Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana kamar pasca-panggilan Selena berubah dari histeris menjadi horor yang mencekam.
Nada putus telepon berbunyi monoton, tut... tut... tut..., membelah keheningan malam yang mendadak terasa begitu dingin.
Amira, Daniel, dan Mama terpaku dalam kesunyian yang mencekam.
Bulu kuduk mereka seketika berdiri, merasakan atmosfer ruangan yang berubah drastis menjadi begitu magis dan menakutkan.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Daniel menjatuhkan ponselnya ke lantai dengan wajah sekaku mayat.
Pandangannya kosong, menatap lantai kayu kamar seolah fondasi dunianya baru saja runtuh total.
Suara itu, ia tidak mungkin salah mengenali suara wanita yang pernah hidup bersamanya, wanita yang seharusnya sudah menyatu dengan tanah.
Perlahan, rasa takut dan kebingungan menggeser amarah di hati Amira.
Pertanyaan Amira berubah sepenuhnya, bukan lagi tentang uang asuransi, melainkan eksistensi Selena yang meninggal satu tahun yang lalu.
"M-mas..." panggil Amira dengan suara bergetar, air matanya tertahan di pelupuk mata yang kini membelalak ngeri.
"Suara siapa itu tadi? Bukankah, Mbak Selena sudah meninggal dalam kecelakaan itu?"
Daniel bergumam dengan suara bergetar hebat, mengungkapkan fakta yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan, menunduk dalam-dalam seolah tidak sanggup menatap kenyataan mengerikan yang baru saja mengetuk pintunya.
"Selena meninggal dunia sudah lama.Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang aku makamkan satu tahun lalu?!" ratap Daniel parau.
Pertanyaan itu menggantung di udara malam, berbaur dengan suara petir yang menggelegar di luar.
Jika Selena yang menelepon tadi adalah sosok yang nyata, lalu jasad siapa yang selama ini berada di dalam liang kubur dengan nama Selena?
Misteri besar dan konspirasi gelap kini resmi terbuka, menyeret mereka bertiga ke dalam pusaran horor yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Penjelasan Daniel mengenai kematian Selena di masa lalu ternyata menyimpan cacat besar.
Di tengah keheningan kamar yang mencekam, Daniel terpaksa membuka luka lama di depan Amira dan Mama.
Dengan suara yang berat dan terbata-bata, ia mulai merajai kembali memori kelam yang selama ini coba ia lupakan.
"Beberapa tahun lalu, Selena dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis di luar kota dengan kondisi jenazah yang rusak parah hingga sulit dikenali," tutur Daniel, matanya menatap kosong ke lantai.
"Polisi menyerahkan jasad itu padaku, dan aku langsung memakamkannya berdasarkan manifes serta barang-barang yang melekat pada tubuhnya. Dompet, cincin pernikahan, hingga pakaiannya... semua milik Selena. Aku tidak pernah terpikir untuk melakukan tes DNA karena terpukul."
Daniel mendongak, menatap Amira dengan keputusasaan yang mendalam.
"Namun, telepon barusan membuktikan bahwa makam yang selama ini ia datangi bersama Felia berisi jasad orang lain. Ada konspirasi besar yang sengaja memalsukan kematian Selena sejak bertahun-tahun lalu."
Suasana kamar kian mendingin saat Daniel mulai menghubungkan titik-titik misteri antara Selena, Gayatri atau Anita, dan kecelakaan yang menimpa Amira satu bulan lalu.
Otak bisnisnya yang taktis kini dipaksa bekerja memecahkan teka-teki berdarah yang mengancam nyawa keluarganya.
Daniel menyadari bahwa kecelakaan yang ia alami satu bulan lalu—di mana ia tidak sengaja menabrak Amira yang berwajah mirip Selena—bukanlah kebetulan belaka.
Malam itu, jalur Puncak sangat sepi, dan Amira tiba-tiba muncul di tengah jalan seolah sengaja digiring ke sana.
"Seseorang sengaja memunculkan Amira di jalur Daniel," gumam Amira, menyela dengan bibir bergetar. Kesadaran baru yang mengerikan mulai merayap di benaknya.
Ia bukan sekadar korban tabrak lari; ia adalah bidak catur yang sengaja diletakkan di depan bemper mobil Daniel.
"Benar, Sayang," sahut Daniel cepat.
"Dan seseorang pula yang mengirim agen asuransi senilai 30 miliar untuk menghancurkan rumah tangga mereka dari dalam. Uang itu dikirim tepat saat kita mulai memperbaiki hubungan, tepat saat ibuku, Gayatri, datang membuat kekacauan."
Pertanyaan besar kini menggantung di atas kepala mereka.
Apakah Gayatri, sang ibu mertua yang kejam dan terobsesi pada harta, atau Anita yang sejak awal membenci kehadiran Amira, bekerja sama dengan Selena yang "hidup kembali"? Ataukah
Selena selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang, mengendalikan mereka semua seperti boneka? Atau, ada dalang lain yang lebih berbahaya, yang menginginkan kehancuran total keluarga Daniel dan melenyapkan Amira untuk selamanya?
Teror itu kini terasa begitu dekat, nyata, dan sedang mengawasi mereka dari kegelapan malam Jogja yang pekat.
Di tengah kepanikan mereka di Jogja, ponsel Daniel kembali berdenting.
Bukan telepon, melainkan sebuah kiriman foto dari nomor tidak dikenal.
Jantung Daniel dan Amira seakan berhenti berdetak saat melihat gambar tersebut.
Foto Felia yang sedang tertidur, diambil secara diam-diam dari sudut jendela luar rumah oleh seseorang yang mengintai.
Detik itu juga, kesadaran mengerikan menghantam mereka.
Selena atau anteknya tidak hanya ingin uang atau merusak hubungan mereka. Ini adalah ancaman nyawa.
Sebuah pesan singkat menyertai foto tersebut:
"Berikan uang asuransi Felia atau kamu tidak akan melihat Felia lagi."
Ancaman itu seketika meruntuhkan seluruh sisa ego dan kesalahpahaman yang terjadi beberapa jam lalu.
Daniel dan Amira harus mengubur ego mereka dan bersatu malam itu juga untuk menyelamatkan putri mereka sebelum terlambat.
Tidak ada waktu untuk menangis, tidak ada waktu untuk saling menyalahkan.
Dengan tangan gemetar namun penuh tekad, Amira mencabut sisa plester di tangannya.
Mereka segera berangkat menuju ke Jakarta malam itu juga, membelah badai dan kegelapan tanpa memedulikan rasa lelah
Di dalam mobil, Daniel menggenggam tangan istrinya yang masih lemah, menyalurkan kekuatan yang tersisa.
"Mas, cepat hubungi Suster!" seru Amira panik, air matanya menetes membayangkan keselamatan Felia.
Daniel menghubungi Suster berkali-kali. Namun, panggilan itu tidak diangkat.
Sementara itu, di kediaman megah mereka di Jakarta, suasana tampak mencekam.
Di tempat yang sama, Suster dan pelayan lainnya sudah terikat dengan mulut disumpal kain di sudut dapur, tidak berdaya dan hanya bisa menangis ketakutan di bawah ancaman senjata tajam.
Langkah kaki beberapa orang asing bergaung di lantai atas, menuju kamar tidur anak.
Sementara Felia yang masih tertidur pulas mereka bawa ke dalam mobil hitam yang sudah bersiap di pelataran rumah.
Putri kecil itu digendong tanpa sadar bahwa dirinya kini berada di tangan para penculik yang bergerak di bawah perintah bayang-bayang masa lalu Daniel.
Selimut merah mudanya terseret di lantai, menjadi saksi bisu bahwa maut kini sedang mengintai keluarga mereka.
Daniel segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi di tengah keheningan dini hari, sambil menekan tombol speed dial di ponselnya.
Wajahnya tegang, peluh dingin bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya.
"Kumpulkan seluruh tim pengamanan sekarang juga! Bergerak ke rumah saya dalam lima belas menit! Rumah tidak bisa dihubungi, dan ada ancaman nyawa!" perintah Daniel dengan suara menggelegar, penuh otoritas namun sarat kepanikan.
Di sampingnya, Amira hanya bisa mencengkeram dasbor mobil dengan buku-buku jari yang memutih.
Napasnya tersengal, matanya menatap tajam ke depan, mencoba mengusir bayangan buruk tentang Felia.
Lima belas menit kemudian, ketika mereka masih berada di perjalanan yang menyiksa, Daniel menerima kiriman video pendek melalui pesan instan dari kepala keamanan rumahnya.
Ia membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Video itu menunjukkan kondisi dapur rumahnya; mereka sampai dan memberikan foto kepada Daniel di mana semua diikat—para pelayan dan Suster tampak dalam kondisi memprihatinkan, mulut tersumpal kain dengan mata yang melirik ketakutan ke arah kamera.
Jantung Amira seakan berhenti saat melihat rekaman selanjutnya.
Kamera keamanan di kamar Felia menunjukkan ruangan yang acak-acakan.
"Tuan, Nona Felia tidak ada di kamarnya," suara kepala keamanan terdengar dari latar belakang video, gemetar hebat.
Amira menggelengkan kepalanya dengan liar, suara isak tangis tertahan pecah di dalam mobil.
"Tidak... tidak, Felia...!"
"Tenang, Sayang, tenang!" Daniel mencoba menenangkan istrinya, meski matanya sendiri sudah memerah karena amarah yang memuncak.
"Mereka membawanya, Mas! Mereka benar-benar membawa anak kita!"
Amira menjerit, air mata membanjiri wajahnya yang masih pucat akibat sisa infus tadi.
Daniel memukul setir mobil dengan keras hingga bunyi klakson mengaung di jalanan yang sepi.
"Mereka tidak akan bisa lolos, Amira. Aku akan membakar kota ini kalau perlu untuk menemukan Felia. Kita tidak akan membiarkan satu pun dari mereka hidup jika berani menyentuh putri kita!"
Mobil mereka melesat semakin kencang, membelah kegelapan menuju Jakarta dengan satu misi hidup dan mati: menyelamatkan Felia sebelum Selena—atau siapa pun dalang di balik semua ini—melakukan hal yang tak termaafkan.