Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22-Kami Akan mengungkapnya!
Langkah kaki mereka terdengar berat seiring berjalan keluar dari gedung kantor polisi yang dingin itu. Begitu sampai di luar, udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka, namun tidak bisa mendinginkan amarah yang masih berkobar di dada masing-masing.
Celio yang sedari tadi menahan diri, akhirnya tidak tahan lagi. Ia menendang keras kerikil di depannya hingga melayang jauh, lalu menggerutu dengan nada tinggi yang bercampur kesal dan marah.
"Dasar pengecut! Apa gunanya jadi polisi kalau cuma bisa tunduk sama orang berkuasa?! Bayangin aja, bukti udah jelas banget di depan mata, tapi malah nggak berani bergerak! Kalau gini caranya, apa bedanya mereka sama orang yang nutup-nutupin kejahatan itu?! Sama aja nggak berguna!" Celio berjalan mondar-mandir dengan tangan dikepal erat, wajahnya memerah karena emosi yang belum juga reda.
Rafael menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Celio pelan, berusaha menenangkan sahabatnya itu meski hatinya pun sama kesalnya.
"Udahlah, Lio... gak ada gunanya dibahas lagi. Marah-marah juga nggak bakal mengubah kenyataan, nggak bakal bikin mereka tiba-tiba berani bantuin kita juga. Kita sudah lihat sendiri, mereka nggak mau ambil risiko. Jadi mau ngomong apa lagi?"
Keisha yang sejak tadi berjalan diam dengan mata sembab, tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap teman-temannya. Suaranya bergetar, campuran antara sedih dan marah yang masih membara.
"Aku masih gak habis pikir... Mereka itu orang yang seharusnya lindungin kita, seharusnya yang cariin keadilan. Tapi pas kita butuh, malah lari takut duluan. Terus siapa lagi yang bisa kita harapin? Dinda mati sia-sia dong... namanya bakal terus dicap buruk, dan orang yang bikin dia mati bakal hidup enak-enak aja?" Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan semata, melainkan air mata rasa tidak adil.
Suasana kembali hening. Tidak ada yang bisa membantah ucapan Keisha, karena itu memang kenyataan pahit yang baru saja mereka alami. Mereka berjalan pelan menyusuri trotoar yang sepi, pikiran masing-masing melayang, bingung harus berbuat apa selanjutnya.
Tiba-tiba, di kepala Elara muncul kembali bayangan mimpi yang sering menghampirinya belakangan ini. Bayangan sosok wanita tua berpakaian kuno, yang wajahnya samar namun suaranya terdengar begitu jelas dan tegas, seolah baru saja diucapkan kemarin.
"Hanya kamu yang bisa menyelamatkan sekolah ini... Hanya kamu yang bisa membongkar semua rahasia yang terkubur di sini..."
Kata-kata itu berputar berulang di benak Elara, seolah ada yang menekannya, menyuruhnya untuk bertindak. Seolah-olah semuanya sudah diatur, dan dialah yang ditunjuk untuk mengungkap kebenaran itu.
Mata Elara seketika terbelalak, hatinya berdebar kencang seolah mendapatkan jawaban atas segala kebingungan yang ada. Ia langsung berhenti berjalan, lalu berteriak pelan namun tegas.
"Tunggu!"
Semua orang seketika berhenti dan menoleh ke arahnya. Keisha mendekat, menatap wajah sahabatnya dengan bingung.
"Ada apa, El? Kenapa berhenti tiba-tiba? Kamu ingat sesuatu?"
Elara mengangguk cepat, napasnya sedikit memburu karena rasa semangat yang tiba-tiba muncul. Ia menatap satu per satu wajah teman-temannya, suaranya terdengar meyakinkan, seolah sudah yakin betul dengan apa yang akan ia katakan.
"Dengerin aku. Kalau polisi nggak bisa bantu kita, kalau mereka nggak berani mencari keadilan buat Dinda... berarti kita yang harus melakukannya sendiri. Kita yang harus cari keadilan itu buat dia. Dan bukan cuma itu... kita juga harus cari tahu apa saja yang sebenarnya disembunyikan Nyonya Tamara di balik kemewahan dan nama baik Sekolah Hantage ini. Pasti ada sesuatu yang besar, sesuatu yang mengerikan, yang dia lindungi mati-matian sampai rela membunuh orang dan menutupi segala cara."
Rafael mengerutkan keningnya, mencerna ucapan Elara. Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu ke arah yang lain.
"Maksud lo... cuma kita berlima gitu? Tanpa bantuan siapa-siapa, tanpa kekuasaan apa-apa, cuma kita?"
"Iya," jawab Elara tegas tanpa ragu sedikit pun. "Cuma kita
."
Celio langsung menggeleng cepat, wajahnya tampak khawatir setengah mati. Ia mendekat ke arah Elara, berbicara dengan nada panik.
"El, lo gak mikir apa? Ini bukan hal sepele lho! Rahasia sekolah itu susah banget ditembus, apalagi ini urusannya sama Nyonya Tamara. Dia punya banyak orang, punya kekuasaan di mana-mana. Gimana kalau kita ketahuan? Bisa-bisa kita langsung dikeluarin dari sekolah ini, bahkan bisa-bisa nasib kita sama kayak Dinda! Lo mau kita mati juga?"
Belum sempat Elara menjawab, suara dingin namun tegas terdengar dari belakang. Semua orang menoleh, melihat Arkan yang sedari tadi diam kini melangkah maju, wajahnya tetap datar namun matanya menyala penuh tekad.
"Gue setuju sama Elara."
Semua orang tertegun mendengarnya. Arkan jarang sekali berpendapat, tapi kalau sudah bicara, kata-katanya selalu berbobot.
Arkan menatap lurus ke arah Celio, lalu berbicara pelan namun jelas.
"Lo takut ketahuan, takut diusir, takut celaka... tapi coba lo pikir lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal lakuin ini? Polisi nggak berani, guru-guru diam saja, orang lain cuma lihat saja. Kalau kita juga mundur, berarti kita membiarkan pembunuh itu bebas, membiarkan kejahatan menang, dan membiarkan nama baik teman kita dikotori selamanya. Dinda itu teman kita. Kalau kita nggak belain dia, siapa lagi? Gue setuju, kita harus lakuin ini."
Keisha segera mengangguk mantap, menggenggam tangan Elara erat-erat.
"Kalau El dan Arkan udah setuju, aku juga pasti setuju. Aku nggak peduli bahayanya seberapa besar, aku nggak peduli apa yang bakal terjadi sama aku. Yang penting Dinda dapat apa yang dia pantas dapatkan: keadilan. Aku ikut, apa pun risikonya."
Rafael menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis sambil mengangkat bahu.
"Yah... kalau kalian semua udah maju duluan, masa gue tinggal diam aja? Kita ini satu tim, satu persahabatan. Kalau gue mundur, berarti gue pengecut juga. Gue ikut, siap aja apa yang bakal terjadi."
Kini tinggal Celio saja yang belum sepakat. Ia menatap wajah teman-temannya satu per satu, melihat ketulusan dan keberanian di mata mereka. Ia tahu, meski mereka cuma remaja, tapi persahabatan mereka itu nyata. Akhirnya, Celio menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah namun hangat.
"Oke, oke... demi persahabatan kita, demi Dinda juga. Gue ikutin kemauan kalian. Tapi inget ya, kalau nanti ada apa-apa, kalian yang tanggung jawab bawa gue pulang dengan selamat!" candanya sedikit, meski matanya juga sudah penuh tekad.
Elara tersenyum lebar, senyum penuh harapan yang lama tidak muncul di wajahnya. Ia merasa bersyukur sekali memiliki teman-teman yang mau berdiri bersamanya, mau melawan bahaya demi kebenaran.
Elara menatap mereka semua dengan pandangan tajam dan mantap.
"Baik. Kalau begitu, rencananya begini: Malam ini juga, kita masuk ke sekolah diam-diam. Kita cari petunjuk apa saja yang bisa kita temukan, tempat apa saja yang dicurigai. Kita mulai malam ini juga, jangan tunggu besok atau lusa, karena semakin lama kita tunggu, semakin banyak hal yang bisa berubah atau disembunyikan lagi."
Keisha, Rafael, dan Celio serentak mengangkat tangan, berseru dengan nada antusias dan penuh semangat.
"Siap!!!"
Suara mereka bergema di udara malam yang sepi, terdengar tegas dan berani. Meskipun mereka tahu bahaya besar menanti di depan, meskipun mereka melawan orang yang jauh lebih kuat dan berkuasa, mereka tidak takut. Karena mereka tidak sendirian.
Mereka berlima pun segera melangkah pergi, meninggalkan halaman kantor polisi itu. Langkah kaki mereka kini tidak lagi berat karena rasa putus asa, melainkan ringan dan penuh tujuan, menuju petualangan berbahaya yang akan mengubah segalanya selamanya.
(Malam Harinya)
Malam itu, langit gelap pekat tanpa bintang, hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu jalan yang jarang dan redup. Suasana di lingkungan asrama sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik yang bersahutan dan hembusan angin malam yang dingin. Semua penghuni asrama sudah tertidur pulas, lelap dalam mimpi masing-masing, tidak ada yang menyadari bahwa di balik jendela-jendela kamar yang gelap, ada lima sosok yang sedang bergerak diam-diam, melangkah dengan hati-hati seolah takut membuat suara sedikit pun.
Pintu belakang asrama terbuka perlahan, tanpa bunyi berderit, dan satu per satu Elara, Arkan, Celio, Keisha, dan Rafael keluar menyelinap. Mereka semua sudah mengenakan pakaian gelap yang seragam, agar tidak mudah terlihat di kegelapan malam. Tas ransel tergantung di punggung masing-masing, berisi barang-barang yang mereka anggap perlu untuk misi malam ini.
Sesampainya di halaman asrama yang luas dan sepi, mereka berkumpul dalam satu lingkaran kecil. Udara malam terasa menusuk kulit, membuat napas mereka terlihat seperti asap tipis di udara yang dingin itu. Elara menatap satu per satu wajah teman-temannya yang tampak tegang namun siap. Ia berbisik pelan namun jelas, agar hanya mereka saja yang mendengar.
"Semua udah lengkap kan?"
Keisha mengangguk cepat, tangannya memegang erat tali tas di bahunya. "Udah El, semuanya udah siap."
Belum sempat mereka melangkah, Arkan yang sejak tadi berdiri diam dengan wajah serius tiba-tiba bersuara. Nadanya tetap dingin dan datar, namun kata-katanya membuat mereka semua berhenti dan mendengarkan dengan saksama.
"Tunggu dulu. Sebelum kita pergi masuk ke dalam wilayah sekolah, ada satu hal yang paling penting harus kita lakukan dulu. Kita harus membobol atau meretas sistem keamanan sekolah ini, termasuk semua kamera pengawas dan sensor gerak. Kalau Nggak, langkah kita bakal terekam jelas di sana, dan besok pagi semua orang bakal tahu siapa saja yang menyelinap masuk. Dengan sistem yang kita kendalikan, kita bisa bergerak bebas, aman, dan Nggak bakal ketahuan siapa pun sampai kita selesai melakukan apa yang mau kita lakukan."
Keisha mengerutkan keningnya, wajahnya tampak bingung sekaligus khawatir. Ia menatap Arkan lalu bertanya dengan suara berbisik.
"Caranya gimana? Sistem keamanan sekolah ini kan katanya canggih banget, dibuat sama ahli dari luar negeri. Mana mungkin kita bisa mematikannya atau mengacaukannya sembarangan?"
Belum sempat Arkan menjawab, Celio tersenyum lebar, matanya berbinar antusias. Ia menepuk dadanya sendiri dengan percaya diri, lalu berkata dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
"Tenang saja, jangan khawatir. Serahkan semuanya sama gue. Masalah gini mah buat gue itu cuma kayak mainan anak-anak."
Keisha membelalakkan matanya kaget, menatap Celio dengan pandangan tidak percaya. "Kamu? Kamu bisa ngehack sistem canggih macam itu? Serius? Aku baru tahu kalau kamu punya kemampuan sehebat itu, Lio."
Celio terkekeh kecil, lalu segera merogoh bagian dalam tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah iPad berwarna hitam yang agak tebal, terlihat seperti alat khusus yang dimodifikasi sendiri. Ia mengangkat benda itu tinggi-tinggi di depan wajahnya, seolah sedang memamerkan piala kemenangan.
"Bisa lah, masa enggak. Nih buktinya. Alat ini sudah gue siapkan jauh-jauh hari, cuma belum sempat gue pakai. Jangan lihat gue selalu santai dan suka bercanda ya, di bidang teknologi dan sistem jaringan, gue nggak kalah hebatnya sama siapa pun. Bahkan guru komputer kita saja kadang kalah cepat sama gue."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Celio segera mulai bekerja. Ia duduk di atas rumput halaman, menaruh iPad itu di atas pangkuannya, lalu mulai menggerakkan jari-jarinya dengan sangat cepat di atas layar sentuh. Gerakan tangannya begitu lincah dan terampil, seolah sudah melakukan hal ini ribuan kali sebelumnya. Di layar itu muncul berbagai kode, tulisan, dan gambar yang bergerak cepat, yang sama sekali tidak dimengerti oleh teman-temannya yang lain.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara ketukan jari di layar dan hembusan napas mereka yang menahan cemas. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam bagi mereka. Sesekali Celio mengerutkan keningnya, sesekali ia tersenyum kecil, seolah sedang melawan musuh yang tangguh namun bisa dikalahkan.
Hingga akhirnya, Celio menghela napas panjang, lalu menekan satu tombol terakhir di layar. Ia menutup iPad-nya, lalu menoleh ke arah teman-temannya dengan senyum kemenangan yang lebar di bibirnya.
"Nah, selesai! Sistemnya udah terhack sepenuhnya. Mulai detik ini, semua kamera pengawas di seluruh area sekolah dan asrama hanya akan menayangkan rekaman kosong atau gambar yang sudah diputar sebelumnya. Sensor gerak juga sudah gue nonaktifkan sementara. Kita aman sepenuhnya."
Mendengar itu, semua orang menghembuskan napas panjang secara bersamaan, rasa cemas yang ada di dada mereka perlahan hilang digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Keisha bahkan tidak bisa menahan diri, ia langsung memeluk bahu Celio dengan antusias.
"Wah, hebat banget kamu! Aku nggak menyangka kalau kamu sehebat ini. Berarti kita benar-benar aman sekarang ya?"
"Tentu saja," jawab Celio bangga sambil mengangkat bahunya. "Percaya sama gue, ini gampang banget buat gue."
Arkan mengangguk pelan, wajahnya masih serius namun kini terlihat lebih tenang. Ia menatap ke arah bangunan sekolah yang besar dan gelap di kejauhan, lalu berkata dengan nada tegas dan dingin.
"Bagus. Sekarang gak ada lagi halangan. Ayo, kita langsung masuk ke dalam sekolah. Waktu kita terbatas, dan kita harus cari petunjuk sebanyak-banyaknya sebelum pagi datang."
Tanpa membuang waktu lagi, mereka berlima segera bergerak melangkah maju. Dengan langkah cepat namun tetap hati-hati, mereka melintasi halaman yang luas, menuju gerbang sekolah.
Pintu utama gedung sekolah yang biasanya terkunci rapat dengan sistem keamanan canggih, kini terbuka lebar tanpa hambatan sedikit pun, berkat keahlian Celio yang sudah melumpuhkan seluruh sistemnya sejak tadi. Mereka berlima melangkah masuk satu per satu, dan segera suasana hening, dingin, serta agak menyeramkan menyelimuti mereka seketika.
Hanya cahaya remang-remang dari lampu darurat yang menyala di sepanjang koridor panjang itu, namun tidak cukup terang untuk melihat segala sesuatu dengan jelas. Maka, mereka semua segera menyalakan senter dari ponsel masing-masing. Berkas cahaya putih yang kecil itu bergerak-gerak membelah kegelapan, menyapu dinding-dinding yang penuh lukisan dan piala penghargaan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang mengikuti gerakan mereka. Suara langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang lorong kosong itu, terdengar jelas dan membuat suasana makin terasa mencekam.
Keisha berjalan tepat di samping Elara, matanya berkeliling melihat sekeliling dengan hati-hati, sementara tangannya sedikit gemetar karena campuran antara rasa takut dan penasaran. Setelah berjalan beberapa saat dalam keheningan, akhirnya ia membuka mulutnya, berbicara dengan nada berbisik pelan agar tidak menimbulkan gema yang terlalu keras.
"Kita mau kemana dulu nih? Gedung sekolah ini luas banget, hampir mirip labirin. Kalau salah jalan, kita bisa tersesat sampai pagi lho. Apakah kita punya tujuan yang jelas, atau cuma mau muter-muter cari petunjuk?"
Semua orang pun menoleh, menunggu jawaban. Arkan yang berjalan paling depan, memimpin jalan, tiba-tiba berhenti melangkah. Ia memutar badannya sedikit, menghadap mereka semua, wajahnya tetap datar namun sorot matanya tajam dan penuh pertimbangan.
"Kita cari ke ruang arsip rahasia," jawab Arkan singkat namun tegas, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan itu.
Rafael yang berjalan di belakang, mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu. Ia maju selangkah, bertanya dengan nada bingung.
"Ruang arsip rahasia? Itu kan tempat paling tertutup dan paling dijaga ketat di seluruh sekolah ini, cuma orang-orang paling berwenang aja yang boleh masuk. Kita ngapain cari ke sana?"
Arkan menggeleng pelan, lalu mulai menjelaskan dengan nada tenang namun meyakinkan, seolah sudah memikirkan semuanya jauh hari sebelumnya.
"Karena kalau kita cari di tempat-tempat yang gampang dijangkau dan biasa dilihat orang, apa yang bakal kita temuin? Pasti cuma hal-hal yang sudah disiapkan buat dilihat orang lain, hal-hal yang aman dan tidak berbahaya. Rahasia besar yang disembunyiin mati-matian sama Nyonya Tamara, nggak bakal disimpen di tempat yang gampang ditemuin, kan? Dia orang yang sangat hati-hati dan cerdik, dia tahu persis mana tempat yang aman buat menyimpan barang atau dokumen penting."
Arkan berhenti sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya sambil menatap satu per satu wajah teman-temannya.
"Ruang arsip rahasia itu adalah tempat di mana semua catatan penting, dokumen sejarah sekolah, data murid dan staf yang rahasia, sampai laporan-laporan kejadian yang dianggap sensitif atau berbahaya semuanya disimpen di sana. Di situlah tersimpan jejak paling lengkap soal apa saja yang terjadi di sekolah ini sejak puluhan tahun yang lalu. Kalau memang ada sesuatu yang disembunyiin, entah itu soal kematian Dinda, soal kebakaran yang aneh-aneh, atau soal asal-usul sekolah ini sendiri, pasti jejaknya ada di sana. Di tempat lain kita cuma bakal buang waktu dan nggak dapet apa-apa."
Mendengar penjelasan itu, wajah mereka semua perlahan berubah dari bingung menjadi paham, lalu setuju. Elara mengangguk mantap, ia sadar bahwa pemikiran Arkan memang lebih dalam dan jauh ke depan dibanding yang lain.
"Kamu benar, Arkan. Kalau kita mau cari kebenaran yang sesungguhnya, kita harus cari di tempat yang paling tertutup dan paling jarang diketahui orang. Itu satu-satunya cara supaya kita nggak cuma dapet permukaannya aja, tapi juga inti dari semuanya," kata Elara tegas.
Celio pun ikut angkat bicara, tersenyum kecil sambil mengangkat bahu.
"Yah, masuk akal juga. Lagipula sistem keamanan di sana kan sudah gue lumpuhin semuanya, jadi kita bisa masuk dengan tenang. Jadi nggak ada alasan buat takut lagi kan? Ayo aja, makin lama kita diam di sini makin dingin juga rasanya."
Keisha mengangguk setuju, meski wajahnya masih terlihat sedikit khawatir namun kini lebih siap. "Kalau begitu, aku juga setuju. Kita mulai dari sana aja. Semoga saja di sana kita bisa nemuin petunjuk yang bener-bener berguna."
Rafael pun akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu ayo kita ke sana. Percaya sama kamu, Arkan, kamu yang paling paham jalan dan tujuannya."
Melihat semuanya sudah sepakat, Arkan kembali berbalik badan, menatap lorong gelap di depannya dengan pandangan tajam.
"Bagus. Ikut gue, jalan ke sana agak berbelok-belok dan lewat lorong-lorong yang jarang dilalui orang, jadi jangan ada yang nyasar atau tinggal di belakang. Hati-hati, meski sistem keamanan sudah mati, kita tetap harus berjalan pelan dan tidak berisik."
Tanpa menunggu lagi, Arkan kembali melangkah maju memimpin jalan. Berkas cahaya senter mereka kembali bergerak melintasi kegelapan, mengikuti langkah pemuda itu. Dengan langkah hati-hati dan perasaan yang bercampur antara harapan dan ketegangan, mereka berlima terus berjalan menyusuri koridor demi koridor, naik turun tangga, menuju bagian paling tersembunyi dari gedung sekolah itu: ruang arsip rahasia yang menyimpan seluruh rahasia gelap Sekolah Hantage Academy.