Bagaimana jika kita di jodohkan dan ternyata kita sudah menyukai laki-laki itu dari pandangan pertama? tentu rasanya seperti semesta memberikan restu pada kita.
Clara seorang gadis cantik, manja, periang dan humble akan di jodohkan dengan seorang laki-laki bernama bastian, laki-laki yang arogan dan sombong, meski dia sangat tampan, Clara sudah menyukai Bastian dari awal dia melihatnya, namun sikap bastian justru sebaliknya pada Clara, Clara di anggap orang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah Cinta Clara?apakah Bastian akan mencintai Clara ?
yuk terus baca karyaku ya.....
jika ada kesalahan dalam penulisan tolong beri kritik dan sarannya
jangan lupa dukung karyaku dengan memberikan, like,comment,dan vote ya
terima kasih
Happy reading
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
sayang kalian semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 23 serangan Bastian
Gerbang mewah otomatis terbuka saat mobil Bastian memasuki rumah yang didominasi dengan cat putih. Bastian menghentikan mobilnya di halaman rumah Om Wiguna, yang memiliki dua pilar simetris dengan beberapa ukiran di setiap pilarnya. Kemewahan semakin terasa saat kita memasuki ruang tamu, Lantai marmer, lampu gantung dan sofa bergaya klasik dengan motif ukiran kayu yang megah menambah kesan mewah ruang tamu yang menghubungkan langsung dengan meja makan.
"Anak mami akhirnya pulang juga!" sambut mami Bastian sambil mencium kedua pipi anak kesayangannya
"Hmm mami..." Bastian menarik kepalanya saat bibir sang mami menempel di pipinya,
"Hai...Clara...apa kabar?" tanya tante yolanda sambil memeluk dan menciun kedua pipiku,aku hanya tersenyum kaku.
"Baik tante.." jawabku gugup
"Kok masih panggil tante, panggil aja mami..." ucap tante yolanda. Bastian dengan santai meninggalkanku bersama om wiguna dan tante yolandi di ruang tamu.
"Iyaa maaf mi..." jawabku gugup
"Huh anak itu selalu deh langsung ke kamarnya,!" gerutu Tante Yolanda saat melihat Bastian berjalan menaiki anak tangga
"Iya gak papa tante..mungkin dia kangen suasana kamarnya" jawabku..
"Aldy gak ikut pulang bareng kalian?" tanya tante saat dia tak menemukan Aldy bersama kita
"Aldy tadi bilangnya mau ke kampus dulu, diakan lagi sibuk sama skripsinya" jawab Om Wiguna, Tante yolanda hanya mengangguk.
"Ini tuan cofeenya..." Bi yanah menarush secangkir coffee di depan om Wigguna
"makasi bi" jawab Om Wiguna sambil mengesap secangkir coffee buatan Bi yanah
"Sama sama tuan" jawab Bi yanah sambil menundukan sedikit badannya.
"Non Clara mau minum apa?" tanya Bi yanah
"Gak usah bi, gampang nanti aku bisa ambil sendiri" jawabku tersenyum ke arah wanita paruh baya yang berdiri di hadapanku.
"Siapin makan malam aja ya bi, masakin makanan kesukaan Bastian..." perintah Tante Yolanda
"Baik nyonya..." Bi yanah kembali ke tempat tugasnya, apa lagi kalau bukan dapur.
"Mi, Pi...Clara keatas dulu ya, mau liat kamar Bastian" pintaku, pada Om dan Tante yang sedang bersantai di ruang tamu.
"Oh..ya udah sana, papi juga mau mandi dulu gerah" jawab Om Wiguna sambil beranjak dari kursinya
"Iya sana...samperin suaminya" ledek tante yolanda. Aku hanya tersenyum dan berlari menaiki anak tangga. Di atas ternyata ada dua kamar yang bersebelahan, Ruang keluarga, toilet, dan ada dapur kering yang hanya menyediakan coffee maker, kompor listrik satu tungku, dan beberapa piring berbahan keramik
kamar Bastian yang mana ya? fikirku sambil memandang dua pintu yang tertutup.
ini kali ya... gumamku. Aku membuka sebuah kamar yang tidak terlalu luas namun penataannya sangat rapi, semua sudah di atur posisinya sedemikian rupa, selain rapi kamar ini juga begitu bersih dan wangi, di atas nakas terdapat sebuah foto Aldy dan keluarganya.
Rupanya ini kamar Aldy gumamku sambil menutup kembali pintu kamar.
KREAK!!! ku buka dengan perlahan kamar sebelahnya, Kamar ini sangat luas dengan kasur ukuran king size dan berbagai fasilitas seperti sofa kecil yang berada di sudut ruangan, Video game teranyar, dan tv plasma berukuran 42 inch.
Mataku dengan cepat menemui tubuh Bastian, yang sedang berbaring di sebuah kasur, sepertinya dia terlihat sangat lelah. Aku berjalan dengan perlahan mendekati tubuh Bastian, kulihat matanya tertutup dengan mulut yang menganga, aku tertawa kecil dan mendapatka ide untuk mengambil gambarnya, dengan cepat aku mengambil ponsel yang berada di saku celana, dan segera mengambil gambar, sayangnya aku lupa mematikan suara saat kamera menangkap gambar Bastian, dengan terkejut ia segera terbangun dan menatapku tajam.
"Kamu mengambil gambarku?" tanyanya kesal
"Tidak...tidak...," Dengan cepat aku menyembunyikan ponselku di belakang badan
"Coba aku lihat ponselmu?" pinta Bastian sambil menarik lengan kananku yang aku lipat kebelakang.
"Ih..gak boleh, apaan sih!" Aku berusaha mempertahankan ponsel tersebut.
"Sini cepat berikan ponselmu! aku tau kamu mengambil gambarku, saat aku tertidur" paksa Bastian, dia menarik tanganku hinga aku terjatuh di atas tubuhnya, kami saling melempar pandangan satu sama lain, wajah kami begitu dekat dan kami hanya terdiam. Saat Bastian sadar dia langsung melempar tubuhku di sampingnya.
"Ngapain kamu natap aku kaya gitu?" tanyanya sambil beranjak dari kasur
"Ihhh siapa yang natap kamu, bukannya kamu yang tadi terpesona, dengan kecantikanku..." jawabku sedikit angkuh
"Hah...terpesona, kamu bukan levelku!!!!" ejeknya sinis. Bastian kemudian berjalan menuju sofa dan duduk di atasnya, sedang aku masih berbaring di kasur menikmati empuknya kasur produksi Amerika ini.
"Ngapain kamu ke kamarku?" tanya Bastian ketus, sepertinya dia sudah lupa dengan gambar dirinya yang ku ambil tadi.
"Pengen tau aja..., kenapa? gak boleh?" tanyaku dengan gaya yang sedikit senga.
"Gak....!!! ini kamarku, hanya aku yang boleh masuk" tegasnya sambil melirik sinis keraahku.
"Kamu tuh terlalu banyak privasi, di apartemen aku tidak boleh memasuki kamarmu, disini juga tidak boleh..." gerutuku kesal. "Yah..meski aku sudah masuk kamar ini"
" Memangnya kenapa kalau terlalu banyak privasi,?"
"Gak.....! Aku curiga kamu menyimpan senjata di kamarmu, atau ganja? hmmm atau jangan-jangan ..." Mataku menatap curiga dengan senyum mengintimidasi
"Jangan-jangan apa? " Raut wajahnya berubah gugup
" Kamu nyimpen Film BF ya...!" Tebakanku membuat Bastian tertawa terbahak-bahak
" Kamu fikir aku laki-laki apaan?lagian udah gak jaman kali kaset BF.....nih disini banyak " Ujar Bastian sambil menunjukan ponselnya " Makanya jangan ponsel aja yang pintar, otak kamu juga harus pintar..." Ledeknya sambil menaruh telunjuk di kepala.
"Jadi...ponsel kamu banyak BF nya dong?" tanyaku polos
"Menurutmu?" tanyanya balik
"Mana aku tahu, pegang ponsel kamu aja gak!" jawabku kesal, senyumannya terlihat seperti mengejek.
"Lagian kenapa kamu terlalu kepo dengan urusanku" Matanya menatap jendela yang berada di samping sudut ruangan
"Ih..aku gak kepo, aku cuman lagi berjaga-jaga aja, dan memastikan aku menikahi laki-laki normal, yang tidak over ****, yang menyimpan beberapa koleksi BF nya di ponsel" jawab ku
" kamu tak perlu khawatir! aku tak akan menyentuhmu lagi" tegas Bastian " kecuali kalau aku terpaksa" gumamnya
"Bastiaaaaannnn," aku melempar bantal tepat ke arah muka Bastian.
" Berani ya kamu melempar bantal ke mukaku!" Bastian berjalan menghampiriku, dadaku berdegup kencang, karena kali ini tatapannya sangat tajam hingga membuat mataku sulit berkedip.
" Mau apa kamu?" Tanyaku, sambil menyeret tubuhku, namun Bastian terus mendekat
" bass.... kamu jangan macam-macam aku bisa teriak!!!"
" teriak saja... orang rumah hanya akan tertawa, saat melihat aku dan kamu sedang bergulat " jawabnya tersenyum sinis
" bass... tadi kamu bilang tak akan menyentuhku?" Tanyaku dengan tatapan takut
" Kan aku bilang kecuali kalau terpaksa " jawabnya, tubuhnya kini mulai berada di atasku
" bass...! Jangan basss!"
wajahnya semakin dekat, hingga nafasnya mampu menggerakkan rambutku.
" Bastian... !!!!" bibirnya berusaha menyentuh bibirku, namun dengan sekuat tenaga aku menghindar.
" permisi Den....!" suara dari balik pintu membuatku dan Bastian terkejut, dengan cepat Bastian berdiri sambil merapikan bajunya, sedang aku masih berbaring dengan rambut yang berantakan.
Bi Yanah terlihat tersenyum malu, memandang aku dan Bastian.
" Maaf Den.... Nyonya memanggil, Den Bastian dan non Clara " ucap Bi yanah, Sepertinya dia melihat apa yang aku dan Bastian lakukan dan berfikir Kami sedang beradegan syur di atas kasur.
" Oh......Iya Bi, nanti kami turun" jawab Bastian. dia menatapku kesal
" selain bodoh ternyata kamu juga ceroboh " bisiknya nya " Bagaimana bisa kamu masuk tanpa menutup pintu "
" yah.......! mana aku tahu, kalau kamu akan menyerangku," jawab ku
" sudah jangan banyak bicara! rapikan rambutmu aku akan turun duluan " jawabnya berlalu pergi.
huh untung saja, jika tidak malam itu akan terulang lagi gerutuku, sambil beranjak dari kasur serta merapikan baju dan penampilanku.
peran utama nya bego banget