Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMAR PENGANTIN
Pesta syukuran yang awalnya dijanjikan sebagai acara keluarga kecil berubah menjadi pesta megah yang dihadiri ratusan tamu. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan, menerangi wajah-wajah bahagia para kolega bisnis Haikal dan kerabat jauh yang berbondong-bondong memberikan selamat. Ardiah duduk kaku di pelaminan, tersenyum tipis meski hatinya mendongkol. Ia merasa dikhianati oleh janji kerahasiaan yang telah mereka sepakati.
“Haikal,” bisik Ardiah tajam saat jeda musik, matanya menyipit menatap pria di sebelahnya. “Kau bilang ini rahasia. Kenapa setengah Jakarta ada di sini?”
Haikal meneguk segelas air mineral, wajahnya tenang tanpa dosa. “Aku tidak melanggar janji, Diah. Kau bilang jangan libatkan teman kantor. Lihatlah, tidak ada satupun staf Artha Design di sini. Tamu-tamu ini adalah rekan bisnis Ayah atau teman masa kecilku. Secara teknis, aku jujur.”
Ardiah memutar bola matanya lelah. Argumen Haikal memang licik namun sulit dibantah. “Tapi sekarang semua orang tahu aku Nyonya Akram. Besok saat aku kembali ke kantor, bagaimana jika mereka memanggilku begitu? Itu akan merusak profesionalismeku.”
“Itu artinya statusmu meningkat,” canda Haikal ringan, meski ia tahu Ardiah sedang kesal. “Anggap saja itu bonus dari pernikahan kita.”
Acara akhirnya berakhir larut malam. Ardiah berharap mereka akan segera pulang ke apartemennya, atau setidaknya ke rumah Haikal dengan kamar terpisah. Namun, Bu Astuti memiliki rencana lain. Saat mereka hendak pamit, wanita itu menahan lengan Haikal.
“Haikal, Ardiah, kalian tidak perlu pulang malam ini,” kata Bu Astuti dengan senyum manis yang penuh makna. “Kamar utama di lantai dua sudah disiapkan untuk kalian. Istirahatlah di sana.”
Mata Ardiah terbelalak. Ia menoleh cepat ke arah Haikal, memberi isyarat mata agar pria itu menolak. Katakan tidak! tatapan itu memohon.
Namun, Haikal justru tersenyum lebar, sebuah senyuman licik yang membuat perut Ardiah mulas. Ia memeluk bahu ibunya erat-erat. “Ide yang brilian, Mah. Terima kasih. Mama memang ibu paling pengertian di dunia.”
Astuti mengedipkan sebelah matanya pada Haikal. “Tentu saja, Nak. Jangan pernah mengecewakan Mama. Pastikan Mama punya cucu secepatnya.”
Sebelum Ardiah bisa protes, Haikal sudah merangkul bahunya, menarik tubuh wanita itu mendekat. “Ayo, Sayang. Kita istirahat di kamar kita,” bisik Haikal, menaikkan alisnya dengan genit.
Ardiah bergidik mendengar panggilan ‘Sayang’ itu di depan umum. Ia ingin mendorong Haikal, namun kehadiran Kakek dan Bu Astuti membuatnya terpaksa menahan diri. Dengan langkah gontai dan hati yang penuh dendam, ia mengikuti Haikal menaiki tangga menuju lantai dua.
Saat pintu kamar utama terbuka, Ardiah hampir pingsan. Kamar yang tadinya minimalis dan maskulin kini telah disulap menjadi sarang romantis berlebihan. Di atas ranjang king size, terdapat dua angsa handuk berbentuk hati, dan dikelilingi taburan kelopak mawar merah. Lilin-lilin aromaterapi menyala redup di sudut ruangan, mengeluarkan wangi lavender yang pekat. Lantai lantai marmer mengkilap, seolah baru saja dipel dengan minyak esensial mahal.
“Astaga...” gerutu Ardiah, wajahnya memerah karena marah dan malu. “Ini pasti rencanamu, Haikal! Kau mengatur semua ini!”
Haikal mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, bersikap pasrah. “Sumpah, Demi Allah, bukan aku! Aku bahkan kaget melihat dekorasi ini. Aku hanya tahu soal pelaminan di bawah, itupun karena Mama dan Papa yang memaksa. Tapi kamar ini? Ide murni Mama.”
Haikal menghela napas, lalu mendekati Ardiah dengan wajah menyesal. “Maafkan aku, Diah. Dan maafkan Mama juga, dia sangat terobsesif padamu, itu karena Dia tidak punya anak perempuan, jadi dia melampiaskan semua kasih sayangnya padamu. Dia benar-benar ingin melihat kita bahagia. Tolong maklumi sikapnya yang agak... terlalu antusias.”
Ardiah menatap Haikal, lalu menatap sekeliling kamar. Kemarahannya perlahan surut, digantikan oleh kebingungan. Hari ini, ia memang merasakan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan sejak ibunya meninggal. Bu Astuti tadi memang terlihat bahagia, ia memamerkannya dengan bangga, bukan karena status sosial Ardiah, tapi karena tulus menerima Ardiah sebagai bagian dari keluarga. Perasaan bersalah mulai menggerogoti hatinya. Ia telah membohongi wanita sebaik itu dengan pernikahan kontrak.
Melihat Ardiah yang terdiam dan tampak lelah, Haikal memecah keheningan. “Kamu pasti gerah memakai gaun itu seharian. Sekarang pergilah bersihkan dirimu dulu.”
Ardiah tersadar dari lamunannya. Ia baru menyadari masalah besar. “Aku... aku tidak membawa baju ganti. Aku pikir kita akan langsung pulang ke apartemenku.”
Haikal tertawa kecil, lalu menggandeng tangan Ardiah menuju ruang ganti pribadi yang terhubung dengan kamar utama. “Jangan khawatir, Nyonya Akram, Mama mertuamu sudah memikirkan segalanya.”
Haikal membuka pintu ruang ganti yang luas itu. Ardiah terpaku. Di dalam lemari kaca besar, tergantung puluhan gamis dengan berbagai model dan warna pastel yang elegan. Ada juga koleksi baju tidur satin, tas-tas mewah berukuran bervariasi, serta deretan sepatu hak tinggi dan flats dari merek-merek ternama. Aksesoris seperti kalung mutiara dan anting berlian tertata rapi di rak velvet.
“Siapa pemilik baju-baju ini?” tanya Ardiah polos, matanya berkeliling tak percaya.
“Semua untukmu,” jawab Haikal lembut. “Begitu Mama tahu kita akan menikah, dia langsung belanja habis-habisan. Dia tahu kamu suka gaya sederhana tapi elegan, jadi dia memilihkan setiap item dengan sangat hati-hati. Bahkan dia meminta pendapat desainer pribadinya agar warnanya cocok dengan kulitmu.”
Ardiah menyentuh salah satu gamis berwarna biru langit. Bahannya halus dan dingin di ujung jarinya. Hatinya terasa sesak, bukan karena sedih, tapi karena haru. Ibu mertuanya yang lama dulu selalu mencela pakaiannya yang murah, menyebutnya tidak pantas untuk keluarga kaya. Sedangkan Bu Astuti, yang jelas-jelas lebih kaya raya, justru memberikannya hadiah-hadiah mewah dengan penuh cinta, tanpa memandang rendah asal-usul Ardiah.
“Dia... dia tahu aku mandul, Haikal,” bisik Ardiah lirih, air matanya mulai menggenang. “Tapi dia tetap menerimaku. Dia membelikan semua ini untuk menantu yang tidak bisa memberinya cucu secara alami.”
Haikal menatap Ardiah dengan tatapan lembut. Ia melangkah maju, menghapus air mata yang jatuh di pipi Ardiah dengan ibu jarinya. “Karena bagi Mama, dan bagiku... kamu sudah cukup. Kamu adalah Ardiah. Wanita yang kami inginkan.”
Kalimat itu menghantam dada Ardiah. Dilema di hatinya semakin menjadi-jadi. Di satu sisi, ia merasa bahagia dicintai dan dihargai. Di sisi lain, ia takut ketika kebenaran tentang kontrak ini terungkap. Apakah Bu Astuti akan tetap tersenyum? Atau apakah cinta palsu ini akan hancur berkeping-keping?
Haikal mundur selangkah, memberi ruang pada Ardiah. “Ambil baju yang kamu suka. Mandilah. Aku akan menunggu di luar. Tidak akan ada hal aneh-aneh, janji.”
Ardiah mengangguk pelan, masih termenung menatap lemari penuh kasih sayang itu. Malam pertamanya sebagai Nyonya Akram bukanlah malam yang penuh nafsu, melainkan malam yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan berat tentang hati, kejujuran, dan rasa bersalah yang mulai mengakar dalam.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...