berbeda.
Ada gedung yang sedang di renovasi, dan beberapa warung di pinggir jalan berganti pemilik.
Namun perasaan rindu dan bangga saat melihat gerbang kampus yang megah itu tetap sama persis seperti dulu.
Hari ini adalah hari pertama masa kuliahnya kembali setelah jeda tiga bulan magang.
Ia berjalan menuju ruang kelas dengan langkah ceria, memeluk erat buku catatannya.
Teman-teman sekelas langsung menyambutnya dengan riang saat melihatnya masuk.
"Heii.. Rima! Kamu sudah balik!" seru Luna, teman sebangkunya yang paling akrab dengannya.
"Kangen banget tau. Gimana rasanya kerja di kantor besar di Jakarta? Pasti keren ya ceritanya!"
Rima tertawa renyah, lalu duduk di tempatnya. "Banyak sekali pengalaman seru dan juga sedikit menakutkan di awal. Nanti kita cerita panjang lebar ya."
Seharian penuh Rima mengikuti perkuliahan dengan penuh semangat.
Ia merasa lebih menghargai setiap materi yang disampaikan dosen, karena pengalaman di kantor kemarin mengajarkannya betapa pentingnya ilmu yang didapat di bangku kuliah untuk diterapkan di dunia nyata.
Pikirannya kini lebih terarah, lebih tahu apa yang ingin ia capai ke depannya.
Siang harinya saat istirahat, Rima duduk di bangku taman kampus sambil membuka ponselnya. Ada pesan masuk dari Mas Andre yang dikirim sejak pagi.
"Semangat ya hari pertamanya kembali ke kampus. Nikmati setiap momennya, dan jangan lupa makan siang. Aku yakin kamu pasti bisa menjalani semuanya dengan baik."
Rima tersenyum lebar, jantungnya terasa hangat membaca pesan itu. Ia segera membalasnya.
"Terima kasih banyak Mas. Aku sudah di kampus sekarang, semuanya terasa menyenangkan. Kamu juga semangat bekerja ya, jangan lupa istirahat."
Tak lama kemudian ponselnya berdering, Andre menelepon sebentar.
"Assalamualaikum Rima. Maaf mengganggumu," sapa Andre lembut.
"Waalaikumsalam Mas. Tidak mengganggu kok, aku senang sekali kamu menelepon," jawab Rima ceria.
"Aku cuma ingin mendengar kabar dari suaramu. Bagaimana rasanya kembali belajar?" tanyanya.
"Sangat menyenangkan Mas. Rasanya ada semangat baru yang berbeda. Aku jadi lebih mengerti kenapa aku harus belajar dengan sungguh-sungguh," jelas Rima tulus.
"Itu kabar yang sangat bagus. Aku senang sekali mendengarnya. Ingat ya, lakukan apa yang membuatmu bahagia, dan aku akan selalu mendukungmu dari sini," ucap Andre penuh keyakinan.
Percakapan singkat itu membuat semangat Rima makin membara.
Ia merasa tidak sendirian, ada orang yang selalu mendukung dan mendoakannya walau terpisah jarak ratusan kilometer.
Malam harinya setelah selesai beres-beres tugas kuliah, Rima duduk di beranda depan kost sambil memandangi langit malam yang bertabur bintang.
Ia teringat kembali perjalanan panjangnya. Dari desa pinggir pantai yang jauh, kuliah di UGM,
lalu berangkat ke Jakarta dengan penuh harap dan cemas, bertemu Andre dengan cara yang paling konyol,
belajar banyak hal, hingga kini kembali ke Jogja dengan hati yang lebih matang dan penuh cinta.
Ia belum tahu kapan tepatnya mereka akan bertemu lagi, belum tahu bagaimana jalan cerita selanjutnya akan berjalan.
Namun satu hal yang ia yakini sepenuhnya. Ia tidak akan terburu-buru, ia akan menikmati setiap langkahnya, fokus pada cita-citanya, dan membiarkan waktu menyatukan mereka di saat yang paling tepat.
Di Jakarta, di ruang kerja yang masih menyala lampunya, Andre juga menatap langit malam dari jendela lantai atas gedungnya.
Ia tersenyum lembut membayangkan Rima yang kini sedang berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Ia pun akan terus berusaha, menunggu dengan sabar, dan menjaga perasaannya tetap utuh sampai gadis itu siap untuk pulang sepenuhnya ke pelukannya.
Mereka berdua kini melangkah di jalan masing-masing, dengan tujuan yang sama.
Menjadi lebih baik, agar kelak saat mereka berdiri berdampingan, mereka bisa saling melengkapi dengan sempurna.
Perjalanan ini belum berakhir, justru kisah cinta mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.