NovelToon NovelToon
Dimanjakan Oleh Cintanya

Dimanjakan Oleh Cintanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.

​Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.

​"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia besar dan gema kekuasaan

​Di dalam kamarnya yang sepi, Aira masih berbaring telentang menatap langit-langit plafon. Tangan kanannya masih menggenggam erat kartu hitam pemberian pria asing tadi. Rasa nyeri di tubuhnya perlahan mulai mereda, namun debaran di dadanya setiap kali mengingat tatapan mata pria itu justru semakin menjadi-jadi.

​Brak!

​Pintu kamar Aira tiba-tiba didorong terbuka tanpa ketukan. Santi melangkah masuk dengan wajah yang masih tampak tegang, namun kilatan ambisi dan rasa penasaran yang besar terpancar jelas dari matanya. Dia berjalan mendekati ranjang Aira, menatap anak tirinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara tidak percaya dan rasa iri yang tertahan.

​Aira langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang, menyembunyikan kartu hitamnya di balik bantal. "Ada apa, Tante?" tanya Aira pelan, agak waswas.

​Santi melipat kedua tangannya di dada, menatap Aira tajam. "Aira, jawab jujur sama Tante. Sejak kapan kamu kenal dekat dengan pria tadi? Hubungan apa yang kamu punya sama dia sampai dia datang ke sini dan kasih kamu kartu itu?"

​Aira mengernyitkan keningnya bingung. "Aku... aku tidak kenal dekat dengan dia, Tante. Memangnya... dia siapa?" tanya Aira dengan sangat polos. Dia benar-benar mengira pria itu hanyalah orang kaya biasa atau mungkin salah satu rekan kerja ayahnya.

​Mendengar pertanyaan polos Aira, Santi langsung membelalakkan matanya saking tidak percaya. Dia mendengus kencang, menganggap Aira sedang berpura-pura.

​"Kamu jangan sok bodoh, Aira! Kamu benar-benar tidak tahu siapa pria tampan yang memelukmu di tangga tadi?" Santi meninggikan suaranya, melangkah satu langkah lebih dekat. "Pria tadi itu Rayyan Wijaya! Dia itu pemilik tunggal Wijaya Group, perusahaan raksasa terkaya di kota ini! Tempat di mana ayahmu mati-matian bekerja sebagai manajer itu, semuanya milik dia!"

​Deg.

​Jantung Aira seakan berhenti berdetak mendengar penuturan ibu tirinya. Kata-kata Santi berdengung hebat di dalam telinganya.

​"R-Rayyan... Wijaya?" bisik Aira lirih.

​Aira seketika menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, matanya membelalak sempurna karena rasa kaget yang luar biasa. Tubuhnya mendadak kaku.

​Sebagai mahasiswi akuntansi, nama Wijaya Group adalah nama yang sangat sakral. Itu adalah korporasi impian bagi semua lulusan ekonomi, sebuah dinasti bisnis yang menguasai roda perekonomian kota. Dan pria yang semalam menidurinya karena salah masuk kamar, pria yang menciumnya dalam kegelapan, dan pria yang baru saja memberikan sebuah Black Card padanya... adalah sang penguasa tertinggi dari dinasti tersebut.

​Aira merasakan seluruh persendiannya mendadak lemas. Dia mengira pria semalam hanyalah seorang pengunjung kelab biasa yang kebetulan kaya. Namun kenyataan ini jauh lebih mengejutkan sekaligus mengerikan baginya.

​Bagaimana mungkin gadis biasa, polos, dan penyendiri seperti dirinya, kini justru terikat skandal malam yang panas dengan konglomerat paling berkuasa di negeri ini?

Suasana di dalam kamar tidur Aira yang berukuran kecil itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Setelah Santi, sang ibu tiri, menjatuhkan bom kebenaran mengenai identitas asli Rayyan Wijaya, udara di sekitar mereka seolah membeku. Santi tidak puas hanya dengan melihat reaksi keterkejutan Aira. Rasa iri yang membakar hatinya membuat wanita paruh baya itu melangkah maju, mencengkeram ujung ranjang dengan mata yang memicing tajam.

​"Aira! Tante tanya sekali lagi sama kamu!" suara Santi meninggi, melengking tidak sabar. "Apa yang sudah kamu lakukan di luar sana sampai pria sekelas Rayyan Wijaya bisa datang ke rumah ini? Pria sekaya dia tidak akan sudi menginjakkan kaki di teras rumah kita kalau tidak ada sesuatu yang sangat penting. Kamu... kamu tidak menjual dirimu padanya, kan?!"

​Pertanyaan kasar dan penuh tuduhan itu menghantam dada Aira. Namun, alih-alih menangis atau membalas makian ibu tirinya seperti yang biasa terjadi, Aira hanya terdiam. Gadis polos itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pikirannya masih terlalu buncah oleh kenyataan bahwa pria yang merenggut kesuciannya semalam adalah sang penguasa tertinggi Wijaya Group.

​Aira memilih untuk mengabaikan Santi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas nakas, mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan mengintimidasi sang ibu tiri. Begitu layar ponselnya menyala, sebuah notifikasi dari grup obrolan angkatan kuliahnya bergetar tanpa henti. Ada ratusan pesan masuk dalam waktu singkat.

​Aira membuka aplikasi tersebut, dan matanya langsung terpaku pada beberapa tautan artikel berita internal kampus serta pengumuman resmi dari pihak rektorat yang dibagikan oleh teman-temannya.

​PENGUMUMAN MUTLAK REKTORAT: TIGA MAHASISWI JURUSAN AKUNTANSI DI-DROP OUT (DO) SECARA TIDAK HORMAT ATAS TINDAKAN KRIMINAL DAN PELANGGARAN BERAT.

​Aira membaca artikel itu baris demi baris dengan napas yang tertahan. Di sana tertulis dengan jelas nama ketiga temannya yang semalam menjebaknya di kelab malam. Artikel itu menjelaskan secara transparan bahwa mereka terbukti melakukan tindakan kekerasan, pembubuhan zat berbahaya pada minuman, dan konspirasi pelanggaran hukum yang mencoreng nama baik universitas. Tidak ada ruang bagi mereka untuk membela diri; keputusan itu bersifat final dan langsung berlaku hari itu juga.

​Di bawah artikel tersebut, kolom komentar dipenuhi oleh rasa syok dari mahasiswa lain. Namun, ada satu hal yang membuat dada Aira bergemuruh hebat. Di bagian akhir rilis resmi, tertulis bahwa tindakan tegas ini diambil langsung setelah adanya intervensi dari donatur utama kampus demi memulihkan keadilan dan membersihkan lingkungan akademik.

​Rayyan Wijaya...

​Nama itu langsung terlintas di benak Aira. Gadis itu menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang baru saja menemuinya, pria yang tampak dingin namun memperlakukannya dengan kelembutan yang asing, telah bergerak sejauh ini dalam hitungan jam. Rayyan tidak hanya memberinya perlindungan finansial lewat kartu hitam di balik bantalnya, tetapi juga menghancurkan orang-orang yang berniat jahat padanya. Rayyan berbuat sekencang itu untuk mengharumkan kembali nama Aira di kampus, memastikan bahwa tidak akan ada satu orang pun yang berani merendahkan atau menindasnya lagi di lingkungan kuliah.

​"Aira! Kamu dengar Tante tidak?! Malah asyik main HP!" Santi berteriak kesal, merasa diabaikan.

​Aira perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Santi dengan pandangan mata yang jauh lebih tenang dan teguh dari biasanya. Kepolosan di wajahnya kini berpadu dengan keberanian baru yang entah datang dari mana. Mungkin, keberanian itu muncul karena dia tahu, di luar rumah ini, ada sosok raksasa yang sedang berjaga untuknya.

​"Tidak ada apa-apa, Tante. Pak Rayyan hanya memastikan urusan pekerjaan dengan Ayah berjalan lancar," ucap Aira berbohong dengan nada datar. "Aira mau istirahat. Tolong keluar dari kamar Aira."

​Santi terbelalak mendengarnya. Dia ingin memaki, namun bayangan wajah menyeramkan Rayyan Wijaya yang mengancamnya di teras tadi membuat lidahnya mendadak kelu. Dengan dengusan kasar, Santi berbalik dan membanting pintu kamar Aira dengan keras.

​Setelah suasana kembali sepi, Aira menarik napas dalam-dalam. Dia mengambil kembali kartu hitam dari bawah bantalnya, memandangi benda pipih mewah itu dengan sejuta perasaan yang berkecamuk. Kehidupannya yang tenang kini telah berubah total, dan dia tidak tahu ke mana takdir akan membawanya setelah ini.

1
Adinda
panggil itu ayang beb, honey, atau mas begitu Aira
Brenda
akhirnya 😄
Ryuu
cepet updateeee
Ryuu
👍
beybi T.Halim
aira payah.,🙈seharusnya dia faham apa yg terbaik untuk dirinya,yg punya suami penguasa bisnis, kesel lah akhirnya babynya jadi korban
Ryuu
Huhhh kerenn bgt
Ryuu
Baguss nggk ngebosenin sejauh ini
Ryuu
Keren bgt thor ceritanyaa
beybi T.Halim
🤭🤭hedeh..berbunga2 kertas tuu...dah bilang cinta aja susah bener lahh😁
beybi T.Halim
masa panggil nama?.,panggil mas kek apa daddy. kan romantis..sekalian jagiya lah🤭
beybi T.Halim
asek...ketahuan deh..lagi baby boom
beybi T.Halim
ada adegan pingsan gak yaa.,br ketahuan aira hamil,kok aku nunggu2 pov kepajikan seorang rayyan wijaya😁
beybi T.Halim
yaa semoga gak ada drama ulat2 lah br terkendali semua keromatisan sang penguasa🤭
beybi T.Halim
kesini dl...suka deh cerita romantis spek2 daddy 🤭😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!