"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Nyaris Terungkap
Suara mobil Bima yang meninggalkan halaman rumah perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian yang justru terasa bising di kepala Alea. Ia masih berdiri di tengah kamarnya, merasakan sisa-sitas intensitas yang baru saja terjadi. Tubuhnya terasa hangat, namun jantungnya masih berdegup karena ketakutan yang bercampur euforia.
Ia segera bercermin. Wajahnya memerah dan rambutnya sedikit berantakan. Ia meraih sebuah syal sutra tipis bermotif bunga dari laci, melilitkannya di leher untuk menutupi tanda-tanda merah yang ditinggalkan Bima, lalu mengenakan kardigan panjang untuk menutupi gemetar di lengannya.
Baru saja ia hendak duduk, bel rumah berbunyi berkali-kali. Tak lama, suara Bi Ijah terdengar dari balik pintu. "Non Alea, itu Den Revan datang. Katanya mau antar buku referensi yang Non minta."
Alea memejamkan mata sejenak, mengatur napas. "Iya, Bi. Suruh tunggu di ruang tamu, Alea segera turun."
Di ruang tamu, Revan berdiri dengan gelisah. Begitu melihat Alea menuruni tangga, matanya langsung tertuju pada syal yang melilit leher Alea.
"Alea, kau bilang kau pening? Dan... kenapa kau memakai syal di cuaca sepanas ini?" tanya Revan, langkahnya langsung mendekat begitu Alea sampai di lantai bawah.
"Aku... aku hanya merasa kedinginan, Revan. Mungkin aku masuk angin," sahut Alea, berusaha menjaga jarak.
Revan tidak percaya begitu saja. Ia melangkah maju, memojokkan Alea di dekat sofa. "Kau tidak pandai berbohong, Alea. Kau tampak sangat gugup. Apa pria itu melakukan sesuatu lagi padamu sebelum berangkat?"
"Tidak, Revan! Uncle Bima sudah berangkat sejak tadi. Aku hanya ingin istirahat," Alea mencoba berpaling, namun Revan justru meraih kedua tangan Alea.
"Jujur padaku, Alea. Kau menyembunyikan sesuatu di balik syal itu, kan? Dia menyakitimu lagi?" Revan mulai kehilangan kendali karena rasa cemasnya. Ia menarik tangan Alea, memaksa gadis itu menghadapnya.
"Revan, lepaskan! Kau menyakitiku!" Alea meronta, namun Revan yang sudah dirasuki kecurigaan justru melepaskan tangan Alea dan tangannya bergerak cepat menuju simpul syal di leher Alea.
"Buka syalnya, Alea! Biarkan aku melihat!"
"TIDAK! REVAN, JANGAN!" Alea memegang erat syalnya, matanya berkaca-kaca.
Tepat saat jari-jari Revan baru saja menyentuh ujung kain sutra itu dan hendak menariknya lepas, suara dentuman pintu depan yang dibuka dengan kasar menghentikan segalanya.
BRAK!
Bima berdiri di ambang pintu. Napasnya terlihat berat, dan matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia tampak seperti iblis yang baru saja keluar dari neraka. Bima kembali karena ia merasa ada yang tidak beres, dan penglihatannya benar.
"Lepaskan tanganmu dari gadisku, bocah."
Suara Bima rendah, namun getarannya membuat kaca-kaca di ruangan itu seolah ikut bergetar. Ia melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi hingga Revan secara insting melepaskan syal Alea dan mundur satu langkah.
Bima tidak memberikan kesempatan bagi Revan untuk bicara. Ia langsung menarik Alea ke belakang punggungnya, mendekap pinggang Alea dengan sangat posesif hingga tubuh mereka menempel rapat. Tatapan Bima pada Revan seolah ingin menguliti pemuda itu hidup-hidup.
"Aku lupa membawa berkas penting, tapi sepertinya aku justru menemukan tikus yang mencoba menyelinap masuk ke rumahku," desis Bima sembari merapikan syal Alea yang sedikit miring, memastikan rahasia di baliknya tetap tertutup rapat.
"Saya hanya ingin memastikan Alea baik-baik saja, Pak Bima!" Revan mencoba membela diri meski suaranya bergetar.
"Dia baik-baik saja... selama kau tidak ada di dekatnya," sahut Bima dingin. Ia melirik jam tangannya, lalu menunjuk ke arah pintu. "Keluar sekarang. Sebelum aku menelepon ayahmu dan memastikan beasiswamu dibatalkan sore ini juga."
Revan menatap Alea dengan tatapan hancur, namun ia tidak punya kekuatan melawan Bima. Begitu Revan keluar dengan langkah gontai, Bima langsung membanting pintu dan menguncinya.
Ia berbalik, menatap Alea dengan tatapan yang sangat gelap. Bima mencengkeram bahu Alea, menekannya ke pintu. "Kau membiarkannya menyentuh syalmu? Kau membiarkannya hampir melihat apa yang sudah aku tandai?"
"Aku... aku tidak bermaksud begitu, Bima... dia memaksa..." isak Alea.
Bima menunduk, menghirup aroma leher Alea dengan rakus, tangannya meremas pinggang Alea hingga gadis itu merintih. "Kurasa pengawasan sepuluh menit tadi benar-benar kurang, Alea. Kau butuh diingatkan kembali siapa pemilikmu yang sebenarnya."
Bima langsung menyambar bibir Alea dalam ciuman yang jauh lebih kasar dan menuntut daripada sebelumnya, menutup babak itu dengan dominasi mutlak yang membuat Alea benar-benar menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa lari lagi.