NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. ( Mendadak Gerah)

"Benar, Nona. Kalau kau datang sambil mengajak lima temanmu, nanti kau akan menerima voucher dari toko kami. Jika beruntung akan mendapat dinner gratis saat hari valentine nanti," ucap Andrea gigih meyakinkan. Dia tengah merayu seorang gadis.

"Tidak bisa kalau sendiri saja? Kebetulan aku sedang tidak ada pasangan."

"Disini persyaratannya harus berlima. Tidak harus pasangan yang diajak datang. Anak tetangga bisa, nenek-nenek bisa, tukang buah bisa, supir mobil pun bisa. Yang terpenting jumlahnya harus lima orang."

"Em begitu ya. Baiklah, nanti aku akan coba mencari teman. Terima kasih informasinya,"

"Sama-sama, Nona. Jangan lupa bawa selebaran ini ya saat datang ke sana. Dahhh,"

Dengan penuh semangat Andrea melambaikan tangan pada gadis tersebut. Semoga saja usahanya hari ini tak sia-sia. Jika selebaran yang dia bawa habis tak bersisa dan jumlah pengunjung yang datang ke restoran mencapai target, bonus besar akan Andrea terima. Membayangkan puing-puing uang tersebut membuat kebahagiaan meluap dalam hati.

"Cihh, modal merayu saja sudah sebahagia itu. Paling juga bonusnya tak lebih mahal dari harga sepatuku."

Yang baru saja bicara adalah seorang pria paling diincar wanita di seluruh kota. Mengintip dari jarak dekat sambil bersedekap tangan, terhitung Lucien sudah di posisi ini sejak lima belas menit yang lalu. Di belakangnya, Veroz setia mengekor.

"Tuan, bukankah tadi Anda bilang lapar dan ingin makan makanan ringan? Perlu saya pesan sekarang?"

Pertanyaan yang sukses menarik Lucien dari khayalan. Sambil berdehem, dia berbalik menatap Veroz. Ekspresinya menunjukkan rasa ketidaksenangan.

"Sejak kapan kau di sini?"

"Sejak Anda diam-diam mengintip aktifitas Nona Andrea."

"Tutup mulutmu! Kapan aku melakukan tindakan rendah seperti itu?" amuk Lucien tak terima.

Veroz diam.

"Jam berapa sekarang?"

"Kurang dua jam menuju waktu makan siang. Dan kita sudah mengintip di sini sejak lima belas menit yang lalu," jawab Veroz santai menyampaikan secara detail.

"Ck, sudah ku bilang orang mulia sepertiku mustahil melakukan hal seperti mengintip orang. Kau ini kenapa, Veroz. Sengaja ingin menjatuhkan harga diriku ya?" kesal Lucien bersungut-sungut. Mana bisa tindakannya disebut mengintip. Dia hanya sedang mengawasi saja.

"Saya tidak berani, Tuan."

"Asal bicara kau. Huh!"

Merasa seperti ada yang memperhatikan, diam-diam Andrea melirik arah belakang sambil terus menawarkan selebaran. Tak jauh dari posisinya, dia menemukan aktifitas mencurigakan dari dua orang pria yang mengenakan stelan jas berwarna hitam. Sambil terus menjalankan tugas, perlahan Andrea mulai mendekat.

(Pria mesum itu lagi. Kali ini gadis mana yang ingin diincar. Tak akan kubiarkan dia lolos!)

Langit seakan mendukung niat baik Andrea. Setelah jarak begitu dekat, orang-orang seperti berhenti berlalu-lalang. Kesempatan ini digunakan Andrea untuk mengambil sebuah kayu lalu dia lemparkan ke arah dua pria mesum yang sedang sibuk mengatur strategi kejahatan.

Pletakk

"YAKKKKK!!"

Andrea tersenyum miring.

"Hei orang mesum, kau tertangkap basah olehku. Kali ini kau tidak akan bisa lari!"

Lucien kicep. Sedangkan Veroz, dia agak ngeri setelah menyaksikan sendiri kebrutalan Nona Andrea. Bunyi tabrakan antara kepala dan kayu yang dilemparkan ke arah bosnya, menjadi bunyi paling menghibur di tahun ini. Entah jackpot atau malah masalah baru, yang jelas ini langka.

"Mau alasan apalagi kau sekarang hah? Masih ingin mengaku kalau kau adalah pria baik-baik?!" tuduh Andrea sinis. Tanpa ragu dia menjinjitkan kaki agar bisa sejajar dengan wajah si pria mesum. "Ini tempat terbuka lho, dan kalian terang-terangan mengatur rencana untuk berbuat cabul. Apa tidak malu?"

"Kau ... kau ....

"Kau apa? Sudah tertangkap basah masih tak mau mengaku juga?"

"Aku kemari untuk meminta ganti rugi." Lucien menelan ludah. Bukan karena takut, tapi tiba-tiba saja dia kegerahan setelah melihat dari jarak dekat bibir Andrea yang berwarna pink natural. Tanpa sadar dia bergumam dengan suara yang sangat lirih. "Dia miskin sekali sampai tak mampu membeli lipstik. Bibirnya pink begitu. Sangat jelek."

"Ganti rugi?"

Andrea mengernyitkan dahi.

"Ganti rugi apa?"

"Luka."

"Luka apa?"

"Cambuk. Kau ... kau mencambuk tubuhku sangat parah kemarin."

"Hei, kenapa wajahmu merah begitu? Akukan tidak melakukan apa-apa. Santai saja," ucap Andrea heran.

Sadar, Lucien sontak mendorong wajah Andrea agar menjauh darinya. Setelah itu dia berkacak pinggang sambil mengibaskan jas, gerah.

(Hari ini kenapa panas sekali?)

"Aneh. Langit hari ini sedang mendung kenapa kau malah kepanasan? Ada-ada saja tingkah orang kota," seloroh Andrea terheran-heran. Ekor matanya lalu memperhatikan dari atas hingga ke bawah fisik si pria mesum. "Penampilan orang cabul di kota memang harus serapi ini ya? Di tempat tinggalku biasanya orang yang berpenampilan sepertimu adalah pejabat."

"Hah? Pejabat?"

Veroz hampir saja tersedak.

"Asal kau tahu saja ya, aku ini penguasa dari segala penguasa. Jadi lebih baik kau kondisikan mulutmu. Jangan asal bicara!" protes Lucien tak terima dianggap sebagai pejabat.

(Yang benar saja sekeren ini jadi pejabat)

Teringat akan pesan sang nenek, Andrea akhirnya memutuskan untuk tak lagi meladeni. Dia kembali fokus membagikan selebaran. Tak lupa juga memasang senyum termanisnya untuk memikat orang yang melintas.

"Cihh, apa bagusnya senyum itu? Jelek seperti hantu," ejek Lucien sambil menatap tak berkedip pada Andrea yang sedang tersenyum pada seorang pemuda. Sesaat kemudian, dia kembali merasa kegerahan. Akan tetapi kali ini lebih ke rasa seperti terbakar. Emosi, Lucien membuka jasnya lalu dilemparkan ke arah Veroz. "Mulai besok jangan gunakan merk ini lagi. Bahannya terlalu kasar, tidak cocok di kulitku yang selembut sutra."

"Baik, Tuan," sahut Veroz patuh.

Ternyata selain memiliki gengsi yang super tinggi, bosnya juga pengidap narsistik. Memuji diri sendiri tanpa rasa malu, sungguh menggelitik jika sampai didengar oleh orang lain.

"Apa bagusnya sih dia menebar senyum sambil membagikan selebaran! Kan bisa dilakukan sambil mengomel. Bagus lagi jika membawa cambuk. Membuat mata jadi sakit saja!" gerutu Lucien merasa terganggu dengan interaksi yang dilakukan Andrea. Tangannya gatal sekali ingin membungkam mulut gadis itu supaya berhenti tersenyum.

"Nona Andrea hanya sedang berjuang, Tuan. Karena jika selebaran yang dia bawa habis barulah bonus bisa masuk ke kantong. Anda jangan salah paham," ucap Veroz berusaha menenangkan amarah bosnya yang mulai tak terkendali. Bilang saja cemburu, masih saja menyalahkan orang lain.

"Berjuang macam apa hanya dengan modal menebar senyum. Kalau mendapatkan uang memang semudah itu aku sudah kaya sejak lahir."

"Bukankah Anda memang sudah kaya raya sejak sebelum lahir?"

Ucapan Veroz membuat emosi Lucien kian meluap. Menyadari akan hadirnya bahaya, Veroz segera mengeluarkan trik jitu untuk meredam amarah.

"Saya perhatikan Nona Andrea cukup lihai dalam menarik minat masyarakat. Kebetulan perusahaan sedang butuh orang untuk terjun langsung ke lapangan. Sepertinya mengajak Nona Andrea bergabung bukan ide yang buruk."

Gunung berapi yang hampir saja meledak seketika menjadi tenang setelah mendengar perkataan Veroz. Bak mendapat harta karun yang tak ternilai, Lucien penuh bangga menepuk pundak orang kepercayaannya ini.

"Andrea itu cuma orang biasa, dia tidak mungkin sanggup menjadi bagian dari perusahaan. Tapi kalau kau bersikeras ingin merekrut, silakan saja pilihkan posisi untuknya. Aku sih tidak peduli," ucap Lucien acuh tak acuh.

"Baik, Tuan. Akan segera saya atur."

"Ahh mendadak perutku kenyang. Kita kembali ke perusahaan."

Veroz mengangguk patuh. Dia hanya menggelengkan kepala menyaksikan sang Tiran bersenandung riang sambil berjalan menuju mobil.

(Siapa yang akan menyangka kalau Tiran yang bengis ini akan tunduk pada kebrutalan seorang gadis desa. Hmmm)

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!