Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Lorong panjang yang menghubungkan ruang kerja privat menuju kamar pengantin penthouse suite malam itu terasa bagai jalanan sunyi menuju pengadilan akhirat.
Lampu-lampu dinding kristal yang memancarkan cahaya kekuningan hangat sama sekali tidak mampu mencairkan hawa sedingin es yang kini membungkus seluruh tubuh Liam Oliver.
Pria itu melangkah setengah berlari. Setiap ketukan sepatu kulitnya di atas lantai marmer berdentum keras, berkejaran dengan detak jantungnya yang kian berpacu gila. Kemeja hitamnya yang separuh terkancing tampak berantakan, mencerminkan isi kepalanya yang saat ini jauh dari kata waras.
'Bodoh! Kau pria paling bodoh di atas muka bumi ini, Liam !'
Makian itu terus menggema di dalam benaknya, menguliti habis seluruh kesombongan yang selama ini ia agungkan sebagai seorang pewaris. Selama ini ia berpikir bahwa posisinya sebagai pengantin pengganti adalah sebuah kerugian besar.
Ia mengira dirinya adalah korban manipulasi seorang wanita haus harta yang tidak lagi suci. Namun, lembar demi lembar berkas medis dan investigasi berdarah di ruang kerja sang ayah tadi telah menampar kesadarannya dengan begitu telak.
Noda yang ia salahkan bukan pertanda kehinaan, melainkan bekas luka dari sebuah perisai yang hancur demi melindungi keluarganya.
Istrinya, wanita yang beberapa menit lalu ia maki dengan kata-kata paling kejam, adalah seorang martir yang mengorbankan seluruh masa depannya agar kakaknya, Devon, bisa tetap bernapas.
Rasa bersalah yang teramat pekat kini merayap naik dari dalam dadanya, mencekik tenggorokannya hingga Liam merasa kesulitan untuk sekadar menghirup oksigen. Setiap jengkal kenangan saat ia menyudutkan Mira di atas ranjang kembali berputar otomatis di pelupuk matanya.
"Jangan sentuh aku! Pergi !"Jeritan histeris Mira yang semula ia anggap sebagai akting kepalsuan, kini terdengar bagai jeritan penuh darah dari seorang korban trauma yang kembali dihadapkan pada monsternya.
"Kau tidak lebih dari sekadar wanita penipu yang memanfaatkan situasi !"Kata-kata kejam yang keluar dari mulutnya sendiri malam itu kini berbalik menjadi belati yang menusuk ulu hatinya bertubi-tubi.
Liam tiba di depan pintu kamar pengantin. Tangannya yang besar dan kokoh mendadak gemetar hebat saat hendak menyentuh gagang pintu berlapis emas tersebut.
Telapak tangannya sedingin es. Ada ketakutan luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidup, takut jika ia membuka pintu ini, ia tidak akan lagi menemukan kesempatan untuk bersujud memohon ampun di kaki wanita itu.
Dengan satu sentakan napas yang berat, Liam mendorong pintu kamar tersebut hingga terbuka lebar.
"Mira..."
Suara bariton Liam yang biasanya terdengar tegas dan penuh wibawa kini keluar dalam bisikan parau, pecah oleh badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
Namun, pemandangan di dalam kamar seketika membuat seluruh aliran darah di tubuh Liam membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak di detik itu juga.
Kamar pengantin yang megah itu tampak begitu sunyi. Kain cadar putih milik Mira masih tergeletak mengenaskan di lantai, persis di posisi semula saat Liam merenggutnya dengan kasar. Di atas ranjang king size bernuansa putih, sosok Mira Hazelya tidak lagi meringkuk atau menangis sesenggukan.
Wanita itu terbaring miring di tepi ranjang. Tubuhnya yang mungil tampak begitu rapuh di balik gaun pengantin satin yang kini kusut dan ternoda oleh air mata. Kedua matanya terpejam rapat, menyisakan jejak air mata kering yang mengalir di pipinya yang seputih porselen.
Sudut bibirnya yang sedikit terluka tampak memucat, dan yang paling membuat dada Liam terasa dihantam palu godam adalah tangan kanan Mira yang terkulai lemas di sisi kasur, memegang sebuah botol obat penenang kecil yang penutupnya sudah terbuka dan isinya telah kosong berserakan di atas lantai.
"Mira!!! Mira, bangun!!!"
Aura dingin sang Singa runtuh total tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan luar biasa seorang pria yang jiwanya sedang di ujung tanduk.
Liam menerjang maju, menjatuhkan dirinya di lutut tepat di samping ranjang. Kedua tangan kekarnya yang bergetar hebat meraih bahu sempit Mira, mencoba mengguncang tubuh wanita itu dengan keputusasaan yang memuncak.
Tubuh Mira terasa begitu dingin. Tidak ada respons, tidak ada erangan lembut, bahkan napasnya terasa begitu tipis dan lemah, nyaris tidak kentara di bawah jemari Liam yang kini memeriksa urat nadi di leher jenjang istrinya.
"Tidak... tidak... kumohon jangan sekarang, Mira! Buka matamu! Aku memerintahkanmu untuk bangun!" suara Liam meninggi, bergetar hebat menahan tangis yang mendesak di pelupuk matanya.
Ia merengkuh tubuh rapuh Mira ke dalam pelukan dada bidangnya, mendekapnya dengan begitu erat seolah-olah kekuatan tubuhnya bisa menyalurkan kembali sisa kehidupan ke dalam raga wanita itu.
Rasa sesal yang luar biasa besar mencekik leher Liam hingga air mata pertamanya jatuh, membasahi pundak gaun pengantin Mira. Pria yang tidak pernah tunduk pada siapa pun ini, kini sedang mendekap erat seorang martir yang terluka parah akibat kebiadaban tangannya sendiri.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Mira..." bisik Liam di sela-sela kepanikannya yang kian menggelap, sementara malam semakin larut dan keheningan kamar itu terasa kian mengancam jiwanya.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?