Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lowongan Kerja Rodi
"Kangen? Ya tentu saja tidak! Jangan percaya diri berlebihan," tolak Reygan cepat dengan wajah lempeng.
Jika harus dijelaskan secara logika, Reygan sudah lelah berdebat dengan isi kepalanya sendiri. Mengapa setelah keluar dari rumah sakit, alih-alih pulang ke mansion mewahnya untuk beristirahat, ia malah menyetir sendirian ke restoran ini? Apa benar semua ini hanya karena ia ingin menjumpai wanita bermulut racun ini? Ah, sial. Reygan menolak mengakuinya.
"Saya ke sini cuma mau menyampaikan... di kantor pusat Aliansyah Group sebenarnya sedang ada lowongan pekerjaan. Tapi, yah..."
"Lowongan apa, Pak? Sekretaris?!" tanya Shella langsung dengan mata yang seketika berbinar-binar.
'Yes! Apakah ini tanda-tanda alam kalau dia akhirnya akan segera keluar dari lembah sabun, busa, dan piring kotor ini?' pikir Shella bersorak kegirangan di dalam hati.
"Sebenarnya posisi itu kosong. Tapi, yah... kamu terlalu tua untuk mendampingi saya di kantor pusat. Saya butuh yang fresh graduate, tentu saja. Biar tidak merusak pemandangan di ruangan saya. Secara posisi itu akan berhadapan dengan saya hampir setiap hari."
Shella langsung berkacak pinggang tidak terima."Heh, Pak Reygan! Biar tampang saya tidak se-glowing anak magang, saya masih punya sesuatu yang sangat Bapak butuhkan di kantor Bapak. Pengalaman!"
"Kamu kira bekerja di bawah pimpinan seperti saya itu mudah? Lagian melihat tingkahmu yang tidak ada sopan-sopannya saja sudah membuat saya muak," tegas Reygan kembali menyentil harga diri Shella.
Mendengar rentetan kalimat menohok itu, Shella mendadak terdiam. Energi menggebunya menguap begitu saja. Kalimat Reygan barusan mendadak terasa terlalu nyata dan menampar logikanya. Benar juga. Mana mungkin pria terpandang seperti Reygan, pemilik Aliansyah Group, mau menerima "calon janda usia 27 tahun" di kantor pusatnya? Bulan depan bahkan usianya akan bertambah menjadi 28 tahun. Di dunia korporat, dia sudah terhitung angkatan tua yang tidak punya daya tawar lagi.
'Ya ampun... apa sampai tua nanti takdir hidupku memang harus berakhir jadi tukang cuci piring di belakang dapur ya?' batin Shella mendadak melow.
"Shella..." panggil Reygan, mendadak merasa tidak nyaman melihat perubahan raut wajah wanita itu yang tiba-tiba mendung dan kehilangan gairah berdebat.
"Lagi ngga mood berdebat ah, Pak," ujar Shella lirih sambil memalingkan wajahnya."Kalau memang tidak ada posisi yang bagus, lebih baik Bapak tidak usah memberi harapan palsu. Lagian... saya juga sudah sadar diri kok kalau saya ini cuma upik abu."
Reygan tertegun. Ia mengerjapkan matanya tidak percaya. Sejak kapan wanita keras kepala yang hobi mengatainya mesum ini tahu kata "sadar diri"? Benarkah ini Shella yang ia kenal? Bukannya senang karena berhasil memenangkan perdebatan, Reygan justru merasa ada sengatan aneh yang tidak nyaman di dalam dadanya melihat Shella yang mendadak layu seperti ini.
Tidak tahan dengan atmosfer melow yang mencekam, Reygan berdeham keras, memutuskan untuk mengeluarkan jurus keusilan andalannya demi mengembalikan energi asisten dadakannya itu.
"Lagipula... siapa juga yang bilang posisi yang saya tawarkan itu sekretaris biasa?" celetuk Reygan santai, memancing perhatian Shella.
Shella menoleh sedikit, alisnya bertaut bingung. "Lalu posisi apa?"
"Posisi yang sangat darurat dan paling dibutuhkan di kantor saya saat ini: 'Spesialis Penguji Tekanan Darah dan Asisten Penyelamat Nyawa CEO'."Ujar nya usil.
"Hah? Posisi macam apa itu?!" Shella melongo.
"Tugas utamanya adalah mendampingi saya ke mana pun, mengomeli saya kalau saya lupa makan, berdebat dengan saya setiap jam kerja agar otak saya tidak tumpul, dan yang paling krusial..." Reygan sengaja memajukan wajahnya, berbisik jenaka. "...memastikan tidak ada warga jelata yang mengipasi saya pakai kardus mie instan kalau penyakit saya mendadak kumat di tempat umum. Bagaimana? Gajinya tiga kali lipat dari gajimu mencuci piring di sini."
Mendengar keusilan terselubung yang sebenarnya merupakan cara Reygan untuk menolongnya, binar jenaka di mata Shella seketika menyala kembali. Otak oportunisnya langsung menangkap sinyal hijau kemakmuran.
Shella langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi luar biasa dramatis, mendesah panjang sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada seolah sedang menerima garis takdir yang menyedihkan.
"Ya ampun... baiklah, Pak," ujar Shella dengan nada pura-pura pasrah yang dibuat-buat merana. "Ternyata takdir kedongkolan hidup saya memang sudah dikunci bersama Bapak. Berhubung saya ini calon janda teraniaya yang butuh uang demi kelangsungan hidup dan masa depan skincare saya, dengan sangat terpaksa saya terima lowongan kerja rodi itu!"
Shella kemudian melirik Reygan dengan pandangan mengejek yang sangat khas. "Tolong bimbingannya ya, Baginda CEO Aliansyah Group yang hobi pingsan estetik di dekat ban mobil! Besok-besok kalau Bapak pingsan lagi, saya janji akan pinjam kardus mie instan yang lebih besar untuk mengipasi Bapak!"
Reygan langsung menarik kepalanya mundur, mendengus pasrah mendapati mulut racun Shella telah kembali beroperasi dengan daya seratus persen. Namun, seulas senyum tipis yang tak bisa disembunyikan akhirnya terukir di bibir tampannya.
"Kamu ini ya.. " Gumam nya tanpa sadar memamerkan senyuman kecil mautnya.