NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Murka Dan Ancaman

Kepala komandan regu satpam yang bernama lubang lencana 'Wira', menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan terlatih. Ia memeriksa tablet digital di tangannya sebelum menggelengkan kepala dengan tegas. "Mohon maaf, Bapak. Siapa nama Anda? Apakah sudah membuat janji temu sebelumnya? Ibu Sintia tidak meninggalkan memo kunjungan apa pun untuk hari ini."

Mendengar penolakan itu, darah Rian seketika mendidih. Ego lelakinya yang terluka berbaur dengan rasa frustrasi akibat kemelaratan mendadak meledak tanpa kendali. Ia memukul meja marmer pos penjagaan dengan telapak tangannya hingga menimbulkan dentuman keras.

"Janji temu?! Kamu tidak tahu siapa saya?!" bentak Rian, matanya membelalak merah, urat-urat di lehernya menegang layaknya tali tambang. "Sintia itu mantan istri saya! Dan di atas sana, dia membawa anak kandung saya, darah daging saya sendiri! Saya punya hak mutlak untuk masuk dan menemui anak saya! Jangan coba-coba menghalangi jalan saya, atau saya tuntut kalian semua karena penahanan anak di bawah umur!"

Komandan Wira tidak goyah sedikit pun. Tubuh tegapnya justru maju satu langkah, mengunci pergerakan Rian dengan tatapan mata yang dingin dan profesional. "Bapak, berdasarkan hukum internal kami, mantan suami atau bahkan keluarga sekalipun tidak diizinkan naik jika pemilik unit telah memasukkan nama Anda ke dalam daftar cekal kunjungan. Dan nama Anda, Alfandi Rian Mahesa, berada di urutan pertama daftar larangan masuk. Silakan tinggalkan area ini sebelum kami melakukan tindakan fisik."

Rian termangu, tubuhnya gemetar hebat oleh rasa murka yang bercampur dengan rasa malu yang teramat sangat. Mengetahui bahwa Sintia telah mengantisipasi kedatangannya dengan memasukkan namanya ke dalam daftar hitam apartemen, membuat Rian merasa seperti pengemis yang diusir dari teras istana. Ia terus berteriak dan beradu argumen, mencaci-maki para satpam dengan kalimat-kalimat kasar, menciptakan keributan kecil yang menarik perhatian beberapa pejalan kaki yang melintas di trotoar luar gerbang.

****

Tepat di seberang jalan, di balik bayang-bayang pohon palem yang berjajar di tepi trotoar, sesosok wanita sedang berdiri diam. Suci Wahyuni, yang sejak pelariannya dari Menara Hutama Group terus hidup berpindah-pindah hotel murah, kebetulan sedang melintas di kawasan tersebut untuk mencari koneksi baru yang bisa ia manfaatkan.

Langkah kaki Suci terhenti ketika indra pendengarannya menangkap suara lengkingan familier yang sangat ia kenal. Ia menoleh, menatap malas ke arah gerbang Casablanca Premier.

Di sana, di bawah sorotan lampu pos satpam, ia melihat Rian—pria yang dulunya ia puja karena hartanya, pria yang rela menceraikan istri sah demi dirinya—kini sedang mengemis-ngemis, beradu argumen dengan petugas keamanan kelas bawah hanya untuk diizinkan masuk. Suci menatap pemandangan itu dengan sudut bibir yang melengkung rendah, memancarkan rasa jijik dan tumpulnya empati.

“Benar-benar pecundang menjijikkan,” batin Suci, mendengus sinis. “Untung saja aku cepat-cepat keluar dari rumah terkutuk itu. Pria miskin seperti dia memang ditakdirkan untuk membusuk di selokan.”

Namun, sedetik kemudian, tatapan malas di sepasang mata elang Suci mendadak berubah menjadi kilatan tajam yang pekat. Otaknya yang dipenuhi oleh konspirasi kotor mulai merajut benang-benang informasi yang baru saja ia dapatkan.

“Tunggu... Rian bilang Sintia tinggal di sini? Dan Sintia membawa Arka?”

Siasat ular beludak yang licik di dalam sanubari Suci meronta hebat, bangkit dari tidurnya dengan taring yang kembali terasah tajam. Sebuah senyuman jahanam, penuh dengan rencana pembunuhan karakter dan manipulasi darah, perlahan-lahan terukir di wajah cantiknya yang mulai berkerut oleh kedengkian yang mendalam.

Suci menyadari satu hal: jika Sintia tinggal di apartemen semewah ini dan memiliki hak asuh atas Arka, maka Sintia adalah pusat dari segala targetnya. Dan yang lebih penting, apartemen ini pasti sering dikunjungi oleh Kenzi Hutama—pria oriental perkasa yang tubuh tak berbusananya masih terus membayangi mimpi-mipi erotis Suci setiap malam.

Sebuah kegilaan baru merayapi kesadaran Suci. Ambisinya tidak lagi sekadar merebut harta, melainkan telah menjelma menjadi obsesi gelap untuk memusnahkan siapa saja yang merintangi jalannya. Saking pekatnya racun dendam di dalam kepalanya, ingatan Suci mendadak terdistorsi oleh delusi. Dalam benaknya yang mulai goyah oleh tekanan psikologis, ia merasa bahwa dirinyalah yang dikhianati.

"Sintia... kamu merebut semuanya dariku. Kamu mengambil kekayaan Rian, kamu mengambil anakku Arka untuk menjadikannya umpan, dan sekarang kamu menaruh dinding tinggi antara aku dan Kenzi," bisik Suci pada angin malam yang berembus dingin, suaranya berupa desisan halus yang merindingkan kuduk.

Matanya yang merah menatap nanar ke arah jendela-jendela tinggi di lantai atas apartemen. Sebuah keputusan ekstrem yang teramat nekat berakar kuat di dalam dadanya.

"Aku akan membunuhmu, Sintia. Aku akan melenyapkanmu dari muka bumi ini," desis Suci, jemarinya mencengkeram tali tas kulitnya hingga memutih. "Begitu kamu mati, Arka akan kembali ke tanganku sebagai kartu as, dan Kenzi... Kenzi akan menjadi milikku sepenuhnya. Dia akan datang merangkak mencariku saat dia menyadari tidak ada lagi wanita lain yang bisa memuaskannya."

Suci mengeluarkan sebuah seringai licik yang teramat mengerikan, memamerkan deretan giginya yang putih di balik temaram lampu jalan, sebelum ia membalikkan badan dan melarikan diri ke dalam kegelapan gang, menghilang bagai bayangan iblis yang siap menerkam korbannya di tengah keheningan malam.

****

Sementara badai konspirasi sedang meramu racun di luar dinding, di dalam unit penthouse nomor 2401, suasana justru dipenuhi oleh keheningan yang syahdu.

Sintia Arunika duduk di atas sofa beludru sewarna gading, mengamati Arka yang sudah terlelap di sampingnya. Bocah kecil itu tidur dengan posisi meringkuk, satu tangan mungilnya masih memegangi kaki robot mainan baru yang dibelikan Sintia tadi sore. Napasnya teratur, halus, dan tenang—sebuah pemandangan yang membuktikan bahwa untuk saat ini, Arka merasa aman dari raungan histeris ayah dan neneknya.

Sintia mengulurkan tangannya, jemari lentiknya mengusap lembut kening Arka, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sepasang alisnya yang tebal. Setiap kali melihat wajah polos anak ini, denyut ngilu di dada Sintia selalu datang, namun kini rasa ngilu itu disertai oleh sebuah rasa tanggung jawab yang sakral.

"Kamu aman di sini, Nak," bisik Sintia, air matanya menetes pelan tanpa suara, jatuh di atas permukaan selimut beludru yang membungkus tubuh Arka. "Tante tidak akan membiarkan siapa pun mengotori jiwamu lagi. Tidak Rian, tidak ibunya, dan tidak juga wanita yang melahirkanmu."

Ponsel Sintia yang tergeletak di atas meja kaca mendadak bergetar, memunculkan nama 'Bramantyo' di layarnya. Sintia segera mengambilnya, menempelkan benda pipih itu ke telinganya setelah memastikan suaranya tidak akan membangunkan tidur Arka.

"Ya, Mas Bram?" ucap Sintia lirih sambil melangkah menuju balkon.

"Sintia, baru saja komandan keamanan di apartemenmu menghubungi kantorku," suara Bramantyo terdengar berat dan penuh peringatan di seberang telepon. "Rian baru saja membuat keributan di gerbang depan. Dia mencoba menerobos masuk dengan alasan ingin mengambil Arka. Petugas berhasil mengusirnya, tapi ini membuktikan bahwa hasutan ibunya mulai bekerja. Mereka akan menjadi lebih nekat, Sintia."

Sintia menatap ke luar jendela, memandangi kerlip lampu kota Jakarta yang membentang luas di bawahnya. Rahangnya mengatup rapat, sepasang matanya yang biasa memancarkan kelembutan kini berkilat dengan ketegasan hukum yang mutlak.

"Biarkan saja mereka mencoba, Mas Bram," jawab Sintia, suaranya terdengar sangat dingin, sekeras batu karang yang dihantam ombak. "Aku sudah menyiapkan seluruh dokumen legalitas. Jika Rian atau Anne berani menginjakkan kaki satu jengkal saja di area privatku, aku tidak akan ragu untuk menjebloskan mereka ke dalam penjara atas pasal perbuatan tidak menyenangkan dan penguntitan. Aku tidak akan mundur satu langkah pun demi melindungi Arka."

1
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!