"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Karunia menatap Johan, terpaku di tempatnya berdiri. "Tuan, ada apa memanggil saya kemari?" tanya Karunia.
"Duduklah dulu, apa kamu mau terus berdiri di situ."
Hm, memutar bola mata malas Karunia mengambil tempat duduk di samping Johan agak jauh, segera Johan mendekatkan duduknya, menggantung kakinya di atas kaki yang satu.
"Kamu dandan cantik, mau kemana?" tanya Johan menyentuh rambut gelombang panjang sebahu yang dibiarkan tergerai.
Kamu mirip ibumu Niah tapi kamu lebih cantik.
Dalam hati Johan tak jemu memandang Niah.
"Tidak kemana mana, ini nyaman dipakai nyetir ya saya pakai." jelas Karunia.
"Tuan ngapain sih kita duduk disini, sebaiknya Tuan menemui Nyonya dan calon ibu pengganti." lanjut nya.
Johan menyampirkan rambut depan Karunia ke samping. "Terima kasih Niah, sudah datang ke kehidupanku." ucap Johan.
Cih, "Biasa aja kali Tuan, saya mah cuma pembantu. Dengan tidak dipakai nya rahim saya, seharusnya kontrak sudah bisa diakhiri. Tuan jangan curang!" Karunia merengut pada Johan.
Hehe, "Aku sudah bilang, aku menyukai mu pada pandangan pertama. Kamu milikku dan aku tidak akan melepas mu." tegas Johan.
"Aku akan membayar lebih dari nominal kontrak, kamu mau kan melahirkan anak kita." lanjut nya.
"Saya tidak mau!" tegas Karunia.
"Mau gak mau sekarang kamu istriku, aku akan menunggu sampai kamu membuka hatimu."
Kita tidak bisa bersama Tuan. Saya akan membuktikan kenapa kita tidak bisa bersama secara medis.
Batin Karunia rasanya ingin ngamuk dan menjambak rambut Johan untuk Sampel.
"Apa kamu gak ingin melanjutkan sekolah?" tanya Johan.
"Saya sudah lulus, Tuan."
"SMP! Lanjut lagi lah SMA privat lalu kuliah."
"Terima kasih Tuan, itu nanti biar saya yang urus. Mungkin Shopie sudah selesai cek up, sebaiknya saya kembali nanti Nyonya mencari saya tidak ada di tempat. Permisi!" Karunia hendak berdiri, Johan menahan nya.
"Sebentar lagi, kalau sudah selesai Bagus atau pun Devan pasti ngabari." ujar Johan.
Aku harus segera tes DNA, dan mengakhiri semua ini tapi gimana cara mendapatkan sampel, hah.
"Tuan tau tidak, dengan sikap Tuan ini saya jadi segan tinggal di rumah. Tuan benar benar azas manfaat."
Hehe, "Sejak kapan kamu secantik ini?" tanya Johan.
Ceh, gak nyambung. Baiklah aku akan membuat mu ilfill.
"Saat masih bersama suamiku kami jalan jalan ke Korea...."
"Stop!" Johan suara keras tiba tiba, mencubit bibir Karunia.
Aduh! Karunia kaget.
"Jangan cerita mantan di depanku!" sergah Johan.
"Lah tadi nanya! Tuan, aku jujur saja ya. Ditubuh ku ini semua tidak ada yang asli alami, ini hasil operasi dari ujung rambut sampai ujung kaki."
Jelas Karunia berharap Johan muntah di depannya jadi bisa diambil sedikit buat sampel test DNA.
"Coba lihat, mana hasil jahitannya." tangan Johan terulur menyentuh pipi Karunia, mendekatkan wajahnya sehingga sedikit lagi bibir mereka bertemu.
Jangan bohong, aku kan tau siapa ibumu. Juga ayahmu aku ingat siapa dia, mantan satpam di rumah Mama dan kamu mirip dengan mereka berdua.
Deg.
Jantung Niah berdetak kencang merasakan hembusan nafas Johan menyapu hidung dan mulutnya.
Kenapa aku berdebar pada orang ini, si cabul ini bapak biologis aku.
Tangan Johan turun ke tengkuk Karunia, dari tadi dia sudah gak tahan melihat bibir Karunia saat bicara.
Dertt...dertt.
Ponselnya berbunyi masuk pesan dari Devan, sesaat sebelum Johan hendak membuka mulutnya.
"Johan, medical cek up sudah selesai mereka mau keluar sekarang." tulis Devan di pesannya.
Ck, Johan berdecak kesal.
"Awas saja kalau kamu bohong, aku akan membunuh mu." suara Johan kencang agar Devan bisa dengar dari tempat persembunyian nya.
Hihi, Devan terkikik keluar dari ruang berkas.
Johan berdiri mendekat ke jendela benar saja, Shopie dan Dewi di depan pintu ruangan dokter.
Bagus sedang berbicara seolah menahan mereka memberi waktu bagi Niah keluar dari ruangannya.
Johan menoleh pada Karunia. "Keluarlah, Niah."
Ujar Johan memandang bibir yang gagal dikulum nya.
"Hm, mau membunuh ku." di samping Johan, Devan tatapan mengejek.
******♥️
jangan lupa like ya guys, 👍
kemana sofinya Thor