Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azra Tumbang (Part 1)
"Kakak serius mau berangkat ke nikahan dr. Wita?" Linda sudah mengulang pertanyaan itu entah untuk yang keberapa kalinya.
Azra menghela napas, menoleh ke arah sumber suara, "Kamu sudah siap belum?" tanya Azra balik.
"Ya sudah siap, Kak. Dari tadi malah. Tapi beneran Kakak berangkat pakai baju begitu doang?" Linda menatap aneh ke arah Azra yang hanya memakai setelan celana kulot dan blus panjang model peplum warna putih gading.
Azra menarik lengan Linda yang memakai gaun halter dress warna biru navy untuk segera berangkat.
"Pake outer-mu! Kita naik motor, Lin. Kamu mau masuk angin dengan pakaian seperti itu?" ingat Azra sebelum mereka melaju meninggalkan rumah dinas.
Dia sudah lelah menunggu Linda yang berdandan lama dan kerepotan memilih model untuk rambut panjangnya.
"Iya, Kak. Sudah. Nih, sudah aku pakai!" Linda membonceng di belakang Azra bersungut-sungut dengan bibir manyun. 'Padahal kan aslinya aku nggak mau ikut. Tapi maksa terus nyuruh ikut. Sekarang marah-marah, gerutu Linda dalam hati.'
Azra melirik Linda dari kaca spion motor.
"Berhenti merutuk, Linda!" serunya sambil menyalakan motor.
Linda terkejut, segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tidak berapa lama, motor matic biru pun bergerak meninggalkan rumah dinas menuju rumah Pak Kades.
Sehari yang lalu, Linda sudah mencak-mencak, ketika Azra memintanya datang menemani ke pesta pernikahan dr. Wita.
Itu karena, Siti tidak bisa hadir. Hari Sabtu, ada acara mendadak di rumahnya. Hilang sudah angan-angan Linda, untuk bermalas-malasan sambil membaca novel.
Walhasil, berbekal undangan Siti, Linda tidak bisa lagi mencari alasan untuk menolak. Azra menyeringai puas berhasil memaksa Linda untuk ikut ke pesta.
Dan Sabtu pagi, Linda balas dendam dengan memaksa Azra menemaninya mencari gaun untuk acara pesta malam nanti.
Dan ... di sinilah mereka saat ini, bersama Pak Kades dan istri, yang juga diundang oleh Wita.
Hotel Permana, milik keluarga Aldo --calon suami Dokter Wita-- adalah hotel bintang empat, yang terletak di kota Jayakerta. Hotel ini terkenal dengan arsitekturnya yang megah, namun klasik. Sehingga, banyak sekali pasangan pengantin yang menyewa hotel ini untuk perhelatan acara sakral mereka.
Azra berjalan beriringan dengan Sekar, putri bungsu pak Kades. Saat menoleh ke belakang, mata hazelnutnya mendelik ke arah Linda. Memberi isyarat agar gadis itu tenang dan tidak heboh melihat keindahan dekorasi pernikahan Dokter Wita.
"Ojo ngisin-ngisini," bisik Yanto ke telinga Linda.
Wajah Linda berubah kesal dengan ucapan Yanto, refleks dia menginjak sepatu Yanto dengan kuat, "Aduh!" teriak Yanto mengangkat sebelah kakinya yang diinjak Linda.
Semua mata tamu yang antre, menengok ke arah Yanto yang berteriak kesakitan. Pak Kades yang berdiri di barisan depan, menoleh memberi isyarat dengan jari telunjuk, agar jangan membuat gaduh.
Dengan rasa malu, Yanto menundukkan wajahnya dari pandangan tamu di sekitarnya. Linda menutup mulut berusaha menahan tawa yang nyaris keluar melihat ekspresi konyol Yanto saat ditegur Pak Kades.
Melihat kegaduhan yang ditimbulkan rekannya, Azra perlahan bergerak mundur ke belakang, "Maju saja, Mas. Kamu di depan sama Sekar," bisiknya pelan.
Yanto ke depan, berjalan beriringan dengan Sekar. Sementara itu jemari Linda digenggam erat oleh Azra.
"Aku nggak akan usil lagi, Kak. Nggak usah dipegangi erat-erat," bisik Linda pelan.
"Hmmm ..." Azra hanya menjawab dengan deheman dan menatap lurus ke depan. Genggamannya dia kendurkan, tapi tidak dilepaskan.
"Gaunmu cantik, kak. Emang udah disiapin ya sama Bu Kades?" bisik Linda ke telinga Azra.
"Iya!" jawab Azra singkat.
"Kirain, kamu ke pesta pakai setelan kulot tadi, Kak. Ternyata ...," kalimat Linda terhenti. Mereka sudah sampai di pintu masuk, mengisi buku tamu dan menyerahkan undangan kepada yang bertugas.
Mereka memasuki ruang tunggu, sebelum ke aula utama. Azra mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia kebingungan mencari Linda, yang pamit ke toilet, setelah menyerahkan kartu undangan di pintu masuk.
Namun, tetap tidak menemukan batang hidungnya. Malah berpapasan dengan Sekar, yang memakai one shoulder long dress warna marun belahan samping. Penampilan itu membuat kulit Sekar yang kuning langsat makin bersinar.
"Cari siapa, Zra?" tanya Sekar mendekat ke arah Azra yang celingukan.
"Cari Linda. Kemana anak itu, khawatir dia membuat ulah lagi ..." jawab Azra cemas.
Sekar terkikik pelan, "Rasain, akhirnya ... kamu ketemu bocil yang harus kamu momong dengan sabar," ledek Sekar puas, senang bisa melihat ekspresi tak berdaya di wajah Azra.
"Berhenti meledekku, Kar," sungut Azra kesal.
Sekar tertawa pelan, "Wis, ndang cari si Linda. Jangan sampai nikahan orang jadi kacau gegara keusilannya. Aku ke Romo dulu ya," ujar Sekar berlalu.
Azra mencoba berkeliling lagi mencari Linda. Tanpa disadarinya, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan setiap langkahnya.
Tidak menemukan sosok Linda, akhirnya dia menyerah. Pintu masuk aula utama mulai lengang.
Dengan langkah anggun Azra memasuki ballroom. Matanya menyipit, disambut sinar lampu kristal yang berpendar ke seluruh penjuru aula utama.
Beberapa tamu yang sedang berbincang dekat pintu masuk menoleh saat Azra memasuki ballroom. Bahkan seorang pelayan yang membawa baki minuman terlihat terlambat mengalihkan pandangannya.
Long dress muslimah warna burgundy yang Azra kenakan kontras dengan jilbab satin misty grey yang membingkai wajahnya. Di tengah kilau gaun dan perhiasan para tamu, penampilan Azra terlihat sederhana. Namun entah bagaimana, justru sulit untuk mengabaikannya.
Saat kakinya melangkah lebih dekat ke pelaminan, pandangan mata Azra tertuju ke arah pengantin.
Matanya beradu pandang dengan sahabat yang berdiri di pelaminan, sepasang mata hazelnut itu berkaca-kaca, memancarkan binar kebahagiaan, haru, dan ketulusan yang mendalam.
Dari atas pelaminan, Wita melambaikan tangan ke arah Azra dengan senyum merekah. Nampak jelas kebahagiaan di wajahnya, sejak melihat sahabatnya itu melangkah memasuki ballroom.
Sementara papa Wita, Hendra Baskoro merasa lega, melihat putrinya berbahagia di pesta pernikahannya. Saat Wita melambaikan tangan dengan ekspresi sukacita, Hendra mengikuti arah yang dituju putrinya.
Tampak seorang gadis bergaun burgundy, bermata hazelnut, tersenyum manis di antara para tamu undangan. Pandangan Hendra tertegun.
Penuh rasa rindu pada sahabatnya, Azra mengangkat gaunnya hendak melangkah ke pelaminan. Namun, saat pandangannya bertubrukan dengan pandangan Papa Wita, seketika bola mata hazelnutnya membulat. Napasnya tercekat. Kakinya mundur selangkah tanpa sadar.
Senyum di bibirnya lenyap.
Bersamaan dengan itu ... Pyaar! Suara benda pecah menghentikan langkahnya.
Dada Azra berdegup kencang, pikiran buruknya tentang Linda melintas begitu saja.
Saat dia menoleh ke sumber suara, dia terkejut. Tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat tubuh Linda sedang didorong oleh seorang gadis berambut pirang.
Refleks, Azra membalikkan badan, berlari menarik tubuh Linda yang nyaris jatuh menimpa pecahan gelas di lantai.
"Awas, Linda! Hati-hati !" Azra mengeratkan pelukan pada tubuh Linda.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Azra cemas sambil melihat gaun Linda yang basah oleh tumpahan air.
Semua mata yang hadir, langsung tertuju pada keributan itu.
Linda menoleh. Mata Linda langsung menyalang menatap gadis yang tadi mendorongnya. "Mau kamu apa?" desis Linda dengan suara tertahan. Badannya menegang ditahan oleh Azra.
"Apa?!" teriak gadis itu pongah sambil berkacak pinggang. "Siapa suruh kamu menyenggolku, sehingga minuman ini merusak gaunku yang mahal!"
Linda menarik napas, berusaha tenang, "Maaf ya, Mbak. Saya tadi tidak sengaja. Dan saya sudah berkali-kali meminta maaf. Tetapi Mbaknya ..." kalimat Linda terputus karena terkejut.
Gadis angkuh itu mengangkat tangan hendak melayangkan tamparan ke arah Linda, dan dengan cepat ditahan tangan Azra.
Mata hazelnut Azra menatap tajam gadis yang ada di hadapannya. Dengan sekali sentak, tubuh gadis itu terdorong ke belakang. Hampir jatuh, bila tidak ditahan oleh temannya yang baru datang.
"Ada apa ini?!" Suaranya lantang menggema di seluruh ruangan. Seorang gadis dengan penampilan glamour, berwajah oriental menolongnya tepat waktu.
Beberapa tamu undangan, mulai datang berkerumun di sekitar mereka.
Tak ketinggalan pria muda, yang 'menikmati' pertunjukan di depannya dari semenjak Azra memasuki ruang tunggu. "Menarik!" gumamnya pelan sambil tersenyum miring.
Setelah menolong temannya berdiri dengan baik, gadis yang mengenakan gaun dengan bahu terbuka itu membalikkan badan, menoleh ke tempat Azra dan Linda berdiri.
Matanya terbeliak kaget. Begitu juga Azra. Waktu seakan berhenti; mereka bersitatap untuk waktu yang lama.