NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno

Runtuhnya Kristal Pemikat

Gema ledakan dahsyat masih merambat di setiap sudut Altar Utama saat percikan sihir Mawar Emas

menghancurkan Orb Kristal Ungu milik Lord Malakor. Serpihan kristal hitam berterbangan bagai hujan meteor

mini, menghantam lantai basalt dan memicu ledakan-ledakan kecil energi murni yang melubangi dinding

benteng. Pusaran api hitam yang semula membumbung tinggi mendadak tersedak, berubah menjadi gejolak

kabut pekat yang tak terkendali.

Aurelia jatuh berlutut di atas lantai batu yang retak, terengah-engah dengan napas memburu. Tongkat sihir

Mawar Emas di genggamannya tampak memudar cahayanya, menandakan batas akhir kekuatan sihir yang

sanggup ditarik oleh tubuhnya. Namun, matanya tetap terpaku ke arah podium di mana Lord Malakor berdiri.

"Apakah... apakah kita berhasil?" bisik Aurelia seraya menyapu keringat bercampur debu di dahi

cantiknya.

Cassian melangkah perlahan menghampiri Aurelia, dengan pedang es abadi yang masih dalam posisi

bersiaga. Manik matanya tak lepas menatap asap pekat yang menyelimuti area puncak altar. "Jangan turunkan

pertahananmu, Aurelia. Energi di ruangan ini tidak berkurang—energi ini justru berubah menjadi sesuatu yang

jauh lebih liar."

Jeritan Jiwa Lord Malakor

Dari dalam ketebalan asap hitam, tawa melengking yang terdengar pecah dan mengerikan mendadak

membahana. Lord Malakor melangkah keluar dari dalam kabut. Bajunya kini terkoyak hancur, kulit wajahnya

dipenuhi retakan bercahaya ungu, dan matanya tidak lagi memiliki pupil—hanya dua lubang api hitam yang

memancarkan kebencian tak terhingga.

"Bocah-bocah tak berguna!" raung Lord Malakor, suaranya kini bergetar mengguncang pondasi ruangan.

"Kalian pikir dengan menghancurkan kristal penampung itu kalian bisa menghentikan kebangkitan ini? Kristal

itu hanyalah pemikat! Penahan agar energi Raja Iblis tidak menelan jiwaku terlalu cepat!"

Lord Malakor melempar tongkat tengkoraknya yang telah retak ke tanah. Ia merentangkan kedua

tangannya, membiarkan aliran sihir gejolak jurang maut masuk membanjiri pembuluh darahnya secara langsung. Kulitnya mulai membiru dan membusuk secara kasat mata, sementara ukuran tubuhnya membesar

membengkak diselimuti zirah kegelapan yang mewujud dari sihir murni.

"Jika aku harus mengorbankan jiwaku sendiri untuk menjadi wadah Raja Iblis Kuno, maka jadilah!" teriak Malakor seraya memukul dadanya sendiri. Gelombang kejut hitam yang amat dahsyat meledak dari tubuhnya,

melemparkan batu-batu basalt raksasa di sekeliling altar.

Pertarungan Tanpa Batas

Cassian menghentakkan kakinya ke bumi, membentangkan dinding es abadi setinggi lima meter di depan Aurelia untuk menahan gelombang kejut tersebut. Es abadi yang diciptakannya merintih keras sebelum

akhirnya retak dan hancur berkeping-keping di bawah tekanan sihir hitam yang telah bermutasi.

"Aurelia, mundur ke belakang barisan batu!" seru Cassian. Tubuhnya melesat maju, meninggalkan jejak pembekuan instan di udara. Dengan seluruh sisa kekuatannya, Cassian mengayunkan *Teknik Es Abadi: Tebasan Seribu Badai*. Ribuan bilah es tajam tercipta di udara dan meluncur membanting tubuh raksasa Malakor yang baru bertransformasi. Namun, Malakor yang kini berwujud setengah iblis hanya mengibaskan tangannya. Cakar-cakar api hitam

merobek tebasan es Cassian dengan amat mudah. Dalam hitungan detik, Malakor sudah berada di hadapan Cassian, mengayunkan tinjunya yang terbungkus energi jurang maut.

Dua kekuatan dahsyat bertabrakan. Cassian menahan pukulan tersebut dengan batang pedang besarnya, tetapi dampak benturan itu memunculkan retakan pada lantai dan terlempar menghantam pilar basalt hingga

memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Fajar Sebelum Pertempuran Penentu

"Cassian!" teriak Aurelia histeris. Ia berusaha bangkit, merapalkan sisa sihir penyembuh untuk dikirimkan ke arah Cassian dari jauh. Cahaya emas lembut menyelubungi tubuh Cassian, meredakan luka dalam yang

dideritanya. Cassian bangkit berdiri perlahan, mengusap darah di sudut bibirnya. Matanya tetap membara dengan tekad yang tak tergoyahkan. Di hadapan mereka, wujud Lord Malakor semakin tidak menyerupai manusia—ia kini menjadi manifestasi hidup dari kejahatan kuno yang mengancam menelan seluruh benua. Gerbang Jurang Maut di belakang altar kini retak sepenuhnya. Kegelapan abadi mulai merembes keluar,menandakan bahwa ritual puncak kebangkitan telah memasuki tahap akhir yang tidak bisa dibatalkan lagi tanpapertarungan hidup dan mati.

Cassian memegang pedangnya dengan kedua tangan, berdiri berdampingan kembali dengan Aurelia. Waktu mereka hampir habis. Benteng pertempuran ini siap runtuh, membawa perjuangan mereka selangkah lebih dekat menuju takdir akhir.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!