NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30 : SANDIWARA DI BAWAH GEMERLAP MAL DAN RETAKNYA SEBUAH HARAPAN

Aroma harum pewangi ruangan kelas atas berpadu dengan udara sejuk pendingin ruangan langsung menyambut kedatangan rombongan keluarga Baskara di salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di kawasan Jakarta Selatan. Siang itu, jarum jam tepat menunjukkan pukul satu siang. Suasana mal tampak cukup ramai oleh hiruk-pikuk kaum sosialita ibu kota yang sedang menghabiskan waktu luang mereka.

Raditya Evan Baskara terpaksa melangkah menyusuri koridor mal dengan langkah kaki yang terasa sangat berat, kaku, dan dipenuhi rasa keterpaksaan yang luar biasa mendalam. Jika bukan karena ancaman mogok minum obat dan rengekan histeris dari Mommy Ambarwati yang baru saja pulang dari rumah sakit kemarin, pria berusia 29 tahun itu tidak akan pernah sudi membuang-buang waktu berharganya untuk menemani Natasha Olivia Renata berbelanja.

Di sepanjang koridor butik-butik mewah bertaraf internasional, Natasha melangkah dengan gaya gemulai seorang model papan atas. Tubuh seksinya terbalut gaun mini berwarna merah menyala yang sangat ketat, berjalan dengan dagu terangkat angkuh. Kedua tangan lentiknya yang dilapisi kutek merah tidak pernah lepas menggenggam erat dan bergelanyut manja di lengan kanan kekar Radit, mengunci pergerakan pria itu seutuhnya di depan umum.

Radit terpaksa membiarkan tindakan menjijikkan itu terjadi. Dia tahu betul kelicikan Natasha; jika dia menepis tangan wanita itu di tempat umum, Natasha pasti akan langsung menelpon dan melaporkan tindakannya kepada Mommy Ambarwati untuk memicu drama serangan jantung palsu yang baru. Namun, wajah tampan sang Dokter Bedah genius tetap terkunci sepenuhnya menjadi sangat kaku, datar, dan sedingin es, menatap lurus ke depan dengan sepasang mata elang yang memancarkan aura kegelapan yang pekat.

"Radit sayang... Coba liat deh gaun malam di manekin butik depan itu! Bagus banget kan?" cerocos Natasha dengan nada suara cemprengnya yang manja, sengaja merapatkan tubuhnya ke dada bidang Radit saat mereka memasuki sebuah butik desainer premium. "Aku mau pilih baju ini sama gaun yang warna emas itu ya buat dipakai di acara makan malam keluarga kita minggu depan! Oh iya, aku juga mau beliin blus sutra keluaran terbaru ini buat Amanda, sama selendang rajut mewah ini buat Mommy Ambarwati! Mereka pasti suka banget!"

Radit hanya melirik tumpukan baju di tangan Natasha dengan pandangan mata yang sangat hambar dan tanpa minat sepeser pun. "Pilih saja sendiri, Natasha. Nggak usah nanya pendapatku. Aku ke sini cuma buat nganter, bukan jadi komentator fashionmu," jawab Radit dengan nada suara bariton yang rendah, dingin, dan kaku laksana batu.

Natasha merengut manja, sengaja menyenggol bahu Radit centil. "Ih, kamu kok kaku dan ketus banget sih dari tadi, sayang? Padahal kan sebentar lagi kita mau nikah. Harusnya kamu seneng dong nemenin calon istri cantiknya belanja begini."

Radit tidak membalas ucapan itu. Rahang tegasnya semakin mengeras kaku menahan rasa muak yang luar biasa besar di dalam dadanya. Pikirannya sejak tadi subuh bener-bener hanya dipenuhi oleh nama Kalea, mencemaskan bagaimana kondisi mental bidadari bermata birunya setelah bom skandal buatan Fandi meledak di internet tadi pagi.

Di saat mereka sedang sibuk memilih baju, Amanda yang ternyata ikut berjalan mengekor di belakang mereka sejak tadi, mendadak merogoh ponsel pintarnya dari saku. Dengan senyuman licik yang menghiasi wajah cantiknya, Amanda melambaikan tangan memanggil salah satu asisten pribadi butik yang berjaga.

"Heh, kamu! Sini sebentar," perintah Amanda setengah berbisik penuh wibawa angkuh. "Tolong ambil foto mereka berdua pakai ponselku ya. Ambil sudut yang paling bagus dan kelihatan mesra, paham?"

"Baik, Kak Amanda," sahut pelayan itu patuh.

Amanda langsung melompat maju, memeluk erat lengan kiri Radit dari samping dengan binar mata yang penuh antusiasme gila, memosisikan tubuhnya di antara Radit dan Natasha. "Mas Radit! Kak Natasha! Liat ke arah kamera itu dong! Ayo senyum yang lebar! Kita harus foto bertiga buat dikirim ke WhatsApp Mommy biar Mommy seneng di rumah!"

Radit yang menyadari ada kamera mengarah ke wajahnya langsung menegang kaku. Namun, demi kelancaran takdir sandiwara rahasianya bersama Kalea agar ibunya tidak menaruh curiga, Radit terpaksa menurunkan egonya. Pria jangkung itu terpaksa menarik sudut bibirnya, mengulas sebuah senyuman lebar yang dipaksakan di depan kamera ponsel, berpura-pura saling memandang satu sama lain penuh kehangatan palsu bersama Natasha dan Amanda.

Ckrekk! Ckrekk! Ckrekk!

Pelayan butik menekan tombol rana berkali-kali. Hasilnya bener-bener luar biasa manipulatif; ada beberapa foto di antara mereka yang kelihatan sangat mesra, intim, dan romantis bagaikan sepasang kekasih terhormat yang sedang berbahagia, membuat Amanda langsung bersorak kegirangan setelah menerima ponselnya kembali. "Wah! Keren banget hasilnya! Kak Natasha kelihatan serasi banget berdampingan sama Mas Radit! Aku kirim ke Mommy sekarang ya!"

"Duh, makasih ya, Amanda sayang. Emang paling pinter deh adek iparku ini," puji Natasha tersenyum sangat lebar penuh kemenangan ego yang tinggi. Dia kembali merapatkan tubuh seksinya, bergelanyut manja di lengan kekar Radit saat mereka melangkah keluar meninggalkan butik menuju selasar koridor mal untuk melihat stan toko lainnya.

Radit tetap bungkam, wajah tampannya kembali berubah sedingin es setelah kamera mati. Mereka berjalan menyusuri lantai dua, melihat sana-sini dengan keriuhan dialog manja Natasha yang terus bersahutan, sementara Radit hanya menganggap kehadiran wanita di sampingnya tidak lebih dari sekadar polusi udara.

Namun, di saat mereka sedang asyik berjalan beriringan di dekat pembatas pagar kaca lantai dua, langkah kaki Radit mendadak membeku kaku laksana patung batu. Sepasang mata elangnya membelalak sempurna penuh rasa terkejut yang luar biasa besar menembus rongga dadanya.

Tepat di arah depan, berjarak hanya lima langkah dari posisinya berdiri, tampak Kalea Azzahra Putri sedang berjalan sendirian. Rupanya, sehabis pulang dari ketegangan rumah Wijaya tadi pagi, Kalea sengaja mampir ke mal ini untuk berbelanja beberapa kebutuhan pribadi hotel yang mendesak. Kalea tampil sangat anggun dengan balutan blus kerja hitam dan jilbab voal hitamnya yang tertutup rapi.

Mata biru jernih Kalea langsung bertabrakan lurus dengan manik mata elang Radit. Kalea menghentikan langkah kakinya seketika, menatap lekat ke arah jalinan tangan Natasha yang sedang bergelanyut sangat manja di lengan kekar pria yang semalam di telepon bersumpah mengatakan kalimat I love you kepadanya.

Radit seketika panik setengah mati. Ketakutan luar biasa besar mendadak menyergap batinnya, takut kalau bidadari bermata birunya bakal salah paham menafsirkan kemesraan palsu ini. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Radit langsung mencoba menyentak kasar tangan Natasha dari lengannya. "Lepasin tanganku, Natasha! Lepas?!" ketus Radit dengan nada suara yang meninggi menahan panik.

Namun, Natasha yang kelicikannya sudah mendarat di tingkat tertinggi sama sekali tidak mau melepaskan kuncian tangannya. Dia justru semakin mempererat pelukannya di lengan Radit, membusungkan dadanya menantang Radit. Begitu pandangan mata Natasha beralih menatap ke arah Kalea, seulas senyuman kemenangan yang sangat lebar, sinis, dan dipenuhi ejekan menjijikkan langsung terukir di wajah cantiknya.

"Wah, liat siapa yang ada di sini... Ada perempuan pembawa sial," cemooh Natasha dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan agar memancing perhatian pengunjung sekitar. Natasha melirik Kalea meremehkan, lalu semakin sengaja merapatkan kepalanya bersandar di bahu tegap Radit. "Kamu mau belanja di sini juga, Kalea? Sadar diri dong, tempat ini terlalu mewah buat cewek miskin berstatus aib kayak kamu! Mending kamu pergi deh, jangan ngerusak pemandangan kencan mesra aku sama calon suamiku siang ini!"

Radit menatap Kalea dengan binar mata yang dipenuhi rasa bersalah, cemas, dan ketakutan yang mendalam. "Kalea... Kalea, tolong dengerin aku dulu. Ini semua nggak kayak apa yang kamu liat—" Radit ingin berbicara secepat mungkin untuk menjelaskan bahwa ini semua bagian dari taktik sandiwara palsunya.

Namun, belum sempat Radit menyelesaikan baris kalimat penjelasannya, Kalea langsung melangkah satu maju. Dengan gerakan tangan yang luar biasa tegas dan berwibawa, Kalea langsung mengangkat telapak tangan kanannya tinggi-tight di udara, memotong kalimat Radit dengan telak laksana seorang manajer mutlak.

Kalea menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit dengan sepasang pandangan mata biru jernih yang tampak sangat tajam, kaku, dingin, dan memancarkan kilatan kebencian yang mendalam akibat harga dirinya yang kembali terluka telanjang di tempat umum. Sifat tegas dan bar-barnya mengambil alih seluruh pertahanan batinnya siang ini.

"Cukup, Raditya Evan Baskara!!! Tutup mulutmu dan nggak usah banyak bual lagi di depan aku?!" bentak Kalea dengan suara yang rendah namun terdengar begitu menusuk indra pendengaran, membungkam mulut Radit seketika. Kalea menarik sudut birunya sinis, menatap Radit dan Natasha bergantian dengan pandangan muak seutuhnya. "Aku nggak butuh penjelasan sampahmu, Mas Radit! Hari ini, detik ini juga, di depan model seksimu ini, aku nyatakan kalau AKU MENGAKHIRI SEGALANYA tentang hubungan kita! Kesepakatan taruhan gila, sandiwara pacar pura-pura, atau apa pun namamu itu... semuanya bener-bener udah SELESAI DAN MATI hari ini?!"

Radit membelalakkan matanya panik, mencoba melangkah maju meraih tangan Kalea. "Kalea! Tolong jangan konyol! Dengerin aku dulu—"

"Aku bilang cukup, Mas Radit?!" potong Kalea lantang sekali lagi, menatap tajam mata Radit tanpa ada rasa takut sepeser pun. "Mulai detik ini, aku mau kamu JANGAN PERNAH LAGI BERANI MENGHUBUNGI ATAU MENEMUI AKU lagi sampai kapan pun dalam hidupmu! Anggap kita nggak pernah kenal! Pergi kamu dari hidupku?!"

Setelah melontarkan kalimat keputusan mutlak yang mematikan itu, Kalea langsung membalikkan tubuh tegapnya dengan sentakan kasar. Dia melangkah lebar setengah berlari meninggalkan koridor lantai dua menembus kerumunan eskalator, kabur meninggalkan Radit dalam kesendirian yang hancur. Air mata kepedihan batin akhirnya lolos deras membasahi pipi mulus Kalea di sepanjang jalan, merasa bener-bener dikhianati oleh janji manis Radit semalam.

Radit berdiri mematung kaku laksana patung batu di tengah selasar mal, memandangi arah kepergian punggung mungil Kalea yang berjalan menjauh dengan pandangan mata elang yang mendadak meredup hancur. Di dalam lubuk hati Radit yang terdalam, rasa bersalah yang teramat sangat mendalam mencengkeram erat ulu hatinya yang sesak luar biasa.

"Kalea... maafin aku... Demi Allah aku bener-bener minta maaf udah ngelukain harga dirimu lagi siang ini... Aku terpaksa melakukan ini semua demi Mommy... Maaf lambat melindungimu, Kalea..." ucap Radit meratapi kepasrahan batinnya di dalam hati dengan penyesalan yang membara.

Natasha yang menyaksikan bagaimana Kalea pergi sambil menangis tersedu-sedu, langsung meledakkan seulas senyuman kemenangan yang sangat lebar dan puas di wajah cantiknya. Di dalam hati Natasha, dia bersorak kegirangan luar biasa besar.

"YES!!! AKHIRNYA!!! Mampus kamu perempuan anak haram sialan! Akhirnya kamu sadar diri dan enyah juga dari kehidupan Radit! Radit bener-bener cuma bakal jadi milikku seorang diri sekarang! Hahaha!" batin Natasha penuh kepuasan obsesi yang tercapai.

Natasha berdehem keras demi menghilangkan kecanggungan, lalu dengan gerakan manja yang memprovokasi berahi, dia kembali menarik-narik lengan kekar Radit yang masih membeku menatap kosong ke depan. "Udah deh, Radit sayang... Nggak usah dipikirin dan dilihatin terus kepergian cewek pembawa sial itu! Bikin rusak suasana belanja kita aja! Ayo, mending sekarang kita jalan lagi berbelanja, jangan mikirin Kalea terus! Liat tuh di depan ada toko perhiasan emas yang mewah banget, yuk temenin aku kesana buat milih cincin baru!"

Radit yang sudah kehilangan seluruh gairah hidupnya itu hanya bisa pasrah membiarkan tubuh jangkungnya ditarik kasar oleh paksaan tangan Natasha melangkah terseok-seok menuju ke arah toko perhiasan di depan.

...****************...

Kalea melangkah keluar dari pintu kaca lobi mal dengan langkah yang terburu-buru, mengabaikan tatapan beberapa pengunjung yang heran melihat air matanya menetes. Begitu tubuh mungilnya sampai di selasar luar yang berangin, Kalea langsung berhenti di dekat pilar besar. Dia mendongakkan kepalanya tinggi-tight, menatap lurus ke arah langit siang yang terik, sekuat tenaga menahan kelopak matanya agar air mata kepedihan batinnya nggak kembali jatuh membasahi pipi.

Dada Kalea rasanya sesak luar biasa, bagai dihantam batu besar. Selama menjalin hubungan kontrak yang singkat dengan Radit, Kalea nggak bisa berbohong kalau dia selalu merasa sangat nyaman. Setiap kali dekat pria itu, hawa dingin di rumah Wijaya seolah menguap. Kalea bener-bener udah mulai menaruh rasa percaya yang besar pada Radit, meskipun dia sendiri belum sempat membalas ungkapan cinta I love you dari Radit secara blak-blakan karena masih menimbang rasa. Tapi setelah melihat dengan mata kepala telanjang gimana Radit pasrah dipeluk, tersenyum lebar di depan kamera, dan berduaan mesra bareng Natasha di dalam butik tadi, Kalea langsung sadar sesadar-sadarnya dari lamunan indahnya.

"Aku ini emang beneran nggak pantas buat Mas Radit. Silsilah darahku cacat, aku cuma anak haram yang selalu direndahin orang," batin Kalea tersenyum pahit, air matanya tetep aja lolos merembes samar di sudut mata birunya.

Radit emang semalam di telepon bersumpah bakal nyari cara legal buat mengakhiri paksa perjodohan gila dari ibunya. Tapi kenyataannya siang ini? Dia malah asyik jalan berbelanja, nempel mesra, dan ketawa-tawa bareng Natasha di mal. Entahlah... Kalea bener-bener bingung dan kecewa setengah mati.

"Apakah aku udah bisa dikatakan cewek bodoh karena gampang banget percaya sama omongan manis dokter sombong itu?" pikir Kalea merutuki nasibnya sendiri.

Kalea mengepalkan jemari tangannya kuat-kuat di samping blus hitamnya. Di bawah siraman angin mal, Kalea berjanji di dalam lubuk hatinya yang terdalam kalau dia nggak bakal pernah mau lagi mempercayai kata-kata Radit sampai kapan pun. Lagipula, dari awal hubungan mereka emang cuma diawali dengan status taruhan satu minggu dan pacaran pura-pura buat tameng kebohongan, kan?

"Kenapa juga aku harus nangisin cowok egois kayak dia?! Sialan banget emang?!" gerutu Kalea ketus pada dirinya sendiri, buru-buru menyeka pipinya kasar.

Tiba-tiba, sebuah tangan kanan yang kekar dan hangat bergerak perlahan dari arah samping, menyodorkan selembar sapu tangan kain berwarna biru dongker yang bersih ke depan wajah Kalea.

Kalea tersentak kaget, langsung memutar kepalanya menengok ke samping. Sepasang mata birunya membelalak sempurna begitu mengenali sosok pria tegap yang sedang berdiri di sebelahnya sambil melemparkan seulas senyuman yang sangat ramah, hangat, dan dipenuhi rasa prihatin yang tulus. Pria itu tidak lain adalah Dimas Narendra Baskara.

Dimas melangkah satu maju, lalu tanpa membuang waktu, dia langsung mendudukkan tubuh tegapnya di atas bangku taman panjang yang ada di selasar lobi mal tersebut. "Nih, ambil aja. Mukamu udah berantakan banget itu mirip anak kecil yang habis kehilangan balon," goda Dimas dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba mencairkan ketegangan batin Kalea.

Kalea ragu sejenak sebelum akhirnya ikut duduk di samping Dimas, mengambil sapu tangan kain itu perlahan. "Makasih ya, Dimas..." ucap Kalea pelan, langsung menyeka sisa air matanya menggunakan kain lembut tersebut.

Dimas menyandarkan punggungnya di sandaran bangku, menatap profil samping wajah cantik Kalea dengan keheningan yang mendalam di balik mata elangnya. Hatinya sendiri sebenernya ikut perih melihat air mata Kalea, tapi di sisi lain, gejolak harapan di dada Dimas mendadak kembali menyala. Dimas mengembuskan napas panjang, lalu melontarkan sebuah pertanyaan pendek dengan suara yang merendahkan. "Sakit ya, Kalea?"

Kalea langsung menghentikan gerakan tangannya. Dia mengernyitkan keningnya dalam-dalam, menoleh menatap Dimas dengan pandangan bingung. "Sakit? Maksud kamu apa, Dimas?"

Dimas justru terkekeh renyah, sebuah tawa hangat yang terdengar agak miris menahan sesak di dadanya sendiri. Dia melirik ke arah pintu kaca lobi mal. "Maksudku... rasanya pasti sakit banget kan, pas ngeliat Mas Radit lagi asyik berduaan mesra, gandengan tangan, dan pelukan manja bareng Kak Natasha di dalam butik atas tadi?"

Kalea seketika tersentak kaku, matanya melotot kaget menatap lurus manik mata Dimas. "K-Kamu... kamu kok bisa tahu kalau mereka lagi ada di atas?! Dan dari mana kamu bisa tahu kalau aku habis liat mereka?!"

Dimas mengendikkan kedua bahunya dengan gerakan kaku yang santai, lalu kembali terkekeh tipis menatap wajah salah tingkah Kalea. "Ya tentu aja aku tahu, Kalea. Aku ini kan adek kandungnya Mas Radit. Tadi siang aku yang ikut nganter berkas kepulangan Mommy dari rumah sakit, terus aku juga terpaksa ikut ke mal ini bareng mereka karena disuruh Mommy buat bawain barang belanjaan Kak Natasha. Pas di dalam butik tadi, aku sebenernya berdiri nggak jauh di belakang mereka, dan aku liat jelas gimana kamu berdiri mematung natap mereka penuh luka sebelum akhirnya kamu lari keluar sambil nangis begini."

Mendengar penjelasan detail dari Dimas, Kalea bener-bener melongo sempurna, lidahnya mendadak kaku nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Rasa canggung dan bersalah mendadak merayap di dadanya karena status hubungannya dengan Radit ternyata disaksikan langsung oleh adiknya sendiri.

"Dimas... jadi kamu beneran udah tahu semuanya?" tanya Kalea dengan suara yang mulai mengecil, menundukkan kepalanya dalam-dalam meremas sapu tangan di pangkuannya. "Kamu... kamu pasti mikir kalau aku ini cewek licik yang mau ngerusak hubungan abangmu sama Natasha, kan? Apalagi statusku di dunia luar selalu dicap buruk..."

"Nggak, Kalea. Sama sekali enggak," potong Dimas cepat dengan nada suara yang mendadak berubah jadi sangat serius, hangat, dan dipenuhi ketulisan mutlak yang menenangkan jiwa Kalea. Dimas memajukan tubuhnya sedikit, menatap lekat mata biru Kalea agar wanita itu mendengarnya. "Aku nggak pernah peduli sama apa kata orang di luar sana tentang status silsilah keluargamu. Dan soal Mas Radit... aku justru tahu betul kalau Mas Radit itu beneran udah bikin kesalahan besar siang ini karena udah ngelukain harga dirimu yang paling dalem di depan umum hanya demi menuruti ego Mommy."

Dimas menarik napas dalam-dalam, menepuk pelan beberapa kali sandaran bangku di dekat posisi duduk Kalea, mencoba memberikan getaran ketenangan baru. "Kalea... dengerin aku ya. Kalau kamu emang ngerasa udah lelah, kecewa, dan mau mengakhiri semua sandiwara kontrak gila bareng Mas Radit setelah kejadian tadi... aku bener-bener dukung penuh keputusanmu. Kamu nggak pantes dapet air mata kepedihan batin ini terus-menerus. Mas Radit udah milih jalurnya sendiri di dalam buat nurutin perintah Mommy, jadi mending kamu lepasin dia seutuhnya."

Kalea mendongak kembali, menatap ketulusan yang luar biasa dewasa di mata elang Dimas. Rasa sesak di dadanya perlahan-lahan mulai mencair, digantikan oleh sebersit rasa hangat yang asing karena lagi-lagi pria ramah di sampingnya ini selalu ada di saat dia sedang terluka parah. "Makasih banyak ya, Dimas... kamu selalu tahu cara bikin perasaanku agak tenangan dari kemarin."

"Hahaha, sama-sama, Kalea," sahut Dimas sambil tertawa lepas, memperlihatkan binar mata penuh pujaan romantis yang sengaja dia sembunyikan rapat-rapat malam ini demi menjaga kenyamanan Kalea yang baru saja patah hati akibat abangnya. "Udah ya, air matanya jangan ditumpahin lagi. Mending sapu tanganku ini kamu simpen aja, mana tahu nanti kamu butuh lagi pas lagi pusing mikirin operasional hotelmu, haks!"

Kalea yang melihat candaan renyah dari pria supel di sampingnya mendadak ikut tersenyum manis, sebuah senyuman manis yang tulus tanpa beban yang akhirnya kembali menghiasi bibir ranumnya setelah badai air mata tadi. "Iya, iya, makasih ya, Mas Rektor yang cerewet."

Dimas berdiri dari kursi taman dengan postur tegapnya yang gagah, merapikan kemejanya. "Nah, gitu dong, senyum! Cantik banget kalau lagi senyum begitu. Sekarang mending kamu langsung balik ke hotel tempat kerjamu ya, jangan keluyuran sendirian lagi pas pikiran lagi kusut. Aku masuk ke dalam dulu ya mau nyusul rombongan sirkus di dalam, dadah!" Dimas melambaikan tangannya jenaka, lalu membalikkan tubuh tegapnya melangkah lebar kembali menembus pintu kaca lobi mal.

Namun, begitu tubuh jangkung Dimas Narendra Baskara melangkah masuk ke dalam area keramaian dan membelakangi Kalea, seulas senyuman tipis yang sangat misterius, dingin, dan dipenuhi oleh kilatan taktik kemenangan mendadak terukir sangat lebar di bibir tampannya. Di dalam lubuk hati terdalam Dimas, dia bersorak puas luar biasa besar karena keputusan mutlak Kalea yang resmi mengakhiri hubungannya dengan Radit di dalam butik tadi, justru membuka gerbang peluang emas selebar-lebarnya bagi dirinya untuk maju merenggut dan membelenggu seutuhnya debaran cinta bidadari bermata biru itu ke dalam dekapan takdir hidupnya sendiri ke depan.

Kalea memandangi kepergiaan Dimas dengan helauan napas panjang yang kaku, meremas sapu tangan biru dongker di genggaman tangannya penuh dengan sejuta gejolak emosi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!