Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. SANG PUTRI GILA
Sang Raja menatap remeh Kael dengan senyum yang luar biasa membuat sang Duke ingin menarik pedang dan menghunuskannya ke leher sang raja.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Saya menolak untuk menikah dengan seorang Putri yang tidak waras. Itu akan menjatuhkan nama keluarga Dravenhart," ujar Kael dengan intonasi lebih tinggi dan penolakan yang keras.
"Terlambat, Duke. Kau akan tetap menikahi Putri Virelia. Selamat mempersiapkan pernikahan kalian minggu depan. Aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang ... sangat serasi," kata Raja Lucien sambil melambaikan tangan, memberi tanda kepada para pengawal untuk membubarkan audiensi.
Sebelum Kael sempat membantah atau menarik pedangnya, suara gaduh dari kejauhan kembali terdengar.
BRAKK!!
Suara keras terdengar dari arah koridor yang mana untuk pertama kalinya Kael melihat sosok sang Putri Gila yang jelas akan menjadi istrinya. Putri itu berlari cepat memotong koridor ke sisi lain istana. Hal yang pertama Kael lihat adalah rambut pirang sang gadis.
Dari arah koridor istana yang menghubungkan taman istana, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking bernada tinggi, disusul oleh suara teriakan histeris pelayan dan pecahan vas porselen yang berserakan.
PRANK!
“Hahahahaha! Burung-burung itu bernyanyi palsu! Potong sayap mereka! Potong!”
"Putri tolong hentikan, Anda bisa terluka!"
"Agh, Putri itu bahaya!"
Suara itu menggema tajam, liar, dan tanpa filter kewarasan sedikit pun.
Kael memejamkan matanya sejenak. Pipi kirinya berkedut menahan emosi. Di kepalanya, ia membayangkan bagaimana nasib kediamannya sendiri; sebuah puri megah di pinggir ibu kota yang selama ini ia bangun dengan disiplin militer yang ketat, akan dihancurkan berkeping-keping oleh wanita gila dalam waktu kurang dari seminggu.
Kenapa aku harus memenangkan perang ini? Seharusnya aku membiarkan pasukan barbar utara meratakan istana ini sejak tahun pertama, batin Kael merutuki nasib sialnya.
Kael melangkah menuju takdir kejamnya ... mau tak mau. Senang atau tidak senang.
Malam harinya, di dalam kamar tidur utama Kediaman Duke Dravenhart yang megah dan sunyi, Kael duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan peta taktis militer dan laporan logistik perbatasan.
Pernikahan kilat itu telah dipaksakan. Meskipun Kael menolak untuk menikahi sang Putri, namun hukum tetap memaksa Virelia dipindahkan ke kediaman Kael sore tadi di dalam sebuah kereta kuda tertutup yang dikawal ketat oleh pasukan khusus, seolah-olah mereka sedang mengangkut tahanan berbahaya yang bisa mengamuk kapan saja.
Sejak kedatangan Virelia beberapa jam lalu, istana kecil milik Kael berubah menjadi zona bencana.
Tiga pelayan melaporkan bahwa sang putri baru saja mencoba memanjat chandelier kristal di ruang tamu sambil berteriak bahwa dirinya adalah burung pelikan. Dua pengawal pribadi Kael bahkan harus mengerahkan tenaga untuk mengunci pintu kamar tamu tempat Virelia dikurung, karena wanita itu terus menggebrak-gebrak pintu sambil melemparkan sepatu bot milik salah satu penjaga keluar jendela.
Kael menggosok pangkal hidungnya. Kepala pria itu terasa pening luar biasa. Jauh lebih melelahkan dari pada memimpin pasukan menghadapi serbuan ribuan monster di jurang es.
"Yang Mulia Duke," suara kepala pelayannya, Alfred, terdengar ragu-ragu dari balik pintu ruang kerja yang terbuka sedikit. Pria tua itu tampak mengenakan perban melingkar di kepalanya.
"Ada apa, Alfred? Apakah dia membakar tirai lagi?" tanya Kael tanpa mengalihkan pandangannya dari peta.
"B-bukan, Yang Mulia. Putri Virelia ... Beliau berhasil keluar dari kamar tamu," jawab Alfred dengan nada gemetar.
Kael mendesah berat, meletakkan pena bulunya di atas meja.
"Bagaimana bisa? Pintu itu dikunci dari luar dengan rantai besi, bukan?" tanya Kael antara penasaran dan kesal.
"Putri melompat keluar lewat jendela kamar di lantai dua, mendarat di atas semak dan tanaman, lalu berlari mengelilingi halaman belakang sambil berteriak bahwa rumput di taman sedang merencanakan kudeta terhadap kerajaan," lapor Alfred dengan ekspresi antara ingin menangis dan tertawa.
"Hah?!" Kael seakan ikut kehilangan kewarasannya kini.
"Sekarang, Putri duduk di atas dahan pohon di halaman depan dan menolak turun kecuali Anda membawakan seratus ekor kepiting rebus katanya," kata Alfred.
Kael terdiam. Matanya menatap kosong ke arah dinding.
Pernikahan ini baru berjalan selama sepuluh jam, tetapi Kael sudah merasa usianya berkurang sepuluh tahun.
"Aku akan tua lebih cepat karena Putri tidak waras ini," dumel Kael.
Dengan gerakan cepat, Kael berdiri dari kursi. Ia menyambar jubah hitamnya dan melangkah keluar menuju halaman depan.
Udara malam musim dingin yang menusuk tulang menyambutnya, bercampur dengan suara angin yang menderu.
"Dimana dia?" tanya Kael pada Alfred.
"Pohon besar di halaman utama, Yang Mulia," jawab Alfred cepat.
Segera Kael menuju ke arah pohon yang dimaksud, pohon terbesar yang juga menjadi ikonik kediaman Duke.
Dan benar saja, di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, di atas dahan pohon ek yang tinggi, sesosok bayangan ramping duduk bersila dengan anggun. Rambut panjangnya yang berwarna pirang berkilau diterpa angin malam, terurai bebas tanpa hiasan bangsawan. Wajahnya tertutup bayangan dahan, tetapi samar-samar Kael dapat melihat sepasang mata yang memantulkan binar aneh; bukan binar ketidaktahuan orang gila, melainkan kilatan cahaya yang sangat tajam, dingin, namun begitu tenang. Seperti danau di malam hari.
Namun, begitu melihat Kael mendekati pohon itu, ekspresi sang Putri langsung berubah dalam sepersekian detik.
"Putri, apa yang Anda lakukan malam-malam begini di sini? Bukankah sudah dikatakan agar Anda tetap di dalam kamar" kata Kael dengan nada sangat dingin.
Sosok Putri Virelia langsung merosot dari dahan, berteriak histeris, dan mulai meronta-ronta di atas rumput halaman sambil mencabuti kelopak bunga mawar putih kesayangan Kael.
"Tidak mau! Tidak mau! Jangan masukkan aku ke dalam sangkar burung!" teriak Virelia dengan suara melengking dramatis.
Kael terdiam melihat ketantruman gadis ini.
"Kau! Monster berbulu serigala! Kau mau menculikku dan mengubahku menjadi sup kepala ikan!" Sang Putri menatap Kael dengan mata terbelalak lebar, lalu menunjuk ke arah sang Duke dengan jari telunjuknya yang gemetar.
Kael berdiri melipat tangan di depan dada. Ia menatap calon istri barunya itu dengan tatapan datar, dingin, dan penuh selidik.
Di hadapannya, seorang wanita gila sedang berguling-guling di tanah, mengamuk seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
Tetapi, ada satu hal kecil yang mengusik pikiran sang Serigala Perang.
Barusan, sebelum gadis itu mulai berteriak histeris, Kael melihat cara Virelia mendarat dari dahan pohon setinggi lima meter. Itu sama sekali bukan pendaratan acak seseorang yang kehilangan akal. Itu adalah teknik pendaratan sempurna seseorang yang terlatih.
"Pergi kau serigala jelek!" raung Virelia.
Kael menyipitkan matanya. Jantungnya berdegup bukan karena takut, melainkan karena insting militernya mendadak berteriak kencang.
Putri Gila, huh? batin Kael yang tanpa ada orang melihat sebuah senyum berbahaya terbentuk di wajahnya.
masuk akal si
tapi...aku sama anakku suka ngakak
kalau cerita jaman dulu banyak yg menuliskan.
kalau nanya alamat rumah
" kisanak,apakah rumah mu masih jauh?
dijawab nya
tidak kisanak,hanya dibalik bukit ini
palingan membutuhkan 2-3 hari lagi
🫣🫣🤣🤣🤣
helooo..itu bukan bukit,itu gunung
kita kepuncak aja butuh belasan jam ke puncak dr jakarta
apalagi anda jalan hai para kisanak 🤣🤣🤣
jadi....tau kan kenapa orang jaman dulu jarang ada yg stroke di masa muda🫣🤣🤣🤣
cekep amet bahasamu Thor
4 jempol dr akyuuuu😍😍
ketemu mantan tersayang nya kah??🥹🥹
negaraku
kaya gini🫣🤣🤣🤣
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣