Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Ayasha dan Elvara duduk di kursi khusus sedangkan kedua suami mereka tidak ada di sana sebab mungkin saja membicarakan bisnis lebih penting di pesta kali ini.
"Jadi menurut kamu apakah Calista akan hadir hari ini?" Elvara membuka percakapan.
"Iya, jika mengingat lagi momen dalam bab sepertinya dia akan datang sekarang!" angguk Ayasha antara yakin dan tak yakin.
"Kita tunggu saja!" ujar Elvara sambil meminum jusnya.
Tidak berselang lama, orang yang mereka tunggu benar-benar hadir, keduanya saling tatap dan mengangguk sebagai kode.
Keduanya sudah sepakat akan memanfaatkan Calista agar lepas dari kedua tuan muda itu, sebab bagaimana pun mereka tidak mau terus terjebak dan lagi di cerita asli Rayandra lebih mencintai Calista dari pada dirinya.
"Ayo mulai!" bisik Ayasha.
Elvara mengangguk, dia berdoa semoga rencana kali ini akan berhasil dan membuat Rayandra mau menceraikan dia, jujur saja dirinya lebih baik jadi janda dari pada harus bertahan sama pria seperti Rayandra yang keras kepala dan suka menuduh itu.
BYUR!
"Ah, aku minta maaf!" bisik Elvara, dia menumpahkan minuman di gaun yang Calista kenakan malam ini.
"Kau... Apa kau buta?" bentaknya dengan marah.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja," kata Elvara dengan wajah memelas.
"Tidak sengaja? Kamu menumpahkan minuman ke gaunku dan sekarang bilang tidak sengaja?" hardik Calista dengan marah.
Calista mendelik, dia menatap Elvara dengan marah sebab membuat dia kehilangan gaun yang menjadi kunci untuk mendekati Rayandra.
Sedangkan keributan itu di lihat oleh Rayandra dan Ardhanaya tentu keduanya segera meninggalkan obrolan penting itu demi melihat kejadian yang terjadi kali ini.
"Aku kan sudah minta maaf, kenapa masih saja marah-marah? Apa kamu tidak tahu siapa aku?" Elvara juga marah dengan menatap Calista.
"Kau berani?"
"Kenapa tidak?" jawabnya menantang.
Sedangkan Calista yang melihat kedatangan Rayandra dan Ardhanaya pun mendelik, dia segera memasang wajah memelas seperti ialah yang tertindas dan lemah.
"Nyonya Elvara, maafkan saya karena dengan berani menabrak anda, saya benar-benar tidak sengaja!" suaranya serak dan itu malah membuat Elvara mendelik tak percaya.
'Apakah Rayandra kemari?' pikir Elvara.
"Nyonya, saya minta maaf!" Calista mendadak bersujud dan itu membuat Elvara terkejut.
'Apakah harus sampai bersujud?' pikiran Elvara kacau.
Karena kelakuan Calista itu Elvara sampai di gosip kan buruk dan sopan santun juga etikanya di pertanyakan, sebab Elvara adalah putri dari Gunawan yang kaya.
"Nyonya, anda boleh pukul saya, tapi tolong jangan marahi saya dan menghina saya menggoda Kakak Rayandra," cicit Calista dengan suara serak dan parau.
Belum sempat Elvara menjawab, seseorang menarik ia hingga membuat wanita itu terkejut.
DEGH!
"Rayan?" cicit Elvara dengan wajah pucat pasi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rayandra dengan wajah datar dan sorot mata penuh keingintahuan.
"Ray, it-itu... " suara Elvara terbata.
Tatapan Rayandra yang tak bersahabat membuat Elvara tak bisa berkutik apalagi posisi Calista yang nampak menyedihkan semakin menyudutkan Elvara yang ketakutan dan gemetar.
Sedangkan Calista, dia menundukkan wajah seolah menyembunyikan kebenaran di balik mata gelapnya yang tertutup air mata palsu dan penuh tipu muslihat.
...****************...
Ayasha menatap tajam, darahnya mendidih melihat kakaknya terpojok tanpa daya. Suara hatinya berteriak.
Tak apa rencana mereka gagal lagi, dan semua terasa sia-sia, ini demi kebaikan nama mereka di antara kerumunan mata yang saat ini telah menghakimi mereka tanpa ampun.
"Kenapa? kamu mau membela wanita itu? Padahal jelas kakakku sudah meminta maaf, hanya karena sebuah kesalahan kecil yang tak di sengaja!" Suaranya menggelegar, penuh amarah yang tak terbendung. "Kalau kamu masih ragu, tanya saja pada mereka yang melihat langsung, atau cek CCTV!"
Pucat pasi wajah kakaknya membuat dada Ayasha serasa diremas, sakit dan marah sekaligus.
Ardhanaya, untuk pertama kalinya, mengangguk setuju dengan ucapan istrinya Ayasha, suaranya berat, "Sudahlah, kak. Banyak pasang mata yang menyaksikan semua ini. Lebih baik kita fokus pada bukti daripada berdebat tanpa ujung."
Rayandra menghela napas panjang lalu mengangguk, raut wajahnya penuh pertimbangan.
Sementara Elvara, walau masih terbungkus ketakutan dan tahu rencana yang telah dia susun dengan Ayasha telah gagal, dirinya tetap setia memainkan peran dalam sandiwara yang semakin panas ini.
Dia menunduk, dan membantu Calista untuk berdiri tak lupa ia mengucapkan kata maaf pada Calista.
“Maafkan aku, Calista... Aku benar-benar tidak sengaja,” Elvara berbisik dengan suara serak, matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat meraih pipi Calista, dengan hati-hati menyeka air mata yang membasahi wajahnya.
Namun, di balik kelembutan itu, ada kegelisahan yang membara dalam dadanya. “Tolong jangan begini... Aku jadi terlihat seperti orang jahat,” lanjutnya penuh putus asa.
Sementara itu, Calista menggertakkan giginya keras-keras, amarah dan kekecewaan meledak di hatinya.
Apa ini berarti rencananya akan gagal lagi? Dia tidak boleh kalah, tidak boleh. Ia harus membuat Rayandra membenci istrinya sendiri.
Api dendam dan tekad mengalir deras di dalam dirinya, membakar setiap sisa rasa gentar yang mencoba merayap. Kali ini, dia harus menang.
Saat semua pasang mata tertuju padanya, Calista tak menyia-nyiakan momen itu untuk menjatuhkan Elvara dengan kata-kata beracun.
Tubuhnya terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras, namun terasa penuh kepura-puraan. “Aduh... Nyonya Elvara, kenapa Anda mendorong saya? Kalau memang tidak ikhlas membantu saya berdiri, lebih baik anda diam saja,” ucapnya dengan nada menyayat hati, berusaha memancing simpati sekaligus rasa kasihan publik.
Rayandra yang menyaksikan drama itu segera melangkah maju, menarik Elvara ke sisinya dengan tatapan penuh amarah yang mencoba disembunyikan. “Cukup!” suaranya berat, memotong kegaduhan yang semakin melebar.
Dengan mata yang kini penuh waspada, Rayandra menoleh kepada bodyguard yang berdiri tidak jauh. “Bantu nona Calista berdiri. Antar dia ke kamar mandi, dan segera siapkan gaun pengganti.”
Rasa malu mulai menjerat di dada Rayandra. Jika semua ini dibiarkan, bukan hanya nama Elvara yang tercemar, tetapi juga kehormatan Mahatara akan hancur di mata para mitra bisnis mereka.
Setelah melihat CCTV tentang kejadian tersebut, Rayandra tahu bahwa memang istrinya tak sengaja menumpahkan minuman ke gaun Calista.