NovelToon NovelToon
Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adzana Raisha

Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.

Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto Kenangan

Terkurung di dalam sangkar emas. Walau segala kemewahan dengan mudah ia dapat, namun Zara tak menyukai kehidupan yang di jalaninya saat ini. Gadis itu tersenyum getir, namun setidaknya ini tak akan berlangsung lama. Tuan Arka pun sudah mengizinkannya untuk kembali tinggal di toko bunga beberapa hari lagi. Mungkin itu akan lebih baik, sebelum Nona Anastasya merasa tersiksa lebih lama jika mereka bertiga tetap tinggal di bawah atap yang sama.

Masih menggengam kartu berwarna hitam pemberian Arka, Zara berbalik badan hendak menuju kamar, namun keberadaan Surti yang sudah berdiri di belakang seketika mengurungkan niatnya.

Masih dengan mode yang sama, perempuan paruh baya itu tersenyum sehagat mentari pagi.

"Apa Nona ingin berkeliling sebentar? Mungkin dengan begitu Nona tidak akan merasa bosan." Surti mengerti jika Zara sangatlah kesepian. Tak ada teman untuk berbagi dan berkeluh kesan. Hingga memberikan sebuah penawaran penghiburan, mungkin akan membuatnya tak merasa bosan.

Wajah gadis manis itu berbinar senang. "Benarkah? Tentu Bibi yang akan mengantarkukan?" tanya gadis itu dengan tak sabaran.

"Tentu Nona. Apa pun yang Nona inginkan, pasti akan saya kabulkan."

Zara bertepuk tangan riang, "Tunggu sebentar, aku akan menyimpan ini lebih dulu." Memperlihatkan benda tipis itu dan berlari menuju anak tangga sebagai penghubung lantai dasar dengan lantai atas.

"Tidak perlu lari Nona, anda bisa terjatuh! Anda bahkan bisa menyuruh salah seorang pelayan untuk menyimpannya." ucapan surti hanya dianggap angin lalu oleh Zara. Pasalnya, Nonanya kini sudah semakin jauh meninggalkannya dan bisa dipastikan suaranya tak terjangkau indra pendengaran Nonanya.

Bagi Surti, keberadaan Zara di kediaman Arka memberikan warna tersendiri dikehidupan Tuanya beserta seisi rumah. Gadis polos nan ceria itu selalu bertihkah sopan dan tampil apa adanya tanpa menutupi latar belakangnya sebagai gadis tak berpunya.

Langkah sepatu menyentuh lantai kembali terdengar, gadis itu kembali membawa senyum cerianya.

"Bibi aku sudah siap," ucap Zara dengan suara lembutnya.

"Mari Nona." Mengunakan isyarat tangan, Surti mempersilahkan Zara untuk berjalan lebih dulu, namun tanpa perempuan paruh baya itu duga, tangan mungil Zara justru berusaha meraih tangan Surti lalu menggandengnya.

"Nona, jangan lakukan itu," tolak Surti dan berusaha melepas pertautan tangan keduanya.

"Tak apa, Bi. lagi pula, tidak akan ada yang melihat kita." Zara mengengam erah tangan kusam nan berkeriput itu dengan erat dan berjalan saling beriringan.

Ruang pertama yang mereka datangi ialah perpustakaan keluarga. Dari perbincangan keduanya, Zara sempat mengutarakan keinginannya untuk kembali meneruskan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Hingga perpustakaanlah solusi cukup tepat untuk menambah pengetahuan Zara kedepannya.

Zara terperanggah dan tak hentinya berdecak kagum. Perpustakaan luas dengan ribuan buku dengan ketebalan dan sampul berbagai warna tertata rapi di dalam belasan rak yang berjajar. Tak sabaran gadis yang selalu terlihat cantik meski tanpa riasan itu lekas mendekat kearah rak dan membaca satu persatu judul yang tertera di cover depan buku.

Merasa tak ada yang menarik, sebab sebagian besar buku milik Arka hanya berisikan segala macam bisnis dan berbagai macam jenis buku yang sama sekali tak gadis itu fahami. Semakin lama berjalan, hingga tanpa sadar ia berada di rak buku yang di sisi kanannya terdapat sofa yang terlihat nyaman, namun sebuah harta karun serasa baru saja didapatnya. Bagaimana tidak, rak yak berada paling dekat dengan sofa ialah rak yang menyimpan begitu banyak novel dengan berbagai genre.

"Bibi! Aku menemukan banyak Novel disini." pekik Zara dengan wajah berbinar senang.

Surti mendekat. "Pilihlah novel mana saja yang Nona sukai."

Tanpa menjawab, Zara meraih satu buah novel dengan judul menarik lalu mendaratkan tubuhnya di sofa.

Zara terdengar mengumam, membaca lembaran novel dan sesekali tersenyum seolah buku yang ia baca memang menarik.

"Bibi, apa Tuan Arka sering menghabiskan waktunya di tempat ini?" Zara mendongak, menatap Surti sebentar dan melanjutkan aktifitas membacanya bukunya lagi.

"Tidak Nona, Tuan terlalu sibuk untuk hal semacam ini." jawab Surti.

Zara mencebikkan bibirnya, " Sayang sekali, padahal tempat ini sangat menyenangkan. lalu siapa saja yang sering meng---

Gadis itu tak mampu melanjutkan kalimatnya saat pandangannya tertuju pada jajaran album foto berukuran besar yang tertempel di dinding.

Bergegas gadis itu bangkit dari posisinya dan mendekat kearah dinding yang begitu mencuri perhatiannya. Dari sekian banyak foto, Zara terpaku pada gambar yang berada paling dekat dengannya, di mana foto pernikahannya sudah terpajang apik dengan berhiaskan bingkai berwarna emas. Gadis itu pun menghela nafas dalam. Momen yang begitu indah, dimana Tuan Arka mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya. Bahkan kejadian itu pun masih membekas jelas di benaknya.

Bergeser pada foto di sisi lainya. Entah ekspresi wajah seperti apa yang gadis itu tunjukan saat menemukan foto pernikahan Arka dan Anastasya juga ikut berbaris rapi pun dengan figura yang sama. Di bagian bawah foto itu pun tertulis jelas tanggal, bulan dan tahun pernikahan itu digelar.

Sudah sekitar dua tahun yang lalu.

Sepasang suami istri itu terlihat tersenyum bahagia dengan menunjukan buku nikah masing-masing di tanggannya. Akan tetapi ada pemandangan mencolok, yang membuat Zara semakin di buat penasaran. Perut Anastasya terlihat membuncit, tak sepadan dengan bagian tubuh lainnya yang ramping.

Gadis itu pun memutar tubuh, memandang Surti yang siap siaga di belakangnya. Tertulis jelas jika gadis muda itu ingin sekali bertanya.

"Bibi, boleh aku bertanya?" ragu Zara mengutarakannya.

"Tanyakan saja Nona. Selama saya masih bisa menjawab, pasti akan saya jawab," tegas surti dan berjalan mendekat kearah Nonannya.

"Ke-kenapa perut Nona Anastasya terlihat membuncit? Apakah ---

Ragu Zara melanjutkan ucapannya.

Surti masih tersenyum lembut. "Maaf Nona, itu di luar kapasitas saya sebagai seorang kepala pelayan utuk bisa menjawab pertanyaan Nona. Nona bisa menanyakan langsung pada Tuan atau pun Nona Anastasya.

Apa? Zara sedikit merasa kecewa, dan kembali menatap foto tersebut.

Apakah Nona lebih dulu mengandung, sebelum menikah? Lalu di mana bayi mereka kini?

Setumpuk tanda tanya memenuhi isi kepala gadis berbadan mungil itu, namun sebisanya tetap ia tutup rapat. Jika bertanya pun sia-sia, Surti pasti enggan menjawabnya. Hingga kini pandangannya tergeser pada sisi dinding lainya.

Zara terpancing untuk lebih mendekat lagi. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Sebuah foto keluarga, sepang pria dan wanita paruh baya, berpose dengan sepasang putra putri mereka.

"Bibi, apa ini foto keluarga Tuan Arka?"

Surti mengangguk sebagai jawaban.

"Mereka terlihat sangat bahagia." Tergambar jelas bagaimana senyum terukir di wajah keempatnya.

"Tapi itu foto beberapa tahun yang lalu Nona," jawab Surti lirih.

"Kenapa? Baik itu dulu atau pun sekarang, pasti sama saja. Mereka tetap terlihat bahagia." Tanpa menatap kearah surti, Zara tetap terpaku pada wajah-wajah rupawan dalam figura foto.

Surti menghela nafas dalam. "Sayangnya, Tuan besar dan Nona muda sudah lebih dulu kembali dalam dekapan sang pencipta."

"Apa?" Zara terkesiap, dan menelan salivanya berat. "Ayah dan Adik Tuan Arka sudah me-meninggal," sambung gadis itu lagi dengan menatap wajah sendu surti.

Lagi- lagi surti menganguk namun enggan bersuara.

"Apa yang sudah terjadi kepada mereka?"

...Apa mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan....

"Maaf, ini di luar kapasitas saya untuk menjawabnya Nona. Anda bisa bisa mena---

"Cukup, aku akan menanyakan sendiri pada Tuan Arka. Tapi tidak dalam waktu dekat."

Entah mengapa kini wajah perempuan paruh baya itu terlihat sendu. Seolah mengingat beban berat yang pernah di pikul seisi rumah ini.

********

Sudah hampir tengah malam saat mobil yang dikemudikan Sam memasuki gerbang utama. Wajah lelah tergambar jelas pada Arka dan Sam kala keduanya menuruni kendaraan yang mereka tunggangi.

"Beristirahatlah Sam," pinta Arka pada pengawal sekaligus asisten pribadinya itu.

"Anda juga harus beristirahat Tuan," sahut Sam sembari menundukan kepala kearah Tuannya.

Surti yang berdiri pada barisan pelayan lekas mengambil tas dan jas dari tangan Tuannya.

"Ikutlah denganku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," titah Arka pada surti yang sudah berjalan menuju ruang kerjanya.

"Baik Tuan," jawab perempuan paruh baya itu.

Arka mendaratkan tubuhnya dan bersandar pada punnggung kursi putar dengan tatapan mengadah keatas. Pintu ruangan terbuka tanpa suara, Surti muncul dengan secangkir minuman hangat di tangan kanannya.

"Silahkan Tuan." Surti mendaratkan secangkir teh hangat dengan kepulan asap yang meliuk liuk indah itu di atas meja kerja Tuannya.

"Terimakasih banyak Bi, duduklah." Arka menunjuk satu buah kuarsi di hadaoannya yang hanya terhalang oleh meja kerja Arka.

Surti menganguk dan dengan pelan ia mulai mendaratkan tubuhnya di kursi yang sudah ditunjuk Tuannya.

"Apa saja yang Zara lakukan seharian ini. Apa dia merasa bosan atau justru senang," tanya arka penuh keingin tahuan.

"Banyak Tuan. Berawal dari ruang perpustakan, taman depan dan kolam ikan di belakang. Nona terlihat begitu senang." jawab Surti dengan netra berbinar.

Arka sedikit terkejut. "Perpustakaan? Zara juga memasuki perpustakaan?"

"Iya Tuan. Nona sempat sedikit bercerita jika beliau ingin sekali melanjutkan pendidikan yang sempat terputus. Maka dari itu saya membawanya keperpustakaan dimana banyak buku ilmu pengetahuan milik Tuan tersimpan."

"Lalu, apa Zara sempat melihat---

"Maaf Tuan. Saat belum menemukan buku yang tepat, Nona terus mencari hingga menemukan keberadaan foto yang tertempel di dinding." Surti tertunduk dalam, menyadari kesalahannya.

"Apa istriku menanyakan banyak hal tentang foto-foto itu pada Bibi?"

Surti berusaha menegakkan kepala, menatap Tuannya. "Sepertinya Nona Zara memang memiliki banyak pertanyaan, namun saya selalu menjawab jika itu bukanlah kapasitas saya untuk bisa menjawab pertanyaannya. Saya pun sempat memberi saran jika Nona Zara lebih baik menanyakan semuanya pada Tuan untuk lebih jelas," papar Surti.

Arka menghela nafas lega, "Baguslah. Setidaknya aku sendiri yang akan menjawab jika istriku itu benar-benar mau bertanya padaku." Pria itu pun tersenyum samar, istrinya itu memanglah lugu dan polos, namun ia juga memiliki rasa ingin tahu yang besar menyangkut kehidupan dirinya.

*****

Pintu yang sengaja tak dikunci dari dalam, mempermudah Arka untuk bisa memasuki kamar istri mungilnya. Melangkah tanpa suara, pria itu mendapati tubuh istrinya yang tengah tertidur pulas dengan selimut dan bantal guling dalam dekapan. Arka mendekat di bibir ranjang dan menatap wajah istrinya cukup lama. Seraut wajah polos itu tampak cantik tanpa riasan. Alis tebal, hidung mancung, bibir mungil kemerahan dan pipi putih yang berisi kian menambah kecantikan gadis yang tengah terlelap dalam buaian mimpi itu.

Kenapa istriku begitu terlihat manis.

Rasanya enggan untuk beranjak, namun ia pun harus lekas membersihkan diri dan beristirahat guna memulihkan kembali tenaganya.

Melangkah dengan berat menuju kamar mandi. Menanggalkan seluruh pakaian dan menguyur tubuhnya dengan air hangat. Tetesan air shower begitu terasa menenangkan saat mulai menyentuh kepala dan kulitnya. Setelah dirasa cukup, Arka lekas menyudahi ritual mandinya dan mengeringkan tubuh beserta rambut dengsn handuk. Menarik beberapa lembar pakaian dari lemari dan mengenakannya.

Masih melangkah tanpa suara, Arka yang sudah terlihat lebih segar itu kembali menuju kamar dan mendekati istrinya yang tengah terlelap kembali. Ada senyar kehangatan saat berlama-lama menatap wajah damai gadis manis itu. Bibir ranumnya terlihat begitu manis dan mengoda. Arka mencondongkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istrinya singkat dan mengusap puncak kepalanya lembut. Gadis itu pun sedikit terusik, namun hanya mengubah posisi tidurnya agar lebih nyaman.

Tak ingin lebih jauh lagi berulah, Arka menjauhkan tubuhnya dan duduk di sebuah sofa yang kerap ia gunakan untuk melepas lelah. Menopang kepala dengan bantal, Arka sudah merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai pinggang.

Seolah wajah istrinya memiliki magnet pemikat tersendiri, dirinya pun enggan untuk mengalihkan pandangan dari wajah ayu istrinya barang sedetik pun. Hingga kedua netranya mulai terasa berat, barulah dia menyingkirkan seraut wajah itu, meski dengan keterpaksaan.

1
Surati
bagus
sinta febrianti
udah bisa di tebak pas Zara nyuruh suaminya ngelepasin sandy pasti bkln kya gni. hrusnya arka wlaupun Zara ngmng sruh lepaskan hrusnya dia ttep nyuruh bodyguard nya buat beresin sandy biar gak bkin ulah lgi.. lah ini malah di bebasin yo wis jdinya begitu sandy berulah lgi
Rikawaii San
Luar biasa
Retno Elisabeth
menarik ceritanya thor
Inaqn Sofie
knp manggilnya tuan trs ya
Adeva Rizky
kok Zara,ngomong sama arka msh aj formal.gk cocok
Lena Sari
masa lalu seperti apa yg nona Anastasya sembunyikan???
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trusvsukses
fifid dwi ariani
trus sehat
Murwa Malefy
heheeee puncak kepala thor...😀 semangaattt thor..
YK
memang lebih baik dengan Ken yg didewasakan dengan cobaan. bukannya rangga yg lari dari cobaan dan meminta sahabatnya yg bertanggungjawab atas permasalahan yg disebabkan oleh dirinya sendiri...
YK
noh, siapa yg kemaren sibuk menghujat arka????
YK
cowok kere aja belagu...
YK
apakah tasya sakit? HIV mungkin?
Sri Wahyuni
kan s zara msih punya bpk knp pke wali y hakim
Sri Wahyuni
hrus nya s tasya itu memprbaiki dri dn hrs bersyukur msih ada yg mau mengeluarkn dri dunia lmbah hitam s arka mau menikahi nya hrs hidup lah yg lbih baik nikmati yg udah d sdiakan suami nya the real az hidup dn hnya krn cinta yg blm d dpt jd tmbah hilng arah cp tau dngn bnyk bersyukur dn brsbar akn tba wktu y yg d ingin kn tpi ini klkuan bkin jengah suami az
Sri Wahyuni
mungkin tdi y tasya itu jalang yg taubat..dan s zara skrng az blng ga mau k dpn y pasti bucin merem melek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!