NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 01. Berisik

Oooeee... Oeeee... Oooeeee....

"Aaahhhh berisik!"

Awan yang tengah tertidur pulas seketika terbangun kala suara tangis seorang bayi yang berada tidak jauh dari tempatnya terbaring terdengar begitu memekak telinga. Lelaki berusia tiga puluh tahun itu bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah kasur busa yang hanya dialasi oleh karpet di mana di atas kasur itu terbaring sang istri dan juga anaknya yang masih bayi.

"Issshhh... Bisa-bisanya Wulan tidak bangun. Padahal tangisan anaknya kencang sekali seperti ini. Apa dia budek?"

Awan mendengus kesal melihat Wulan yang sama sekali tidak terbangun saat sang anak menangis. Wanita itu justru terlihat begitu pulas dalam buaian mimpi. Berbeda jauh dari para ibu lain yang mempunyai bayi di mana saat sang bayi sedikit saja bergerak mereka langsung seperti mengeluarkan sinyal untuk terbangun. Sedangkan Wulan, bayinya sudah menangis kencang namun ia tetap saja tidak bangun.

"Lan, Lan, bangun!" teriak Awan sembari mengguncang tubuh Wulan yang terlelap.

Wulan yang merasakan ada sedikit guncangan, perlahan membuka mata. Sejenak, matanya memicing kala sinar lampu kamar yang tadinya redup kini sudah begitu terang hingga menusuk kornea. Terlihat sang suami sudah berdiri di dekatnya.

"Mas, ada apa?" tanya wanita itu masih dalam posisi mengantuk.

"Ada apa, ada apa, itu anakmu nangis. Cepat ditenangkan. Berisik sekali!"

Wulan menoleh ke arah sang anak yang menangis kencang itu. Ia pegang bagian diapers yang dipakai dan rupanya sang anak tengah pup.

"Mas tolong ambilkan air hangat dan juga kapas ya. Mau aku ganti diapersnya Bagas."

"Apa, kamu memintaku untuk menyiapkan air hangat?"

"Iya Mas, untuk membersihkan pup-nya Bagas."

"Ambil sendiri. Aku ngantuk!"

"Tapi Mas, aku hanya minta tolong kamu untuk mengambilkan air hangat dan kapas. Apa hal itu juga memberatkanmu?"

"Lan, jangan manja. Kamu tidak lihat aku pulang kerja jam berapa? Aku sampai rumah baru tiga jam yang lalu. Mata masih ngantuk, badan juga masih capek, lalu kamu memintaku untuk mengambilkan air hangat? Sungguh sangat tidak mengerti kondisi suami."

"Tapi Mas..."

"Sudah, sudah, cepat kamu ganti diapers dan segera tenangkan anak itu. Awas, jangan sampai menangis lagi. Aku mau tidur."

Awan mendengus kesal. Ia sedikit menghentakkan kaki saat kembali menuju ranjangnya. Lelaki itu kemudian kembali merebahkan tubuh di atas ranjang dan mencoba kembali memeluk mimpi setelah sebelumnya terganggu oleh suara tangis sang anak.

Wulan hanya bisa menatap tubuh Awan yang kembali tertidur itu dengan tatapan nanar. Jantungnya berdenyut nyeri ketika melihat sang suami tidak bisa diajak untuk saling bekerja sama untuk mengurus anaknya yang masih bayi.

Wulan menghirup napas dalam. Mencoba meraup banyak-banyak oksigen yang ada di dalam kamar untuk mengisi rongga dadanya sehingga ucapan sang suami yang terasa begitu menyesakkan itu bisa segera sirna.

Wulan menautkan pandangannya ke arah Bagas. Seorang bayi laki-laki yang baru dua minggu yang lalu ia lahirkan melalui operasi sesar. Seorang anak yang hadir setelah dua tahun ia menjalani kehidupan berumah tangga bersama Awan.

"Sssttt... Ssssttt... Ssstt... Cup, cup, Sayang. Jangan menangis lagi ya. Kita ganti diapers Bagas sekarang."

Sejenak, Wulan meninggalkan Bagas tergeletak di atas kasur busa masih dalam keadaan menangis. Ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan air hangat menggunakan baskom kecil. Setelah semua dipersiapkan, wanita itu kembali ke kamar dan bersegera mengganti diapers sang anak.

Meski matanya masih terasa begitu berat menahan kantuk, Wulan tetap telaten mengganti diapers sang anak. Bahkan wanita itu masih menampakkan senyum termanis yang ia miliki di hadapan Bagas. Ia tidak ingin jika sampai bayi yang baru berumur dua minggu itu melihat wajah ibunya yang cemberut.

"Ssshhh... Sshhh... Kok masih nangis Nak?" ucap Wulan seraya menimang Bagas yang masih saja menangis. "Mau nen kah?"

Wulan duduk di tepi kasur. Ia mulai mengasihi Bagas agar bisa membuatnya tenang kembali. Namun nampaknya upaya Wulan itu sia-sia karena sang anak masih saja menangis kencang.

Wulan berdiri sembari menimang tubuh Bagas. Menyanyikan lagu-lagu anak untuk menenangkan sang anak. Namun tetap saja, Bagas tidak mau ditenangkan.

"Aaarrggggghhhh... Berisik!"

Lagi, Awan kembali bangun dari posisi tidurnya. Ia ayunkan tungkai kaki menghampiri Wulan yang masih berusaha menenangkan Bagas.

"Kamu itu becus tidak jadi Ibu? Masa menenangkan anak nangis saja tidak bisa?"

Awan berteriak lantang tepat di depan wajah Wulan hingga membuat wanita itu sedikit beringsut mundur. Ia yang tidak biasa diteriaki sedikit ketakutan melihat sang suami yang nampak sudah hilang kendali.

"Tapi ini Bagas memang sedang rewel Mas. Diapers sudah aku ganti, aku pun juga sudah menyusuinya, tapi Bagas tetap tidak mau berhenti nangis."

"Cari cara agar tidak menangis atau setidaknya suara tangisnya tidak mengganggu jam tidurku. Aku itu capek kerja seharian Lan, capek. Paham tidak!"

"Mas!"

Ucapan Wulan terjeda tatkala air mata yang ia tahan sejak tadi untuk tidak menetes kini tumpah ruah membasahi wajah. Perkataan Awan sungguh menggerus batin dan juga raganya yang lelah.

"Apa?"

"Kamu pikir aku tidak capek seharian berada di rumah mengurus semuanya Mas? Mulai dari kebutuhanmu, kebutuhan Bagas dan juga kebutuhan ibu?"

Awan tetap memandang remeh wajah istrinya yang sudah berderai air mata. Tidak ada sedikitpun rasa iba untuk sekedar menggantikannya menggendong Bagas.

"Itukan sudah kodratmu sebagai seorang istri, Lan. Sedangkan kodratku bekerja di luar mencari nafkah."

"Jangan bawa-bawa kodrat jika semua bisa dilakukan bersama-sama, Mas. Pekerjaan rumah bisa kita kerjakan bersama. Mengurus Bagas dan juga ibu pun semua juga bisa kita kerjakan bergantian. Tapi apa yang ada? Semua dibebankan kepadaku."

"Oh, jadi kamu merasa terbebani dengan semua itu?"

Wulan terhenyak. Sejatinya bukan seperti itu maksud ucapannya.

"Bukan terbebani. Tapi setidaknya tolong kamu mengerti sedikit saja posisiku. Aku hanya meminta sedikit bantuanmu untuk gantian mengurus Bagas dan ibu."

"Tidak bisa Lan. Aku tidak bisa. Aku sudah terlalu capek dengan semua pekerjaan dan tanggung jawabku di kantor. Jadi ketika sampai rumah, aku ingin beristirahat. Bukan untuk membantumu bergantian mengurus Bagas atau ibu."

Wulan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban yang keluar dari bibir Awan. Sampai hati ia mengucapkan kata-kata itu padahal dua orang itu adalah anak kandung dan juga ibu yang melahirkannya.

"Sudah, aku tidak ingin ribut lagi. Lebih baik kamu bawa Bagas ke teras agar tidak mengganggu waktu istirahatku. Karena besok pagi, aku harus berangkat pagi untuk meeting."

Awan kembali menuju ranjang sedangkan Wulan berjalan pelan keluar kamar menuju teras. Di sana, Wulan berupaya untuk menenangkan Bagas yang masih saja menangis. Dengan penuh kesabaran, wanita itu menimang-nimang sang anak sembari menyanyikan lagu yang sering dinyanyikan oleh para ibu. Senyum pun tetap tersungging di bibir meski sebelumnya air matanya tumpah membasahi pipi saat mendengar perkataan sang suami yang teramat menyakitkan hati.

Wulan mendongakkan kepala menatap langit malam yang dihiasi oleh bulan purnama. Rembulan membulat sempurna dengan kilau cahayanya yang terasa begitu hangat. Ia tersenyum penuh syukur. Setidaknya dalam hidupnya masih ada sang anak yang akan senantiasa membuatnya kuat menjalani hari-harinya.

Prang... Prang...

"Aaaa... Wulan!"

Tubuh Wulan terperanjat kala terdengar teriakan yang berasal dari kamar sang ibu mertua. Wanita itu bergegas menuju kamar ibu mertua dan...

"Ibu!"

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!