Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gila, El!
"Kau tidak perlu tahu," jawab Daniel.
Daniel terdiam sejenak, rahangnya mengeras saat Rachel menekan luka di dekat tulang belikatnya. Ia menarik napas panjang, aroma parfum mahal yang masih tersisa di tubuh Rachel entah bagaimana membuat saraf-sarafnya yang tegang sedikit rileks.
Rachel terdiam dan jemarinya bergerak hati-hati mengoleskan salep, "Sudah selesai," ucap Rachel setelah menempelkan plester terakhir.
Daniel memakai kembali kaos hitamnya dengan gerakan kaku, "Aku sudah menghubungi Om Brian, aku bilang kau aman bersamaku. Dia hampir gila semalam, tapi aku yakinkan dia kalau kembali ke rumah sekarang sama saja menyerahkanmu ke orang-orang jas hitam itu," ucap Daniel.
"Terima kasih," ucap Rachel.
"Hem, sekarang tidurlah," ucap Daniel dan diangguki Rachel.
.
Pagi harinya, Rachel terbangun bukan karena alarm ponselnya yang biasanya berbunyi dengan nada melodi lembut, melainkan karena getaran mesin motor yang begitu kuat hingga terasa sampai ke lantai kamar kayu tempat ia tidur.
Suara knalpot yang memekakkan telinga bersahutan dengan tawa keras pria-pria di luar dan menciptakan kebisingan yang asing bagi telinga Rachel yang terbiasa dengan keheningan apartemen kedap suaranya.
Rachel bangkit, ia merasa sedikit kikuk dengan kaos hitam kebesaran milik Daniel yang hampir mencapai lututnya. Dengan ragu, ia membuka pintu kamar itu sedikit dan langsung disambut oleh kepulan asap knalpot yang tipis dan aroma bensin yang menusuk.
Pemandangan di depannya jauh berbeda dari ketenangan semalam. Pintu gulung besi bengkel sudah terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi yang terik masuk secara brutal.
Di dalam bengkel yang sempit itu, setidaknya ada lima atau enam pria bertubuh kekar dengan kulit gelap terbakar matahari. Mereka mengenakan kaos dalam yang kotor oleh pelumas, celana jeans penuh noda oli dan beberapa di antaranya memiliki tato yang memenuhi lengan mereka.
"El! Ini karburatornya sudah gue ganti, tapi suaranya masih nggak enak gini!" teriak salah satu pria sambil mengelap tangannya yang hitam pekat pada kain majun kumal.
"Settingan udaranya kurang pas, kasih napas dikit lagi," sahut Daniel dari balik sebuah motor sport tua yang sedang diperbaiki.
Rachel memberanikan diri melangkah keluar dan begitu sosoknya muncul di antara tumpukan ban dan mesin-mesin tua, suara bising mesin motor mendadak mati satu per satu.
Keheningan yang canggung menyelimuti bengkel itu, enam pasang mata pria-pria itu menatap Rachel dengan pandangan tidak percaya. Bagi mereka, kehadiran seorang wanita di bengkel ini adalah hal yang tidak biasa.
Mereka saling pandang dan penasaran pada wanita yang baru saja keluar dan yang membuat mereka semakin penasaran adalah wanita itu memakai pakaian Daniel, keberadaan Rachel di bengkel saja itu hal yang tidak biasa. Apalagi Rachel memakai kaus milik Daniel, itu semakin tidak biasa lagi.
Salah satu pria tersebut bersiul panjang, matanya menatap Rachel dari atas sampai bawah dengan binar yang membuat Rachel merasa takut.
"Wah, wah... El. Sejak kapan bengkel lo punya koleksi onderdil semahal ini? Pantas aja lo betah banget di sini," godanya sambil tertawa lebar, yang langsung disambut gelak tawa riuh dari teman-temannya.
"Gila, El! Lo diam-diam menghanyutkan ya? Bening banget, Bos! Ini mah bukan kelas pelabuhan, ini kelas hotel bintang lima!" timpal yang lain sambil mendekat dan mencoba melihat Rachel lebih jelas.
Rachel mundur selangkah, tangannya refleks mencengkeram ujung kaos hitam Daniel yang ia kenakan. Wajahnya memucat, rasa takut yang sempat hilang semalam kini kembali menyerang, ia merasa seperti domba yang tersesat di kandang serigala.
Brak!
Suara hantaman kunci inggris ke atas meja besi berdentang keras, mematikan tawa mereka seketika. Daniel berdiri perlahan, matanya yang merah dan masih sedikit bengkak menatap teman-temannya satu per satu dengan sorot yang mematikan.
"Satu kata lagi keluar dari mulut kalian atau ada satu tangan yang berani menyentuh area sekitar dia... gue pastiin kalian pulang tanpa tangan buat pegang gas motor," ucap Daniel dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Para pria itu langsung terdiam, mereka tahu Daniel tidak pernah main-main dengan ancamannya, apalagi saat melihat lebam di wajah Daniel yang didapat dari arena maut semalam, tanda bahwa pria itu sedang dalam kondisi mental yang sangat tidak stabil.
"Masuk ke dalam, Rachel," perintah Daniel tanpa menoleh padanya.
Rachel tidak perlu diperintah dua kali, ia segera berbalik dan masuk ke kamar lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Di dalam, ia bisa mendengar Daniel memperingatkan teman-temannya agar tidak mengatakan hal-hal yang menjijikkan itu.
Setelah suara Daniel di luar mereda, suasana bengkel berubah, mereka semua tiba-tiba menjadi sibuk. Di mana, teman-teman Daniel kembali bekerja dengan kepala tertunduk, sementara Daniel sendiri tidak bisa fokus, karena pikirannya terus terbagi antara baut yang ia putar dan keselamatan wanita yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Disisi lain, Rachel duduk di tepi tempat tidur dan memeluk lututnya, keheningan di dalam kamar itu justru membuatnya merasa sesak. Rachel menyadari satu hal, keberadaannya di sini adalah beban bagi Daniel, pria itu sudah cukup babak belur di arena taruhan dan sekarang ia harus mempertaruhkan nyawanya lagi demi melindungi Rachel yang tidak tahu apa-apa tentang kerasnya hidup.
Satu jam berlalu, pintu kamar diketuk dua kali. Ketukan yang pelan, berbeda dari suara kasar di luar tadi.
"Rachel, makanlah. Aku sudah membelikanmu makanan," suara Daniel terdengar dari balik pintu.
Rachel membukanya sedikit, Daniel berdiri di sana membawa kantong plastik berisi Banh Mi yakni roti lapis Vietnam dan kopi susu dingin di dalam gelas plastik. Daniel tidak masuk, ia hanya menyodorkannya di ambang pintu.
"Terima kasih, "Daniel... apa mereka masih di depan?" tanya Rachel.
"Mereka masih di depan, kenapa?" tanya Daniel.
"Bukan apa-apa, hanya... aku merasa nggak enak karena kehadiranku membuat suasana bengkel jadi tegang," ucap Rachel sambil menerima bungkusan roti itu, tangannya yang bersih bersentuhan dengan ujung jari Daniel yang masih menghitam karena oli.
Daniel menatap Rachel sejenak lalu mendengus pendek, "Jangan terlalu percaya diri, mereka memang berisik ada atau nggak ada kamu. Sekarang makanlah dan untuk hari ini, kamu istirahat disini. Pria-pria kemarin, berjaga di dekat kedai, Om Brian yang mengabariku dan memintamu untuk tetap disini," ucap Daniel.
"Tapi, aku nggak punya baju ganti," ucap Rachel.
"Pakai bajuku," jawab Daniel lalu pergi meninggalkan Rachel.
Pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya, Rachel duduk di meja kayu kecil milik Daniel dan mencoba menikmati Banh Mi yang dibelikan pria itu. Namun, setiap gigitan terasa hambar di lidahnya.
Keinginan Rachel untuk membantu sangat besar, tapi ia sadar, melangkah keluar pintu bengkel tanpa perlindungan sama saja dengan menyerahkan diri.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁