Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C024: Berangkat Ke Virlan
...Selamat Baca...
Hari‑hari persiapan berjalan tenang namun penuh kesibukan ringan. Di dalam kediaman yang kini terasa begitu hangat, setiap orang sibuk menyiapkan barang bawaan.
Lemari‑lemari terbuka lebar, pakaian dipilih dengan teliti dan dilipat rapi masuk ke dalam koper besar.
Liana memilihkan pakaian yang nyaman namun tetap anggun, cocok untuk iklim di Virlan yang sedikit lebih sejuk.
Tak jauh darinya, Viviane juga sedang menata barangnya; ia mengambil pakaian‑pakaian kesukaannya dari kediaman utama,
Namun kali ini dibawa dengan hati‑hati, seolah membawa kenangan indah yang lama tersimpan. Alexander menyiapkan keperluannya sendiri dengan gerakan tenang dan teratur, tidak kalah rapi.
Tim pendamping juga ikut bersiap: Leo, sang kameramen, sudah menyiapkan peralatan rekamannya; Ryan, editor pribadi, bersama manajer, fotografer, dan asisten Liana.
Semuanya memastikan tidak ada yang tertinggal. Bagian tim inti yang bertugas menjaga kelangsungan operasional Virlan Arts tetap tinggal di gedung studio, bersama kantor Alexander yang menempati lantai dasar,
Agar segala urusan tetap berjalan lancar selama mereka pergi. Hanya tim pendamping harian yang ikut serta dalam perjalanan ini.
Setelah semua koper tertutup rapat dan tersusun rapi, barulah rekaman konten dimulai kembali. Liana berdiri di ruang tengah,
Ia tersenyum ramah di balik topengnya, menyapa penonton seolah sedang berbicara dengan teman dekat.
“Halo semuanya… maaf jika beberapa hari ke depan konten sedikit berbeda. Kali ini kami akan pergi jauh, menyeberangi laut menuju tanah asal saya, Virlan.”
Di sampingnya, Alexander berdiri tenang — sosok yang sudah dikenal penonton sebagai “Pak Bos”. Namun yang menarik perhatian adalah kehadiran sosok lain: Viviane.
Ia mengenakan topeng perak berukiran halus, sangat anggun dan pas menutupi separuh wajahnya.
Meski rambutnya sedikit memutih, di balik topeng itu pancaran kecantikannya masa muda bersinar kembali; ia tampak persis seperti seorang bangsawan wanita yang berambut putih, elegan dan tenang.
“Ini… Ibu dari Pak Bos,” ucap Liana lembut, sebutan yang kini sudah terasa alami dan hangat di lidahnya. “Namanya… Via.”
Viviane tersenyum manis di balik perak itu, suaranya lembut namun berwibawa. “Senang berkenalan dengan kalian semua. Saya hanya ikut berjalan‑jalan menikmati pemandangan.”
Suasana di dalam rekaman terasa sangat hangat, penuh kehangatan keluarga yang jarang terlihat. Setelah perkenalan selesai, rekaman dihentikan sejenak.
Pengawal‑pengawal mulai mengangkat koper‑koper besar menuju kendaraan yang menunggu di halaman.
Leo tetap mengikuti dari belakang, merekam setiap langkah keberangkatan, sementara anggota tim lain sudah menunggu di dalam mobil van yang disiapkan khusus selama sebulan ke depan.
Perjalanan berlanjut hingga tiba di bandara. Di sana, Liana dengan lembut memberi pengertian kepada semua orang: kamera profesional tidak boleh dinyalakan di dalam pesawat.
Hanya sebentar ia mengangkat ponselnya, memperlihatkan kemewahan pesawat pribadi mereka, lalu merekam sedikit saat pesawat mulai meluncur dan terangkat tinggi.
Dari jendela, terlihat jelas bagaimana gedung‑gedung pencakar langit perlahan mengecil menjadi seperti kotak‑kotak kecil, kota berganti menjadi hamparan hijau,
Hingga akhirnya menyatu dengan hamparan awan putih di bawah langit biru yang luas. Rekaman dihentikan begitu pesawat mencapai ketinggian jelajah yang stabil.
Lalu berlalu waktu sekitar tiga jam di udara.
Saat roda pesawat kembali menyentuh landasan di Virlan, rasa lelah langsung menyerang tubuh Liana.
Ini kedua kalinya ia terbang sejauh ini; tubuhnya terasa berat, kaku, dan kepalanya sedikit pening. Ia hampir tak berdaya saat turun, dan dengan sigap Alexander langsung menopang tubuhnya,
Membiarkannya bersandar sepenuhnya di lengan kekarnya. Ia yang kemudian berbicara kepada tim dan semua orang,
Mewakili Liana yang masih terpejam sebentar karena kelelahan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Mereka segera menaiki dua buah mobil van yang telah disewa khusus untuk satu bulan penuh.
Rencana awal adalah beristirahat dulu di sebuah hotel yang nyaman selama satu atau dua hari, memulihkan tenaga sebelum mulai berkeliling atau bertemu kerabat.
***
Dua hari berlalu tenang. Istirahat yang cukup membuat warna wajah Liana kembali cerah dan tenaganya pulih sepenuhnya.
Hati‑hatinya kini berdebar kencang karena satu hal: ia ingin menghubungi ayahnya. Namun, nomor lama sudah tidak aktif.
Mereka berdua sempat mengganti nomor telepon demi keamanan masing‑masing, sehingga Gerald pun tidak bisa menghubungi cara lama.
Melihat kerisauan itu, Alexander hanya tersenyum tenang. Dulu ia pernah mengirim Azriel untuk membantu ayah Liana, sehingga jejak selalu tersimpan rapi.
Hanya dalam sekejap, nomor terbaru Gerald sudah ditemukan dan diserahkan ke tangan Liana.
Dengan jari sedikit gemetar, Liana mencatatnya lalu menekan tombol panggil. Dering terdengar, lalu terangkat.
Suara itu terdengar akrab sekali, namun di telinga terdengar agak datar, seolah orang di seberang sana sudah lama terbiasa hidup tanpa banyak harapan.
Hati Liana langsung terasa perih, air mata yang sudah ditahan sejak lama akhirnya jatuh membasahi pipinya.
“Ayah…?” suaranya tersendat, penuh isak tangis yang tertahan. “Bagaimana kabarmu? Ini… Liana anakmu.”
Di seberang sana, Gerald seketika terdiam kaku. Tak ada keraguan sedikit pun — itu suara yang paling ia rindukan seumur hidup. Segera ia mengubah panggilan menjadi panggilan video.
Saat wajah keduanya saling bertemu di layar, tangis pecah di kedua sisi. Air mata Gerald mengalir deras, menatap wajah putrinya yang kini tumbuh menjadi wanita cantik, sehat, dan anggun,
Namun matanya tetap sama — mata yang dulu sering ia peluk. Rasa rindu, rasa bersalah, rasa lega, semuanya bercampur menjadi satu rasa yang sulit diucapkan dengan kata‑kata.
“Liana… anakku…” suara Gerald bergetar hebat. “Kau… benar‑benar ada di sana? Bagaimana dengan kabarmu selama ini? Ayah sama sekali tidak bisa menghubungimu.”
“Aku ada, Ayah… aku baik‑baik saja,” jawab Liana sambil mengusap air matanya, tersenyum di sela tangis.
“Dan sekarang… aku sudah sampai di Virlan. Aku ingin bertemu Ayah. Di manakah tempat Ayah tinggal sekarang?”
Gerald mengatur napasnya perlahan, berusaha menenangkan diri.
“Ayah tinggal di sebuah kediaman tua yang sudah Ayah perbaiki, di bawah kaki bukit, dikelilingi hutan namun sudah ada jalan aspal yang mulus sampai ke sana."
"Kalian boleh datang kapan saja… Ayah akan segera pulang ke sana sekarang juga, menunggu kedatanganmu.”
Dari tempat mereka berada di kota, perjalanan menuju kaki bukit itu memakan waktu sekitar tiga jam.
Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore — jika berangkat sekarang, mereka akan tiba saat matahari mulai miring namun belum gelap sepenuhnya, suasana yang indah dan teduh.
Tanpa menunggu lama, kesepakatan pun terjalin. Mereka akan berangkat hari itu juga, langsung menuju tempat tinggal ayahnya, menutup jarak yang terpisah bertahun‑tahun itu selangkah demi selangkah.