Melia Seng cuma mau satu hal: hidup tenang.
Tapi nasib berkata lain. Satu kecelakaan aneh membuatnya terbangun di ranjang king-size milik Raymon Kei — CEO KeiTech Group, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Kabar buruknya? Dia sekarang resmi jadi *istri kontrak* pria ini. Kabar lebih buruknya? Dia juga otomatis jadi *ibu tiri* dari Shawn Kei, remaja 17 tahun yang membencinya sejak detik pertama.
Aturan kontraknya sederhana:
Berpura-pura jadi istri sempurna. Tidak boleh jatuh cinta. Cerai setelah nenek besar meninggal. Bayaran: Rp 50 juta per bulan.
Masalahnya? Saldo rekening Melia cuma **Rp 0,5** — karena kakaknya sendiri sudah menguras semuanya. Mansion 8 kamar tidur, tapi dompet kosong. Istri konglomerat di atas kertas, tapi lebih miskin dari asisten rumah tangga.
Jadi Melia memutuskan: kalau mau bertahan, harus bangun kerajaannya sendiri.
Dari toko bunga kecil bernama **Bloomé** yang hampir bangkrut, sampai brand premium **Once & Forever** yang bikin heboh seluruh Jakarta — Melia membuktikan bahwa dia bukan sekadar "istri pajangan."
Tapi yang tidak dia duga...
Raymon yang katanya dingin dan tidak peduli, diam-diam memesan 200 tangkai mawar untuk studio barunya. Raymon yang katanya cuma "menjalankan kontrak," tiba-tiba bilang: *"Yang penting bukan makannya. Yang penting kamu yang mengajak."*
Dan Shawn — anak tiri yang tadinya memasang musik metal keras-keras supaya Melia pergi — pelan-pelan mulai menaruh satu porsi sarapan ekstra di meja makan.
Kontraknya bilang: *jangan cinta*.
Hatinya bilang: *sudah terlambat*.
Dan ketika rahasia besar tentang masa lalu Melia, keluarga Tjiang, dan seorang nenek yang pernah dia selamatkan 22 tahun lalu mulai terungkap — semua orang baru sadar: pernikahan ini bukan kebetulan. Ini takdir yang menunggu dua dekade untuk terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Hal lain yang ingin Raymon tunjukkan ternyata bukan makam kedua.
Itu sebuah pohon kecil di sisi taman memorial, dengan papan nama donasi keluarga Kei. Di bawahnya ada bangku batu sederhana. Raymon berkata dulu, saat Shawn masih kecil, ia pernah membawanya ke sini sekali. Anak itu belum mengerti kematian. Ia hanya bertanya kenapa tante di foto tidak ikut pulang.
Aku duduk di bangku itu lama sekali.
Ketika kami kembali ke mobil, tenggorokanku masih terasa berat.
Aku membuka tas kecil, menemukan permen rasa madu yang kubawa dari villa, lalu menyerahkannya kepada Raymon.
Ia menatap telapak tanganku.
"Kamu memperlakukan aku seperti anak kecil?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena orang dewasa juga boleh diberi permen setelah bercerita hal sulit."
Raymon memandangku beberapa detik, lalu mengambilnya.
Ia tidak langsung memakan permen itu. Hanya menggenggamnya, seolah benda kecil itu terlalu asing untuk diterima.
Mobil meninggalkan Sandiego Hills menuju bandara. Jalanan siang mulai ramai. Aku menatap luar jendela, tetapi yang kulihat di kepala hanya wajah Venny di batu nisan, muda, cantik, dan terlalu cepat selesai.
"Jangan mendekati pria kalau ujungnya bikin sengsara," gumamku.
Raymon menoleh.
"Apa?"
"Tidak. Aku sedang membuat kesimpulan hidup." Aku menarik napas. "Orang pintar tidak jatuh cinta."
Di kaca jendela, aku melihat bayangan mata Raymon berubah.
Gelap sebentar.
Senyumnya tipis, agak getir.
"Begitu?"
"Begitu."
"Kalau sudah terlanjur?"
"Cari obat."
"Ada?"
"Belum ditemukan. Karena itu jangan mulai."
Raymon membuka bungkus permen dengan perlahan. "Terlambat untuk sebagian orang."
Kalimat itu terlalu pelan. Aku tidak yakin ia berbicara tentang Venny, tentang dirinya, atau tentang sesuatu yang belum berani kupikirkan.
Aku memilih jalur aman.
"Kalau begitu, makan permen. Gula membantu otak."
Raymon memasukkan permen ke mulut, lalu mengusap rambutku sekilas.
Gerakannya ringan, tetapi membuat seluruh pikiranku kosong satu detik.
"Jangan pakai tatapan tadi lagi," katanya.
"Aku sudah bilang aku tidak punya tatapan apa-apa."
"Hm."
"Jangan hm seperti hakim."
Sudut bibirnya bergerak.
Di bandara privat, Raymon turun lebih dulu dan berjalan di sampingku tanpa tergesa. Tidak ada pengawal berlebihan, tidak ada kerumunan, hanya staf yang menunduk sopan. Namun setelah cerita di pemakaman, semua kemewahan itu terasa berbeda. Dulu aku melihatnya sebagai fasilitas hidup konglomerat. Sekarang aku melihatnya sebagai benteng yang Raymon bangun agar rahasia keluarganya tidak mudah disentuh orang.
Di pesawat, ia akhirnya tertidur sebentar.
Sangat sebentar.
Kepalanya bersandar ke sandaran kursi, bulu matanya turun, wajahnya kehilangan lapisan dingin yang biasanya menutupinya. Aku menatapnya diam-diam, lalu memalingkan muka sebelum merasa terlalu bersalah.
Orang pintar tidak jatuh cinta, kataku tadi.
Tetapi orang pintar juga tidak terus menatap suami kontrak yang sedang tidur.
Aku memaksa diri melihat awan.
Ponselku bergetar.
Shawn.
Pesannya hanya satu baris.
Kalian di mana?
Entah karena cerita Venny masih menempel di dada, entah karena sekarang aku tahu Shawn pernah kehilangan ibu bahkan sebelum ia mampu mengingat wajahnya, jari-jariku mengetik dengan jauh lebih lembut daripada biasanya.
Aku: Kami keluar sebentar. Kamu sudah makan? Jangan cuma snack. Kalau bosan, tonton anime yang kemarin, tapi jangan lanjut episode baru.
Tiga titik muncul.
Lalu hilang.
Lalu muncul lagi.
Shawn: Kamu kenapa?
Aku: Kenapa?
Shawn: Aneh.
Aku: Aku perhatian.
Shawn: Biasanya kamu mengancam spoiler.
Aku menatap layar.
Baiklah, reputasiku di mata anak ini sangat stabil.
Telepon masuk.
Aku mengangkat.
"Halo?"
"Kamu diculik?" suara Shawn terdengar serius.
Aku hampir tertawa dan menangis bersamaan.
"Tidak."
"Kenapa balasnya lembut begitu?"
"Aku tidak boleh lembut?"
"Boleh. Tapi mencurigakan."
Raymon menoleh sedikit. Aku menyalakan pengeras suara.
"Papamu di sini," kataku. "Aku tidak diculik."
Shawn diam dua detik.
"Pa?"
"Hm."
"Kalian pergi tanpa bilang."
"Kamu tidur."
"Aku tidak tidur. Aku resting."
"Kamu pakai earphone sampai tidak dengar badai semalam."
"Ada badai?"
Aku menutup mulut.
Raymon melirikku, matanya akhirnya menunjukkan sedikit senyum.
Shawn di ujung sana terdengar tersinggung. "Kenapa kalian ketawa?"
"Tidak," kataku cepat. "Kami pulang sore."
"Bawa makanan."
"Kamu tadi menuduh aku diculik."
"Sekarang sudah jelas tidak. Jadi bawa makanan."
Aku tertawa.
"Baik, Tuan Muda."
"Jangan panggil begitu."
Telepon ditutup lebih dulu olehnya.
Aku memegang ponsel, dadaku terasa lembut dan sakit sekaligus. Shawn tidak tahu. Mungkin ia tahu sebagian. Mungkin ia merasakan ada ruang kosong dalam hidupnya, tetapi tidak punya nama untuk itu.
Mulai sekarang, aku tidak bisa melihatnya hanya sebagai anak tiri yang harus kuhindari agar plot tidak hancur.
Ia keluarga.
Sore itu, kami kembali ke Villa Kei setelah penerbangan pendek dan perjalanan yang terasa jauh lebih panjang daripada jaraknya. Shawn berdiri di ruang tamu, rambut masih berantakan, wajah curiga.
"Kamu benar-benar tidak diculik?"
"Kalau diculik, aku tidak mungkin kembali membawa sate lilit."
Ia langsung mengambil kantong makanan.
"Masuk akal."
Aku menepuk kepalanya tanpa sadar.
Shawn membeku.
Tanganku juga membeku.
Rambutnya lebih lembut daripada kelihatannya.
Pikiran itu muncul begitu saja dan hampir membuatku makin sedih. Venny tidak pernah punya kesempatan melakukan hal remeh ini. Tidak pernah memarahi Shawn karena minuman dingin. Tidak pernah melihatnya memakai baju hitam di pantai seperti bodyguard. Tidak pernah mendengar ia pura-pura tidak butuh perhatian.
Kalau begitu, setidaknya mulai sekarang, aku akan melakukannya dengan benar.
Raymon berdiri di belakangku, menyaksikan adegan itu dengan tenang.
"Kamu kenapa?" Shawn menatapku. "Makan apa tadi?"
"Permen."
"Permen bisa bikin orang aneh?"
"Bisa. Kalau rasanya madu trauma."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Makan."
Shawn masih menatapku curiga, tetapi ia duduk di meja makan dan membuka bungkus makanan. Aku menaruh tambahan sup di depannya, lalu memotong sambal agar tidak terlalu banyak. Semua gerakan itu keluar sendiri.
Raymon tidak mengatakan apa-apa.
Namun setelah makan, ketika aku dan Shawn sudah masuk ke rumah, Raymon tetap duduk di dalam mobil yang terparkir di halaman villa.
Lampu kabin belum dinyalakan. Tangannya berada di setir. Di kaca depan, bayangan villa memantulkan cahaya hangat dari ruang tamu. Di dalam, Melia sedang memarahi Shawn karena memilih minuman dingin setelah main air. Suaranya samar, hidup, terlalu mudah membuat rumah terasa penuh.
Raymon menunduk.
Ia teringat kontrak di brankas Kei Mansion.
Uang bulanan. Tidak ada hubungan suami istri. Cerai setelah Ama meninggal.
Semua tertulis rapi.
Semua dulu terasa masuk akal.
Sekarang, setiap kalimatnya seperti pintu yang suatu hari akan tertutup.
Ia pernah berpikir kontrak itu adil. Melia mendapat perlindungan dan uang. Ia mendapat pernikahan yang cukup untuk menenangkan Ama tanpa harus menyeret perasaan siapa pun. Mereka sama-sama bebas ketika waktunya tiba.
Tetapi ia tidak memperhitungkan suara tawa di ruang makan.
Tidak memperhitungkan catatan kecil Shawn yang melarang Melia lanjut menonton anime sendiri.
Tidak memperhitungkan tangan basah yang gemetar dalam gelap, lalu tetap menyangkal takut.
Tidak memperhitungkan bahwa seseorang bisa masuk ke rumahnya, mengubah udara, dan membuat kata pulang terasa punya bentuk.
Kalau Melia pergi, ia tidak punya alasan untuk menahannya.
Jari Raymon menggenggam setir lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin hari itu datang.