NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Remuk

Mobil taksi yang ditumpangi Jena akhirnya melambat sebelum berhenti tepat di depan rumah megah milik keluarga Ardhana. Jena menarik napas panjang.

"Sudah sampai, Mbak," ujar sang sopir ramah.

"Iya, Pak. Terima kasih." Setelah membayar ongkos, Jena turun sambil membawa tas kecilnya. Begitu pintu mobil tertutup, ia mendongak menatap rumah yang sudah puluhan kali ia datangi itu. Namun entah mengapa, malam ini suasananya terasa berbeda.

Jantungnya berdegup jauh lebih cepat.

"Tenang, Jena ..." Ia mengusap pelan telapak tangannya yang mulai berkeringat.

Baru beberapa langkah berjalan menapaki halaman, dahinya perlahan berkerut. "Lho ... kok banyak mobil?" Jena mengamati satu per satu mobil yang terparkir di halaman rumah Jovian. Mobil-mobil yang sangat mewah. "Sebenarnya ada acara apa ya?"

Akhirnya Jena menaiki anak tangga menuju pintu utama. Belum sempat ia menekan bel, pintu sudah lebih dulu terbuka.

"Eh, Non Jena."

Jena langsung tersenyum lega. "Selamat malam, Mbok Yati."

"Selamat malam, Non. Wah, cantik sekali malam ini."

Jena tersipu malu. "Terima kasih, Mbok."

"Silakan masuk. Semua tamu sudah datang."

Jena mengangguk pelan. "Iya, Mbok."

Suasana rumah keluarga Ardhana malam itu tampak jauh lebih hidup daripada biasanya. Dari arah dalam terdengar suara percakapan dan tawa yang saling bersahutan.

Jena mengikuti langkah Mbok Yati menyusuri lorong rumah. "Mbok ... ini sebenarnya ada acara apa? Saya kira cuma makan malam biasa," bisik Jena.

"Mbok juga nggak tahu, Non."

Jena mengangguk meski tak puas dengan jawaban Mbok Yati.

"Mari Non, Tuan dan Nyonya ada di ruang makan."

Jena kembali mengangguk. Beberapa detik kemudian mereka tiba di depan ruang makan.

Mbok Yati tersenyum. "Silakan, Non."

Jena melangkah masuk. Dan langkahnya langsung terhenti. Matanya membulat lebar. Ruang makan yang sangat luas itu ternyata sudah dipenuhi banyak orang.

Di ujung meja duduk Bimo, lalu Sifa di kursi sebelahnya dan Jihan disebelah Sifa.

Di sisi lain tampak Mario Suroso, Mayang Ayu Zainal bersama Michelle yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu.

Jena juga mengenali beberapa direksi Ardhana Group yang tadi pagi mengikuti rapat. Tak hanya itu. Beberapa petinggi dari MS Fashion juga ikut hadir. Bahkan ada anggota keluarga Ardhana, baik dari pihak Bimo maupun Sifa yang sedang bercengkerama dengan hangat.

Suasana begitu ramai, elegan, sekaligus penuh keakraban.

Jena benar-benar terpaku. "Tamunya banyak sekali." Dadanya mendadak berdegup semakin keras. Ia semula mengira hanya akan makan malam sederhana bersama Bimo, Sifa, Jihan dan Jovian. Namun yang ada di hadapannya justru sebuah jamuan makan malam yang dihadiri keluarga besar serta rekan-rekan bisnis terdekat keluarga Ardhana.

Belum sempat Jena mencerna keadaan, beberapa pasang mata mulai beralih ke arahnya. Percakapan di dalam ruangan perlahan mereda. Semua orang menyadari kedatangan perempuan muda yang berdiri dengan gaun hijau sage anggun di ambang pintu itu.

Jena spontan menelan ludah. Ia menggenggam tas kecilnya sedikit lebih erat. "Ya Allah ..." batinnya gugup. "Sebenarnya ... acara apa ini?" Semakin lama ia memperhatikan, semakin kecil pula rasa percaya dirinya.

Semua tamu yang hadir mengenakan pakaian formal dengan kualitas terbaik.

Para pria tampil gagah dengan setelan jas mahal. Sementara para wanita mengenakan gaun-gaun elegan lengkap dengan perhiasan yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.

Jena yang tadi sempat merasa penampilannya sudah sangat cantik, kini justru menundukkan kepala.

Gaun hijau sage yang beberapa jam lalu begitu ia banggakan, mendadak terasa biasa saja. Apalagi saat matanya tanpa sengaja bertemu dengan Michelle.

Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna champagne dengan potongan eksklusif yang membentuk siluet tubuhnya dengan sempurna. Kalung berlian menghiasi lehernya, sementara rambutnya ditata dalam sanggul elegan.

Michelle benar-benar memancarkan aura seorang putri konglomerat.

Jena tanpa sadar menggenggam tas kecilnya lebih erat. "Aku ... kelihatan sederhana sekali." Perasaan minder perlahan menyusup ke dalam dadanya.

Di saat itulah Sifa menghampirinya dengan senyum hangat. "Jena."

Jena segera tersadar. "Tante ..."

Sifa menggenggam lembut tangan Jena.

"Terima kasih sudah datang."

"Iya, Tante."

"Ayo, silakan duduk."

"Iya."

Sifa mengantarkan Jena menuju salah satu kursi yang masih kosong. Begitu duduk, Jena langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya mencari satu sosok. "Jovian mana ya?" batinnya.

Kekasihnya itu belum terlihat di mana pun. Jena mengeluarkan ponselnya secara diam-diam di bawah meja. Ia membuka ruang obrolan mereka. Jari-jarinya bergerak pelan. "Mas di mana? Aku sudah di ruang makan." Pesan itu terkirim. Jena terus menatap layar.

Satu menit.

Dua menit.

Tidak berubah. Pesannya bahkan belum dibaca. Persis seperti pesan sebelumnya. Senyum di bibir Jena perlahan memudar. Ia hanya bisa menundukkan kepala sambil meletakkan kembali ponselnya. "Mungkin Jovian masih dandan," hiburnya dalam hati, meski kali ini keyakinannya mulai goyah.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah ruang keluarga.

Semua orang spontan menoleh.

Jovian muncul. Mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, lelaki itu tampak tampan dan berwibawa.

Jantung Jena langsung berdebar. Refleks ia mengangkat sedikit wajahnya. Berharap sang kekasih tersenyum ke arahnya, menyapa dan menggenggam tangannya.

Namun harapan itu menguar.

Jovian berjalan melewati Jena begitu saja. Bahkan tidak melirik sedikit pun ke arahnya. Seolah-olah Jena hanyalah tamu biasa yang tidak dikenalnya.

Lelaki itu langsung menghampiri Sifa. "Mama."

"Kamu akhirnya turun juga," ujar Sifa.

"Iya, Ma." Jovian kemudian duduk di kursi di samping Jihan berhadapan dengan Michelle.

Hati Jena mulai terasa tidak nyaman.

Ada sesuatu yang terasa asing. Tetapi ia kembali berusaha menenangkan dirinya. "Mungkin Jovian canggung menyapaku karena banyak tamu," ujarnya dalam hati.

Tak lama kemudian, Bimo berdeham pelan. Suara percakapan di ruangan perlahan menghilang. Semua tamu memusatkan perhatian kepadanya. Bimo berdiri sambil tersenyum. "Selamat malam semuanya."

"Malam!" sahut yang hadir kompak, termasuk Jena.

Bimo melanjutkan. "Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara makan malam sederhana yang kami adakan malam ini."

Beberapa tamu menganggukkan kepala sambil tersenyum.

"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan syukur karena acara charity fashion yang kita selenggarakan kemarin berjalan dengan sangat sukses."

Beberapa tamu langsung memberikan tepuk tangan ringan.

"Keberhasilan itu tentu tidak lepas dari kerja keras seluruh tim Ardhana Group, MS Fashion, para direksi, serta semua pihak yang telah membantu."

Mario Suroso mengangguk sambil tersenyum bangga.

Bimo melanjutkan, "Namun ... selain sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan acara tersebut ..." Ia berhenti sejenak. Tatapannya beralih kepada Mario. "Malam ini saya dan keluarga juga ingin menyampaikan satu kabar bahagia kepada keluarga besar dan para sahabat yang hadir."

Jena ikut mengangkat wajahnya. Dadanya kembali berdebar.

Bimo tersenyum lebar. "Setelah melalui pembicaraan kedua keluarga ... saya dan Pak Mario Suroso telah sepakat, bahwa putra saya, Jovian Ardhana ..."

Bimo menoleh kepada Jovian. "Akan bertunangan dengan Michelle Ayu Suroso." Lalu ia kembali memandang seluruh tamu. "Dan acara pertunangan mereka akan dilangsungkan bulan depan."

Hening beberapa detik. Lalu tak lama, ruangan dipenuhi tepuk tangan meriah.

"Selamat!"

"Selamat untuk Jovian dan Michelle!"

"Semoga lancar sampai hari H."

"Pasangan yang sangat serasi."

Michelle tersenyum anggun. Mario tampak bangga. Sifa dan Jihan ikut tersenyum. Bimo mengangguk menerima ucapan selamat.

Sementara Jena, tubuhnya membeku. Tangannya yang berada di bawah meja perlahan kehilangan tenaga. Matanya membelalak. Ia menatap lurus ke arah Jovian. Berharap, lelaki itu akan menghampirinya dan berkata bahwa itu hanya candaan.

Namun tidak.

Jovian hanya duduk diam. Tidak membantah, menyangkal atau menjelaskan.

Saaat itulah, dunia Jena seakan berhenti berputar. Suara tepuk tangan di sekelilingnya perlahan memudar, seolah tenggelam jauh dari pendengarannya. Dadanya terasa sesak.

Napasnya tercekat. Semua harapan yang sejak siang ia bangun, semua kebahagiaan yang memenuhi hatinya, gaun yang ia pilih dengan penuh semangat, doa-doa yang ia panjatkan sepanjang perjalanan, dan senyum yang tak henti menghiasi wajahnya ... semuanya runtuh dalam sekejap mata. Hancur tanpa menyisakan apa pun.

Di balik senyum dan ucapan selamat yang memenuhi ruangan, hanya Jena seorang yang merasakan bahwa malam itu ... seluruh impiannya telah remuk berkeping-keping.

1
Amy
Orang Tua Egois,, Ibunya wanita tapi tidak memikirkan perasaan sesama wanita,masih ada anak perempuanmu yg akan mrsakann penderitaan Jena,,,
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
Ama Apr: iya, mereka jahat
total 1 replies
Dartihuti
Kl dilihat blg mobilnya mengkilat dan beda gk seperti biasa jg wkt tny nama?nyebutnya kok meragukan pasti bkn sembarang sopir...menjauh sejauh mungkin buktikan Jena km bisa lebih terhormat mampu bahagia tampa mereka
Ama Apr: hahaha hayooo
total 3 replies
nunik rahyuni
alhamdulillah ada sedikit hiburan...sdh jena mantabkan hati ayo melangkah tinggalkan mereka ..mulailah dg hidul mu yg baru..semangat 💪💪💪
Ama Apr: siap semangat🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
uhuuyyy kaya nya si Toto cio yg nyamar wkwkwk🤣,,,semgat jena
Inarrr Ulfah: iya wkwkw,,Ayo lah KA,,baut kejutan untuk keluarga si jovian itu,,smga lebih tajir pengganti nya si jovian 😄
total 2 replies
Dartihuti
Orang gk hati ...harta dan duduk yg di otaknya gk mikir suatu saat semua yg di lakukan akan kembali balik kediri c4 atau lambat...gak sadar lubang besar menati keluarga Jo ...mecili tawamu sekarang tanpa kamu sadari jd bumerang hubungamu kedepannya😡
Ama Apr: Hukum tabur tuai berlaku🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
kan ..seperti dugaan q ..jo adalah anak yg dituntut untuk patuh..dia akan terikat dg keputusan ortu...
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪
Ama Apr: iya kk, pasti ada kejutan buat mereka
total 3 replies
Inarrr Ulfah
semoga aja hal buruk menimpa anak perempuan kamu ,,lebih kejam dari yang jena terima....
Ama Apr: 🥹🥹🥹 ikut sakit ya buat Jena
total 1 replies
Inarrr Ulfah
langsung resign dari kantor nya jena,,pergi dari apartemen itu,,pergi yang jauh,...💪
Ama Apr: pastiii, udah diskaitin ms diem bae
total 1 replies
nunik rahyuni
up lg thor...kesini jena q pelik erat erat jgn menangis kuatkan hatimu...lupakan mreka melangkh menjauh dan buatlh dirimu bahagia
Ama Apr: iya kk, makasih🥹
total 1 replies
Amy
langsung menjauh aja Jena,, karena menikmati kebahagiaannya jovian bahkan tidak sadar kamu udah nggak ada di sekitarnya, itu krna kamu bukan prioritasnya
Asphia fia: nyesek bagt bacanya Thor
laki- laki pengecut spt jovian GK perlu ditangisi jen
total 2 replies
Dartihuti
Tunggu hukum sebab akibat keluargamu dan km Jo..c4 atau lambat kepedian akan balik ke dirimu sklrg
Ama Apr: pasti itu kk🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
jangan berkecil hati jena ..bangun lah dr mimpi mimpi yg di berikan jovian...sadarlah mereka bukan yg terbaik ..pergi dan hidup lah dg bahagia tanpa mereka yg menyakitimu
Ama Apr: iya 🥹🥹🥹
total 1 replies
Dartihuti
Bangkit Jena tegakkan kepalamu ....buat klrg mereka menyesal krn meredahkanmu,membuangmu setelah apa yg km lalui menjauhlah dulu buktikan bahwa Jena gk selemah yg mereka pikirkan dan mampu mendapatkan yg lebih dr Jo laki gk berprinsif lemah...
Ama Apr: peluk jauh Jena🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
mana up nya cuma seuprit lagi😭
Ama Apr: hehe, maaf nanti ditambah deh. mau nulis dulu aku nya
total 1 replies
Inarrr Ulfah
nah kan,,sudah ku bilang akan yang nemenin dari nol akan KLH sama yg baru,,dah pergi aja Jen yang jauh,,,pergi dari apartemen dan kehilangan jovian 💪💪...cari CEO yg lebih kaya dan ganteng,,buat jovian di dan keluarga nya menyesal
Ama Apr: begitulah hidup🥹
kadang perjuangan kita tdk dihargai
total 1 replies
Dhm Pratiwi
benar kan saya bilang,tetap tegar Jena,klw perlu kamu kluar dari apartemen da perusahaan Ardana,Jovian MUNfIK
Ama Apr: 🥹🥹 huhu
total 1 replies
nunik rahyuni
duh thor hati sdh dag dig dug kok malah di gantung lg..tambah up thor penasaran ni lah thor ✌️✌️✌️✌️
Ama Apr: hehe maaf kk
total 3 replies
nunik rahyuni
semoga kamu g kecewa dan sakit hati
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Titien Prawiro
Sudah tamatkah?
Ama Apr: belum kk, atuh mash jauh
total 1 replies
Titien Prawiro
Jangan2 ke Jepangnya gk jadi karena papa Bimo.
Ama Apr: huhu🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!