Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Tamu, Tiga Kebohongan, dan Satu Anjing Setia
Ada keadaan tertentu ketika seseorang harus bersikap sopan meskipun ingin menutup pintu di depan wajah tamunya.
Misalnya, ketika tamu itu adalah Saintess yang mungkin terlibat dalam konspirasi untuk membunuhmu.
Atau ketika tamu kedua adalah tunangan kerajaan yang pernah menuduhmu sebagai racun berjalan, tetapi kini berdiri di depan kastel utara dengan wajah seperti orang yang menyesal namun belum membaca buku panduan meminta maaf.
Atau ketika anjing Duke North berdiri di sampingmu dan menggeram pelan pada mereka berdua.
Aku menatap Baron, anjing hitam raksasa itu, lalu menatap Cassian.
“Apakah Baron selalu punya selera politik yang baik?” bisikku.
Cassian menjawab tanpa mengubah ekspresi. “Dia lebih akurat daripada beberapa menteri.”
Mira yang berdiri di belakangku hampir tertawa, lalu menutup mulut dengan saputangan agar tetap terlihat profesional. Adrian berdiri di sisi kiri dengan wajah yang jelas berkata: kalau dua tamu ini macam-macam, aku senang sekali punya alasan.
Seraphina tetap tersenyum. Tentu saja. Gadis itu bisa tetap tersenyum meskipun mungkin ada meteor jatuh di belakangnya. Mantel putihnya bersih, rambut pirangnya disusun lembut, dan matanya berkaca-kaca secukupnya untuk membuat siapa pun merasa ia baru saja berjalan melintasi badai demi kebaikan.
“Lady Evangeline,” ucapnya, “aku benar-benar lega melihatmu baik-baik saja.”
Aku menaruh tangan di dada. “Saya juga lega melihat diri saya masih baik-baik saja. Kita punya kesamaan.”
Lucien memejamkan mata sebentar. Sepertinya ia sudah mengingat bagaimana rasanya berbicara denganku versi baru.
Seraphina tertawa kecil. “Kau masih suka bercanda.”
“Saya baru mulai. Sebelum ini hidup saya terlalu sibuk dijadwalkan mati.”
Mira mengeluarkan suara seperti teko hampir meledak.
Cassian melangkah maju. “Saintess Seraphina, Yang Mulia Putra Mahkota. Northmere menerima kedatangan kalian sebagai tamu. Namun saya harap kalian memahami bahwa situasi keamanan sedang ketat.”
Lucien mengangguk. “Aku datang karena laporan serangan di jalan dan insiden di istana. Aku ingin memastikan penyelidikan tidak keluar dari kendali.”
Aku menatapnya. “Atau memastikan saya tidak keluar dari kendali?”
Lucien menatapku balik. “Keduanya.”
Setidaknya dia jujur.
Seraphina menoleh pada Cassian. “Aku juga membawa tabib gereja. Siapa tahu Lady Evangeline masih trauma.”
Aku tersenyum manis. “Terima kasih. Tapi trauma saya cukup sehat. Ia membuat saya lebih waspada.”
“Waspada pada siapa?” tanyanya lembut.
“Pada orang yang terlalu cepat memaafkan sebelum tahu kebenaran.”
Senyum Seraphina bertahan, tetapi matanya berubah sepersekian detik.
Kena.
Edmund mempersilakan mereka masuk. Aula Northmere tiba-tiba terasa seperti panggung pertunjukan dengan semua aktor membawa naskah berbeda. Seraphina memainkan peran gadis suci. Lucien memainkan peran pangeran bertanggung jawab. Cassian memainkan peran tuan rumah es batu. Adrian memainkan peran kakak yang siap menjadi bencana fisik. Mira memainkan peran pelayan setia yang menyembunyikan sendok di balik apron.
Aku?
Aku memainkan peran villainess yang membaca ulang plot sambil menyiapkan jebakan kecil.
Di ruang duduk, teh disajikan. Tentu saja teh. Jika suatu hari Northmere runtuh, aku yakin reruntuhannya tetap menyeduh teh dengan benar.
Seraphina duduk di sofa putih yang entah bagaimana tampak langsung cocok dengannya. Lucien duduk di kursi dekat jendela. Cassian memilih kursi di hadapanku. Adrian berdiri di belakangku sampai aku menoleh.
“Kakak, duduk.”
“Aku berjaga.”
“Kau membuat ruang tamu terlihat seperti ruang interogasi.”
“Itu niatku.”
Aku menyerah.
Seraphina memegang cangkir. “Northmere sangat indah. Dingin, tetapi tenang.”
Cassian berkata, “Dingin membantu orang berpikir.”
Aku menambahkan, “Atau membekukan niat buruk sebelum tumbuh.”
Seraphina tersenyum. “Lady Evangeline benar-benar berubah.”
Lucien menatapku. “Itu benar.”
Aku menatap Lucien. “Terima kasih? Sepertinya?”
Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Seraphina lebih cepat.
“Aku senang perubahan itu baik. Aku selalu berharap kau menemukan kedamaian.”
Kedamaian. Kata yang indah. Biasanya dipakai orang yang sedang menyembunyikan pisau di bawah meja.
Aku meletakkan cangkir. “Menarik. Saya justru sedang mencari kebenaran.”
“Kadang kebenaran hanya membuat seseorang lebih sakit.”
“Dan kebohongan membuat seseorang kehilangan kepala. Saya sudah memilih risiko saya.”
Ruangan hening sebentar.
Cassian menyentuh gagang cangkirnya. Adrian tampak puas. Mira menunduk terlalu dalam untuk menyembunyikan senyum.
Lucien akhirnya bicara. “Apa yang sudah kau temukan di Northmere?”
Inilah momen umpan.
Aku mengambil napas, lalu mengangguk pada Mira. Mira keluar sebentar dan kembali membawa kotak kecil berisi dokumen yang sudah kami siapkan: catatan tentang rumor masa kecil, kesaksian lama, dan satu halaman naskah yang sudah kami salin ulang agar tampak seperti arsip biasa, bukan buku takdir ajaib yang suka menolak revisi.
“Kami menemukan bukti bahwa beberapa rumor tentang saya sejak kecil sengaja diarahkan,” kataku. “Bukan semua, tentu. Saya tidak akan berpura-pura Evangeline versi lama malaikat. Tapi beberapa kejadian besar ternyata dipelintir.”
Seraphina menatap dokumen itu dengan mata lembut. “Betapa menyedihkan.”
“Benar,” kataku. “Sangat menyedihkan ketika reputasi seseorang dihancurkan untuk membuat orang lain tampak lebih suci.”
Jari Seraphina berhenti di cangkir.
Lucien mengambil salah satu dokumen dan membacanya. Wajahnya perlahan berubah. Ia membaca catatan tentang insiden kolam usia dua belas, pesta usia lima belas, dan kesaksian pelayan yang hilang.
“Kenapa tidak ada di arsip istana?” tanyanya.
Cassian menjawab, “Karena arsip istana juga bisa dipilih.”
Lucien menatapnya tajam. “Itu tuduhan serius.”
“Situasinya juga serius.”
Aku melihat Seraphina menurunkan cangkir. Gerakannya halus, hampir tidak terlihat. Tapi matanya sempat menoleh ke pelayan gereja di belakangnya. Pelayan itu membalas dengan tundukan kecil.
Aha.
Ada komunikasi.
Mira juga melihatnya. Aku tahu karena ia tiba-tiba memegang sendok lebih erat. Pelayan dramatisku kini punya insting mata-mata. Aku sangat bangga.
Seraphina berkata lembut, “Lady Evangeline, aku tidak pernah tahu kau mengalami hal-hal seperti itu.”
“Tentu. Banyak orang tidak tahu banyak hal, tetapi tetap percaya saya pantas mati.”
Lucien terlihat tertampar tanpa aku menyentuhnya.
Aku tidak menyesal.
Seraphina menunduk. “Aku hanya ingin semuanya berakhir damai.”
“Damai untuk siapa?” tanyaku.
Ia mengangkat wajah. “Untuk kerajaan.”
“Kerajaan atau orang yang menulis cerita kerajaan dari balik altar?”
Senyum Seraphina hilang selama satu detik.
Satu detik saja.
Tapi cukup.
Lucien menatapnya. “Seraphina?”
Ia segera tersenyum lagi. “Maaf, aku hanya terkejut dengan pilihan kata Lady Evangeline.”
“Pilihan kata saya memang sering membuat orang jujur tanpa sadar,” kataku.
Sebelum suasana meledak, Edmund masuk dengan tenang. “Maaf mengganggu. Kamar tamu telah siap. Perjalanan panjang tentu melelahkan.”
Cassian mengangguk. “Istirahatlah dulu. Diskusi dilanjutkan saat makan malam.”
Seraphina berdiri. “Terima kasih, Duke North.”
Saat ia berjalan melewatiku, ia berhenti sebentar dan berbisik cukup pelan agar hanya aku dengar.
“Kau tidak tahu apa yang sedang kau sentuh.”
Aku tersenyum tanpa menoleh. “Dan kau tidak tahu betapa keras kepalanya orang yang sudah pernah dijadwalkan mati.”
Ia pergi.
Lucien masih berdiri di ruang duduk, memegang dokumen. Ia tampak bingung, marah, dan menyesal sekaligus. Kombinasi yang cukup langka untuk pria yang biasanya terlihat seperti patung pangeran mahal.
“Evangeline,” katanya pelan. “Apakah semua ini benar?”
Aku menatapnya. “Itu yang sedang saya buktikan.”
“Jika benar...”
“Jika benar, Yang Mulia pernah ikut menghukum orang berdasarkan cerita yang dibuat orang lain.”
Wajahnya memucat.
Aku tidak menikmatinya. Atau mungkin sedikit. Tapi bukan karena ingin menyakitinya, melainkan karena seseorang akhirnya mulai melihat retakan.
Lucien menunduk. “Aku akan memeriksa arsip istana.”
“Periksa orang yang mengatur arsipnya juga.”
Ia mengangguk.
Setelah Lucien keluar, ruangan hanya tersisa aku, Cassian, Adrian, Mira, dan Baron yang sejak tadi tidur dekat perapian tetapi tiba-tiba membuka mata setiap kali nama Seraphina disebut. Anjing ini benar-benar punya radar moral.
Mira langsung menutup pintu. “Nona, Saintess tadi hampir kehilangan senyum! Hamba melihat! Senyumnya goyah seperti puding saat gempa!”
Aku duduk kembali, tubuhku tiba-tiba lelah. “Dia tahu kita tahu sesuatu.”
Cassian berkata, “Dan ia akan bergerak malam ini.”
Adrian menyilangkan tangan. “Kita awasi kamarnya.”
“Bukan hanya kamarnya,” kataku. “Pelayan gerejanya. Tadi mereka bertukar isyarat.”
Mira mengangguk penuh semangat. “Hamba melihat pelayan itu menyentuh manset tiga kali.”
Cassian menatapnya. “Kau memperhatikan?”
“Hamba juga pelayan. Bahasa pelayan adalah seni yang diremehkan.”
Edmund yang baru kembali berkata, “Benar.”
Mira hampir menangis karena diakui kepala rumah tangga Northmere.
Malam itu, kami menyiapkan pengawasan. Mira berpura-pura membantu pelayan gereja menata koper. Edmund menempatkan dua staf tepercaya di koridor barat. Baron tidur di depan pintu ruang arsip pribadi Cassian. Aku diminta tetap di kamar.
Tentu saja aku tidak setuju.
“Terlalu berbahaya,” kata Adrian.
“Aku tahu.”
“Jadi tetap di kamar.”
“Justru karena berbahaya, aku perlu tahu.”
Cassian menatapku. “Kontrak kita melarang tindakan bodoh.”
“Aku tidak akan bodoh. Aku akan melakukan tindakan cerdas yang berisiko.”
“Itu kalimat orang bodoh yang pandai bicara.”
Aku tersenyum. “Maka Anda harus ikut agar tingkat kebodohannya turun.”
Cassian diam.
Adrian menatapnya tajam. “Jangan terbujuk.”
Cassian menghela napas. “Saya sudah terbujuk sejak ia membuka pintu sihir dengan hinaan.”
Aku menang.
Menjelang tengah malam, kami bersembunyi di koridor dekat sayap barat. Aku mengenakan jubah gelap. Cassian berjalan tanpa suara di sampingku. Adrian berjaga di ujung lain. Mira bertugas di dalam area pelayan.
Dari kamar Seraphina, pintu terbuka pelan.
Bukan Seraphina yang keluar.
Pelayan gerejanya.
Wanita itu membawa kotak kecil dan berjalan menuju tangga servis.
Kami mengikutinya dalam diam. Ia turun ke dapur, melewati gudang, lalu menuju pintu belakang kastel. Di luar, salju turun tipis. Seorang pria berjubah menunggu di dekat tembok.
Pelayan itu menyerahkan kotak kecil.
Pria berjubah membukanya. Dari tempatku bersembunyi, aku melihat kilatan segel putih dan selembar kertas.
Cassian menegang.
Namun sebelum kami bergerak, suara lain terdengar.
“Maaf, apakah ini pertemuan rahasia atau antrean sup malam?”
Mira muncul dari balik tong kayu sambil membawa sendok.
Aku hampir menggigit jubah sendiri agar tidak berteriak.
Pelayan gereja terkejut. Pria berjubah langsung berlari.
Cassian bergerak mengejarnya. Adrian muncul dari sisi lain. Aku berlari ke arah pelayan gereja yang mencoba membakar kertas di tangannya.
Tanpa berpikir, aku mengambil salju dari pagar batu dan melemparkannya ke api kecil.
Api padam.
Pelayan itu menatapku marah.
Aku tersenyum. “Maaf. Revisi dokumen tidak boleh dengan cara dibakar.”
Mira mengangkat sendok ke arah pelayan. “Atas nama dapur dan keselamatan Nona, menyerahlah!”
Pelayan itu mundur, tetapi Baron tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menggeram rendah.
Ia langsung menjatuhkan kotak.
Cassian kembali beberapa menit kemudian membawa pria berjubah yang sudah ditahan. Adrian mengambil kotak dan kertas.
Di dalam kotak terdapat segel kecil bergambar gagak dan bunga lili.
Di kertas yang hampir terbakar, ada daftar nama.
Salah satunya membuatku berhenti bernapas.
Marquess Arvella.
Ayahku.
Di bawahnya ada catatan:
Jika Evangeline membaca halaman pertama, aktifkan halaman kedua. Jadikan Duke North sebagai penjahat berikutnya.
Aku menatap Cassian.
Cassian menatap kertas itu tanpa ekspresi.
Namun kontrak di pergelangan tanganku tiba-tiba terasa panas.
Seolah sihirnya tahu.
Takdir sedang mencari pengganti.
Dan kali ini, ia mengarahkan pena pada Duke Utara.