NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

"Han, kamu duluan aja, soalnya aku masih ada urusan sebentar."

"Urusan opo, to?" Hana penasaran.

"Bukan apa-apa, cuma mau cari informasi soal obat herbal buat Mas Rusli."

"Yo wes kene o tak ter no." Hana memnag teman yang tulus. (Ya sudah, ayo aku antar.)

"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kamu duluan aja, biar bisa bantu ibumu di warung."

"Tenan?" (Yakin?)

"Iya, Hana Nur Utami." Jawaban Rea membuat Hana tertawa. Akhirnya teman dekat Rea itu pun pergi dengan motor metic-nya meninggalkan Rea di parkiran.

Rea baru juga mau melangkah, saat tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Ia hampir saja teriak karena takut, tapi pria yang menariknya buru-buru menurunkan maskernya. Membuat Rea urung berteriak.

"Bapak, mau apa?"

"Gue pikir cafe nggak aman buat kita bicara, jadi ikut gue sekarang!" Dewa menarik tangan Rea dan membawanya ke mobil.

Rea tak mau ikut begitu saja. Ia terdiam beberapa saat di depan pintu mobil yang dibuka oleh Dewa.

"Gue nggak ada niatan buruk sama lo, naik aja," ujar Dewa meyakinkan. Ia seolah tahu keraguan di hati Rea.

Rea menatap Dewa yang masih berdiri di sampingnya, dan memutuskan untuk ikut apa kata Dewa.

Pria itu tersenyum penuh arti. Pikirnya, jalan keluar untuk masalahnya akan segera terwujud. Ia menyetir sendiri mobil yang ia pinjam dari Galih, dan pamit pada Luky akan bertemu teman lama tanpa managernya itu.

Rea terdiam, sejauh ini masih mengamati jalan ke mana pria ini akan membawanya. Semua jalan yang terlewati, Rea sudah hafal, dan bukan jalan yang mencurigakan. Mobil terus melaju, dan baru berhenti setelah sampai di parkiran sebuah pusat perbelanjaan. Dewa tidak turun, pun tak meminta Rea turun.

"Kita bicara di sini saja. Ini lebih aman," ujar Dewa.

Setelah memikirkan semua, Dewa merasa bertemu dengan pegawai hotel ini di tempat terbuka bisa menimbulkan masalah baru. Tidak ada yang menjamin privasinya terjaga. Bahkan di jaman sekarang gampang sekali orang mengambil foto dan mengunggahnya ke internet dengan caption-caption yang tidak benar kebenarannya.

Rea menoleh ke belakang, ke kanan dan kiri. Ia tak masalah bicara di mana pun. Ia tahu kalau pria ini mempertimbangkan bidikan kamera yang bisa tertuju pada mereka tanpa ijin.

"Anda mau bicara apa?" Rea tidak mau basa-basi.

"Gue mau kerjasama sama lo. Gue tahu lo butuh duit, dan gue bisa kasih itu ke lo asal lo mau kerjasama sama gue."

Rea menatap heran pada Dewa.

"Lo nggak usah mikir dari mana gue tahu lo butuh duit, yang pasti semua benar, kan?" Sebenarnya Dewa sempat mendengar obrolan antara Rea dan temannya waktu makan di warung Lamongan tempo hari.

Hal itulah yang membuat Dewa memutuskan untuk memilih Rea menjadi rekannya. Juga setelah kemarin ia mengetes Rea dengan sengaja meninggalkan dompetnya di wastafel, dalam dompet itu ada banyak uang tapi tak sedikit pun berkurang saat Rea mengembalikannya.

Dewa tahu itu klise, karena kalaupun bukan Rea pasti juga akan mengembalikan dompetnya karena semua bagian dari SOP pekerjaan sebagai housekeeping. Tapi, entah kenapa ia yakin Rea adalah orang yang tepat untuk diajak kerja sama.

"Kerjasama seperti apa yang Bapak maksud?"

"Jadi istri gue."

Mata Rea membola. Ia ingin sekali tertawa mendengar lelucon yang pria ini katakan.

"Bapak nggak salah ngomong?"

Dewa mengangguk yakin. "Gue serius."

"Maaf, sepertinya Bapak mabuk. Saya permisi, Pak." Rea memegang handle pintu mobil. Ingin pergi saja. Orang ini sudah mulai bicara omong kosong.

Dewa menahan tangan Rea yang henda turun. "Dengerin gue dulu."

Rea urung turun. Ia menatap Dewa serius. "Bapak mungkin harus istirahat, besok kita bisa bicara lagi saat Bapak sudah lebih baik."

"Gue nggak mabok, apa yang gue katakan ini serius. Gue mau lo nikah sama gue, dan ini semua hanya pernikahan kontrak. Dalam waktu 3 bulan, kita akan cerai. Dan saat itu gue akan bayar kompensasi buat lo. Berapa pun yang lo minta."

Rea tersenyum sinis. "Kalau saya minta 1 milyar, apa Bapak bersedia?"

"Ok, deal!" Dewa menjabat tangan Rea. Segampang itu Dewa bilang deal.

Semua ucapan Dewa itu terus terngiang di telinga Rea. Bahkan setelah pria itu mengantar Rea pulang ke kosan.

Dia menyetujui 2 milyar yang Rea ucapkan. Padahal nominal itu sebenarnya untuk menakut-nakuti agar pria itu mundur dari niat kerjasama aneh ini.

Pernikahan kontrak?

Apa ini tidak berlebihan. Seperti cerita novel atau drama saja.

Di tengah keraguan dan kebingungan yang melanda, lagi-lagi ponsel jadul Rea berdering.

Mbak Tatik calling ....

"Assalamualaikum, ya, Mbak ...."

["Re, kamu ini gimana sih, ini udah berapa hari, kok uangnya belum kamu kirim juga. Aku tuh sampai malu, Re, sama Mas Sapto gara-gara ditanyain terus jadi berobat apa nggak. Di udah baik mau anter aku dan Masmu buat berobat, tapi kamu kayak nggak mau dukung Masmu buat sembuh gitu, lho."] Baru juga tersambung, Tatik terus saja nyerocos.

"Ini aku juga lagi usaha, Mbak." Rea menjawab dengan kalem.

["Terus sampai kapan, Re, Masmu ini butuh pengobatan segera, terus ini mumpung ada orang yang mau anter dengan ikhlas. Sebenarnya kamu itu pengen Masmu itu sembuh nggak, to?"]

"Ya tentu pengen dong, Mbak."

"Ya makanya usahakan secepatnya. Aku kalau punya duit sendiri nggak bakal aku ngemis-ngemis sama kamu. Aku pasti akan bawa Mas Rusli ke rumah sakit tanpa harus minta uang ke kamu. Tapi aku lagi nggak ada duit, Re. Kamu itu satu-satunya saudara Mas Rusli, kamu juga udah disekolahin Mas Rusli sampai kamu udah punya pekerjaan tetap. Sekarang sudah sewajarnya kamu membalas semua Kebaikan Mas Rusli ke kamu."

"Iya, Mbak, aku tahu. Secepatnya aku kirim nanti."

["Bener ya, Re. Mbak nggak mau tahu kamu harus cari uang itu sekarang."]

Rea tak menjawab sampai kakak iparnya memutuskan panggilan.

Sekarang Rea dibuat bingung, apakah ia harus menerima tawaran Dewa. Bayarannya sangat besar untuk kerja 3 bulan. Bahkan kalau di hotel kerja setahun pun belum tentu mendapat uang sebanyak itu. Kalau ia terima, ia bisa bayar pengobatan kakaknya sampai tuntas. Tapi, apa ia siap dengan resikonya. Ini menikah, menjadi istri, yang artinya bukan main-main.

Terima nggak, ya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!