NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

BAB 12

PINTU YANG DIBONGKAR

Lani baru membuka pintu kamar keesokan paginya setelah memastikan Rey sudah berangkat kuliah.

Di sofa tertinggal bantal, selimut, dan pakaian yang dilemparkannya semalam. Botol kecap sudah kembali ke rak. Bak cuci piring penuh oleh peralatan makan mereka.

Pukul empat sore, Rey muncul lagi dengan tas kuliah di bahu.

"Aku sudah bilang jangan datang tanpa izin."

"Aku kirim pesan."

Lani memeriksa ponsel. Ada satu pesan masuk dua menit lalu.

`Aku datang.`

"Itu pemberitahuan, bukan minta izin."

"Bedanya tipis."

"Bedanya pintu ini tetap kututup kalau kamu ulangi."

Rey masuk sebelum Lani sempat melakukannya. Ia langsung membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan.

"Kalau mau makan, kamu masak. Setelah itu cuci piring sendiri."

"Gue nggak pernah cuci piring."

"Hari ini belajar."

Mereka memasak mi goreng dengan sayuran. Rey menghabiskan dua porsi, lalu membawa piring ke bak cuci dengan wajah orang yang sedang menuju hukuman mati.

"Sabunnya berapa?"

"Sedikit. Sponsnya dibasahi dulu."

Rey menuangkan hampir seperempat botol. Busa memenuhi bak. Piring pertama terlepas dari tangannya dan pecah di lantai.

"Jangan bergerak!"

Terlambat. Rey membungkuk dan mengambil pecahan besar dengan tangan kosong.

Lani menepuk tangannya. "Pakai sapu. Pecahan kecil bisa masuk kulit."

"Cuma piring."

"Dan cuma satu telapak tangan yang kamu punya di sebelah kanan."

Lani mengambil sapu kecil, menunjukkan cara mengumpulkan serpihan, lalu berdiri di sampingnya saat ia mengulang mencuci. Rey membilas piring terlalu lama, tetapi kali ini tidak menjatuhkannya.

"Begini?"

"Bersihkan bagian belakang juga."

"Ribet."

"Kalau mau tinggal di sini, ikut aturan. Kamu boleh tidur di sofa. Hanya sofa."

Rey menoleh, busa menempel di lengannya. "Berarti boleh tinggal?"

Lani menyesali kalimatnya, tetapi sudah terlambat. "Sementara."

Malam itu, untuk pertama kalinya, Rey mencuci semua piring sampai selesai.

***

Saat Rey masih di dapur, Wiwid menelepon lewat video.

Wajahnya memenuhi layar dengan ekspresi kesal. "Gue baru saja hampir mati malu."

"Kenapa?"

"Raka datang bawa charger yang ketinggalan. Gue lagi di sofa sama Alvin."

"Sama Alvin bagaimana?"

"Ya, lagi ciuman." Wiwid menutup wajah. "Anak itu masuk pakai kunci cadangan. Berdiri bengong sambil bawa anggur yang sudah dicuci."

Lani menahan tawa. "Lalu?"

"Dia minta maaf, taruh anggur di meja, terus malah membereskan gelas gue. Anak itu terlalu sopan. Kalau Rey yang lihat, mungkin sofa gue dibakar."

"Jangan sebut nama Rey."

"Kenapa? Dia ada di situ?"

Suara piring beradu terdengar dari dapur.

Lani mengecilkan volume. "Dia cuma makan."

Wiwid memicingkan mata. "Lan, lo bawa serigala masuk rumah lalu bilang cuma makan?"

"Aku sedang mengajarinya bertanggung jawab."

"Bagus. Mulai dari jangan hancurkan hidup lo."

Lani menoleh ke arah dapur. Rey sedang menyeka meja tanpa disuruh, meski caranya membuat air menyebar semakin luas.

"Aku tahu."

Setelah panggilan berakhir, ia masuk kamar dan mengunci pintu.

***

Pukul satu dini hari, bel apartemen berbunyi dua kali.

Lani tidak mendengarnya. Ia tidur dengan penutup telinga setelah semalaman sebelumnya terganggu suara gim Rey.

Di luar, Rey membayar tukang kunci yang dipanggilnya melalui layanan darurat. Ia mengaku kunci kamar tertinggal di dalam dan menunjukkan kartu tamu unit yang masih aktif. Lima belas menit kemudian, silinder pintu kamar Lani terbuka tanpa dirusak permanen.

"Terima kasih," kata Rey sambil menyerahkan uang lebih. "Saya pasang kunci baru besok."

Tukang itu pergi. Rey membuka pintu kamar dan memandangi Lani yang tidur menyamping.

Ia seharusnya tetap di sofa.

Namun sofa itu pendek, lehernya sakit, dan perempuan di ranjang adalah satu-satunya orang yang mengatakan akan mengurusnya.

Rey naik ke sisi kosong.

Beberapa menit kemudian, Lani bergerak dalam tidur. Tangannya melingkari pinggang Rey dan wajahnya menempel ke dada. Ia bergumam tidak jelas, mencari kehangatan seperti tubuh yang sudah terbiasa tidur di samping seseorang.

Napas Rey berubah.

Ia tidur tanpa pakaian di bawah selimut, kebiasaan yang tidak pernah dianggapnya masalah sebelum malam ini. Tangan Lani menyentuh kulit punggungnya. Rey menahan pergelangan itu agar tidak bergerak lebih jauh.

"Lani," bisiknya.

Perempuan itu justru merapat.

Rey mencubit pipinya pelan. "Bangun. Lo salah orang."

Lani tidak membuka mata.

Jari Rey berpindah ke belakang lehernya, menahan jarak. Keinginan untuk membalas pelukan itu bertabrakan dengan air mata Lani yang masih hidup dalam ingatannya.

"Malam ini aku lepasin kamu," gumamnya.

Ia melepaskan tangan Lani dari pinggang dan meletakkan guling di antara mereka.

Kenapa setiap melihat Lani, ia semakin sulit menahan diri?

***

Jeritan Lani membangunkan seluruh unit pada pukul enam.

"Kenapa kamu ada di sini?"

Rey membuka mata. Selimut menutup tubuhnya sampai pinggang, tetapi bahu dan dadanya telanjang. Lani sudah berdiri di sisi ranjang sambil memeluk guling.

"Tidur."

"Aku tahu kamu tidur! Bagaimana kamu masuk?"

Rey menunjuk pintu. "Panggil tukang kunci."

Lani memeriksa gagang yang longgar. Wajahnya memucat. "Kamu membongkar pintu kamar tidurku?"

"Nanti gue ganti."

"Ini bukan soal uang!"

Lani menelepon meja keamanan saat itu juga. Petugas menjelaskan kartu tamu Rey masih tercatat aktif sejak malam hujan dan tukang kunci menunjukkan pesanan darurat atas nomor unitnya. Lani meminta akses itu dinonaktifkan, nama Rey dihapus dari daftar tamu tetap, dan setiap teknisi wajib mendapat konfirmasi langsung darinya.

"Kami mohon maaf, Bu," kata petugas. "Kunci baru akan kami pasang hari ini."

"Pastikan tidak ada orang masuk lagi tanpa telepon saya."

Rey berdiri di dekat ranjang dengan rahang keras. "Jadi gue sekarang dilarang masuk gedung?"

"Kamu sendiri yang membuatnya perlu."

Rey bangkit dan mengenakan celana di balik selimut sebelum berdiri. "Gue telat kuliah."

"Bagus. Pergi. Setelah ini jangan datang lagi. Malam ini aku pindah."

Gerakan Rey berhenti.

"Apa?"

"Kamu merusak satu-satunya tempat yang seharusnya aman untukku. Aku akan cari apartemen lain."

Rey berjalan mendekat. "Kalau lo pindah, gue nggak sekolah."

"Itu hidupmu."

"Lo bilang mau ngurus."

"Mengurus bukan berarti membiarkanmu melewati semua batas."

Rey mendorong bahunya sampai Lani duduk di tepi ranjang. Tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan langkahnya. Jarinya mencubit pipi Lani, memaksa wajahnya terangkat.

"Hitungannya gampang," katanya. "Lo tetap di sini, gue sekolah. Lo pindah, gue berhenti."

Lani menatap mata gelap itu. Ia tahu Rey benar-benar akan melakukannya hanya untuk menang.

"Kamu sekolah," katanya pelan. "Aku nggak pindah."

Di balik punggungnya, jari Lani mengencang pada ujung seprai.

Ia akan menunggu Rey pergi, mengambil dokumen, lalu mencari hotel sebelum malam.

Bahkan suara kunci baru itu kini terasa seperti ancaman.

Rey menyipitkan mata seolah dapat membaca rencana itu.

Ia mencubit pipi Lani sekali lagi.

"Berani bohongin aku, coba aja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!