NovelToon NovelToon
Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Status: tamat
Genre:Poligami / Anak Genius / Pelakor / Menikahi tentara / Mandul / Tamat
Popularitas:169.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sri Wahyuni

"Berawal dari sebuah telpon yang mengaku datang dari masa depan, Nadia akhirnya mengetahui bahwa kedua anak yang diasuhnya ternyata bukan anak kerabat jauh, tapi anak selingkuhan suaminya!

Saat itu juga, Nadia menggugat cerai suaminya dan keluar dari rumah itu. Namun, Keluarga Pradipta tidak melepasnya begitu saja, mereka terus mengganggunya demi hak waris rumah dan kotak musik warisan ibu Nadia. Nadia pun terusik, mengapa mereka terobsesi dengan sebuah kotak musik?

Tak hanya itu, telepon dari masa depan itu datang kembali dan mengatakan bahwa Mayor Arga Wiratama adalah takdirnya. Nadia semakin terkejut ketika pria itu benar-benar nyata dan hadir di depannya. Sebenarnya siapa penelpon itu dan bagaimana bisa?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Dinda kembali ke sekolah dua hari kemudian.

Ia turun dari mobil Farhan dengan seragam putih abu-abu yang disetrika terburu-buru. Kerudungnya miring sedikit. Biasanya Nadia akan merapikan sebelum ia turun, menyelipkan peniti cadangan di tas, dan mengingatkan bekal. Hari itu tidak ada bekal.

"Nanti Papa jemput," kata Farhan.

Dinda mengangguk tanpa menatapnya.

Begitu masuk gerbang, bisik-bisik mulai mengikuti.

"Itu anaknya yang viral."

"Katanya anak pelakor."

"Bukan anak ibu yang selama ini ngurus?"

Dinda menggenggam tali tas. Ia terus berjalan.

Di kelas, dua teman dekatnya mencoba bersikap biasa, tapi layar ponsel di meja mereka menunjukkan potongan video restoran. Ada juga komentar dari akun gosip lokal yang menyebut "anak-anak hasil hubungan lama akhirnya terbongkar".

Dinda duduk.

Seorang anak perempuan dari bangku belakang berkata cukup keras, "Enak ya punya dua ibu. Satu buat ngurus, satu buat rebut rumah."

Kelas tertawa kecil.

Dinda berdiri tiba-tiba. Kursinya berderit.

"Diam."

Anak itu mengangkat alis. "Kenapa? Takut benar?"

Dinda tidak tahu siapa yang ia bela. Rania? Nadia? Dirinya sendiri?

Yang ia tahu, dadanya sesak.

Ia keluar kelas sebelum guru datang.

Di kamar mandi, ia menangis sambil menggigit punggung tangan agar suaranya tidak terdengar. Ia ingin menelepon Nadia. Jarinya sudah membuka kontak. Lalu ia berhenti.

Nadia sedang bekerja.

Nadia sedang bercerai.

Nadia tidak harus selalu menyelamatkannya.

Dinda menutup ponsel, membasuh wajah, dan kembali ke kelas dengan mata merah.

Sementara itu, Dimas tidak masuk sekolah.

Ia duduk di warung internet kecil dekat kompleks, headset menutup telinga, layar gim menyala. Uang jajan yang diberikan Farhan ia pakai untuk membeli paket jam. Ia tahu ini bodoh. Ia tahu Ma Nadia akan kecewa. Justru karena itu ia tidak mau pulang cepat.

Di dunia gim, tidak ada akta lahir.

Tidak ada ibu kandung yang terlambat.

Tidak ada ayah yang menyembunyikan.

Tidak ada teman yang bertanya kenapa namanya masuk gosip.

Namun pukul sebelas, guru BK menelepon Farhan. Farhan menelepon Dimas berkali-kali. Dimas mematikan ponsel.

Ia baru keluar dari warung internet saat seorang pria tua pemilik warung berkata, "Mas, bapakmu datang."

Farhan berdiri di depan pintu, wajahnya gelap.

"Pulang."

Dimas melepas headset. "Aku belum selesai."

"Sekarang."

Di mobil, Farhan meledak.

"Kamu mau mempermalukan Papa lagi?"

Dimas menatap jalan. "Papa takut malu terus."

"Karena kamu membuat masalah."

"Aku belajar dari Papa."

Tamparan itu hampir terjadi. Tangan Farhan sudah terangkat, lalu berhenti karena sopir ojek di sebelah menoleh. Farhan menurunkan tangannya dengan napas berat.

"Jangan kurang ajar."

Dimas tertawa hambar. "Kurang ajar itu apa? Anak yang bolos? Atau ayah yang menyuruh anak panggil ibu kandungnya tante?"

Farhan tidak menjawab.

Di kontrakan, Nadia sedang menutup siaran langsung kedua. Pesanan bertambah, tetapi ia mulai mengatur batas. Tidak semua pesanan diterima. Tidak semua komentar dijawab. Ia belajar berkata, "Maaf, kuota hari ini penuh."

Kalimat itu kecil, tapi membuatnya merasa kaya.

Siska membaca pesan dari Dinda yang masuk siang itu.

Ma, kalau orang tanya aku anak siapa, aku harus jawab apa?

Nadia menerima ponsel dari Siska. Ia membaca kalimat itu lama.

Siska bertanya pelan, "Balas?"

Nadia mengangguk.

Ia mengetik:

Jawab: aku Dinda. Anak yang sedang belajar jujur pada diri sendiri. Kamu tidak perlu menjelaskan hidupmu kepada semua orang.

Dinda membalas setelah beberapa menit.

Mereka jahat.

Nadia:

Iya. Kadang orang jahat karena merasa aman di keramaian. Cari guru yang kamu percaya. Jangan hadapi sendiri.

Dinda:

Mama dulu kenapa bisa tahan?

Pertanyaan itu membuat Nadia berhenti.

Ia menatap dapur, wajan, wadah, semua yang sedang ia bangun.

Lalu ia menjawab:

Karena Mama kira menahan berarti kuat. Sekarang Mama belajar, minta bantuan juga kuat.

Dinda tidak membalas lagi, tapi Nadia melihat tanda pesan dibaca.

Sore itu, guru BK Dinda menelepon Nadia. Bukan Farhan, bukan Rania. Nadia hampir tidak mengangkat karena takut melanggar batas. Namun guru itu berkata, "Maaf, Bu. Dinda meminta kami menghubungi Ibu juga. Ia bilang Ibu yang paling tahu riwayat emosinya."

Nadia menutup mata.

"Saya bisa membantu memberi informasi, Bu. Tapi keputusan resmi tetap perlu orang tua/wali yang tercatat."

"Kami paham. Kami hanya ingin memahami situasi."

Nadia menjelaskan secukupnya: perubahan keluarga, tekanan publik, perlunya pendampingan, alergi Dinda saat stres, dan kebiasaan gadis itu diam sampai meledak. Guru itu mendengarkan dengan serius.

"Terima kasih, Bu Nadia. Jujur, catatan seperti ini biasanya hanya kami dapat dari orang tua yang sangat terlibat."

Nadia tidak tahu harus merasa bangga atau sedih.

Setelah telepon selesai, ia duduk lama.

Siska berkata, "Kamu melakukan hal benar."

"Aku takut dianggap ikut campur."

"Dinda meminta."

"Tetap saja..."

"Nad, kamu bisa menjaga batas tanpa pura-pura tidak sayang."

Kalimat itu menempel di kepala Nadia sepanjang malam.

Di rumah Farhan, suasana semakin buruk. Dinda pulang dengan mata bengkak. Dimas pulang bersama Farhan setelah ketahuan bolos. Rania mencoba memasak sayur bening dari resep internet, tapi rasanya terlalu asin. Mama Meri menyalahkan kompor. Farhan menyalahkan anak-anak. Pak Hendra meninggalkan meja sebelum makan selesai.

Dinda mencicipi satu sendok sayur, lalu meletakkan sendok.

"Ma Nadia biasanya pakai temu kunci sedikit."

Rania menatapnya.

"Kamu mau membandingkan terus?"

Dinda terkejut. "Aku cuma..."

"Kalau kamu sangat kangen dia, kenapa pulang ke sini?"

Ruangan hening.

Farhan berkata keras, "Rania."

Rania berdiri. "Aku capek, Mas. Semua orang di rumah ini menghukumku. Anak-anak, Mama, bahkan kamu. Seolah aku satu-satunya yang salah."

Dimas menatapnya. "Bukan satu-satunya. Tapi Mama ikut."

Rania menangis dan masuk kamar.

Farhan duduk dengan wajah kalah.

Malam itu, Dinda tidak makan. Dimas mengunci pintu kamar. Mama Meri menangis di ruang tengah. Pak Hendra salat lebih lama dari biasanya.

Di sisi kota yang lain, Nadia menutup buku pesanan dengan angka keuntungan kecil tapi nyata.

Ia mematikan lampu dapur.

Di meja, kotak musik tua diam.

Untuk pertama kalinya sejak semua dimulai, Nadia tidur tanpa menunggu suara langkah Farhan.

Sebelum tidur, satu pesan masuk dari Dimas.

Ma, Dinda akhirnya makan roti. Sedikit.

Nadia membalas:

Bagus. Besok pastikan dia sarapan. Kalau sulit bicara, minta bantuan guru BK.

Dimas:

Aku juga harus ke guru BK?

Nadia menatap layar, lalu mengetik:

Kalau kamu tanya begitu, mungkin iya.

Tidak ada balasan selama beberapa menit. Lalu Dimas mengirim:

Papa bilang laki-laki jangan cerita masalah ke orang.

Nadia menarik napas panjang.

Ia membalas:

Laki-laki yang tidak pernah cerita bisa meledak dan melukai orang. Kamu boleh belajar cara lain.

Dimas hanya menjawab:

Aku coba.

Nadia menyimpan ponsel dengan dada berat. Ia tidak bisa menjadi ibu penuh bagi mereka lagi. Tetapi mungkin ia masih bisa menjadi jembatan kecil agar mereka tidak jatuh ke lubang yang sama dengan orang tuanya.

Ia lalu menulis tiga aturan baru di halaman belakang buku pesanan.

Jangan mengambil alih.

Jangan meninggalkan sepenuhnya.

Bantu lewat jalur aman.

Tiga kalimat itu terlihat sederhana, tetapi sulit. Nalurinya masih ingin memasak lebih banyak, mengirim bekal, datang ke sekolah, dan menenangkan Dinda seperti dulu. Namun ia tahu, setiap langkah tanpa batas bisa dipakai Farhan untuk menuduhnya mencuri anak.

Siska pernah berkata, "Sayang juga butuh prosedur."

Saat itu Nadia tertawa. Sekarang ia mengerti. Dalam hidup yang sudah dipenuhi orang licik, kasih sayang pun harus punya saksi, pesan tertulis, dan pintu keluar.

Ia menyimpan catatan itu di dekat buku pesanan. Besok ia akan bertanya kepada Mbak Laila bagaimana membantu anak-anak tanpa melanggar batas hukum.

Setelah itu barulah ia mematikan lampu. Batas, pikirnya, bukan dinding untuk membuang orang. Batas adalah pagar rendah agar orang yang ia sayangi tidak menyeretnya kembali ke api yang sama, dan agar ia bisa tetap menolong tanpa ikut terbakar.

Dan rumah Farhan, yang dulu ia jaga mati-matian, runtuh pelan-pelan tanpa dirinya, tanpa ampun.

1
Enjang Ridwan
mulai bosen nih ceritanya gitu gitu mulu
Enjang Ridwan
kata saya juga PABALIUT 🙏🙏🙏
Enjang Ridwan
pabaliut alur ceritanya padahal saya suka gayanya🙏
Enjang Ridwan
ok binggit lagsung gas poool
falea sezi
bingung woyyyyyyyy🤣 lu mau apa nadia kn anak mu nama nya rayyan Kirana siapa. lagi satunya lupa aq🤭
falea sezi
sejauh ini bertele tele thor
falea sezi
dimas dinda kayaknya anak bagas🤣🤣🤣 farhan mandul kan🤭
falea sezi
anak nya uda besar ya Siska apa anak nya uda pada nikah🤭
falea sezi
baru baca uda penasaran
Iyet Indriyati
bahasanya baku, perlu dicerna dalem2, byk kiasan yg hrs dimengerti. Tp sy suka, krn cara penulisannya yg beda dr yg lain 👍
Ina Kartika
ceritanya bagus tp tidak konsisten jd membingungkan
Ina Kartika
agak membingungkan, apalagi nama yg sama
SemestaBernyanyi
seharusnya judulnya bukan ditelepon cucu dari masa depan krn rani dan raka ternyata anaknya. author sama sekali tdk konsisten
SemestaBernyanyi
lalu, asha dan kirana? di depan ada maya, ibu dari raka rani, istri rayyan. author bingung atau lupa atau terlalu banyak ide
SemestaBernyanyi
ceritanya bagus tapi tumpang tindih. seperti ada bagian yg direvisi tp tdk dihapus
SemestaBernyanyi
berangkatnya jg gitu kan? perhatikan deh
Heriyani Lawi
waktu nulis othornya lg mabok sprite 🤣🤣🤣. Lihat judulnya thor
Heriyani Lawi
ceritanya sebenarnya bagus cuma jalan ceritanya berubah ubah
Debbie Teguh
maraton baca semua karyamu thor, luar biasa 👍
Hariyanti
ceritanya bagus dan menarik 🥰🥰🥰 kisah time travel yg tidak biasa dan bikin penasaran buat baca terus 😀🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!