NovelToon NovelToon
Koki Kesayangan Raja Naga

Koki Kesayangan Raja Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Risa Jey

Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.

Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.

Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merak Biru

Setelah meninggalkan Istana Shing, Li Yunru dan Ruu mengikuti jalur aman yang ditunjukkan di peta. Tak lama kemudian, langit mulai mendung dan udara terasa lebih dingin. Angin yang berembus di antara pepohonan membawa aroma tanah basah.

"Tidak akan turun hujan, kan?" tanya gadis itu sambil mendongak.

Ruu mengibaskan telinganya pelan. "Jangan khawatir, sepertinya tidak akan hujan. Kalaupun hujan, kita tinggal berteduh di lubang—ehem! Maksudku, berteduh di gua."

Li Yunru langsung memutar bola matanya malas. Kelinci tetaplah kelinci. Apa lagi yang bisa dipikirkan selain sarang bau tanah?

"Tapi, Tuan," lanjut Ruu sambil melompati akar pohon besar yang mencuat. "Mengapa kita harus selalu pergi ke hutan? Bukankah lebih baik sesekali berkeliling kota?"

Memang, Li Yunru belum pernah benar-benar berkeliling kota di wilayah Baiyun sejak tiba di dunia ini. Menurutnya, kehidupan di sana mungkin tidak jauh berbeda dari kota-kota kuno yang sering ia lihat di drama daring.

"Jangan lupa, aku ingin menjadi koki, bukan pejalan kaki." Li Yunru melangkah hati-hati sambil membawa keranjang bambu. "Kalau menjelajahi hutan, siapa tahu kita menemukan ginseng berumur seribu tahun."

"Meh! Mana mungkin ada ginseng seribu tahun!" Ruu langsung mengejek. "Jika benar ada, mungkin ginseng itu sudah menjadi roh sejak lama!"

"Namanya juga mencari keberuntungan. Tidak ada salahnya mencoba." Li Yunru malas berdebat lebih jauh dengan seekor kelinci.

Keduanya terus mengobrol sambil mengikuti peta kasar buatan Bai Muzhi. Semakin jauh mereka berjalan, pepohonan semakin rapat. Tak lama kemudian, suara burung perlahan menghilang dari sekitar mereka.

Li Yunru tidak terlalu memedulikannya. Namun Ruu mulai merasa tidak nyaman. Tanpa sadar, keduanya telah berjalan terlalu jauh hingga memasuki tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya.

Pepohonan di sekitarnya jauh lebih tinggi daripada hutan biasa. Rumput liar tumbuh lebat hingga setinggi lutut, seolah belum pernah terinjak makhluk apa pun. Bahkan angin yang berembus pun terasa lebih dingin.

"Kalau tidak ada hewan yang melintas, bukankah itu berarti tempat ini berbahaya?" Li Yunru kembali memastikan petanya.

Ruu mulai ragu. Ia bahkan tidak berani lagi menerobos rerumputan tinggi di depannya. "Tuan, apa ini benar jalannya? Jangan-jangan kita salah arah?"

Li Yunru juga mulai tidak yakin. Ia kembali memeriksa peta di tangannya lalu mencocokkannya dengan keadaan sekitar. "Di peta, Bai Muzhi menggambar jalan yang berbelok di sekitar sini ...," gumamnya. "Tapi kita sama sekali tidak menemukannya."

"... Tuan, jangan bercanda." Ruu langsung merasa semua bulunya berdiri. "Meski hutan dekat istana cukup aman, sekarang kita sudah terlalu jauh."

"Mau bagaimana lagi? Mari kita maju sedikit lagi."

Li Yunru hanya bisa bertaruh dan melanjutkan perjalanan. Semakin lama berjalan, tenaganya mulai terkuras. Salahkan dirinya sendiri karena terlalu asyik mengobrol dengan kelinci gemuk itu hingga tidak menyadari mereka telah keluar dari jalur.

Gadis itu akhirnya mengamati sekitar dengan curiga. Tanaman merambat menggantung di mana-mana, sementara pepohonan besar membuat suasana terasa suram. Cahaya matahari pun hampir tidak mampu menembus rimbunnya dedaunan. Yang paling aneh, Bai Muzhi sama sekali tidak menandai tempat ini di petanya. Apakah ini wilayah terlarang?

Ruu yang berkeliaran di sekitarnya akhirnya berhenti. Kedua telinganya bergerak pelan sebelum berkata, "Tuan, aku merasa ada sesuatu di depan."

"Mungkinkah itu negeri dongeng?" tebak Li Yunru, mulai berkhayal.

"Jangan terlalu banyak berkhayal! Mana ada negeri dongeng di dunia ini!" Ruu langsung menghancurkan lamunannya tanpa ampun.

Li Yunru mendengus pelan. Ia juga tahu kemungkinan besar itu hanya khayalannya. "Aku ingin memeriksanya dulu. Kalau memang tidak ada apa-apa, kita kembali."

Ia melangkah hati-hati, menerobos rerumputan dan semak tinggi. Tak lupa, ia mengangkat Ruu lalu memeluk tubuh gemuk kelinci itu di lengannya agar tidak kabur.

"Tuan, biarkan aku turun." Ruu langsung mencari alasan. "Aku akan menunggumu di sini. Tidak perlu membawaku ikut ...."

"Menunggu ekormu!" Li Yunru memutar bola matanya. "Seandainya terjadi sesuatu, kita akan berbagi suka dan duka bersama."

"...."

Ruu langsung memasang ekspresi putus asa. Sungguh tuan yang penuh kebencian. Mengapa bahkan kesialan pun harus dibagi dengannya?

Karena sedang menggendong Ruu, Li Yunru hanya bisa mengandalkan kakinya untuk menginjak tanah berumput yang tampak aman. Ia melangkah perlahan sambil menepis rerumputan tinggi dengan ujung sepatunya.

Tak lama kemudian, keduanya tiba di depan tanaman merambat yang sangat lebat, menjuntai dari atas pohon membentuk tirai hijau gelap yang tampak misterius. Dari baliknya samar-samar terdengar suara air menetes.

Li Yunru mengulurkan tangan untuk menyingkap tanaman merambat itu. Namun saat melangkah sekali lagi, tanah di bawah kakinya tiba-tiba runtuh.

"AAHH...!!"

Li Yunru dan Ruu langsung berteriak bersamaan. Tak disangka, keduanya terperosok. Angin berdesir melewati tubuh mereka saat jatuh menembus kegelapan. Rasa melayang membuat perut keduanya serasa terbalik.

Sesaat kemudian—bruk! Li Yunru mendarat di atas hamparan rumput tebal. Ia segera bangkit sambil menahan pusing, lalu menyentuh wajahnya dengan bingung.

"Apakah rumput di sini selembut bantal? Tidak sakit sama sekali ...," gumamnya linglung.

"Tentu saja tidak sakit! Wajahmu menindihku!" suara Ruu terdengar kesal dari bawah tubuhnya.

Kelinci gemuk itu merasa tulang punggungnya hampir remuk. Kalau tubuhnya tidak segemuk ini, entah bagaimana jadinya.

Li Yunru akhirnya sadar dan segera mengangkat Ruu untuk memeriksa keadaannya. "Kamu baik-baik saja?"

Ruu menjawab tanpa banyak mengeluh. "... Tidak apa-apa. Hanya sakit punggung."

Barulah setelah memastikan Ruu baik-baik saja, Li Yunru mengamati sekeliling dengan tatapan penuh selidik. "Di mana ini?"

Keduanya kini berada di tempat yang sangat berbeda dari hutan sebelumnya. Di sekitarnya tumbuh beberapa pohon besar bercabang rendah. Meski tidak terlalu tinggi, cabang-cabangnya kokoh dan tampak cocok untuk duduk atau bersantai. Rumput di bawah kaki mereka juga jauh lebih lembut daripada yang ada di hutan tadi.

Udara di tempat ini terasa lebih hangat. Cahaya matahari siang menembus sela dedaunan rimbun, menciptakan bayangan samar di atas rerumputan. Suasananya begitu tenang hingga terdengar seperti dunia yang terpisah dari hutan di luar.

"Ini bukan di wilayah utara," jawab Ruu yakin. "Tapi aku tidak pernah datang ke sini sebelumnya."

Namun tiba-tiba terdengar suara kerasak-kerusuk dari balik semak tinggi tak jauh dari mereka. Bayangan biru pendek sesekali melintas di antara pepohonan, membuat keduanya langsung menoleh.

Li Yunru segera waspada. "Apa itu?" tanyanya agak takut. "Apakah di dunia ini ada monster biru pemakan manusia?"

"Mungkin itu buaya?" tebak Ruu asal.

Li Yunru memutar bola matanya, meski tetap waspada. "Buaya berwarna hijau, bukan biru. Lagi pula, mana mungkin buaya tinggal di hutan? Mereka hidup di air."

"Mungkin itu buaya hutan pemakan rumput."

"...."

Jika predator makan rumput, pasti sejak lama manusia sudah memelihara harimau. Begitulah pikiran Li Yunru saat ini. Namun perhatiannya segera teralihkan.

Ia melihat kepala seekor merak biru berjambul muncul perlahan dari balik semak. Mata hitamnya yang indah menatap mereka penuh rasa ingin tahu sebelum akhirnya melangkah keluar. Bulu-bulu birunya berkilau lembut di bawah sinar matahari.

Menyadari itu hanya seekor merak biru jantan, Li Yunru dan Ruu sama-sama menghela napas lega.

"Untung saja bukan b*bi hutan," gumam Li Yunru penuh syukur.

"Tidak mungkin b*bi hutan tinggal di tempat seindah ini." Ruu mendengus. "Mereka juga pasti tahu diri."

Merak biru itu berjalan mendekati mereka dengan anggun. Sesekali ia menoleh ke sekitar seolah memastikan keadaan aman. Beberapa langkah di depan, ia berhenti lalu perlahan mengembangkan ekornya. Seketika ekor panjangnya membentuk kipas besar yang berkilau diterpa cahaya matahari. Warna biru dan hijau pada bulunya tampak hidup.

Li Yunru langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. "Ya Dewa ... cantik sekali!"

Tanpa rasa takut, Li Yunru segera menghampiri merak itu lalu memeluknya penuh kasih sayang. Bulunya terasa sangat lembut saat disentuh, bahkan memancarkan aroma harum samar yang menenangkan.

"Benar saja, lucu itu tidak ada gunanya. Yang penting cantik dan wangi." Li Yunru tampak sangat puas. "Ini jauh lebih baik daripada kelinci bau."

"Fitnah!" Ruu langsung melompat marah. "Aku juga mandi dan tubuhku wangi!"

Namun Li Yunru sama sekali tidak memedulikannya. Ia terlalu sibuk memeluk merak biru tampan itu sambil mengusap bulunya dengan penuh cinta. Bahkan setelah itu, ia mulai menciumi kepala merak tersebut tanpa malu.

Merak itu tampak sedikit waspada. Sepasang matanya berkedip beberapa kali. Ini pertama kalinya ada orang asing memeluk dan menciumnya. Ujung ekor biru tuanya bergetar halus, seolah sedang menahan sesuatu.

Sesaat kemudian, tubuh merak itu memancarkan cahaya terang yang menyilaukan. Li Yunru refleks menyipitkan mata dan tanpa sadar mundur sedikit. Tak lama kemudian, ia merasakan kecupan ringan di pipinya.

"Cantik ...."

Suara merdu dan lembut terdengar begitu dekat di telinganya, indah hingga seolah mampu menyihir siapa pun yang mendengarnya.

"Apakah aku benar-benar tampan?"

1
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
sepertinya sulur itu itu baik deh, kira-kira apa ya yang akan dia berikan pada Yunru🤔
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: wahhh, gak sabar menunggu mereka bertemu🙀
total 2 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
aduhh, novel horor🙀, pasti bikin merinding nih kalau novel horor, ahhh aku gak berani baca, takut kebawa mimpi 😭
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: kenapa gak bikin lanjutan cerita anaknya Li Chang Su sama Mu Xianzhai kak?? 🤭
total 2 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
tempramen sekali Xuan Bing, apakah Xuan Bing ini wujudnya seorang kakek-kakek🙀 ahhh kalau begitu aku mau cari yang lain aja, gak mau sama kakek-kakek🤣🤣😭
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: tapi sekarang kan dia udah kakek kakek kak/Scream/, masa aku suka sama kakek kakek 😭😭
total 2 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
pedang itu yaa, ohhh jadi namanya Xuan Bing /Shy/ wujudnya seperti apa tuh? apakah tampan?? /Awkward/
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: 🤣🤣kan kalau mau dapatin Bai Muzhi udah gak bisa kak, soalnya dia kan pasangannya Yunru, jadi aku ngincer Xuan Bing aja, siapa tau dia juga tampan, soalnya kan Muzhi juga tampan 🤣😭🤣🤣
total 4 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
kalau gitu, sana tidur sama Bai Muzhi aja 🤣🤣 dia kan pasanganmu🤣🤣
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
Yunruuuu/Curse//Curse/ bisa-bisanya kamu memikirkan uang disaat sudah diizinkan untuk menyentuh tubuh naga nya Muzhi/Facepalm//Facepalm/ yaampun, tapi kalau gak gitu, bukan Yunru namanya/Facepalm//Facepalm/
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
jadi seperti 🤣, kok aku merasa, bulunya tumbuh dengan lebat 🤣ataukah bulunya berbentuk keriting 🤣😭/Facepalm/
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: padahal lucu loh kak kalau nanti bulunya jadi keriting😭🤣🤣
total 2 replies
Erni Sasa
jangan ka biar aku blajar juga resep masakanya kebetulan aku belum pandai masakan china😌
Author Risa Jey: Oke deh, walaupun resepnya gak akan jauh-jauh dari kecap asin sih /Smirk/
total 1 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
apakah sulur itu baik ataukah jahat?? tapi, semoga aja itu sulur bisa membantu Yunru /Slight/
Author Risa Jey: Baik kok harusnya. Penuh misteri /Casual/
total 1 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
enggak kak, malah udah pas itu, kita jadi tau resep lain buat masak 🤭
Author Risa Jey: /Ok//Ok//Ok//Ok/
total 1 replies
ER
enggaa masalah thorr
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂
Author Risa Jey: Coba bikin, takaran kira-kira sendiri ya/Hey//Hey/
total 1 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
aduhhh, gemes banget sama Muzhi yang tiap hari malu malu kucing sampai telinganya merah 🤣 ayo Yunru, buat Muzhi salah tingkah lagi 🤣🤣kalau bisa, tidak hanya telinganya saja yang merah, tapi juga wajahnya ikut merah 🤣🤣
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: tapi daripada dikasih sama mereka, lebih baik dijadikan kelinci panggang, kan lumayan tuh pasti dagingnya banyak🤣😭
total 9 replies
Erni Sasa
🤣🤣🤣🤣pikiran macam apa itu
Author Risa Jey: /Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
total 1 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
akhirnya Muzhi jatuh cinta pada Yunru yeayyy, kalau nenek Caolan tau, wahhh, apa yang akan terjadi ya ketika melihat cucu nya ini dengan telinga yang memerah /Chuckle/
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: 🤣🤣 boleh tuhhh, aku setuju🤣🤣
total 4 replies
Erni Sasa
🤣🤣🤣🤣🤣ada" saja pilih dua duanya lah kalau bisa
Author Risa Jey: Oh, tidak bisa /Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
ayo usut tuntas Feiyu/Determined//Determined/
Erni Sasa
🤣🤣🤣🤣😭maak aku lagi badmood iih malah di pantatin
Author Risa Jey: /Smirk//Smirk//Smirk//Smirk/
total 1 replies
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
harusnya kamu tendang saja tuh si Ruu nya Yunru, biar dia naik tangga lagi, biar jadi kurus 🤣
Author Risa Jey: Yang ada mungkin pingsan duluan /Sweat/
total 1 replies
Erni Sasa
🤣🤣🤣🤣heiii baru sadaar
Erni Sasa
semangat ka Risa aku salah satu pembaca setiamu,jangan hiatus ya untuk novelmu yg ini.
Author Risa Jey: Jangan khawatir, up sampai tamat kok /Casual/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!