Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Malam semakin larut menyelimuti kediaman utama Prameswari yang tenang.
Genta duduk bersila di tengah kamarnya yang sepi sambil memejamkan mata.
Dia memfokuskan pikirannya ke dalam antarmuka sistem yang menyala terang di dalam kepalanya.
"Sistem, buka Toko Level 2 dan cari item pertahanan fisik tingkat tinggi," perintah Genta di dalam hatinya.
[Mengakses Toko Sistem Level 2...]
[Ditemukan Resep Jimat Pelindung Meridian. Harga: 10.000 Poin Reputasi.]
[Efek: Menciptakan pelindung energi mutlak yang bisa menahan serangan fisik mematikan dan menetralisir racun di radius satu meter selama dua puluh empat jam.]
"Beli resep itu sekarang juga," perintah Genta tanpa ragu sedikitpun.
[Pembelian berhasil. Poin Reputasi Master dikurangi 10.000 Poin.]
Genta membuka matanya saat pengetahuan kuno tentang merajut energi kehidupan mengalir deras ke dalam otaknya.
Dia mengeluarkan dua buah batu giok putih berkualitas tinggi yang tadi siang dibelinya dari toko perhiasan.
Dengan menggunakan Jarum Emas Seribu Jiwa, Genta mengukir pola meridian rumit di permukaan kedua batu giok tersebut.
Keringat mulai menetes dari dahinya karena proses ini sangat menguras tenaga dalam.
Satu jam kemudian, ukiran itu selesai dan kedua batu giok itu memancarkan pendaran cahaya putih yang sangat lembut.
"Ini sudah cukup untuk melindungi mereka dari serangan mendadak saat aku pergi ke ibu kota," gumam Genta puas.
Keesokan harinya, suasana di hotel bintang lima terbesar di kota sangat ramai dan meriah.
Kakek Baskoro secara khusus menyewa seluruh lantai dasar hotel untuk mengadakan perjamuan pelepasan Genta.
Kiara tampil luar biasa anggun mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang mengekspos leher jenjangnya.
Di sudut lain, Larasati juga hadir mengenakan gaun merah marun yang sangat kontras dengan seragam polisinya yang biasa.
Genta menghampiri kedua wanita cantik itu di meja VIP dengan senyum tenang.
"Aku punya hadiah kecil untuk kalian berdua sebelum aku berangkat besok pagi," ucap Genta menarik perhatian mereka.
Genta meletakkan dua kalung dengan liontin batu giok putih berukir aneh di atas meja.
"Pakai ini setiap saat dan jangan pernah dilepas meskipun kalian sedang mandi atau tidur."
Kiara mengambil kalung itu dan langsung memakainya dengan senyum sangat bahagia.
"Terima kasih suamiku, aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri," ucap Kiara menyentuh liontin giok yang terasa hangat di dadanya.
Laras ragu-ragu sejenak, namun dia akhirnya mengambil kalung itu dan menggenggamnya erat.
"Kau tidak perlu repot-repot memberiku barang mahal seperti ini Genta, aku ini polisi yang dilatih untuk melindungi diri sendiri," ucap Laras dengan nada gengsi.
Genta tertawa pelan dan menatap mata Laras dengan tatapan mendominasi.
"Pakai saja Nona Polisi, itu akan melindungimu dari musuh yang tidak mempan ditembak pistol peluru tajam."
Laras mendengus pelan namun diam-diam langsung memasang kalung giok itu di lehernya dengan wajah merona merah.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan Kakek Baskoro dari atas panggung menghentikan obrolan mereka.
"Para tamu sekalian, malam ini kita berkumpul untuk mendoakan keselamatan cucu menantuku yang akan bertolak ke ibu kota!" seru Kakek Baskoro dengan suara bangga.
Ratusan tamu yang terdiri dari pejabat dan konglomerat langsung bertepuk tangan meriah memberikan penghormatan.
Namun di tengah kemeriahan itu, penciuman tajam Genta tiba-tiba menangkap aroma yang sangat ganjil.
Bau amis darah yang bercampur dengan bahan kimia mematikan perlahan menyerbak dari arah dapur utama hotel.
[Peringatan! Mata Surgawi mendeteksi anomali berbahaya di radius lima puluh meter.]
[Ditemukan sepuluh pelayan hotel dengan denyut nadi tidak wajar sedang bergerak menuju aula perjamuan.]
Genta langsung berdiri dari kursinya, raut wajahnya yang santai berubah menjadi sangat dingin.
"Tetap duduk di kursi kalian dan jangan ada yang menyentuh makanan serta minuman apapun," perintah Genta tegas pada Kiara dan Laras.
Kiara langsung memucat menyadari perubahan nada suara suaminya itu.
"Ada apa Genta? Apa ada musuh lagi?" tanya Kiara menahan napas.
"Hanya sekelompok lalat bodoh yang bosan hidup," jawab Genta sambil melangkah santai menuju tengah aula.
Tepat saat itu, sepuluh orang pelayan hotel yang membawa nampan makanan berukuran besar masuk dari dua pintu yang berbeda.
Mereka berjalan dengan langkah yang sangat kaku dan tatapan mata yang kosong ke depan.
Genta menghentikan langkahnya tepat di tengah karpet merah dan menatap para pelayan itu dengan bosan.
"Siapapun yang mengendalikan mayat-mayat hidup ini, keluarlah sekarang sebelum aku menghancurkan mainanmu."
Suara Genta tidak keras, namun menggema di seluruh ruangan berkat tenaga dalamnya.
Para tamu undangan langsung terdiam bingung, menatap Genta dan para pelayan itu secara bergantian.
Tiba-tiba, sepuluh pelayan itu secara serentak melemparkan nampan makanan mereka ke udara.
Prang! Prang!
Dari balik seragam pelayan mereka, mereka mencabut parang berkarat yang sudah dilumuri cairan beracun mematikan.
"Bunuh Tabib Genta! Balaskan dendam Dokter Wijaya dan keluarga Adhitama!" teriak salah satu pelayan itu dengan suara yang tidak wajar.
Mereka rupanya adalah sisa-sisa pengikut fanatik Dokter Wijaya dan preman bayaran Adhitama yang sengaja menggunakan ilmu hitam untuk memanipulasi kesadaran pelayan hotel.
Kepanikan meledak dalam seketika.
Para tamu undangan menjerit histeris dan berlarian saling injak mencoba mencari pintu keluar.
"Keamanan! Lindungi para tamu sekarang juga!" teriak Laras mencabut pistol dari balik gaun merahnya.
Namun Genta mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada Laras untuk tidak ikut campur.
"Tahan tembakanmu Nona Inspektur, jangan mengotori tanganmu dengan darah kotor mereka."
Sepuluh pelayan berparang itu menerjang maju dari segala arah, mengincar nyawa Genta dengan mata merah menyala.
Genta menghela napas panjang, merasa sangat muak dengan gangguan murahan di acara keluarganya.
[Teknik Pukulan Penghancur Tulang ditingkatkan ke batas maksimal.]
Genta tidak menghindar apalagi mundur.
Dia melesat maju seperti kilatan petir menyongsong pelayan pertama yang mengayunkan parangnya.
Bugh!
Genta memukul pergelangan tangan pelayan itu dengan punggung tangannya, menghancurkan tulang lengan itu seketika.
Parang berkarat itu terlepas dari genggaman dan melayang di udara.
Genta menangkap gagang parang itu dengan cepat dan menggunakannya untuk menangkis serangan pelayan kedua dan ketiga.
Trang! Trang!
Bunga api memercik saat senjata-senjata itu berbenturan dengan sangat keras.
"Kalian berani mengacau di kotaku tepat sebelum aku pergi?" desis Genta menatap mereka dengan tatapan maut.
Genta membuang parang itu ke lantai dan memutuskan menggunakan tangan kosongnya untuk memberi pelajaran yang lebih menyakitkan.
Krak! Krek!
Dalam waktu kurang dari dua menit, Genta bergerak menyapu seluruh sepuluh pelayan itu tanpa ampun.
Dia tidak membunuh mereka, melainkan meremukkan tulang tempurung lutut dan tulang bahu mereka secara presisi.
Jeritan kesakitan menggelegar di seluruh aula, sepuluh pelayan pembunuh itu jatuh terkapar di atas karpet merah yang kini ternoda darah.
Semua tamu undangan yang tadinya berlarian kini berhenti mematung, menatap horor pada pemuda yang berdiri tenang di tengah tumpukan manusia itu.
Genta berjalan perlahan ke arah salah satu pelayan yang masih bisa berbicara sambil menahan sakit.
Genta menginjak dada pelayan itu dengan satu kaki, memberikan tekanan yang membuat napasnya sesak.
"Sampaikan pesan ini pada sisa-sisa kecoak yang masih bersembunyi di kota ini."
Suara Genta terdengar sangat mengintimidasi, sengaja disebarkan agar didengar oleh seluruh orang yang hadir di aula.
"Aku memang akan pergi ke ibu kota besok pagi."
"Tapi jika ada satu orang pun yang berani mengganggu istriku atau klinikku saat aku tidak ada, aku akan kembali hanya untuk mencabut nyawa seluruh keluarga kalian."
Pelayan itu mengangguk panik sambil menangis ketakutan, rasa sakit di sekujur tubuhnya benar-benar menghancurkan kewarasannya.
Laras segera memerintahkan pasukan polisinya yang berjaga di luar untuk masuk dan memborgol para pembunuh yang sudah lumpuh itu.
"Bawa mereka semua ke sel isolasi tertinggi, pastikan tidak ada satupun yang bisa bunuh diri!" perintah Laras dengan tegas.
Kiara berlari menghampiri Genta, mengabaikan lautan darah di sekitarnya dan langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Kau berjanji ini yang terakhir kalinya kau bertarung sebelum pergi kan?" isak Kiara menyembunyikan wajahnya di dada Genta.
Genta membalas pelukan itu dan mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Ini adalah peringatan terakhir untuk kota ini Kiara, mereka tidak akan berani bergerak lagi setelah melihat ini."
Genta menatap ke arah pintu keluar hotel yang terbuka lebar, pikirannya sudah terbang jauh ke tempat yang lebih menantang.
[Ding!]
[Misi pembersihan ancaman lokal berhasil diselesaikan secara absolut.]
[Persiapan menuju Ibu Kota telah mencapai seratus persen.]
Malam itu menjadi malam terakhir bagi sisa-sisa musuh lokal yang mencoba mencari celah.
Keesokan paginya, Genta akan memulai perjalanan panjangnya menuju ibu kota, meninggalkan legenda tak terkalahkan di kota metropolitan ini.