Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Mulai Retak
Anjas duduk terpekur di dalam mobilnya. Dia menatap inisial nama korban tabrak lari dalam buku catatannya.
RW → R... W...?
BW → B... W...?
MR → Misty Renata
Mata Anjas terpaku pada nama Misty. Dia menggerakkan bolpoinnya di samping nama Misty. Ujung bolpoin Anjas menggantung di udara sesaat sebelum akhirnya dia menuliskan sesuatu di dekat nama panjang Misty.
MR → Misty Renata?
Anjas kemudian menatap satu nama di samping nama panjang Misty.
Dr. Maya Wijaya.
"Apa hubungan Dr. Maya dengan Misty?" gumam Anjas sambil menambahkan tanda tanya di samping nama Dr. Maya Wijaya.
Anjas yakin hubungan keduanya bukan hanya sekedar dokter dan pasien.
"Kalau memang hanya sebatas dokter dan pasien..." Anjas kembali mengingat saat dirinya melihat Dr. Maya memasuki lift.
"Mengapa Dr. Maya datang malam-malam ke apartemen Misty?"
Anjas menghela napas dalam-dalam. Dia kembali menatap nama Dr. Maya Wijaya yang ditulisnya.
"Misty bilang, dia punya kenalan dokter. Apa mungkin yang dia maksud Dr. Maya?"
"Kenalan..." gumam Anjas.
"Teman?"
Anjas terdiam sejenak. Suara samar deru AC mobil mengisi keheningan yang tercipta.
"Tapi... jika dilihat-lihat, Dr. Maya terlihat beberapa tahun lebih tua dari Misty," lanjut Anjas sambil mencoretkan kemungkinan yang dia pikirkan dalam buku catatannya.
Anjas memutar bola matanya perlahan sambil mengetuk-ngetukkan bolpoinnya di atas buku catatannya.
"Siapa sebenarnya Dr. Maya ini?" gumam Anjas dengan nada putus asa.
Saat Anjas sedang memutar otaknya, ponselnya berdering. Anjas menatap layar ponselnya sambil mengernyit.
"Ya, Nona Misty?"
"Apakah... Anda sedang sibuk?" tanya Misty, terdengar ragu-ragu.
"Tidak, Nona. Kebetulan saya sedang istirahat. Ada apa?" tanya Anjas dengan nada suara sesantai mungkin.
Hening sejenak. Anjas menunggu dalam diam.
"Apakah... Anda bisa... menemani saya ke suatu tempat?" tanya Misty. Anjas mengerutkan kedua alisnya.
"Suatu tempat?" tanya Anjas, reflek.
"Ah! Kalau Anda ti..."
"Ah! Maaf. Saya hanya penasaran, tempat seperti apa yang ingin Anda kunjungi sampai harus meminta saya untuk menemani Anda," potong Anjas cepat.
Misty kembali terdiam. Anjas menatap jalanan sore yang sepi di depannya.
"Tempat istimewa bagi saya..."
"Dan juga Rachel,"
Anjas menaikkan kedua alisnya. Dia cukup terkejut mendengar jawaban Misty. Entah mengapa matanya menangkap salah satu inisial nama korban tabrak lari dalam buku catatannya.
'RW → Rachel...?'
***
Indra menarik napas dalam-dalam. Entah mengapa ruang tamunya yang ber-AC terasa begitu panas. Arga dan Gerry menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat dadanya semakin terasa sesak. Indra menghembuskan napasnya perlahan sebelum akhirnya menjawab.
"Kemungkinan... iya, Pak," jawab Indra.
"Saya sendiri tidak dapat mengingatnya," lanjut Indra cepat.
Arga menghela napas panjang. Dia merasa Indra bukan orang yang dengan mudah akan mengaku jika dia memang melakukan kesalahan, kecuali ada bukti konkret yang memang mengarah padanya.
Gerry menatap atasannya yang terlihat menemukan jalan buntu untuk menggali informasi lebih lanjut dari Indra.
"Pak," panggil Gerry pada Arga. Arga menoleh ke arah Gerry.
"Bolehkah saya menambahkan satu pertanyaan lagi?" tanya Gerry.
Arga menatap bawahannya yang masih belum puas dengan hasil investigasinya kali ini. Dia kemudian mengangguk pelan.
Indra mendengus, terlihat mulai tak sabar dengan interogasi yang tak kunjung selesai.
"Satu lagi dan Anda sekalian akan pulang setelah saya menjawabnya," kata Indra.
"Baik," jawab Gerry mantap. Arga memperhatikan bawahannya dengan seksama.
"Silakan,"
"Siapa nama mantan istri Anda?" tanya Gerry tanpa basa-basi, membuat Indra menaikkan kedua alisnya.
Dada Indra kembali terasa sesak. Keringat yang membasahi pelipisnya mulai terlihat menetes perlahan. Bola matanya bergerak cepat memikirkan jawaban untuk pertanyaan Gerry.
Arga yang semula menatap Gerry, kini melemparkan pandangannya pada Indra.
"Mengapa Anda menanyakan itu?" tanya Indra. Suaranya sedikit serak.
"Seandainya, Anda tidak menjawab, kami masih bisa menanyakan ke kantor urusan agama terdekat atau pengadilan agama untuk mengetahuinya," kata Gerry sambil menatap tajam Indra.
Indra merasakan dadanya semakin sesak. Jika dia menyebutkan nama wanita itu, kedua petugas itu bisa langsung menemukannya. Jika dia berbohong, kedua petugas itu tetap bisa menemukan wanita itu lewat jalur lain. Indra menatap nanar ke arah kedua petugas penyidik di hadapannya. Untuk pertama kalinya sejak keduanya datang, Indra tak bisa menemukan jalan keluar.
'Apapun yang aku katakan... hasilnya sama saja,'
***
Misty sudah di depan gedung apartemennya saat Anjas hendak memarkirkan mobilnya ke basemen. Anjas segera memberhentikan mobilnya di depan Misty. Misty menatap mobil Anjas yang kebetulan berwarna merah. Anjas mengerutkan kedua alisnya saat berjalan menghampiri Misty.
"Nona Misty?" panggil Anjas. Misty sedikit tersentak, terkejut dengan panggilan Anjas.
"Ah... Maaf," kata Misty.
"Apa ada masalah?" tanya Anjas sambil menatap mobilnya dengan bingung. Misty menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Anjas kembali menatap ke arah mobilnya. Matanya membulat seolah baru menyadari hal yang dianggapnya biasa.
"Maaf, saya tidak menyadarinya," kata Anjas.
"Bagaimana kalau kita naik taksi online saja?" tanya Anjas sambil merogoh ponselnya di saku celananya.
"Tidak, tidak perlu. Naik mobil Anda saja," kata Misty cepat. Anjas menatap Misty.
"Anda yakin?" tanya Anjas memastikan.
Misty melirik ke arah mobil Anjas sesaat lalu menatap kedua mata Anjas. Dia mengangguk perlahan. Anjas menghela napas perlahan.
"Baiklah," katanya.
"Tapi, kalau Anda merasa pusing atau tidak nyaman di tengah jalan, segera beritahu saya," lanjut Anjas. Misty mengangguk sambil tersenyum.
Anjas membukakan pintu untuk Misty. Setelah memastikan Misty duduk dengan nyaman, Anjas segera menuju ke kursi kemudi.
Anjas menoleh ke arah Misty saat hendak menyalakan mesin. Dilihatnya kedua tangan Misty yang mengepal di atas pahanya dan wajahnya yang sedikit tegang. Anjas mendekat ke arah Misty, membuat Misty terkejut.
"Ah, maaf. Sabuk pengamannya," kata Anjas sambil menarik sabuk pengaman di samping kursi Misty. Misty tersenyum, sedikit salah tingkah.
"Baik," kata Anjas sambil menatap Misty.
"Anda siap?" tanyanya.
Misty menatap Anjas sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Anjas tersenyum lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Katakan tujuan Anda, Nona. Saya siap menemani Anda," kata Anjas sambil menginjak pedal gas perlahan.
Misty tersenyum mendengar ucapan Anjas. Anjas menoleh ke arah Misty. Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Misty, Anjas melihat senyum lepas di wajah Misty. Bukan senyum tipis atau senyum terpaksa seperti yang biasa dia lihat.
Anjas tersenyum lalu kembali fokus menatap jalanan.
"Terimakasih," ucap Misty sambil menatap jalanan di hadapannya. Anjas menoleh sesaat ke arah Misty.
"Senang dapat membantu Nona," kata Anjas sambil tersenyum dan fokus mengemudi.
Misty menoleh, menatap Anjas yang sedang fokus mengemudi. Untuk pertama kalinya, setelah serangkaian kejadian yang menegangkan dalam hidupnya, dia kembali merasa nyaman berada di sisi orang lain.
'Semoga aku nggak mempercayai orang yang salah,'
***