NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030

Aku Suaminya

“Masuk dulu,” kata Pak Herman. “Duduk-duduk sebentar.”

Laras menarik tangannya, tetapi cengkeraman di pergelangannya justru mengeras. Pintu kamar sudah terbuka sedikit. Dari dalam hanya terlihat lampu redup dan sudut tempat tidur.

“Lepaskan, Pak.”

“Jangan lebay. Kita ngobrol soal besok.”

Pak Herman menariknya satu langkah mendekat. Laras menahan kaki pada karpet lorong. Ia ingin berteriak, tetapi bayangan kontrak kerja, komisi proyek, dan status pegawai baru menutup tenggorokannya.

“Kita bisa bahas di lobi.”

“Saya bos kamu. Masa saya ajak ngobrol saja susah?”

Tangan Laras mulai sakit. Ia meraih ponsel dengan tangan bebas, bersiap menekan tombol darurat.

Suara lift berdenting.

“Ada masalah?”

Bram keluar sambil menarik koper kecil. Kemeja hitamnya kusut setelah penerbangan, tetapi langkahnya langsung cepat ketika melihat tangan Pak Herman di pergelangan Laras.

Pak Herman melepaskan cengkeraman sepersekian detik terlambat.

Bram menarik Laras ke sisinya. Satu lengannya melingkari bahu Laras, sementara tubuhnya berdiri di antara perempuan itu dan pintu kamar.

“Saya cuma ngajak staf saya bahas kerjaan,” kata Pak Herman.

“Di kamar hotel? Sambil ditarik?”

“Anda siapa?”

Bram menatapnya tanpa berkedip. “Aku suaminya, Bram. Salam kenal.”

Kata suami membuat Laras terkejut, tetapi ia tidak membantah. Telapak tangan Bram di bahunya tidak menekan. Ia hanya memberi tempat untuk berlindung.

Pak Herman mengamati koper dan pakaian Bram, seolah mencari kelemahan. “Istri Anda pegawai saya. Jangan ikut campur urusan profesional.”

“Kalau profesional, bahas di ruang rapat.”

Bram menoleh ke kamera pengawas di ujung lorong. “Kita bisa minta hotel putar rekamannya kalau Bapak mau jelaskan siapa yang menarik siapa.”

Wajah Pak Herman berubah. Ia memasang senyum tipis, mengangkat kedua tangan, lalu masuk ke kamar.

“Salah paham saja. Besok jangan telat, Laras.”

Pintu tertutup.

Bram tidak mengejarnya. Ia mengambil foto nomor kamar dan mencatat waktu kejadian, lalu mengajak Laras menuju lift.

“Kamar kamu di mana?”

“Ujung sana.”

“Kita ke kamarku dulu. Di lantai berbeda.”

Baru di dalam lift Laras sadar tubuhnya gemetar. Bekas jari memerah di pergelangan. Bram melihatnya, rahangnya mengeras, tetapi ia tidak menyentuh bagian itu tanpa izin.

Kamar Bram terang dan menghadap kota. Begitu pintu terkunci, Laras meletakkan tas lalu berbalik memeluknya.

“Aku takut banget tadi.”

Bram sempat kaku. Setelah Laras mempererat pelukan, barulah kedua tangannya bergerak ke punggungnya.

“Aku di sini.”

“Aku sudah bilang lepas. Dia malah narik.”

“Kamu nggak salah.”

Empat kata itu memecahkan pertahanan Laras. Ia menangis di dada Bram, marah karena sempat memikirkan pekerjaan sebelum keselamatan sendiri. Bram membiarkannya sampai napasnya kembali teratur.

“Kita lapor keamanan hotel sekarang,” katanya.

Laras mengangguk.

Mereka turun bersama petugas. Laras memberikan kronologi, menunjukkan bekas di pergelangan, dan meminta rekaman lorong disimpan. Pihak hotel membuat laporan insiden serta menawarkan pemindahan kamar. Laras juga mengirim surel kepada HR dari akun pribadinya, melampirkan waktu dan nomor laporan tanpa menunggu persetujuan Pak Herman.

Petugas keamanan bertanya apakah Laras ingin polisi dipanggil. Ia memandang bekas merah yang mulai berubah gelap, lalu meminta waktu untuk mempertimbangkan. Petugas mencatat jawabannya tanpa memaksa dan menyerahkan salinan laporan.

“Rekaman hanya disimpan terbatas kalau tidak ada permintaan resmi,” katanya.

“Tolong tandai agar tidak terhapus,” jawab Laras. “Saya akan minta perusahaan mengirim permohonan tertulis besok pagi.”

Bram tidak mengambil alih percakapan. Ia berdiri di samping Laras, menyimpan salinan, dan hanya menambahkan bahwa ia tiba saat cengkeraman masih terjadi. Ketika petugas meminta nomor saksi, Bram memberikan identitasnya dengan tenang.

Di lift, Laras menarik napas panjang. “Aku tadi hampir diam.”

“Tapi kamu bilang lepas.”

“Aku mikirin kontrak dulu.”

“Itu efek dia punya kuasa atas kerjaanmu. Bukan berarti kamu mengizinkan.”

Laras menatap Bram. Ia membutuhkan kalimat itu lebih daripada ancaman balas dendam mana pun.

“Besok kamu mau berhenti dari proyek?” tanya Bram setelah semuanya selesai.

“Nggak.”

“Yakin?”

Laras memandang buku catatan di tas. “Aku mau menyelesaikan pekerjaan untuk Mr Mason. Tapi aku nggak mau sendirian sama Pak Herman lagi.”

“Aku temani dari luar ruang rapat. Kalau kamu berubah pikiran, kita pulang.”

Ia tidak berkata akan menghancurkan perusahaan atau memaksa Laras menyerah. Pilihan tetap berada di tangan Laras.

Kembali di kamar, Bram memesan teh hangat dan kompres dingin. Laras duduk di tepi ranjang sambil mempelajari agenda esok hari. Setelah ketakutannya turun, rasa malu lain datang.

“Tadi kamu bilang suami.”

“Maaf.”

“Kenapa minta maaf?”

“Karena aku pakai status yang belum kamu kasih.”

Laras memutar pulpen. “Untuk tadi, aku izinkan.”

“Hanya untuk tadi.”

“Iya.”

Bram tersenyum kecil, lalu mengambil bantal dari lemari.

“Kamu mau ngapain?”

“Tidur.”

“Di mana?”

Ia menunjuk karpet di sisi ranjang.

“Kamu bisa tidur di sofa.”

“Sofanya pendek.”

“Lantainya lebih parah.”

“Kalau aku tidur di kasur, kamu nggak akan istirahat. Besok kamu butuh fokus.”

Bram menggelar selimut di karpet. Ia bahkan berganti pakaian di kamar mandi agar Laras tidak merasa canggung. Tidak ada sentuhan lanjutan, tidak ada kesempatan yang dimanfaatkan dari rasa takutnya.

“Pintunya pakai pengait,” kata Bram. “Kartu kamarku aku taruh di meja. Kalau kamu ingin aku keluar, bangunkan saja.”

Laras memeriksa pengait, lalu menaruh kursi kecil di dekat pintu. Bram membantu tanpa menertawakan kewaspadaannya. Setelah itu ia mematikan lampu utama dan membiarkan lampu meja menyala karena Laras tidak ingin kamar sepenuhnya gelap.

“Bram.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah datang.”

“Aku datang karena kamu mengizinkan.”

Ia tidak mengubah tiga kata `aku temani kamu` menjadi utang yang harus dibayar Laras. Kesadaran itu membuat bahunya perlahan turun.

Laras kembali menghafal istilah kontrak. Beberapa kali ia melirik ke bawah. Bram bekerja dengan laptop sampai lewat tengah malam, kemudian tidur hanya dengan satu bantal tipis.

Wajah Laras memanas saat teringat dirinya pernah menolak satu ciuman dari laki-laki yang kini memilih lantai agar ia merasa aman.

Pagi berikutnya, Pak Herman sudah duduk di restoran dengan wajah datar. Ia tidak menyebut kejadian semalam. HR membalas bahwa laporan sedang diperiksa dan meminta semua interaksi berikutnya dilakukan di area publik.

Bram sarapan di meja berbeda. Ia tidak mendekat, tetapi Laras selalu bisa melihatnya.

Dalam rapat, Laras menerjemahkan spesifikasi mesin, jadwal uji coba, pelatihan operator, dan klausul keterlambatan. Istilah teknis datang cepat. Pada hari kedua ia masih membuka catatan setiap beberapa menit. Hari ketiga, sebagian besar sudah tersimpan di kepala.

Pada hari keempat terjadi perdebatan soal biaya teknisi. Pihak Indonesia mengira harga sudah termasuk tiket dan hotel, sementara Mr Mason menganggap seluruh perjalanan ditanggung pembeli. Suara kedua pihak meninggi.

Laras meminta waktu dua menit, membuka proposal awal, lalu menemukan satu catatan kaki yang tidak pernah masuk ke versi terjemahan lama. Ia menjelaskan perbedaan itu secara netral dan menawarkan dua susunan kalimat agar mereka memilih, bukan saling menuduh.

Mr Mason membaca keduanya. “Use the second one. Split the airfare, buyer covers local expenses.”

Kesepakatan tercapai dalam sepuluh menit. Pak Herman tidak memujinya, tetapi perwakilan klien Indonesia meminta kartu nama Laras setelah rapat.

“Kalau nanti ada proyek langsung, saya bisa minta Mbak?”

“Melalui perusahaan, tentu.”

Laras sengaja menjawab sesuai kontrak. Ia ingin dikenal karena profesional, bukan karena memanfaatkan masalah dengan bos.

Setiap malam ia menyusun glosarium, memeriksa rekaman resmi rapat, lalu berlatih mengucapkan istilah sulit. Bram membantu menjadi lawan bicara meski beberapa kali salah membaca kata teknis.

“Bukan sterilization chamber begitu,” protes Laras.

“Aku orang bisnis, bukan mesin.”

“Makanya jangan sok bantu.”

“Tapi kamu ketawa.”

Mereka menjaga pola yang sama sepanjang minggu. Bram bekerja dari lobi atau kafe hotel. Laras menemui Pak Herman hanya di ruang rapat bersama orang lain. Hotel menyimpan rekaman, dan HR menjadwalkan wawancara resmi setelah mereka kembali ke Jakarta.

Pak Herman tidak lagi menyentuhnya. Namun sikapnya berubah dingin. Ia memotong penjelasan Laras, mencari kesalahan kecil, dan sekali menuduh ringkasan rapat terlambat meski waktu pengiriman tercatat jelas.

Laras menyimpan setiap bukti.

Mira membantu dari Jakarta. Ia membuat salinan percakapan di server bersama dan mengingatkan Laras mengirim ringkasan harian kepada HR. Bu Ratna menelepon setiap malam, tidak untuk menyuruhnya pulang, melainkan memeriksa apakah perusahaan menjalankan perlindungan yang dijanjikan.

“Pekerjaan bagus tidak boleh dibayar dengan rasa takut,” katanya.

Pada malam keenam, Laras menunjukkan semua folder bukti kepada Bram. Laki-laki itu membaca diam-diam, lalu bertanya apa yang Laras inginkan setelah pulang.

“Aku mau komisi dinilai dari hasil kerja. Aku juga mau dia nggak bisa melakukan ini ke pegawai lain.”

“Kalau begitu kita pegang dua tujuan itu. Bukan cuma bikin dia malu.”

Untuk pertama kalinya, Laras menyadari Bram tidak selalu menyelesaikan masalah dengan uang atau kekuasaan. Ia bisa mengikuti arah yang ditentukan Laras.

Pada hari terakhir, Mr Mason membaca dokumen kesepakatan final lalu mengacungkan kedua jempol.

“No missing numbers, no surprise clauses. Excellent work, Laras.”

“Thank you, Mr Budiman.”

Ia tertawa, kemudian menunjuk Bram yang duduk di kafe seberang ruang kaca.

“That man has been here since the first day. Never far from you.”

Laras mengikuti arah telunjuknya. Bram sedang menelepon, tetapi tatapannya sesekali memastikan Laras masih berada di ruangan.

“He worries too much,” katanya.

“Good. You work too much. Compatible problems.”

Pujian profesional Mr Mason membuat Laras bangga. Candaan tentang Bram membuat pipinya hangat. Ia menutup buku catatan yang kini penuh istilah dan koreksi.

Proyek pertamanya selesai tanpa ia lari. Pak Herman gagal mengambil rasa aman maupun hasil kerjanya.

Namun ketika mereka menuju bandara, Laras menerima pemberitahuan bahwa evaluasi komisi harus menunggu persetujuan langsung Pak Herman.

Ia menatap layar cukup lama.

Laki-laki itu mungkin tidak bisa menyentuhnya lagi. Bukan berarti ia tidak bisa membalas melalui pekerjaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!