NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Finish yang Baru

Minggu ke-38. Kalau hidup saya adalah sebuah naskah film, maka saat ini adalah adegan slow-motion di mana penonton menahan napas menunggu klimaks. Perut saya sudah mencapai ukuran maksimal yang saya bayangkan—rasanya seperti membawa semangka besar yang siap meledak kapan saja. Bimo, di sisi lain, sudah bukan lagi sekadar suami siaga; dia sudah bertransformasi menjadi "ajudan medis pribadi" yang hafal di luar kepala setiap jadwal minum vitamin, frekuensi kontraksi palsu, hingga rute tercepat dari apartemen menuju rumah sakit (dia bahkan sudah melakukan simulasi berkendara di jam sibuk tiga kali seminggu).

Pagi ini, Jakarta sedang diguyur hujan rintik-rintik yang awet. Aroma tanah basah merayap masuk lewat celah jendela studio saya. Saya sedang duduk di kursi goyang—karena duduk di kursi kerja biasa sudah tidak mungkin lagi—sambil membolak-balik album foto yang diberikan Tante Andini minggu lalu.

"Nara, air kelapanya diminum dulu," suara Bimo memecah keheningan. Dia masuk membawa gelas besar berisi air kelapa muda. Wajahnya terlihat sedikit kurang tidur, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tapi semangatnya tidak pernah luntur.

"Makasih, Bim. Kamu sudah cek tas persalinan kita untuk yang kesepuluh kalinya pagi ini?" goda saya sambil menerima gelas itu.

Bimo nyengir, duduk di lantai di samping kursi goyang saya. "Sebelas kali, sebenarnya. Aku baru ingat tadi kalau kita belum masukkan charger HP yang kabelnya panjang. Kamu kan sering mengeluh colokan di rumah sakit suka jauh dari tempat tidur."

Saya mengusap rambutnya. Pria ini, yang dulu hanya memikirkan efisiensi kerja dan profit perusahaan, sekarang bisa memikirkan hal sepele seperti panjang kabel charger demi kenyamanan saya. Itulah pertumbuhan yang paling nyata.

Pesan dari Seberang Lautan

Tiba-tiba, ponsel saya bergetar. Sebuah notifikasi surel masuk. Nama pengirimnya membuat saya dan Bimo saling pandang dengan serius: Panitia Pengawas Hukum Swiss.

Isinya singkat, namun padat. Ratih Wijaya telah mengajukan permohonan terakhir untuk berkomunikasi dengan Bimo. Tim medis di sana melaporkan bahwa kondisi fisiknya menurun drastis akibat komplikasi saraf, dan dia ingin memberikan sebuah "pernyataan penutup" sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.

"Kamu mau pergi?" tanya saya pelan. Ada rasa takut di hati saya—takut kalau ini hanya trik lain dari wanita itu untuk merusak kebahagiaan kami yang baru saja bersemi.

Bimo terdiam cukup lama. Dia menatap hujan di balik jendela, lalu beralih menatap perut saya. "Aku tidak perlu pergi ke Swiss, Nara. Tapi aku akan mendengarkan apa yang ingin dia katakan lewat panggilan video. Bukan karena aku sudah memaafkannya sepenuhnya, tapi karena aku tidak ingin ada hutang emosional yang tersisa saat anak kita lahir nanti."

Dua jam kemudian, lewat bantuan Panji dan pihak otoritas di sana, sambungan video terhubung. Layar laptop di meja studio menampilkan sosok wanita yang hampir tidak saya kenali. Ratih yang dulu selalu tampil sempurna dengan setelan mahal dan riasan tajam, kini tampak rapuh, pucat, dan sangat tua di atas ranjang rumah sakit putih.

"Bimo..." suaranya hanya berupa bisikan yang serak.

"Aku di sini, Bu," jawab Bimo dengan nada datar namun tidak ada kebencian yang meledak-ledak di sana.

Ratih menatap layar dengan mata yang mulai kabur. "Aku... aku melihat berita soal yayasan itu. Adrian-Hendra. Nama itu seharusnya sudah mati tiga puluh tahun lalu... tapi kalian menghidupkannya kembali."

Dia terbatuk sejenak, lalu melanjutkan dengan susah payah. "Andra selalu bilang aku ini ambisius. Dia benar. Aku menghancurkan segalanya agar namaku tetap di atas. Tapi di sini, di ruangan yang sunyi ini, aku menyadari... nama Wijaya yang kubanggakan hanya membawa kesunyian."

Pandangan Ratih beralih ke arah saya yang duduk di samping Bimo. "Nara... simpanlah rahasia-rahasia itu. Jangan biarkan anakmu tahu betapa kotornya tangan neneknya ini. Biarkan dia tahu sisi lain... sisi di mana ayahnya lebih memilih cinta daripada tahta."

Klik. Sambungan terputus. Itu adalah komunikasi terakhir kami dengan Ratih Wijaya. Tidak ada permohonan maaf yang dramatis, tidak ada pengakuan dosa yang panjang lebar. Hanya sebuah pengakuan tentang kesunyian.

Bimo menutup laptopnya pelan. Dia menarik napas panjang, seolah-olah sebuah beban berat yang selama ini menempel di pundaknya akhirnya menguap terbawa angin hujan.

"Selesai," bisiknya. "Benar-benar selesai sekarang."

Malam yang Bersejarah

Malam itu, saat Jakarta mulai terlelap, sesuatu yang berbeda terjadi. Bukan kontraksi palsu yang biasanya hilang setelah saya dibawa berjalan santai. Kali ini rasanya seperti ada gelombang panas yang menjalar dari punggung bawah menuju perut, teratur dan semakin intens.

"Bim..." saya memegang lengan Bimo yang sedang asyik membaca buku The First-Time Dad.

Bimo langsung sigap. Dia melihat jam tangannya, menghitung durasi antara rasa sakit itu. "Lima menit sekali, durasi empat puluh detik. Nara, ini waktunya."

Anehnya, saat momen itu benar-benar tiba, kepanikan yang saya bayangkan justru tidak muncul. Ada ketenangan yang luar biasa. Kami bergerak seperti mesin yang sudah terlumasi dengan baik. Bimo mengambil tas, membantu saya mengenakan jaket, dan menuntun saya menuju lift dengan sangat lembut.

Di dalam mobil, di bawah lampu-lampu jalanan Jakarta yang temaram, saya menggenggam tangan Bimo. "Bim, apa pun yang terjadi nanti... terima kasih ya."

Bimo mengecup tangan saya sambil tetap fokus pada jalanan. "Jangan bicara seolah ini perpisahan, Nara. Ini adalah garis start kita yang baru."

Proses di rumah sakit berjalan seperti mimpi yang kabur. Ada suara-suara perawat yang tenang, aroma antiseptik, dan genggaman tangan Bimo yang tidak pernah lepas. Setiap kali kontraksi datang menghantam, saya membayangkan wajah Ayah Adrian dan Ayah Hendra. Saya membayangkan surat-surat yang tertinggal di loker tua itu. Saya merasa mereka ada di sana, di sudut ruangan, memberikan kekuatan pada putri mereka.

Lalu, di tengah perjuangan yang menguras seluruh tenaga itu, terdengar sebuah suara yang paling merdu di dunia. Sebuah tangisan nyaring yang memecah kesunyian ruang bersalin.

"Seorang putra, Pak, Bu," ucap dokter sambil meletakkan bayi merah kecil itu di dada saya.

Dunia seolah berhenti berputar. Semua rasa sakit, semua trauma masa lalu, semua sengketa royalti, dan semua bayang-bayang Ratih seketika sirna. Yang ada hanyalah kehangatan kulit kecil itu dan aroma surga yang keluar dari tubuhnya.

Bimo menangis. Pria yang dulu sangat menjaga imejnya itu terisak tanpa malu di samping telinga saya. "Dia tampan sekali, Nara. Mirip sekali denganku... tapi matanya... matanya punya ketenangan seperti Adrian."

Cahaya di Antara Dua Nama

Pagi harinya, cahaya matahari yang cerah masuk melalui jendela ruang perawatan. Ayah Hendra datang dengan wajah yang berseri-seri, membawa seikat besar bunga matahari. Beliau menimang cucunya dengan tangan yang gemetar karena haru.

"Siapa namanya, Nak?" tanya beliau sambil mengelus pipi bayi yang sedang tertidur lelap itu.

Bimo melirik saya, lalu menjawab dengan mantap. "Laksamana Adrian Wijaya. Laksamana artinya pemimpin yang berani seperti samudera. Adrian untuk menghormati kakeknya yang jujur. Dan Wijaya... untuk memberikan arti baru pada nama keluarga kita. Wijaya yang berarti kemenangan atas diri sendiri, bukan atas orang lain."

Ayah Hendra tersenyum lebar, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya yang keriput. "Adrian pasti sedang tersenyum lebar di atas sana."

Saya duduk bersandar di tempat tidur, melihat pemandangan indah di depan saya: Ayah Hendra yang bahagia, Bimo yang sedang belajar menggendong dengan benar, dan putra kecil kami yang membawa harapan baru bagi dua keluarga yang sempat hancur.

Saya meraih tablet saya yang ada di meja samping tempat tidur. Saya tidak ingin melewatkan momen ini tanpa menuliskannya.

Bab 25: Garis Finish yang Baru

Ternyata, akhir dari sebuah konspirasi bukanlah hukuman penjara bagi pelakunya, melainkan kehidupan baru yang lahir dari sisa-sisa kehancuran itu. Hari ini, saya menyadari bahwa pena saya tidak lagi berfungsi untuk membongkar rahasia gelap. Sekarang, pena saya berfungsi untuk menuliskan dongeng tentang keberanian dan pengampunan untuk Laksamana.

Kontrak pernikahan itu sudah lama kadaluwarsa, berganti dengan ikatan yang jauh lebih kuat dari hukum mana pun di dunia ini. Kami tidak lagi berlari dari masa lalu. Kami berdiri di sini, menyambut masa depan yang harum aromanya seperti bayi yang baru mandi.

Bimo mendekat, mencium dahi saya dan ikut melihat apa yang saya ketik. "Bab yang bagus, Nara. Tapi menurutku, ini bukan sekadar bab 25."

"Maksudmu?" tanya saya heran.

Bimo tersenyum, lalu mengambil Laksamana dari pelukan Ayah Hendra dan meletakkannya kembali di samping saya. "Ini adalah Buku Kedua dalam hidup kita. Dan buku ini... kelihatannya akan menjadi naskah yang paling panjang dan paling bahagia yang pernah kamu tulis."

Saya tertawa pelan, memejamkan mata, dan merasakan kedamaian yang utuh. Jakarta di luar sana mungkin masih bising dan penuh intrik, tapi di dalam ruangan ini, cerita kami telah menemukan rumahnya yang sejati.

Tinta hidup kami kini mengalir dengan warna-warna cerah, siap menuliskan ribuan bab baru tentang tawa, tangis, dan petualangan kecil bersama Laksamana. Dan saya, Nara Adrian, akhirnya bisa mengatakan dengan yakin: ceritanya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!