"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sky Suite
*
*
*
Deru mesin Blacky meraung rendah, membelah jalanan ibu kota. Terik matahari menyiram jaket kulit, membawa aroma debu dan aspal.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, bangunan megah Moonlight Hotel mulai terlihat dari kejauhan. Andreas memutar stang. Memasuki area basement.
Mesin motor miliknya berhenti, beberapa detik pria itu duduk terdiam. Menatap lurus ke depan. Rasa sesak didadanya masih terasa. Ia Hela nafasnya, untuk kemudian akhirnya ia turun juga.
Helm dilepas. Masker dan kacamata hitam tetap menutupi sebagian besar wajahnya.
Langkah lebar, membawa dirinya memasuki hotel melalui pintu samping yang lebih sepi. Pendingin ruangan langsung menyambut kulitnya yang sempat diterpa panas jalanan.
Andreas menundukkan kepalanya sedikit. Menghindari perhatian. Sesekali ia membenarkan letak masker dan kacamata hitamnya secara bergantian.
Ia mengeluarkan ponsel, membuka pesan terakhir dari Risa.
< Moonlight Hotel. Sky suite lantai dua belas. Reservasi atas nama Risa >
Andreas mengernyitkan dahi, "Sky Suite?" gumamnya pada diri sendiri.
Sebagai orang yang terbiasa menghadiri rapat-rapat penting di hotel berbintang. Andreas tahu, Sky Suite yang dimaksud adalah tempat paling privasi. Yang harganya sudah pasti tidak sedikit.
Jika ditinjau dari penghasilan Risa, sebagai Manager Marketing, harga untuk reservasi tempat itu pastilah terhitung mahal. Tapi, kenapa Risa memilih mengeluarkan banyak uang hanya demi bertemu dengannya. Andreas menggeleng pelan.
Ia menarik napas panjang. Sebelum berjalan menuju lift eksklusif di sudut lobi.
Pintu lift terbuka. Ia masuk seorang diri. Ia menggosok-gosok telapak tangannya yang terasa lembap di saku celana. Jantungnya berdetak tidak wajar, menghantam rongga dada dengan irama yang terlalu cepat.
Angka-angka digital di atas pintu terus bertambah, mengantarkan pria itu kelantai dua belas.
Pintu kembali terbuka.Andreas melanjutkan langkah.
Lorong yang terbentang di hadapannya tampak lengang. Hanya ada deretan pintu eksklusif yang dirancang khusus untuk menjaga privasi para tamu.
Langkahnya terhenti, di depan sebuah pintu berlapis logam hitam doff. Ia mendongakkan wajah ke arah kamera keamanan yang terpasang tepat di samping pintu.
Tak lama pintu terbuka, seulas senyum menyambutnya. Berikut dengan interior Sky Suite dan suasana temaram.
Senyum itu milik Risa. Senyuman manis namun mengandung racun mematikan akal sehat, seorang Andreas.
Andreas menurut, saat tangannya di raih oleh wanita itu. Menariknya, memaksa untuk masuk dengan gerakan terhitung lembut.
Pintu tertutup otomatis, di ruang temaram dengan nuansa klasik serta aroma vanila yang begitu manis menjadikan Andreas kehilangan pita suaranya. Pria itu terdiam, merasakan keringnya tenggorokan.
"An ... Aku tahu kamu juga kangen kan?"
Risa, dengan kelembutan yang ia salurkan disetiap gerakannya menatap wajah Andreas yang justru tatapan pria itu berpusat pada bibir tipis berwarna Cery yang sedari kemarin-kemarin kagumi.
Tanpa meminta persetujuan, jari jemari lentiknya melepas kaca mata hitam dan juga masker yang dikenakan Andreas. Lalu ia hempaskan, sembarangan.
Kemudian, masih dengan gesture feminim jemarinya menyapu belakang leher pria itu. Tangan satunya lagi, sengaja meraba setiap inci dada bidang yang tengah berdegup kencang.
Andreas memalingkan wajah. Kini tatapannya jatuh pada city view yang membentang pada kaca tinggi diruangan itu.
"Aku kemari untuk mengakhiri semuanya Ris, bukan untuk memulai lagi." Ucapnya, mengalahkan gemuruh di dada yang hampir saja tidak terkendali.
Namun lagi-lagi, Risa selalu punya cara untuk mengunci. Bukanya menjauh, ia malah menarik leher Andreas. Mendominasi gerakan, hingga bibir tipis miliknya tak lagi berjarak dengan bibir pria yang sejak awal ia tahu tidak halal untuknya.
Andreas membelalak, namun gerakan bibir Risa mengingatkannya akan sensasi yang pernah ia dapat. Dan selalu membuatnya kalah. Andreas merasa rindu dengan gerakan lumatan itu.
Tatapan yang tadi membulat, perlahan turun kelopaknya. Semakin lama semakin menutup. Dan membuatnya benar-benar terpejam.
Beberapa menit berlalu, dorongan nafas kian menderu. Mata yang terpejam milik Andreas tiba-tiba membuka. Sekelebat wajah Isana dan Ghazi memenuhi ruang otaknya.
Andreas menurunkan tangan Risa yang sejak tadi bergelanyut dilehernya. Wajahnya ia palingkan, hingga bibir miliknya menjauh dari Risa.
"Cukup Risa!"
Risa mundur satu langkah. Menyilangkan tangan didepan dada, dengan dagu yang terangkat begitu angkuh.
"Kamu bisa bilang cukup, tapi tubuh kamu justru sangat jujur An. Kamu rindu kan sama aku?"
Andreas menggeleng cepat, tangannya tanpa sadar mengepal disisi tubuh.
"Aku nggak mau, apa yang sudah jadi milikku hancur Risa. Keluargaku membutuhkan aku. Dan pekerjaan aku menuntut untuk kita mengakhiri semuanya."
Risa justru tertawa, seolah menikmati keresahan yang Andreas sebutkan.
"Kita cuma jatuh cinta An, apa salahnya? Aku tahu kamu punya keluarga. Aku tahu kamu begitu peduli dengan karirmu. Tapi hatimu sendiri? Bukankah cuma aku yang paham dengan hatimu?"
Andreas tidak menjawab, dadanya terasa sesak mendengar ucapan itu.
"An, kita bisa melanjutkan ini semua. Tanpa harus menghancurkan apa yang sudah kamu punya."
Kalimat yang membelai telinga, namun mengandung bisa. Semakin lama semakin membinasakan akal sehat yang tadi Andreas tanam dalam-dalam.
"Hubungan kita tetap berjalan, dan kita bisa membuat semuanya terlihat biasa." ucap Risa datar, kemudian menajamkan pandangan. "Kantor menawarkan investasi, Green Resort di kota Batu."
Andreas masih mematung, menunggu kalimat Risa yang terjeda.
"Kita satu tim, untuk menangani project ini. Karna anak Pak Setyo, pemilik resort sudah menyetujui kerja sama dengan perusahaan."
Risa mendekat lagi, melingkarkan lengannya dipinggang pria yang sedang sibuk berperang menentukan arah jalan, didadanya.
"Kita bisa gunakan waktu itu, untuk kembali merajut hubungan kita An. Jauh dari keluargamu, yang ada hanya kita berdua. Saling jujur dengan perasaan kita."
Hati Andreas mencelos, mati-matian ia mengubur perasaan cemburu yang tadi sempat membakar. Dengan alasan ingin mempertahankan rumah tangga, tapi kini dihadapan Risa semuanya seolah menguap tanpa sisa.
Tangan yang mengepal di sisi tubuh, perlahan terangkat. Merengkuh bahu Risa, yang kini sudah tidak berjarak dengan dada bidangnya.
"Risa, Isana sudah mencurigai kita." Suara Andreas bergetar, "Aku tidak mau pernikahan kami hancur."
"Aku tahu itu An, dan aku akan bersikap sewajarnya dihadapan orang-orang. Aku akan berusaha membuat kecurigaan Isana, berubah tak beralasan. Kita bisa menjalani ini semua, tanpa orang-orang tahu sedikitpun tentang kita." Ucapan menenangkan, kembali merobek pertahanan Andreas.
Aroma Vanila yang sempat ia benci, kembali menusuk. Membangkitkan rasa candu, yang tak bisa ia tepis sama sekali. Andreas kembali tenggelam dalam gelombang rindu.
Ia menempelkan dahinya di pucuk kepala Risa. Menghirup aroma wanita itu dalam-dalam. Seolah ia ingin menyimpannya dalam waktu yang lama.
Sedang Risa, semakin menenggelamkan wajah didada bidang pria itu. Lengan yang melingkar di pinggang, semakin ia eratkan. Senyum tipis penuh kemenangan terpancar. Sorot matanya semakin berbinar, ketika merasakan belaian lembut tangan Andreas di rambutnya yang panjang.
"Aku mencintaimu An ... Aku mencintaimu." Lirih Risa, yang semakin membuat kosong kepala Andreas.
"Risa ... Apa cinta kita akan berhasil?" Andreas bertanya dengan suara serak.
"Aku tidak akan menuntut keberhasilan An, aku hanya ingin bersama kamu. Cuma kamu yang memperlakukan aku dengan lembut. Cuma kamu yang membuat aku nyaman, dan aman." Sahut Risa, tanpa mengubah posisinya.
Andreas terhenyak, "Maksudmu? Selama ini kamu tidak pernah diperlakukan lembut oleh mantan suamimu?"
Risa menggeleng pelan, "Aku masih dalam proses perceraian. Dia masih berusaha untuk menggagalkan semuanya. Tapi, aku tidak mau. Karna semakin lama sikap implusifnya semakin menyakiti aku. Tidak hanya menyerang psikis tapi juga fisik."
Andreas menatap Risa dengan iba. Perasaan tidak terima, menyeruak. Rasa ingin melindungi menebal dengan sendirinya. "Aku nggak akan biarkan, siapapun menyakiti kamu!"
Andreas semakin mengeratkan rengkuhannya. Semakin erat dan terus menuntut untuk lebih lekat.
Tubuh keduanya larut dalam gelombang hasrat. Desau angin gairah begitu memperangkap. Hingga keduanya jatuh kelembah dosa yang semakin mereka anggap sebagai pembuktian cinta.
Ranjang Sky suite, menelan keduanya. Menyaksikan betapa gerakan lincah Risa semakin menuntut Andreas kembali merasakan kejantanannya.
Lantas dimana kedudukan Isana dihati Andreas? Bukankah tadi ia ingin mempertahankan rumah tangganya? Reputasinya? Keluarganya?
Andreas dilanda oleh gelora asmara panas, yang membakar disetiap sentuhan Risa. Sentuhan yang selalu berhasil memenuhi hasrat terpendam dari seorang pria dewasa normal, yang kemarin sentuhannya sempat ditolak oleh Isana.
Ego membutakan semuanya, dan hal yang kemarin terjadi ... Kembali terjadi. Bahkan semakin berani, tanpa ada rasa takut lagi.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍