"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
Gaun satin berwarna sage green itu menjuntai anggun hingga menyapu mata kaki. Potongan A-line yang sederhana dipadukan dengan renda bermotif bunga pada bagian lengan dan pinggang, membuat penampilannya terlihat anggun tanpa berlebihan. Sebuket mawar putih tergenggam di kedua tangannya, sebagai hadiah kecil untuk hari pernikahan sahabatnya.
Ballroom Hotel Mahardika dipenuhi cahaya keemasan yang memantul dari deretan lampu kristal di langit-langit ruangan. Di ujung ballroom, sebuah altar bernuansa putih gading berdiri megah, dihiasi lengkungan bunga mawar putih, lily, baby's breath, dan dedaunan eucalyptus yang menjuntai anggun. Kelopak-kelopak mawar tersebar di sepanjang lorong menuju altar, sementara alunan biola dan piano mengalir lembut, menyatu dengan riuh percakapan para tamu yang terus berdatangan.
Para pelayan berbalut seragam hitam bergerak lincah membawa nampan berisi canapé, minuman, dan segelas sampanye yang berkilau diterpa cahaya lampu. Tawa kecil terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu saling berpelukan setelah lama tak bertemu, sebagian lain sibuk mengabadikan dekorasi pernikahan dengan ponsel mereka. Sesekali terdengar pujian mengenai kemewahan pesta yang diselenggarakan keluarga kedua mempelai.
"Katanya dekorasinya didatangkan langsung dari Jakarta."
"Wedding organizer-nya memang langganan artis."
"Pantas saja sebagus ini."
Percakapan-percakapan semacam itu terdengar samar di telinga Nadira. Tangannya tanpa sadar merapikan kembali ujung gaun yang dikenakan Tiba-tiba dia teringat amplop tagihan yang masih tersimpan di dalam laci meja kasir Toko Buku Senja. Jumlahnya bahkan cukup untuk membayar sebagian dekorasi bunga yang menghiasi altar di hadapannya.
Nadira segera mengusir pikiran itu. Hari ini adalah hari bahagia Raina. Ia tidak ingin membiarkan kekhawatiran tentang toko buku atau kondisi keuangannya merusak senyum yang sejak pagi ia usahakan tetap terlihat tulus. Ia menarik napas pelan, membenarkan buket bunga di tangannya lalu kembali berdiri di posisi semula tepat ketika musik pembuka mulai dimainkan.
Sebelum pelaksanaan janji suci terucap sekitar dua puluh menit lagi, Nadira berkesempatan mendatangi Raina di ruang make up pengantin.
“Nad…” panggil Raina ketika kehadiran Nadira sudah terlihat di pintu.
“Cantik banget sahabatku.” Nadira memeluk Raina hati-hati agar tidak merusak tatanan gaun atau hiasan di kepalanya.
Ruangan serba putih ini mampu membius siapapun yang melihatnya, termasuk Nadira. “Kamu pengantin tercantik yang pernah aku lihat,” ucap Nadira.
“Aku deg-degan banget nih! Gimana dong!” Raina memegang dadanya yang berdetak lebih cepat, tangannya juga berkeringat dingin.
Nadira meraih kursi di dekat Raina, mereka berhadapan dengan tangan saling menggenggam. “Aku terharu liat kamu sampai dititik ini. Satria bakal jadi suami yang baik dan kamu akan jadi istri yang berbakti. I belive you.”
Mata Raina mulai berkaca-kaca, membuat Nadira buru-buru meraih tisu di meja rias dan menghalangi tangis bahagia itu mengotori riasan wajah cantik sahabatnya.
“Siap?” Nadira menginterupsi. Sedangkan, Raina tersenyum sambil mengangguk.
Suara biola yang semula mengalun lembut perlahan berganti menjadi lagu prosesi. Percakapan para tamu mereda, berganti keheningan yang dipenuhi senyum dan tatapan penuh harap menuju pintu utama ballroom.
Di saat yang hampir bersamaan, pintu ballroom kembali terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang dipadukan kemeja putih dan dasi berwarna abu-abu gelap. Rambutnya tertata rapi, sementara wajahnya memancarkan ketenangan yang sulit diabaikan. Beberapa tamu yang mengenalnya mengangguk sopan, dibalas Arga Wijaya dengan senyum tipis sebelum ia berjalan menuju deretan kursi di sisi depan.
"Lo telat lima menit."
Satria yang sudah berdiri di dekat altar, menyempatkan diri berbisik pelan ketika Arga melewatinya.
"Masih sempat, kan?" lirih Arga.
"Untung aja."
Keduanya tersenyum singkat sebelum Arga menempati kursi yang telah disediakan untuk keluarga dan sahabat dekat mempelai.
Tak lama kemudian, seluruh tamu berdiri ketika pintu ballroom kembali terbuka. Raina melangkah memasuki ruangan dengan gaun pengantin putih yang menjuntai anggun, berjalan perlahan didampingi ayahnya menuju altar. Musik memenuhi ruangan, sementara setiap pasang mata tertuju pada calon pengantin perempuan yang sesekali tampak menahan haru. Di belakang Raina, para bridesmaid mengikuti dengan langkah yang teratur.
Tanpa sengaja, perhatian Arga berhenti pada salah satu dari mereka. Gaun sage green yang dikenakan perempuan itu sederhana, tanpa aksesoris mencolok. Rambutnya ditata dalam sanggul rendah yang rapi, membiarkan beberapa helai rambut membingkai wajahnya. Ia menggenggam buket bunga dengan kedua tangan sambil sesekali membantu merapikan ekor gaun Raina agar tidak tersangkut di lantai.
Arga merasa wajah itu tidak asing. Mencoba mengingat wajah siapakah yang dia kenali, tetapi dia masih bimbang.
Ia segera mengalihkan pandangan ketika prosesi pemberkatan dimulai. Pendeta mempersilakan kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan mereka. Ruangan kembali hening, hanya menyisakan suara penuh keyakinan dari Satria dan Raina yang saling berjanji untuk tetap bersama dalam suka maupun duka.
Prosesi pemberkatan berakhir dengan tepuk tangan meriah. Setelah sesi foto bersama keluarga inti selesai, suasana ballroom kembali dipenuhi suara percakapan dan tawa para tamu yang mulai membaur. Alunan musik berganti menjadi lebih ringan, sementara para pelayan berkeliling menawarkan minuman dan hidangan pembuka.
Di sudut dekat altar, Satria akhirnya mengembuskan napas lega. "Akhirnya nikah juga gue, bro."
Arga yang baru menghampiri terkekeh pelan. Satria menatapnya dengan mata memicing. “Gandengan lo mana? Sendirian aja.”
“Lagi sibuk cewek gue.”
“Lo nggak putus, kan? Katanya ada rencana buat lamaran. Nggak jadi?” celetuk Satria.
Raina menyenggol pelan lengan suaminya. “Semoga Bianca cepet kelar, ya, urusannya biar bisa nemenin kamu, Ga.”
Arga hanya tersenyum menanggapi, meski hatinya bergelut dengan banyak pikiran aneh belakangan ini.
"Oh iya," ujar Raina tiba-tiba, matanya menyapu kerumunan tamu. "Nadira ke mana, ya?"
"Tadi masih bantuin WO di belakang," jawab Satria.
Raina melambaikan tangan ke arah seorang perempuan yang baru saja keluar dari area belakang ballroom.
"Nad! Sini sebentar!"
Perempuan itu menoleh lalu berjalan menghampiri mereka sambil membawa senyum tipis. Gaun berwarna sage green yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya. Setelah cukup dekat, ia lebih dulu memeluk Raina singkat sebelum mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Maaf, tadi aku bantu beresin buket yang jatuh."
"Nggak apa-apa," jawab Raina sambil menggandeng lengannya. "Aku mau kenalin seseorang."
Nadira baru mengalihkan pandangannya ke arah pria yang berdiri di samping Satria. Begitu pula Arga. Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa detik.
Arga mengernyit pelan, seolah sedang mengingat sesuatu yang lama tersimpan di sudut memorinya. Kini dia mulai mengingat satu nama "... Nadira?"
Perempuan itu tersenyum kecil, kali ini dengan raut wajah yang tak kalah terkejut.
"Arga?"
Raina mengedarkan pandangan bergantian.
"Lho, kalian ternyata saling kenal?"
"Kami satu fakultas waktu kuliah," jawab Nadira lebih dulu. "Cuma udah lama banget nggak ketemu."
Arga mengangguk pelan. Kini ia benar-benar mengenali wajah itu. Dia bercerita “Dulu waktu mau skripsian gue sering banget ke perpustakaan. Suatu ketika gue bingung nyari buku tapi petugasnya nggak ada. Nadira notice gue lagi kebingungan. Akhirnya dibantuin sama dia. Sebenernya malu, sih. Karena Nadira adik tingkat. Dia semester dua, sementara gue semester delapan.”
“Itu udah lama banget kejadiannya. Dari situ kita banyak ngobrol,” ujar Nadira.
“Oh, ngobrol … kirain jatuh cinta.” Satria meledek tetapi mulutnya dibungkam oleh Raina sebelum berbicara lebih panjang lagi. “Nanti kalau kedengaran Bianca dihajar kamu, sayang.” Raina memperingatkan.
“Udahlah, gausah dipikirin. Kayaknya kita juga mau selesai.”
Perkataan Arga mengundang perhatian.
“Jadi putus beneran?” Rania terkaget.
Saat Arga akan mengangkat suara, dering telepon berbunyi berasal dari ponsel Nadira. Begitu melihat kontak yang tertera, Nadira langsung kebingungan.
“Aku pamit dulu ya semuanya, aku harus pergi.” Nadira melengos begitu saja.
“Nad! Kamu kenapa? Are you okay?”
Ucapan Raina tidak digubris. Dari sorot matanya, Raina yakin Nadira menyembunyikan sesuatu. “Dia kenapa, ya?”
“Ada urusan mendadak mungkin,” jawab Satria menenangkan.
Malam semakin larut ketika satu per satu tamu mulai meninggalkan ballroom. Suara musik yang sejak sore memenuhi ruangan kini terdengar semakin pelan, berganti dengan kesibukan para kru yang mulai membereskan dekorasi dan meja resepsi.
Arga menyalami Satria untuk terakhir kalinya sebelum berjalan menuju area parkir hotel. Udara malam menyambutnya begitu pintu otomatis terbuka. Ia mengembuskan napas panjang, melonggarkan sedikit dasinya, kemudian menekan tombol remote mobil hingga lampu sedan hitamnya berkedip dua kali.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, ponsel di saku jasnya bergetar. Tertera nama Dimas Prakoso. Arga mengernyit sesaat. Sudah hampir pukul sembilan malam. Jarang sekali pengacara keluarga menghubunginya di luar jam kerja.
"Selamat malam, Pak Dimas."
"Selamat malam, Tuan Arga. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
"Tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?"
Terdengar jeda beberapa detik di seberang sana.
"Saya menghubungi Anda terkait surat wasiat mendiang Kakek Wijaya."
Arga memicingkan mata. "Bukankah semua urusan warisan sudah selesai sejak beberapa tahun lalu?"
"Itulah yang ingin saya jelaskan. Masih ada satu ketentuan terakhir yang belum terpenuhi."
Arga terdiam, menunggu penjelasan berikutnya.
"Dalam surat wasiat tersebut, mendiang Bapak Wijaya menetapkan bahwa hak kepemimpinan penuh atas Wijaya Group baru dapat dialihkan kepada Anda apabila Anda telah menikah sebelum usia tiga puluh tahun."
Jemari Arga tanpa sadar menggenggam ponselnya lebih erat.
"Dan usia saya ...."
"Tinggal tiga puluh hari lagi sebelum tiga puluh tahun."
"Kalau syarat itu tidak terpenuhi?" tanyanya akhirnya.
"Rapat dewan akan menunjuk pemimpin sementara sesuai ketentuan dalam wasiat sampai syarat tersebut dipenuhi."
Arga mengembuskan napas pelan. Rasanya lebih seperti lelucon daripada kenyataan.
"Baik. Besok pagi saya datang ke kantor Anda."
"Saya tunggu, Tuan Arga."
Sambungan telepon terputus.
Arga tetap berdiri di samping mobilnya, menatap kosong ke arah lampu-lampu kota yang mulai redup. Dalam hidupnya, ia telah menghadapi negosiasi bisnis bernilai miliaran rupiah, mengambil keputusan besar untuk perusahaan, bahkan memimpin ribuan karyawan.
Namun, kali ini ia dihadapkan pada persoalan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Menikah.
Dalam waktu tiga puluh hari.