Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Semua orang di ruang sidang menatap layar, memperhatikan setiap kata yang keluar dari rekaman video itu.
[Lina: "Mbak, aku dapat mangsa baru lagi! Sebentar lagi kami cerai. Kali ini rumahnya nilainya lebih dari 1 miliar Rupiah, nama rumah sudah atas namaku, ditambah mahar 300 juta. Aku sudah memancing suami itu sampai marah dan memecahkan barang-barang, terus aku rekam seolah-olah aku korban kekerasan dalam rumah tangga. Cukup bukti gak nih? Ada lagi yang perlu aku siapkan?"]
[Yuliana: "Sudah cukup. Kamu ajukan gugatan ke pengadilan, bilang saja minta cerai karena sering jadi korban kekerasan. Sisanya serahkan padaku, aku atur supaya kamu menang mutlak."]
[Lina: "Kamu emang paling hebat, Mbak. Uang hasil jual dua rumah yang lalu sudah masuk rekening. Nanti aku beli dua set keramik di toko onlinemu, kamu tinggal atur saja harganya berapa."]
[Yuliana: "Siap. Ingat, urusan ini cuma kita berdua yang tahu. Jangan sampai ada orang lain yang curiga."]
[Lina: "Tenang aja. Pacarku mulai curiga belakangan ini, tapi aku sudah putusin kemarin. Dia gak bakal bisa ngomong apa-apa lagi."]
...
Itulah isi rekaman lengkap yang direkam diam-diam oleh Arifin. Awalnya dia hanya curiga Lina selingkuh, tapi tak disangka justru merekam bukti kejahatan yang begitu besar dan jelas.
Saat melihat video itu diputar, wajah Yuliana seketika menjadi pucat pasi. Kakinya lemas, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Dunianya rasanya runtuh seketika.
Arga menatap tajam ke arah hakim ketua Santoso, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan suara tegas.
"Yang Mulia, ini dia berkas lengkap seluruh kasus yang pernah ditangani Ibu Yuliana selama tiga tahun terakhir. Sudah aku susun rapi. Secara keseluruhan, Yuliana dan Lina telah bersekongkol dan merugikan negara serta masyarakat hingga total 7 miliar Rupiah. Dari jumlah itu, setidaknya 3,5 miliar masuk ke kantong Yuliana sendiri melalui transaksi jual beli keramik itu. Semua bukti transfer dan catatan rekening ada di sini, setiap rupiah tercatat dengan sangat jelas."
Arga mengambil berkas lain, lalu mengangkatnya lebih tinggi.
"Selain itu, saya ingin melaporkan satu hal lagi! Dari catatan transaksi itu, saya menemukan ada satu pembayaran baru senilai 60 juta Rupiah masuk ke rekening Yuliana. Pembelinya adalah Pengacara Laras, bernama Rina Wijaya!"
"Nilai asli keramik yang dibeli Rina itu paling banyak cuma 100 ribu Rupiah. Tapi kenapa dia beli sampai 60 juta? Ada apa di balik transaksi itu?"
"Yang saya tahu pasti, pembelian itu dilakukan tepat sehari sebelum sidang terakhir kasus klien saya."
"Dan apa hasil keputusan sidang kemarin? Laras dan Tania dinyatakan tidak bersalah, malah klien saya, Bimo, dihukum membayar ganti rugi sebesar 180 juta Rupiah atas alasan tekanan batin dan biaya pengobatan!"
"Melihat kebiasaan Bu Yuliana selama ini, saya sangat curiga pembelian keramik mahal-mahal itu hanyalah kedok suap. Itulah sebabnya keputusan yang begitu tidak masuk akal itu bisa keluar!"
"Coba bayangkan, Yang Mulia. Klien saya hanya membela diri dan haknya, tapi malah dia yang harus membayar uang denda sebesar itu. Bukankah itu sangat konyol dan menyakitkan hati?"
Arga menatap lurus ke arah Santoso, suaranya meninggi penuh semangat.
"Semua bukti sudah saya serahkan. Saya percaya... kehormatan dan keadilan hukum bergantung sepenuhnya pada kebersihan hati dan kejujuran para hakim yang duduk di kursi ini. Tugas kita melayani rakyat, melayani kepentingan umum. Hanya dengan begitu keadilan sejati bisa terwujud."
"Kalau hakim saja bisa disuap, dan pengacara berani mengarang bukti palsu, lalu di mana letak keadilan itu? Orang-orang seperti mereka harus dihukum seberat-beratnya agar jadi pelajaran bagi yang lain!"
"Laporan saya selesai."
Arga mundur selangkah, berkas-berkas bukti sudah tersusun rapi di meja hakim.
Pengadilan segera mulai memeriksa dan memverifikasi keaslian semua bukti tersebut. Tak lama kemudian, beberapa petugas kepolisian masuk dan menahan Yuliana untuk sementara waktu guna dibawa ke kantor polisi dan dimintai keterangan lebih lanjut.
Sidang pun ditunda kembali.
Masalah ini terlalu besar, melibatkan langsung hakim ketua pengadilan, sehingga penanganannya harus sangat hati-hati dan mendalam.
Posisi Yuliana memang tinggi, tapi bukti yang ada sudah sangat kuat dan jelas. Karena dampaknya yang begitu luas, pihak pengadilan bersama kepolisian segera membentuk tim investigasi khusus untuk menangani kasus ini dari awal sampai tuntas.
Hari itu sidang tidak dilanjutkan. Kasus besar seperti ini baru akan dibuka kembali setelah seluruh proses penyelidikan tuntas dan semua fakta terungkap.
Dan ingat, semua kejadian ini disiarkan langsung secara daring. Seluruh warga Indonesia sedang menonton dan membahasnya. Isu tentang kotornya penegak hukum langsung menjadi perhatian utama nasional, dan penyelidikan berjalan sangat cepat dan ketat.
Di kolom komentar siaran langsung, kegemparan sudah tak terbendung lagi. Bahkan seluruh media sosial dan internet pun seolah meledak karena berita ini.
"Wah gila! Arga emang legenda hidup!"
"Dia beneran berhasil bawa jatuh hakim ketua lawan lho!"
"Hah? Ini pengacara magang? Kok bisa sehebat itu sih?!"
"Yuliana yang orang anggap hakim bijak, ternyata busuk banget dalemnya! Harus dihukum mati rasanya!"
"Pantesan keputusannya selalu aneh-aneh! Ternyata ada maunya! Arga keren banget, cuma dari kasus fitnah biasa, malah beresin satu kantor hukum sama hakimnya sekalian!"
"Bukan keren lagi, ini sih jenius! Dia gak cuma menangkan kliennya, tapi sekalian bersihin sampah-sampah di lembaga hukum! TOP BANGET!"
"Gak sabar nunggu sidang lanjutannya! Pengen liat muka mereka pas dihukum!"
...
Siang itu, nama Rina, Yuliana, Laras, dan Tania langsung menduduki puncak tren pencarian di semua media sosial. Seluruh rakyat sedang membahas mereka.
Kemarahan netizen meluap-luap, terutama setelah fakta tentang ulah Laras dan Tania tersebar luas. Ditambah lagi dengan kejahatan Yuliana dan Rina yang terbukti jelas, semua orang sepakat mereka semua harus masuk penjara dan menerima hukuman berat.
Sementara penyelidikan berjalan, nasib Yuliana dan Rina sudah dipastikan: penjara tinggal menunggu waktu saja, tinggal berapa tahun lamanya yang belum ditentukan.
Di sisi lain, Bimo masih terpaku di kursinya, penuh rasa kaget dan tak percaya.
Dia tak pernah menyangka perjalanannya mencari keadilan akan berakhir sebesar ini. Dulu dia sudah putus asa, banyak pengacara menolak menangani kasusnya, dan hanya karena kepepet, dia bertemu Arga. Waktu itu Arga masih berstatus pengacara magang, tapi Bimo tetap menerimanya.
Tujuannya cuma satu: supaya kedua wanita itu minta maaf saja. Dia sama sekali tak berharap lebih.
Tapi siapa sangka, Arga tidak cuma bikin mereka minta maaf. Dengan satu gerakan cerdik, Arga malah berhasil membongkar kejahatan besar, membuat pengacara lawan dan hakim yang curang jatuh sekaligus.
Bimo merasa matanya terbuka lebar hari ini. Pengacara yang dia sewa... ternyata bukan sembarangan orang, tapi sosok hebat yang jarang ada duanya.
Di tempat lain, Laras dan Tania sedang duduk berdua di sebuah kafe, wajah mereka terlihat cemas dan gelisah.
"Kak, kita... kita gak bakal beneran ditangkap dan dipenjara kan? Aku liat di HP semua orang lagi marah-marah dan nyebut nama kita terus," kata Laras dengan suara bergetar.
Tania menggeleng tegas, berusaha terlihat tenang meski hatinya sama takutnya. "Tenang aja. Kita gak pernah nyogok hakim, kita gak berbuat kejahatan apa-apa. Apa yang harus ditakutin? Kita cuma nulis tulisan di media sosial aja kan? Paling banter pengadilan bakal suruh kita minta maaf. Kalau disuruh minta maaf, kita gak usah nurut juga gak apa-apa. Mulut kan mulut kita sendiri, mau ngomong apa aja bebas. Aku gak percaya hakim atau polisi bisa apa-apa sama kita."
Dia teringat kejadian dulu. Saat dia dan Laras menulis tulisan fitnah yang membuat seorang pemuda bernama Bagas Adibya nekat bunuh diri. Waktu itu polisi datang menyelidiki, tapi pada akhirnya mereka berdua aman-aman saja dan bebas beraktivitas seperti biasa.
Kejadian sebesar itu saja mereka lolos begitu saja, masa sekarang cuma gara-gara tulisan di media sosial mereka bakal masuk penjara? Tania merasa itu mustahil.
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭