Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDENTITAS BARU DI BALIK TEMBOK MEGAH
Aroma dupa kemenyan yang mahal bercampur dengan bau uap roti kukus segar langsung menyengat indra penciuman Zei begitu ia melangkah melewati lengkungan gerbang selatan Ibu Kota Wilayah. Di atas mereka, tembok batu abu-abu setebal belasan meter berdiri kokoh, memisahkan keliaran Hutan Kematian dengan peradaban pusat kekuasaan yang luar biasa sibuk. Jutaan manusia berlalu-lalang di atas jalanan yang dilapisi batu pualam halus; mulai dari pedagang kain sutra, kereta kuda berlapis perak milik bangsawan, hingga para kultivator jubah panjang yang berjalan dengan dagu terangkat tinggi.
Berkat Token Giok Angin Sejuk yang ditunjukkan oleh Lin Xiao di garis depan, para penjaga gerbang berbaju zirah besi berat sama sekali tidak memeriksa barang bawaan Zei maupun A-Lang. Mereka langsung dipandu melewati jalur khusus, terhindar dari pemeriksaan meridian yang bisa saja membongkar identitas mereka sebagai buronan dari kota kecamatan.
"Luar biasa..." bisik A-Lang, matanya bergerak liar menatap menara-menara sekte yang menjulang tinggi menembus awan di pusat kota. "Zei, tempat ini setidaknya seratus kali lebih besar dari kota kecamatan kita."
"Jangan lengah, A-Lang. Semakin besar kotanya, semakin dalam jurang tempat mereka menyembunyikan bangkai," jawab Zei rendah, menarik caping bambunya agak turun untuk menutupi sebagian wajahnya. Tangan kirinya yang tersembunyi di balik jubah rami baru secara refleks menyentuh permukaan halus selendang sutra putih milik Qian Yue’er yang terlilit di pinggangnya, berfungsi sebagai penahan hawa panas dari Nei Dan ular di kantongnya.
Lin Xiao membawa mereka berdua menuju ke sebuah area distrik barat yang relatif tenang, tempat kompleks gudang dan penginapan rahasia milik Asosiasi Dagang Angin Sejuk berada. Rumah sekilas bergaya halaman kuno itu dikelilingi oleh rumpun bambu hijau yang sengaja ditanam untuk meredam kebisingan kota.
"Pahlawan Zei, mulai hari ini, kalian bisa tinggal di paviliun belakang ini," ucap Lin Xiao setelah memastikan situasi sekitar aman. Ia memberikan dua lembar surat kain sutra bersablon segel resmi asosiasi. "Ini adalah identitas baru kalian. Di mata publik Ibu Kota, kau adalah Zei An, seorang pengawal bayaran independen dari wilayah perbatasan, dan adikmu A-Lang adalah asisten penilai tanaman obat pemula yang bekerja untukku. Selama kalian tidak memicu keributan besar di area inti, Sekte Taring Emas tidak akan bisa melacak kalian di sini."
Zei menerima surat identitas tersebut, membungkuk kecil. "Terima kasih, Nona Lin. Kebaikanmu tidak akan kami lupakan. Bisakah aku meminta satu bantuan lagi?"
"Katakan saja, Pahlawan."
"Tolong cari informasi secara diam-diam tentang seorang pria tua bernama Gu, seorang kultivator bumi paruh baya yang membawa botol arak besar. Dia terpisah dari kami di Hutan Kematian kemarin," tutur Zei, matanya menyiratkan kecemasan yang dalam tentang keselamatan mentornya.
Lin Xiao mengangguk paham. "Aku akan mengerahkan jaringan informan bawah tanah kami di distrik hiburan dan pasar gelap. Jika pria tua itu memasuki kota atau memicu keributan, aku akan segera mengabari kalian."
Setelah Lin Xiao pamit untuk mengurus logistik karavannya yang sempat hancur, Zei langsung mengunci pintu paviliun kayu mereka. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah serius.
"A-Lang, ambil ini," Zei merogoh cincin spasial perunggu pemberian Xuan Yuan, mengeluarkan tiga puluh keping batu spiritual tingkat menengah yang berkilau jernih, serta sisa ramuan pemulih dari kantongnya. "Fondasi fisikmu sudah diperkuat oleh elemen kayu ular semalam. Gunakan batu-batu ini untuk melatih sirkulasi Qi kehidupanmu di atas ranjang giok paviliun ini. Aku tidak ingin kau hanya menjadi penonton di pertarungan berikutnya."
A-Lang menerima batu-batu spiritual itu dengan tangan yang gemetar oleh tekad. "Aku mengerti, Zei. Aku bersumpah tidak akan menjadi beban lagi bagi jalanku dan jalanmu."
Zei kemudian duduk bersila di sudut ruangan yang gelap, beralih fokus sepenuhnya pada dirinya sendiri. Ia mengeluarkan gulungan giok kuno Kitab Sembilan Transformasi Gunung Purba. Begitu batinnya meresap ke dalam deretan huruf emas di dalam gulungan, sebuah aliran pengetahuan baru yang agung membanjiri kesadarannya.
Tahap pertama dari kitab ini disebut Transformasi Kulit Kuarsa. Berbeda dengan teknik Sisik Naga kasar dari Tetua Gu yang hanya melapisi permukaan kulit dengan energi, teknik baru ini mengajarkan cara memadatkan partikel Qi bumi secara mikroskopis ke dalam pori-pori kulit dan daging, mengubah struktur tubuh luar sekokoh dinding gunung tanpa mengubah penampilan luar menjadi kaku.
Zei mulai memutar energi buminya, menyerap esensi batu spiritual tingkat menengah di tangannya dengan kecepatan yang menakjubkan. Sarung tangan besi hitam di kedua tangannya mendadak bergetar lembut, membantu menarik elemen tanah murni dari kedalaman fondasi bangunan paviliun langsung menuju dantiannya. Pendaran emas-kecokelatan yang tebal mulai menyelimuti tubuhnya, merajut sisa-sisa sel yang rusak dengan kerapatan yang luar biasa.
Sementara Zei tenggelam dalam kultivasi rahasianya, di sudut lain Ibu Kota Wilayah yang jauh lebih megah—tepatnya di puncak Menara Es milik Sekte Cendrawasih—seorang wanita muda berpakaian jubah putih salju bersulam burung mistis sedang berdiri di tepi balkon, menatap hamparan salju buatan yang melayang di halaman sekte.
Qian Yue’er menatap telapak tangan kanannya yang masih menyisakan sedikit trauma getaran dari pukulan tanah murni Zei di malam itu. Di sampingnya, seorang tetua wanita berambut perak mendengus dingin sembari memeriksa sebuah laporan gulungan kertas.
"Yue'er, tetua dari Sekte Taring Besi di kota kecamatan terbukti melakukan manipulasi informasi untuk memanfaatkan namamu demi membantai sebuah desa lumpur," ucap tetua wanita itu dengan nada murka. "Mereka sengaja memfitnah pemuda bernama Zei itu sebagai iblis pelarian untuk menutupi keserakahan mereka sendiri atas tanah kuno."
Mendengar itu, mata indah Qian Yue’er berkilat oleh campuran rasa bersalah dan kemarahan. Tebakannya selama ini benar; dia telah dijadikan alat oleh orang-orang serakah itu untuk menindas orang yang tidak bersalah.
"Lalu... di mana pemuda itu sekarang, Guru?" tanya Yue'er, suaranya sedingin es namun ada getaran kecemasan yang aneh di dalamnya.
"Kabar terakhir mengatakan dia melompat ke dalam Hutan Kematian bersama sahabatnya. Kemungkinan besar sudah menjadi tulang belulang," jawab sang tetua datar. "Lupakan masalah kecil itu. Fokuslah pada Turnamen Aliansi Ibu Kota bulan depan. Sekte Taring Emas mendesak kita untuk menyerahkan wilayah tambang barat jika kita tidak bisa memenangkan turnamen tersebut."
Qian Yue’er tidak menjawab. Tangannya secara tidak sadar meraba pinggangnya yang kosong, tempat selendang sutra putih pusaka miliknya biasanya berada.
"Kau belum mati, bukan? Anak petani..." bisik Yue'er sangat pelan ke arah angin malam.
Ia bisa merasakan resonansi gaib yang sangat tipis dari es murninya yang tertinggal di selendang itu. Resonansi itu tidak mati; bahkan sebaliknya, getaran itu kini terasa sedang berada di suatu tempat, bergerak perlahan di dalam tembok besar Ibu Kota Wilayah yang sama dengan tempatnya berdiri saat ini. Benang merah takdir di antara mereka berdua kini telah berpindah ke panggung yang jauh lebih besar dan berbahaya.