NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 ~ Mama

Mendengar perkataan terakhir sang menantu, Linda semakin merasa tersinggung. Ia berkacak pinggang, menatap Ailin dengan marah.

"Maksudmu saya ngajarin Kean hal jahat?"

"Enggak, aku enggak mengatakan begitu, ya. Ibu saja yang berspekulasi sendiri."

"Heh, kau! Asal kau tahu! Dulu kau bahkan enggak sudi duduk makan bersama anak-anakmu sendiri. Sekarang malah sok jadi ibu yang baik. Berani-beraninya menyindir saya!"

Mendengar itu, Ailin yang sebelumnya menunjukkan ekspresi tenang akhirnya sedikit merubah raut wajahnya.

Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, Ailin kembali terlihat santai, seolah sedang mendengarkan cerita tentang orang lain.

"Serius?" tanya wanita itu justru penasaran.

"Tentu saja begitu. Kau bahkan sering memarahi mereka... Eh, kenapa kau malah bertanya hal yang jelas-jelas kau ketahui?"

"Karena aku enggak ingat."

"Hah?! Saya ini sedang membongkar semua dosa-dosamu! Kau malah terlihat penasaran begitu!"

Linda menunjuk wajah Ailin dengan gemas. "Kalau berpura-pura juga ada batasnya!"

"Aku enggak pura-pura." Ailin menggeleng pelan.

"Justru karena aku enggak ingat, aku jadi penasaran."

Tatapannya beralih pada Lian yang masih memeluk kakinya. "Kalau memang aku pernah melakukan banyak kesalahan, bukankah lebih baik aku tahu?"

"Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk memperbaikinya sedikit demi sedikit."

Linda yang mendengar penuturan itu terdiam beberapa saat. "Kau semakin seenaknya. Saya akan cari Juan dan suruh dia menceraikanmu!"

Setelahnya wanita itu beranjak pergi. Ailin pun membiarkannya, ia justru berbalik untuk menatap Lian. "Kenapa terus bersembunyi?"

Lian mengangkat kepala, lalu menggeleng pelan. "Nenek enggak suka sama Lili. Jadi Lili juga enggak suka sama nenek."

"Oh, begitukah? Tapi... walau begitu, Lili enggak boleh benci sama nenek loh."

"Iya, Mama. Lili enggak benci sama nenek."

"Tapi kalau Lili merasa diperlakukan enggak adil, Lili boleh membela diri. Tapi ingat, enggak boleh kasar. Oke?"

Lili membulatkan kedua matanya. Anak perempuan itu lalu mengangguk dengan semangat. "Oke, Mama."

Keduanya kemudian saling melempar senyum tanpa menyadari Kean yang sebelumnya fokus pada ponsel diam-diam mendengarkan.

"Benarkah wanita ini sudah berubah?" batinnya merasa aneh dengan sikap sang ibu.

Ia sempat berhenti bermain gim, namun saat ingin melanjutkan, ponselnya telah diambil oleh seseorang. Anak itu berusaha merebut, namun Ailin mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Wanita jahat! Kembalikan ponselku!" pekiknya sembari melompat-lompat dengan kedua tangan terangkat.

"Panggil aku apa?"

"Wanita jahat!"

"Panggil yang benar!"

"Ailin Shen!"

"Ponselnya aku simpan saja, deh."

"Wanita jahat! Kau mau apa?!"

"Panggil aku dengan benar!"

"Enggak!"

"Oke." Ailin membalikkan tubuh, hendak pergi sebelum suara Kean kembali terdengar.

"Mama." Suara itu kecil, hingga jika Ailin tidak menajamkan telinga, maka ia tidak bisa mendengarnya.

"Apa? Aku enggak denger."

"Mama!"

Kali ini suara itu terdengar jelas. Ailin sempat terdiam. Untuk sesaat ia bahkan lupa tujuan awalnya mengambil ponsel itu.

Namun ia segera berdehem dan memasang wajah tegas. "Nah, begitu dong."

Ia mengacak rambut Kean pelan.

"Tapi ponselnya tetap disita. Mulai sekarang kamu harus belajar mengurangi main gim."

"Wanita jahat! Huaaaa." Kean menjatuhkan diri ke lantai. Anak lelaki itu menangis dengan berteriak, sembari berguling-guling ke sana ke mari.

Ailin yang melihatnya sampai menganga tanpa sadar. Ia lalu menatap Lian yang langsung membela diri.

"Aku enggak akan sepelti itu, Mama." Gadis kecil itu menggeleng cepat seolah takut disamakan dengan sang kakak.

"Kau apakan cucuku, hah?!" Saat mendengar teriakkan kencang Kean, Linda yang sedang berdebat dengan sang putra langsung bergegas keluar.

Ia menghampiri sang cucu, lalu dengan lembut menggendong anak itu bangkit kembali. "Cup, cup. Kamu kenapa, Sayang? Jangan nangis lagi, hem."

"Huaaa, Nenek. Wanita jahat itu mengambil ponselku."

"Sudah! Sudah ya! Jangan nangis lagi. Nenek akan ambil kembali ponselnya."

Linda lalu menatap Ailin marah. "Kembalikan ponsel cucuku!"

Ailin mendengus, namun ponsel itu tetap ia pegang erat. "Kalau aku enggak mau?"

"Kau!" Linda mendekat, mengangkat tangannya hendak menampar sang menantu.

Ailin membalas dengan tatapan datar. Tidak menghindar, juga tidak terlihat takut. "Ibu mau tampar aku?"

Tangan Linda tertahan sejenak. "Ya!"

"Di depan anak-anak?"

Kali ini Linda benar-benar menahan tangannya. Ia menatap Kean di samping, anak lelaki itu telah berhenti menangis dan tampak melihatnya dengan sedikit takut. Sementara Lili kembali memeluk kaki sang ibu.

"Wanita sialan! Kau berani menggunakan anak-anak untuk mengancamku?"

"Ma, cukup!"

Dari arah koridor, suara Juan yang dingin memecah perdebatan mereka. Ia memang keluar bersama Linda sejak tadi.

Awalnya Juan memilih diam. Namun saat melihat tangan ibunya terangkat ke arah Ailin, rahangnya langsung mengeras.

Ia bisa mentoleransi banyak hal. Tapi tidak untuk itu.

Sementara Linda menoleh dengan tatapan tidak percaya. Bahkan sejak Juan dan Ailin menikah, pria itu tidak pernah benar-benar membantahnya. Kini, untuk pertama kalinya, putra yang selalu berada di pihaknya justru menghentikannya demi wanita itu.

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!