NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Heboh di Ruang Tengah dan Rahasia yang Bocor

Perjalanan pulang dari kawasan Braga ke rumah mereka tidak memakan waktu lama karena posisi rumah mereka yang berada di dalam area Kota Bandung. Begitu pintu depan diketuk, Ibu langsung membukakan pintu dengan wajah lega, menyambut kedua anak gadisnya yang baru saja menghabiskan waktu seharian di luar.

"Aduh, anak-anak Ibu udah pulang. Gimana jalan-jalannya? Bandung lagi macet banget ya hari Minggu begini?" tanya Ibu sambil mengambil alih beberapa kantong plastik berisi sisa camilan kuliner yang dibawa Alisha.

Belum juga Alisha sempat menjawab dan melepas flatshoes-nya dengan benar, Aleta sudah menerobos masuk ke ruang tengah dengan langkah heboh. Energinya seolah tidak ada habisnya sejak siang tadi, seakan-akan baterai di dalam tubuhnya baru saja diisi ulang.

"Ibu! Bapak! Sini deh, Aleta punya berita hot banget, bener-bener mengguncang dunia per-asmaranaan keluarga kita!" seru Aleta lantang. Ia langsung mengempaskan dirinya di atas karpet bulu dekat Bapak yang sedang asyik menonton berita malam di TV.

Bapak menurunkan kacamata bacanya sedikit ke ujung hidung, menatap anak bungsunya itu dengan dahi berkerut tapi bibirnya tersenyum maklum. "Berita hot apa toh, Nduk? Datang-datang kok langsung heboh sampai suaranya kedengaran ke tetangga sebelah."

Alisha yang baru masuk menyusul ke ruang tengah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. Ia memilih duduk di sofa, meletakkan tas kanvasnya, dan bersiap mengamati adiknya yang sudah tidak sabar membeberkan rahasia besar kakak tertua mereka.

"Jadi gini, Pak, Bu..." Aleta sengaja memajukan badannya, memasang wajah super serius yang dibuat-buat. Ibu yang baru kembali dari dapur membawa nampan berisi air minum langsung ikut penasaran dan duduk di sebelah Bapak. "Tadi pas aku sama Mbak Alisha lagi foto-foto estetik di Jalan Braga, tebak kita ketemu siapa?"

"Ketemu siapa? Artis? Atau temen sekolah kamu?" tebak Ibu polos.

"Bukan, Bu! Salah besar! Kita ketemu Kak Aryan! Dan tebak lagi, dia gak sendirian, tapi lagi gandengan tangan erat banget sama cewek cantik, pake jilbab, anggun banget mirip mahasiswi di TV!" cerocos Aleta tanpa rem, matanya berbinar-binar penuh kemenangan karena berhasil menangkap basah kakaknya.

"Lho, beneran, Sha? Kamu jangan mau dibohongi sama banyolan adikmu itu," Ibu langsung menoleh ke arah Alisha, meminta konfirmasi karena tahu anak keduanya itu tidak pernah berbohong.

Alisha terkekeh pelan lalu mengangguk pasti. "Iya, Bu, bener kata Aleta. Tadi kita bahkan sempat diajak mampir ke kafe juga sama Kak Aryan buat kenalan bareng-bareng. Namanya Kak Risa, anaknya baik banget, pembawaannya tenang, peka, dan ternyata kuliah jurusan psikologi di salah satu kampus di Bandung sini juga."

Mendengar konfirmasi langsung dari Alisha, wajah Ibu langsung berubah cerah secerah lampu neon. Tangan Ibu refleks menepuk paha Bapak dengan gemas.

"Ya ampun, alhamdulillah... akhirnya anak bujang Ibu satu-satunya itu laku juga! Ibu tuh ya, diam-diam sering cemas mikirin Aryan, Pak. Kerjanya di pabrik sepatu terus, berangkat pagi pulang malem, muka ditekuk kaku kayak kanebo kering. Kirain gak kepikiran buat nyari pacar karena sibuk kerja," ujar Ibu panjang lebar dengan nada lega yang sangat kentara.

Bapak di sebelah Ibu tertawa renyah, mengambil sejumput tembakau untuk dilinting. "Nah, bener kan kata Bapak, Bu. Aryan itu biar pendiam, bergerak dalam senyap dia. Sekali dapet langsung yang bener. Kuliah psikologi pula, berarti pinter dan sabar itu bocah."

"Iya, Pak! Tadi aja pas kita di kafe, Kak Aryan mukanya merah padam terus pas digodain sama aku. Mana jaimnya minta ampun, sok-sok tegap padahal tangannya gemeteran!" Aleta tertawa terbahak-bahak, memperagakan gaya kaku Aryan yang membuat Bapak dan Ibu ikut tertawa lepas memenuhi ruang tengah.

Di tengah keriuhan itu, Alisha menyandarkan punggungnya ke sofa. Suasana rumah terasa begitu hangat. Rasa lelah setelah seharian berkeliling Bandung seolah menguap begitu saja. Di sela tawa adiknya, Alisha diam-diam menyentuh dadanya sendiri. Kalimat-kalimat bijak dari Risa di kafe tadi masih terngiang jelas di kepalanya, memberikan rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Eh, terus Aryan-nya mana sekarang? Kok gak pulang bareng kalian?" tanya Bapak menyadari anak laki-lakinya belum juga kelihatan batang hidungnya.

"Ya elah, Bapak polos banget deh," sahut Aleta sambil mengibaskan tangannya dengan gaya dramatis. "Kak Aryan kan pacar yang bertanggung jawab, Pak. Tadi pamitnya mau nganterin Kak Risa dulu balik ke rumahnya di daerah Jatinangor. Katanya sih demi keselamatan, tapi aslinya mah pengen modus perpanjang waktu berduaan di jalan!"

"Huss, kamu ini kalau ngomong suka gak disaring!" Ibu mencubit pelan lengan Aleta, membuat gadis itu mengaduh sambil tetap tertawa-tawa.

Waktu terus bergulir hingga jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Suasana ruang tengah sudah mulai sepi. Bapak sudah masuk ke kamar karena harus bangun pagi-pagi sekali besok, sedangkan Ibu sedang menyelesaikan setrikaan terakhir di kamar belakang. Aleta sendiri sudah terkapar tidur di kamarnya, kelelahan setelah energinya habis dipakai tertawa sepanjang malam.

Hanya ada Alisha yang masih duduk di meja makan dekat dapur, ditemani sebuah lampu belajar yang remang. Di depannya, sebuah buku novel baru yang dibelinya kemarin terbuka, namun fokusnya pecah saat mendengar suara kunci pintu depan diputar dari luar.

Klek.

Pintu terbuka pelan, memunculkan sosok Aryan yang melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah takut membangunkan seisi rumah. Jaketnya tersampir di pundak, dan wajahnya tampak lelah setelah menempuh perjalanan motor yang cukup jauh dari Jatinangor kembali ke rumah.

Namun, langkah Aryan terhenti saat melihat Alisha masih terjaga di dapur.

"Belum tidur, Sha?" tanya Aryan dengan suara berbisik, berjalan mendekati meja makan.

Alisha mendongak dan tersenyum tipis. "Belum, Kak. Lagi tanggung baca bab terakhir. Kak Aryan mau Alisha ambilin makan? Lauk ayam gorengnya masih ada di lemari makan, tadi Ibu sengaja sisihin banyak buat Kakak."

"Nggak usah, Kakak udah makan tadi sama Risa sebelum dia masuk rumah," jawab Aryan, menarik salah satu kursi kayu di hadapan Alisha lalu duduk di sana. Ia mengembuskan napas panjang, melepaskan penatnya.

Alisha menutup novelnya pelan, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap sang kakak dengan pandangan menggoda yang mirip dengan Aleta, tapi jauh lebih tenang. "Gimana, Kak? Aman anterin Kak Risa sampai rumah?"

Aryan langsung salah tingkah. Ia menggosok tengkuknya yang tidak gatal, mencoba menghindari tatapan menyelidik adiknya. "Aman. Jatinangor lumayan berangin tadi di jalan."

"Kak..." Alisha menjeda kalimatnya, membuat Aryan kembali menatapnya. "Makasih ya."

Aryan mengernyitkan dahi. "Makasih buat apa?"

"Buat tadi di kafe. Dan... makasih udah kenalin kita sama Kak Risa. Alisha suka banget sama dia. Orang nya baik, peka banget lagi," ucap Alisha tulus.

Raut wajah Aryan yang semula tegang langsung melunak. Senyum hangat yang jarang ia perlihatkan akhirnya terbit. Ia memandangi Alisha dengan tatapan protektif abangnya yang khas.

"Risa emang orangnya begitu, Sha. Dia selalu bisa liat hal baik dari orang lain, bahkan saat orang itu sendiri gak bisa liat kelebihannya," kata Aryan, suaranya terdengar emosional dan penuh rasa hormat untuk kekasihnya. Aryan memajukan badannya sedikit. "Tadi pas di motor, di jalan pulang, Risa banyak cerita tentang kamu."

"Cerita apa?" Alisha penasaran.

"Dia bilang, kamu itu anak yang luar biasa pinter. Dia kagum banget pas tahu kamu juara olimpiade fisika. Risa juga bilang... kulit sawo matang kamu itu mahal, eksotis, dan keliatan anggun banget. Dia minta Kakak buat jagain kamu terus, jangan sampai ada orang luar yang ngerusak rasa percaya diri kamu," tutur Aryan dengan nada suara yang bergetar rendah.

Air mata Alisha hampir saja luruh mendengar ucapan kakaknya. Ternyata, Risa tidak hanya bicara manis di depannya saat di kafe tadi, tapi gadis itu benar-benar tulus memikirkannya hingga menceritakannya lagi pada Aryan.

"Kak Aryan pinter banget nyari pacar," cicit Alisha sambil menghapus sudut matanya yang sedikit basah, mencoba tertawa kecil untuk menutupi rasa harunya.

Aryan mengulurkan tangannya yang kasar akibat kerja keras di pabrik, lalu mengacak rambut hitam Alisha dengan penuh kasih sayang. "Makanya, kamu jangan pernah minder lagi, ya? Dengerin apa kata Risa tadi. Kamu itu permata di rumah ini, Sha. Kakak, Bapak, sama Ibu bangga banget punya kamu."

Alisha mengangguk kuat-kuat. "Iya, Kak. Alisha janji."

"Ya udah, sekarang masuk kamar, tidur. Udah malam banget ini, besok kamu harus sekolah," perintah Aryan sambil berdiri dari kursinya.

"Kak Aryan juga langsung istirahat ya, besok kan harus shift pagi di pabrik," balas Alisha sambil merapikan bukunya.

"Iya. Tapi bentar, Sha..." Aryan menahan langkah Alisha di ambang pintu dapur, wajahnya mendadak berubah agak ngeri. "Aleta... tadi pas Kakak belum pulang, dia gak bikin gosip yang aneh-aneh kan ke Ibu sama Bapak?"

Alisha langsung tertawa geli mengingat kehebohan Aleta beberapa jam yang lalu. "Wah, kalau itu sih... Kakak siap-siap aja besok pagi pas sarapan diinterogasi total sama Ibu. Aleta udah bocorin semuanya tanpa sisa!"

"Aduh, bocah itu bener-bener ya..." Aryan menepuk jidatnya sendiri dengan pasrah, membuat Alisha tertawa renyah meredam sunyinya malam.

Malam itu, di bawah atap rumah mereka di Bandung, Alisha tidur dengan senyuman yang merekah. Luka-luka kecil di hatinya tentang penampilan fisik perlahan-lahan mulai mengering, digantikan oleh fondasi rasa percaya diri baru yang kokoh, siap untuk menghadapi hari Senin dan tentu saja... menghadapi debat kusir berikutnya bersama Shaka di sekolah.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!