Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Pahit Alesha
☘️ FLASHBACK
Selama tiga hari berturut‑turut, suasana di dalam rumah kontrakan itu terasa sunyi dan menyesakkan.
Sejak kepergian keluarga Argantara dan kesepakatan yang baru saja diputuskan, Alesha tidak pernah keluar dari kamarnya lebih dari sekadar membuka pintu sebentar untuk mengambil air minum.
Ia duduk mematung di sudut tempat tidur, memandangi dinding yang pucat atau menatap langit‑langit kamar tanpa benar‑benar melihat apa pun.
Pikirannya berputar tak berhenti, terasa seperti terjebak di antara dua pilihan yang sama‑sama menyakitkan.
Panggilan Reyhan dari luar pintu sudah berkali‑kali terdengar.
“Alesha, Nak… makanlah sedikit saja. Sudah tiga hari ini kamu tidak menyentuh makanan sama sekali. Ayah khawatir dengan keadaanmu.”
Namun tidak ada jawaban yang keluar dari balik pintu kayu itu. Hanya keheningan yang menyelimuti, sesekali terdengar suara napas panjang yang terasa berat.
Reyhan mondar‑mandir di ruang tengah, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. Ia tahu betapa beratnya keputusan yang baru saja dipaksakan pada putri semata wayangnya itu, namun ia juga merasa tidak berdaya untuk mengubah keadaan.
Ia menghampiri istrinya yang sedang duduk di teras, mencoba menenangkan diri sambil memandangi jalanan sepi di depan rumah.
“Istriku, bagaimana ini? Kalau terus begini, kesehatan Alesha bisa terganggu parah. Kita harus membujuknya keluar, mengajaknya bicara baik‑baik. Jangan sampai dia menyakiti dirinya sendiri karena masalah ini.”
Namun Zaskia hanya menggeleng pelan, lalu menjawab dengan nada tenang meski terdengar tegas.
“Biarkan saja, Yah. Jangan dipaksa atau terus dipanggil. Dia sedang meluapkan perasaannya dengan caranya sendiri. Kalau dipaksa, justru akan membuatnya semakin memberontak dan menutup diri. Nanti kalau dia sudah merasa lapar, atau sudah cukup melamun, dia pasti akan keluar sendiri dari dalam kamarnya. Dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini.”
“Tapi melihat dia seperti ini rasanya hatiku sakit, Zaskia. Dia bukan hanya tidak mau makan, tapi juga tidak mau bicara dengan siapa pun. Seolah dia memutuskan untuk hidup di dunianya sendiri,” jawab Reyhan dengan nada cemas.
Zaskia menoleh ke arah suaminya, matanya berkaca‑kaca namun ia berusaha tetap tegar.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi apa daya? Keadaan memaksa kita mengambil jalan ini. Alesha itu gadis yang kuat, tapi kali ini bebannya terlalu berat. Biarkan dia menangis, merenung, sampai hatinya lelah dan siap menghadapi kenyataan. Kita hanya bisa menunggu dan menjaga dari jauh, agar dia tahu kita tetap ada di sisinya.”
Sementara itu di dalam kamar, Alesha masih terbenam dalam kesunyian yang menyakitkan.
Perutnya terasa perih karena sudah berhari‑hari tidak terisi makanan yang layak, namun rasa lapar itu kalah jauh oleh rasa sesak di dadanya.
Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena telah menyetujui perjanjian itu, namun juga merasa tidak punya pilihan lain.
Di satu sisi ada masa depan orang tuanya yang tergantung pada janji itu, di sisi lain ada janji suci yang pernah diucapkannya bersama Zehar, cinta yang telah dibangun selama bertahun‑tahun, yang telah melewati masa sekolah, awal kuliah, hingga perpisahan jarak yang sulit.
“Apa yang harus aku lakukan?” bisiknya lirih dalam hati, air matanya kembali menetes tanpa henti membasahi pipinya.
“Kalau aku terus mempertahankan hubungan dengan Zehar, berarti aku mengkhianati kesepakatan itu dan membahayakan kembali kehidupan Ayah dan Ibu. Tapi jika aku melepaskannya, berarti aku mengkhianati hatiku sendiri dan janji yang sudah kita buat.”
Selama berjam‑jam ia memutar pikiran itu berulang‑ulang, mencari jalan keluar yang tidak ada.
Ia sadar, jarak yang terpisah ribuan kilometer dan komunikasi yang sudah semakin renggang saja telah menciptakan kesalahpahaman.
Kini dengan beban baru ini, rasanya mustahil untuk terus melanjutkan hubungan tanpa menyakiti salah satu pihak.
Jika ia tetap jujur pada Zehar, ia harus menceritakan semuanya, mulao dari tentang kebangkrutan, sakitnya ibu, bantuan Argantara, hingga perjanjian dengan Erhan.
Namun ia tahu reaksi apa yang akan muncul, Zehar pasti akan merasa dipermainkan, merasa kepercayaannya dikhianati, atau bahkan merasa tidak mampu bersaing dengan kondisi keuangan keluarga Argantara.
Di tengah masa pendidikannya yang masih berat dan penuh aturan, hal itu hanya akan menghancurkan semangatnya dan masa depannya.
Di tengah kekacauan pikiran itu, satu keputusan akhirnya terbentuk perlahan, meski terasa seperti menusuk jantungnya sendiri.
Ia harus melepaskan Zehar, bukan karena tidak mencintainya lagi, tapi karena itulah satu‑satunya cara agar Zehar bisa tetap fokus pada cita‑citanya, dan agar ia tidak terjebak di dalam kebohongan yang semakin menumpuk.
Ia ingin Zehar membangun masa depannya dengan tenang, tanpa terikat pada gadis yang masa depannya sudah terikat janji dengan orang lain.
Dengan tangan yang gemetar dan pandangan yang kabur karena air mata, Alesha meraih ponsel yang sudah lama tidak ia gunakan.
Ia menyalakan layarnya, dan butuh waktu lama untuk menemukan kontak Zehar yang tersimpan rapi dengan nama “Cintaku”.
Jari‑jarinya bergerak lambat di atas papan ketik, menghapus dan menulis kalimat berulang kali, takut salah kata namun ingin menyampaikan maksudnya sejelas mungkin tanpa memberi kesempatan untuk dibantah.
Setelah hampir satu jam merangkai kata, akhirnya pesan itu selesai ditulis. Ia membacanya sekali lagi, merasakan dadanya semakin sesak, lalu menutup matanya rapat‑rapat sambil menekan tombol kirim.
Dari : Alesha
“Zehar, maafkan aku jika pesan ini datang tiba‑tiba dan mungkin terasa sangat menyakitkan. Setelah memikirkan matang‑matang, aku memutuskan bahwa hubungan kita sebaiknya diakhiri saja mulai hari ini. Kita sudah terlalu jauh terpisah jarak, komunikasi semakin sulit, dan jalan hidup kita masing‑masing kini berjalan ke arah yang berbeda. Aku ingin kamu fokus sepenuhnya pada pendidikanmu, membangun masa depan yang cemerlang tanpa terganggu oleh hal apa pun. Begitu juga aku, aku akan mencoba melanjutkan hidup dengan caraku sendiri. Anggap saja semua janji dan kenangan kita sebagai pengalaman berharga yang telah berlalu. Semoga kamu bahagia dan sukses selalu. Jangan hubungi aku lagi mulai sekarang. Ini keputusan terakhirku.”
Begitu pesan itu terkirim, rasanya seolah sebagian dari nyawanya ikut terlepas.
Ia menjatuhkan ponsel itu ke sisi tempat tidur, lalu memeluk lututnya erat‑erat, dan menangis sekeras yang ia bisa tanpa mengeluarkan suara keras agar tidak didengar orang di luar.
Ia menangisi kebahagiaannya yang hilang, menangisi kenyataan yang kejam, dan menangisi keputusan pahit yang harus diambilnya dengan tangannya sendiri.
Reyhan yang sedang berjalan melewati depan kamar mendengar suara isakan yang tertahan dari balik pintu. Ia mengetuk lembut,
“Alesha… Nak, apakah kamu baik‑baik saja? Bolehkah Ayah masuk sebentar?”
Namun tidak ada jawaban. Alesha sudah tidak punya tenaga lagi untuk berbicara. Tubuhnya terasa semakin lemas, kepalanya berdenyut hebat, dan suhu badannya perlahan mulai naik. Rasa dingin merayapi tulang‑tulangnya, sementara pipinya terasa panas menyengat.
Ia mencoba bergerak untuk memanggil, namun lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa berat sekali. Dalam waktu singkat, pandangannya mulai kabur, lalu kesadarannya perlahan menghilang hingga akhirnya ia tergeletak lemah di atas kasur tipis itu.
Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai condong ke barat dan suasana semakin redup, Reyhan yang khawatir tidak kunjung mendengar suara dari dalam kamar, akhirnya memberanikan diri membuka pintu yang tidak dikunci itu.
Begitu ia melangkah masuk, jantungnya terasa berhenti seketika melihat keadaan putrinya.
“Alesha!” serunya kaget, segera berlari mendekat. Ia menyentuh dahi putrinya dan terkejut merasakan suhu yang sangat tinggi.
“Zaskia! Cepat ke sini! Alesha demam tinggi sekali!”
Zaskia segera bergegas masuk, wajahnya pucat melihat keadaan putrinya yang terbaring tak sadarkan diri, napasnya terengah‑engah dan wajahnya terlihat merah menyala.
“Astaga… bagaimana ini bisa terjadi? Pasti karena dia terlalu banyak berpikir dan tidak makan selama berhari‑hari ini.”
Reyhan segera membungkus tubuh Alesha dengan selimut tebal, sementara Zaskia mengompres dahi putrinya dengan air dingin sambil menangis pelan.
“Maafkan Ibu, Nak… Ibu tidak tahu harus bagaimana. Keadaan yang memaksa Ibu menjadi setega ini."
Mereka duduk berjaga di sisi tempat tidur sepanjang malam, bergantian memeriksa suhu tubuh Alesha dan memastikan ia tetap bernapas dengan lancar.
Demam itu tidak turun begitu saja, kadang naik sangat tinggi hingga membuat Alesha mengigau, menyebut nama Zehar dan berbicara tentang janji‑janji yang pernah dibuatnya.
“Jangan pergi… Zehar… aku tidak mau… tapi aku harus…” gumamnya dengan suara lemah, membuat hati Reyhan terasa semakin perih.
Reyhan memegang tangan putrinya dengan erat, lalu berbisik,
“Istirahatlah, Nak. Semua akan berlalu. Ayah dan Ibu akan selalu ada di sini untukmu, apa pun yang terjadi.”
Selama dua hari berikutnya, Alesha terbaring lemah dalam keadaan setengah sadar.
Tubuhnya yang sudah kekurangan asupan makanan dan istirahat akhirnya menyerah di bawah tekanan emosi yang sangat berat.
Ia menderita demam tinggi yang membuatnya lemas total, seolah tubuhnya ikut merasakan sakit yang sama seperti hatinya.
Ia belum tahu apakah pesannya sudah dibaca atau bagaimana reaksi Zehar, namun baginya saat itu, perasaan lega sekaligus hampa menyelimuti dirinya, karena ia sudah melepaskan beban hubungan itu, meski dengan harga kesehatan dan ketenangan jiwanya sendiri.
Di luar kamar, Reyhan duduk dalam kesunyian yang berat. Ia sadar sepenuhnya bahwa keputusan yang mereka paksakan telah merenggut kebahagiaan dan kesehatan putri tercinta.
Harga sebuah bantuan ternyata jauh lebih mahal daripada yang ia bayangkan sebelumnya, bahkan hingga menyentuh nyawa anaknya sendiri.
Dan kini, ia hanya bisa menunggu, berdoa, serta berharap agar tubuh dan hati Alesha cukup kuat untuk bangkit kembali dari titik terendah yang menyakitkan ini.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏