Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Udara pagi di Markas Komando EOD Pusat terasa menggigit. Embun masih tebal melingkupi pucuk-pucuk pepohonan pinus di sekeliling benteng beton, sementara warna langit bertransisi perlahan dari keabu-abuan menjadi biru pucat. Di balik gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, kesibukan telah dimulai sejak pukul lima pagi.
Di area parkir utama yang berhadapan langsung dengan lapangan apel, sebuah bus eksekutif berwarna abu-abu tua berlogo kementerian baru saja mematikan mesinnya. Pintu bus terbuka dengan desis angin yang nyaring. Dari dalamnya, satu per satu dari 35 orang warga sipil terpilih mulai melangkah turun.
Suasana penyambutan itu sederhana, namun sarat dengan aura disiplin yang tak terelakkan. Tidak ada karpet merah atau musik sambutan hangat. Yang ada hanyalah garis-garis pembatas kuning yang dicat rapi di atas aspal, barisan personel berpakaian dinas lengkap yang berdiri tegap di sepanjang koridor menuju aula penerimaan, serta papan petunjuk arah berspesifikasi militer.
...oOo ...
Setiap peserta turun dengan raut wajah campuran antara takjub, tegang, dan lelah. Dan seperti yang sudah diprediksi, hampir seluruh peserta—15 orang wanita dan 20 orang pria—tampak bersusah payah meroda atau menyeret koper-koper besar milik mereka.
Ada yang membawa koper ukuran 28 inci bertutup kain tebal, ada yang membawa dua tas jinjing tambahan, bahkan ada yang kerepotan karena roda kopernya tersangkut di celah kisi-kisi pembuangan air. Bagi warga awam, menjalani pelatihan dua bulan di markas militer berarti harus membawa seluruh 'kehidupan' dan kenyamanan rumah mereka ke dalam barak.
Di antara barisan peserta wanita, Svea tampak melambaikan tangan dengan antusias meski ia sendiri harus menyeret sebuah koper merah menyala yang berukuran hampir separuh tubuhnya. Di sampingnya, Alessia melangkah dengan wajah pucat dan kantung mata tipis, mengenakan pakaian kasual paling rapi namun tampak sama sekali tidak siap menghadapi kenyataan.
Kopernya tak kalah besar, bergoyang canggung setiap kali melintasi celah aspal.
"Svea, aku yakin kita membawa terlalu banyak barang..." bisik Alessia murung, membetulkan tali tas pundaknya yang merosot.
"Tenang saja, Ale! Ini perlengkapan bertahan hidup dua bulan," balas Svea optimis, meski napasnya sedikit terengah-engah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pada pukul 06.30, seluruh 35 peserta telah berbaris di lapangan apel, membentuk formasi bersaf sesuai arahan petugas. Di hadapan mereka, sebuah podium kayu rendah telah disiapkan.
Langkah kaki bersepatu bot yang konstan dan berirama memecah keheningan lapangan. Cherry melangkah menuju podium. Ia mengenakan seragam PDL taktikal hitam berlogo Komando EOD di lengan kanan, rambutnya terikat rapi di belakang kepala, dan wajahnya dipasang dalam ekspresi netral penuh ketegasan profesional.
Sebagai penanggung jawab taktis pelatihan, Cherry berdiri di samping Kapten senior yang bertindak sebagai komandan kompi pelatihan. Cherry menarik napas dalam-dalam, bersiap memberikan pidato pengarahan pertama untuk menyambut warga sipil ini—sebuah momen di mana ia berniat menegakkan otoritas dan batas profesionalisme.
Namun, baru saja Cherry mengangkat pandangannya untuk menyapu 35 wajah di hadapannya, kalimat penyambutan yang sudah ia susun rapi di kepalanya mendadak buyar seketika.
Tenggorokannya serasa tercekat. Kenyataan pahit yang tenang dan damai untuk dua bulan ke depan mendadak hancur berkeping-keping di detik itu juga.
Di sudut barisan warga sipil—di antara barisan pria—ada satu sosok yang berdiri sangat menonjol.
Postur tubuhnya yang tinggi menjulang, tegap, dan proporsional membuatnya mustahil untuk terlewatkan dari pandangan.
Pria itu sama sekali tidak mengenakan pakaian kasual formal seperti peserta lainnya yang memakai kemeja atau jaket tebal. Ia hanya mengenakan kaos polos berwarna abu-abu gelap yang melekat pas di dadanya yang tegap, dipadukan dengan celana cargo taktikal warna hijau zaitun dan sepatu bot kasual.
Evander Vale-Knight.
Pria itu berdiri di sana dengan santai, salah satu tangannya dimasukkan secara tidak formal ke dalam saku celana cargo-nya. Wajahnya yang rupawan, dengan garis rahang tegas dan ketampanan mencolok yang alami, telah menyedot perhatian hampir seluruh peserta wanita di sekitarnya sejak mereka turun dari bus. Beberapa peserta wanita di barisan samping bahkan terang-terangan berbisik-bisik sembari melirik ke arahnya.
Cherry menatap sosok itu dengan mata terpaku, napasnya tertahan. Bagaimana mungkin pria ini bisa ada di sini?!
Dan yang lebih membuat dada Cherry makin berdesir kesal, di samping kaki Evander tidak ada koper besar berukuran 28 inci seperti peserta lain. Pria itu hanya membawa satu koper kabin berukuran sangat kecil—mungkin hanya cukup untuk menyimpan dua pasang baju dan satu perlengkapan mandi.
Kapten senior yang berdiri di samping Cherry meneliti barisan peserta. Matanya berhenti tepat pada Evander dan koper kecil di samping kakinya.
Sang Kapten mengernyitkan dahi, merasa heran dengan perbedaan mencolok antara koper Evander dan koper-koper raksasa milik 34 peserta lainnya.
"Peserta di ujung kanan barisan pria!" panggil Kapten dengan suara bass-nya yang membahana.
Evander langsung menegakkan posisinya, mengeluarkan tangan dari saku celana, dan menatap Kapten dengan ketenangan yang luar biasa. "Siap, Kapten!"
Kapten melangkah mendekati barisan, melirik koper kecil Evander lalu menatap wajah pria itu. "Kau datang untuk pelatihan intensif selama dua bulan penuh, bukan untuk weekend getaway di resort pantai. Kenapa hanya membawa koper sekecil itu? Apa kau tidak punya kebutuhan lain untuk dua bulan ke depan?"
Cherry yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa memutar ingatan dan mengendus kesal. Dalam hatinya, Cherry merutuk tajam: Dasar pria gila! Dia pikir ini perjalanan bisnis ke luar negeri? Atau dia pikir dia sedang liburan eksekutif sampai hanya membawa koper kecil begitu?!
Namun, bukannya terlihat canggung atau gugup di bawah tatapan Sang Kapten, bibir Evander justru terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat khas—senyuman yang sangat dikenal Cherry sejak bertahun-tahun lalu.
Evander melirik sekilas ke arah Cherry, tatapan matanya yang tajam dan hangat mengunci pandangan Cherry hanya selama beberapa detik sebelum kembali menatap Kapten dengan nada suara yang terdengar sangat sopan, namun sarat akan maksud terselubung.
"Siap, Kapten. Semua kebutuhan saya selama dua bulan ke depan sudah disiapkan dan diatur dengan sangat sempurna oleh istri saya," jawab Evander tegas, suaranya terdengar jernih mengudara di lapangan yang hening.
Kapten menaikkan sebelah alisnya. "Istrimu? Dia membiarkanmu hanya membawa koper kecil ini?"
"Siap, benar," lanjut Evander tanpa ragu sedikit pun, sudut matanya melirik kembali ke arah Cherry yang kini berpura-pura menatap lurus ke depan dengan wajah kaku. "Dan kebetulan... istri saya ada di sini, sedang bertugas."
Deg.
Suasana di lapangan seketika dipenuhi keheningan yang aneh.
Beberapa peserta yang belum tahu status pernikahan mereka saling berpandangan dengan wajah bingung dan penasaran, sementara Svea di barisan wanita menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha keras menahan jeritan hebohnya yang hampir meledak.
Alessia yang berdiri di samping Svea hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, menggelengkan kepala melihat tingkah nekat pria bernama Evander itu.
Wajah Cherry terasa panas seketika. Warna kemerahan samar merambat naik ke pipi dan telinganya, meski ia berusaha keras mempertahankan raut wajah dingin dan profesional ala militer. Cherry mengepalkan tangannya di balik punggung, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang mendadak berantakan.
Evander Vale-Knight... kau benar-benar tidak berubah sedikit pun! batin Cherry berteriak frustrasi.
Tingkah nekat Evander pagi ini mendadak melempar ingatan Cherry kembali ke masa-masa kuliah mereka bertahun-tahun yang lalu. Evander memang selalu seperti ini.
Di balik pembawaannya yang berwibawa, cerdas, dan dihormati banyak orang, pria itu selalu memiliki sisi impulsif dan gila jika itu menyangkut cara mendapatkan perhatian Cherry.
Cherry teringat jelas saat masa kuliah dulu, ketika ia sedang sibuk-sibuknya mengunci diri di perpustakaan kampus untuk ujian akhir.
Evander yang saat itu merupakan mahasiswa berprestasi dan dikagumi banyak wanita, tanpa ragu menyewa seluruh area kafe di seberang perpustakaan hanya agar Cherry bisa belajar tanpa gangguan bising.
Atau saat Cherry menolak ajakannya menonton pertunjukan musik karena mengaku "tidak punya waktu untuk berjalan ke gedung pertunjukan", Evander malah menyuruh grup musik akustik kampus untuk tampil secara langsung di bawah jendela kamar asrama Cherry, membuat seluruh penghuni asrama heboh dan keluar jendela.
Pria itu tidak pernah ragu melakukan hal-hal di luar nalar—hal-hal gila dan nekad—hanya demi memancing reaksi Cherry, hanya agar mata wanita itu tertuju padanya.
Dan sekarang, di Markas Komando EOD Pusat ini, di hadapan belasan prajurit dan puluhan warga sipil, Evander melakukannya lagi.
Memakai alasan ikut pelatihan dua bulan hanya untuk berada di tempat yang sama dengan istrinya.
Kapten senior yang menyadari dinamika aneh di udara—dan tentu saja sudah mengetahui identitas asli Evander serta hubungannya dengan Cherry dari dokumen rahasia pendaftaran—hanya berdehem pelan untuk mencairkan suasana. Sang Kapten menahan senyum geli di sudut bibirnya, membetulkan posisi topinya sebelum kembali menatap Evander.
"Ehem... Baik. Kalau begitu pastikan 'kebutuhan' yang disiapkan istri Anda tidak mengganggu disiplin pelatihan di sini, Peserta Evander," ujar Kapten dengan nada formal yang agak dipaksakan.
"Siap. Dijamin tidak akan mengganggu, Kapten. Saya murid yang sangat patuh pada instruktur," balas Evander dengan nada santai namun penuh penekanan pada kata 'instruktur', matanya kembali mengerling nakal ke arah Cherry.
Cherry berdehem keras, mencoba merebut kembali kendali atas dirinya dan suasana lapangan. Ia melangkah maju satu tindak, berdiri tegak di depan barisan dengan suara yang sengaja dibuat selantang dan sedingin mungkin.
"Perhatian semuanya!" potong Cherry tegas, memutus tatapan manis yang dilemparkan Evander padanya. "Selamat datang di Markas Komando EOD Pusat. Saya, Instruktur Cherry, bersama Kapten dan tim pengawas, akan memimpin seluruh rangkaian kegiatan kalian selama dua bulan ke depan."
Cherry menyusuri barisan dengan tatapan matanya yang tajam, sengaja melewatin wajah Evander tanpa memberi jeda khusus, meski ia tahu pria itu terus menatapnya tanpa kedip dengan binar jenaka di matanya.
"Di markas ini, tidak ada status istimewa. Tidak ada pengusaha, tidak ada desainer, tidak ada pejabat, dan tidak ada hubungan keluarga atau pernikahan yang bisa memberi kalian keistimewaan!" tegas Cherry, memberikan penekanan terselubung yang ditujukan langsung pada suaminya.
"Semua koper dan barang bawaan kalian akan diperiksa. Barang-barang yang tidak sesuai dengan ketentuan pelatihan akan disita sementara di gudang penyimpanan hingga masa pelatihan selesai."
Cherry kemudian mengarahkan pandangannya ke koper kabin kecil milik Evander.
"Termasuk untuk peserta yang hanya membawa koper kecil," lanjut Cherry dengan dagu terangkat. "Jika perlengkapan wajib kalian tidak lengkap di dalam koper tersebut, kalian akan menggunakan standar perlengkapan cadangan markas yang sama sekali tidak nyaman. Paham?!"
"PAHAM, INSTRUKTUR!" sahut seluruh peserta kompak.
"Bagus. Sekarang, ambil koper masing-masing dan ikuti petunjuk menuju barak!" perintah Cherry.
Barisan peserta mulai dibubarkan secara teratur untuk memindahkan barang-barang mereka. Para peserta wanita sibuk menggeret koper besar mereka menuju barak sebelah kiri, sementara para pria menuju barak kanan.
Saat barisan mulai terpecah dan riuh oleh suara roda koper yang bergesekan dengan tanah, Evander tidak langsung melangkah menuju barak pria. Dengan gerakan yang sangat alami, ia melangkah memutar, sengaja melewati posisi Cherry yang sedang berdiri mengawasi alur perpindahan barang.
Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Suasana riuh di sekeliling mereka seolah kabur, menyisakan ketegangan hangat di antara keduanya.
"Instruktur Cherry..." panggil Evander dengan suara rendah, begitu bass dan bergetar halus hanya untuk pendengaran Cherry.
Cherry tidak menoleh sepenuhnya, hanya melirik dari sudut matanya dengan tangan bersedekap di dada. "Ada apa, Peserta Evander? Barak pria ada di sebelah sana. Jangan membuang waktu."
Evander terkekeh pelan, suara tawa khasnya yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Cherry. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Cherry hingga aroma wewangian kayu cedar dan citrus yang sangat dihafal Cherry tercium jelas di antara bau debu markas.
"Koper kecilku memang cuma berisi baju ganti untuk tiga hari, Sayang," bulir bisikan Evander terdengar sangat intim dan penuh godaan. "Tapi bukankah kamu punya beberapa seragam dan pakaian di lemari ruang kerjamu di markas ini? Aku cuma memanfaatkan hak fasilitas dari istriku."
Mata Cherry membelalak pelan. Ia menoleh cepat ke arah Evander, menemukan wajah tampan Pewaris Knight itu berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, memperlihatkan senyuman paling menawan dan penuh rasa percaya diri.
"Kau..." bisik Cherry menahan kekesalan yang bercampur dengan rasa geli yang tak terbendung. "Kau benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali, ya? Ini markas militer, Evander!"
"Aku takut..." balas Evander santai, matanya menatap lembut ke dalam manik mata Cherry. "...aku cuma takut dua bulan ke depan nggak bisa liat kamu setiap hari kalau aku nggak nekat daftar pelatihan ini."
Ungkapan jujur yang dibungkus dengan ketenangan luar biasa itu sukses membuat jantung Cherry berdesir hebat. Seluruh kata-kata tegas dan teguran disiplin yang sudah ia siapkan di dalam kepalanya mendadak menguap tanpa sisa. Ini adalah Evander Vale-Knight—pria yang selalu tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk meluluhkan hati Cherry, tidak peduli di mana pun mereka berada.
"Pergilah ke barak sebelum aku menyuruhmu push-up lima puluh kali di atas tanah ini," ancam Cherry, meski nada suaranya sudah kehilangan separuh ketegasannya.
Evander tertawa renyah, mundur satu langkah sembari memberikan penghormatan militer yang sedikit asal-asalan namun terlihat sangat manis.
"Siap, Laksanakan, Instruktur tersayang," bisik Evander penuh penekanan pada kata terakhir, sebelum akhirnya berbalik arah dan menggeret koper kecilnya menuju barak pria dengan langkah santai dan percaya diri.
Cherry berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap Mantan Kekasihnya yang perlahan menjauh menuju barak. Ia memegang dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang masih berdebar kencang.
Dua bulan ke depan di Markas Komando EOD Pusat yang awalnya ia bayangkan akan berjalan formal dan penuh ketegangan, kini dipastikan akan berubah menjadi panggung rahasia yang penuh kejutan dari pria paling nekat yang pernah ada dalam hidupnya.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua