Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Aku Mau Proyek Itu, Pa
"Tunggu saja, Maya."
Ancaman Selena tidak perlu menunggu lama untuk mendapat jawaban.
Menjelang siang, setelah Meihwa pulang, Robert mendekati Amaya yang masih duduk dengan kaki ditopang bantal.
"Kamu mau apa?" tanyanya.
Amaya mengangkat wajah dari tablet. "Maksud Papa?"
"Soal tadi. Mama menekan perkara Bi Nah, kamu mengalah." Robert terdengar kaku saat berbicara tentang kompensasi kepada anak sendiri. "Kalau ada sesuatu yang kamu inginkan, bilang."
Selena yang hendak naik ke kamar berhenti di tangga.
Amaya tersenyum. "Aku mau Pusat R&D Bersama Adhikara dan Amerta."
Keheningan turun.
"Proyek itu?" Robert memastikan.
"Iya, Pa. Tim koordinasinya."
Program tersebut menjadi poros strategi medis Adhikara untuk tiga tahun ke depan. Jika pengembangan lini steril dan uji klinis berjalan mulus, nilainya bisa mendorong kapitalisasi kedua grup hingga ratusan miliar rupiah. Lebih penting lagi, proyek itu berada langsung di bawah Sebastian.
Dalam cerita lama, Selena memakai keberhasilan proyek tersebut untuk membuktikan diri sebagai pewaris, lalu memperoleh dukungan penambahan saham sampai lima belas persen.
Amaya tidak akan membiarkan jalur itu tetap utuh.
"Maya belum pernah pegang proyek besar," Selena menyela. "Koh Sebas paling nggak suka orang yang belajar sambil main-main. Kalau terjadi kesalahan, hubungan Adhikara dan Amerta yang kena."
"Makanya aku belajar," jawab Amaya.
Meihwa yang ternyata belum keluar dari foyer kembali menoleh. "Selena sudah mengurus tahap awal. Jangan merebut pekerjaan kakakmu. Dia tidak punya orang tua kandung dan kesehatannya lemah. Kamu sebagai adik harus mengalah."
Amaya memandang Oma dengan wajah polos. "Ci Selena sakit-sakitan, kesehatan mentalku juga nggak bagus. Aku baru saja tahu delapan tahun difitnah bisa bikin orang ingin mencoba metode yang sama."
Robert menahan batuk.
"Jangan kurang ajar," tegur Meihwa.
"Maaf, Oma. Tapi aku adik, bukan dewi penolong." Amaya merapikan selimut di lutut. "Kalau warisan, proyek, dan kasih sayang semuanya harus kuberikan karena Ci Selena lebih kasihan, nanti aku kebagian apa?"
Selena memucat. "Aku nggak pernah minta warisanmu."
"Bagus. Berarti proyek ini juga nggak perlu diperebutkan."
Robert memijat pelipis. "Pusat R&D biar Maya coba. Selena masih memegang tiga proyek lain dan tetap ikut masa serah-terima."
"Papa, tapi..."
"Keputusan saya sudah selesai."
Amaya tersenyum kepada Selena. "Mohon bimbingannya ya, Ci."
Selena menaiki tangga tanpa menjawab.
Malam harinya, lampu ruang kerja Robert masih menyala lewat pukul sebelas. Amaya mengetuk sekali, lalu masuk membawa segelas susu hangat.
Robert menatapnya heran. "Belum tidur?"
Amaya mengambil cangkir kopi di samping laptop dan menggantinya dengan susu. "Sudah jam malam, Pak Direktur. Waktunya pulang kerja."
"Papa masih membaca laporan."
"Besok juga masih ada. Lambung Papa cuma satu."
Ia menutup laptop sebelum Robert sempat melarang.
Gerakan itu begitu biasa, tetapi membuat dada Robert sesak. Sebelum hilang pada usia lima tahun, Amaya sering masuk ke ruang kerjanya sambil membawa gambar atau mainan. Ia akan memanjat ke pangkuan, memutar kursi, lalu menuntut papanya berhenti bekerja.
Setelah ditemukan sepuluh tahun kemudian, gadis itu tidak pernah masuk lagi.
Percakapan mereka jarang lebih dari tiga kalimat.
"Kamu berubah," kata Robert.
Amaya berhenti di belakang kursinya. "Jadi lebih buruk?"
"Seperti kembali jadi Maya yang Papa ingat dulu."
Sesuatu melunak di dada Amaya. Perasaan itu mungkin sisa dari pemilik tubuh ini, mungkin juga miliknya sendiri.
Ia meletakkan tangan di bahu Robert dan memijat pelan. "Kalau begitu Papa harus mengajar Maya yang ini. Aku butuh kelas kilat sebelum masuk proyek."
Robert tersenyum untuk pertama kalinya hari itu. Ia membuka laptop kembali, tetapi kali ini menggesernya agar Amaya bisa melihat.
Selama dua jam berikutnya, Robert membongkar struktur Pusat R&D Bersama. Adhikara memegang pengembangan dan kesiapan produksi. Amerta menyediakan validasi klinis, rumah sakit, tim etik, dan akses pasien sesuai protokol. Posisi Amaya sebagai project coordination officer terdengar administratif, tetapi sebenarnya menghubungkan semua sumber daya penting.
"Kalau batch sampel terlambat, siapa yang pertama kena?" tanya Amaya.
"Tim manufaktur Adhikara. Tapi kamu harus memberi tahu Amerta sebelum jadwal klinis ikut bergeser."
"Kalau dokumen etik belum turun sementara sampel sudah siap?"
"Simpan. Tidak ada enrolment pasien sebelum persetujuan lengkap."
Amaya menulis garis tebal di bawah kalimat itu. Ia lanjut bertanya tentang vendor bahan baku, validasi lini steril, siapa yang boleh menandatangani perubahan protokol, dan bagaimana kedua grup membagi tanggung jawab jika sebuah batch gagal uji.
Robert awalnya menjawab sambil bersandar. Lima belas menit kemudian, ia sudah duduk tegak dan membuka tiga folder tambahan.
Anak yang selama ini dianggap tidak memahami bisnis ternyata tahu pertanyaan mana yang harus diajukan sebelum menyentuh data. Ia memang belum menguasai istilah teknis, tetapi cepat menangkap hubungan antara satu keputusan dan risiko di belakangnya.
"Kamu pernah belajar ini?" tanya Robert.
"Belum. Tapi alur uang dan kekuasaan di semua bisnis hampir sama. Yang berubah cuma nama masalahnya."
Robert menatapnya beberapa saat, lalu terkekeh pelan. "Setidaknya kamu nggak kekurangan percaya diri."
"Kamu langsung lapor ke Sebastian," jelas Robert. "Jangan banyak bicara sebelum paham. Dengarkan, catat, hafalkan orang dari dua pihak, dan kuasai alur persetujuan."
Amaya menulis cepat di buku catatan.
Robert membuka laci, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam, lalu meletakkannya di atas kertasnya. "Ini seluruh riwayat kerja sama, dari notulen negosiasi sampai rencana implementasi. Baca tiga kali."
"Ada bocoran soal ujian?"
"Tidak ada ujian. Kesalahanmu nanti langsung jadi uang yang hilang."
"Menyeramkan."
"Belajar dari Sebastian. Engkong Hartono membesarkannya sebagai penerus. Dia pusat kekuasaan sebenarnya di Wijaya, dan orang yang bersedia dia ajar biasanya maju cepat."
Amaya memutar flashdisk di antara jari. "Kalau dia nggak bersedia?"
"Buat dia bersedia. Papa rasa kamu cukup pandai melakukan itu."
Ucapan tersebut hampir terdengar seperti kepercayaan.
Setelah Robert kembali ke kamar, Amaya tinggal sendirian di ruang kerja. Ia membuka file pertama dalam flashdisk, tetapi bayangan kehidupan lama pemilik tubuh ini muncul di layar gelap.
Gadis kecil yang diculik. Remaja yang pulang tetapi tak pernah benar-benar mendapat rumahnya kembali. Perempuan yang menyerahkan ginjal karena Nathan berjanji menikahinya, lalu dijebak kehilangan nama baik, diinjak sampai keberanian terakhirnya habis, dan akhirnya memilih mengakhiri hidup.
Orang-orang menyebutnya lemah.
Amaya tidak setuju.
Cahaya bisa tertutup awan begitu lama sampai orang di bawahnya lupa langit pernah terang. Jalan keluar mungkin ada. Yang sulit bukan menemukan pintunya, melainkan menyisakan cukup keberanian untuk membuka.
"Kamu bukan nggak punya jalan," bisik Amaya kepada gadis yang pernah tinggal di tubuh ini. "Kamu cuma nggak pernah diberi keyakinan bahwa kamu berhak keluar."
Sekarang ia akan meminjamkan keyakinan itu.