Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejar-kejaran dengan Gadis Lavender
Lin Tian langsung melompat ke belakang dengan kecepatan penuh, kakinya menjejak tanah basah di tepi kolam lalu mendorong tubuhnya menjauh dari gadis lavender itu. Namun gadis itu lebih cepat dari yang ia kira, tubuhnya berputar dengan gerakan yang hampir terlihat lucu karena keluwesannya, lalu sebuah tamparan keras menghantam pipi kiri Lin Tian.
PLAK!
Lin Tian terhuyung dan tubuhnya terpental ke belakang hingga punggungnya membentur pohon besar di tepi halaman. Ia mengerang pelan lalu menggosok pipinya yang terasa panas. Gadis itu tidak berhenti di situ, ia mengambil gulungan tali tambang biasa dari pinggangnya lalu melemparkannya ke arah Lin Tian. Tali itu melilit tubuh Lin Tian dengan cepat, mengikat kedua tangannya ke batang pohon.
Gadis itu menyilangkan tangan di depan dadanya sambil menatap Lin Tian dengan mata menyipit.
"Berani sekali pria mesum sepertimu mandi di kolam yang sama denganku, saat aku tidak berpakaian! Dasar pria mesum kurang ajar!"
Lin Tian wajahnya menjadi bingung campur kesal. Dahinya mengernyit karena tamparan tadi masih terasa perih. "Nona, anda salah paham. Saya baru sampai di sini setengah jam yang lalu, dan saya tidak melihat siapa pun di kolam ini. Saya kira tempat ini sudah lama ditinggalkan, karena rumahnya berdebu dan jendelanya tertutup rapat."
"Bohong! Tidak mungkin kau tidak melihatku! Air kolam ini jernih sekali!"
"Airnya jernih, tapi saya sedang memejamkan mata karena meditasi! Bagaimana saya bisa melihat sesuatu jika mata saya tertutup?!"
Sebelum gadis itu bisa menjawab, suara langkah kaki terdengar dari tiga arah berbeda. Dari balik pepohonan, tiga pria melompat keluar hampir bersamaan dan langsung mengelilingi area kolam. Mereka bergerak dengan kecepatan yang cukup tinggi, menandakan bahwa kultivasi mereka tidaklah rendah.
Pria pertama adalah seorang tua dengan jenggot putih panjang yang menjuntai hingga ke perut. Pria kedua adalah pria paruh baya berwajah tegas dengan kumis tebal. Pria ketiga adalah pria paruh baya lainnya yang lebih muda dengan rambut ikal pendek.
"Jiyue, anakku! Siapa orang mesum itu?" teriak pria berkumis tebal sambil menunjuk ke arah Lin Tian.
"Jiyue, cucuku! Apakah pemuda ini sudah melihat tubuhmu?" tanya pria tua berjenggot putih dengan nada panik.
"Jiyue, ponakanku! Haruskah ku bunuh orang ini atau kau yang mau membunuhnya sendiri?" ucap pria berambut ikal sambil menggerakkan jari jarinya.
Jiyue, gadis lavender itu, berteriak kesal. "Dia mandi di kolam yang sama denganku saat aku sedang mandi! Aku tidak tahu apakah dia melihat atau tidak karena matanya terpejam, tapi tetap saja ini keterlaluan!"
Ketiga pria itu kemudian menatap Lin Tian. Pria tua berjenggot putih sudah mengangkat tangannya, siap mengeksekusi pemuda malang itu di tempat. Tapi saat matanya melihat wajah Lin Tian dengan teliti, sikapnya berubah.
Hidung mancung, rahang tegas, mata yang teduh namun tajam, rambut hitam terurai sedikit basah karena air kolam, dan tubuh atletis yang terlihat jelas meskipun jubah putihnya basah menempel. Pria tua itu menurunkan tangannya.
"Eh... sebentar," ucap pria tua itu. "Cucu ku... jangan buru buru membunuhnya. Pria tampan seperti ini tidak mudah ditemukan di wilayah barat."
Pria berkumis tebal juga ikut terdiam. "Ayah benar. Wajahnya seperti pahatan, tubuhnya juga proporsional. Jiayue pasti akan setuju menikah dengannya."
Pria berambut ikal mengangguk anguk. "Keponakanku harusnya bersyukur. Pria mesum yang tampan... lebih baik daripada pria baik baik tapi jelek."
Jiyue membelalakkan matanya. "Kakek! Ayah! Paman! Kalian bicara apa? Dia pria mesum yang mandi di kolam pribadi kita tanpa izin!"
Pria tua itu mengabaikan protes cucunya lalu berjalan mendekati Lin Tian. "Pemuda, siapa namamu? Dari sekte mana? Apakah kau sudah memiliki tunangan?"
Lin Tian yang masih terikat di pohon hanya bisa menggelengkan kepala. "Nama saya Lin Tian, tidak berasal dari sekte besar mana pun, dan saya tidak memiliki tunangan. Tapi saya tidak bisa begitu saja menerima tawaran untuk menjadi menantu kalian, hanya karena kesalahpahaman ini."
"Tidak ada kesalahpahaman!" potong pria berkumis tebal. "Kau sudah melihat putriku mandi. Itu sudah cukup alasan untuk menikah."
"Saya tidak melihat apa pun!" bantah Lin Tian dengan suara keras.
Jiyue juga ikut berteriak. "Ayah! Aku tidak mau menikah dengan pria mesum ini!"
Kakek Jiyue mengangkat tangannya. "Cukup! Keluarga kita sudah lama mencari calon yang cocok untuk Jiyue. Pemuda ini tampan, sopan dari cara bicaranya, dan tidak panik meskipun terikat di pohon. Menantu yang baik."
"Aku tidak sopan, pak tua. Aku hanya bingung," ucap Lin Tian.
"Bingung itu wajar. Karena menikah itu membingungkan."
Lin Tian melihat bahwa perdebatan ini tidak akan pernah selesai jika ia terus bertahan. Persetan dengan sopan santun. Ia menyentuh cincin penyimpanannya sebisa mungkin, setelah menyentuh dia mengaktifkan jimat pelarian yang diberikan Lao Hui dulu selama masa masa latihan. Jimat itu berbentuk kertas kuning kecil dengan tulisan merah yang bersinar sejenak.
WHOOSH!
Tubuh Lin Tian lenyap dari ikatan tali, meninggalkan batang pohon yang kosong. Ia muncul di lokasi yang sama sekali asing, di tengah hutan lebat dengan pepohonan tinggi menjulang. Napasnya terengah engah karena ini pertama kalinya ia menggunakan jimat pelarian dalam situasi nyata.
"Beruntung guru memberiku itu," gumam Lin Tian sambil mengatur napas. "Kalau tidak, mungkin aku sudah dipaksa menikah sekarang."
Ia segera mengeluarkan pedang terbangnya lalu melesat ke udara, meninggalkan hutan itu secepat mungkin. Sepanjang perjalanan ia terus memacu pedangnya tanpa berhenti, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejar.
Sehari kemudian.
Lin Tian tiba di sebuah hutan yang lebih rimbun dengan pohon pohon raksasa yang tajuknya saling bertaut membentuk kanopi tebal. Ia merasa cukup aman di sini karena cahaya matahari nyaris tidak bisa menembus, sehingga sulit bagi orang lain untuk menemukannya dari udara.
Lin Tian mendarat di tanah yang lembab lalu duduk bersila di bawah pohon besar. Ia memejamkan mata, mengatur napas, dan mulai bermeditasi untuk memulihkan Qi yang terkuras selama penerbangan panjang. Pikiran tentang Jiyue dan ketiga pria aneh itu perlahan ia singkirkan.
PLAK!
Tamparan mendarat telak di pipinya.
Lin Tian membuka matanya dengan kaget. Di hadapannya, Jiyue berdiri dengan satu tangan di pinggang, rambut lavender nya sedikit kusut karena angin, tapi matanya tetap tajam dan wajahnya masih merah karena marah.
"Nona sudah gila!" seru Lin Tian sambil melompat. "Bagaimana kau bisa sampai di sini?!"
Jiyue mengangkat alis. "Aku yang bertanya! Berani sekali kau kabur setelah semua yang terjadi!"
Lin Tian ingin lari lagi. Ia sudah mengaktifkan pedang terbangnya, tapi Jiyue berkata cepat.
"Jangan kabur lagi, lupakan tentang pernikahan. Aku juga tidak sudi menikah denganmu, dasar pria mesum."
Lin Tian berbalik arah lalu menatap Jiyue dengan wajah kesal. "Aku juga tidak sudi denganmu, jadi kita sepakat. Aku pergi... dan kau pergi, selesai."
"Tidak selesai! Kau belum meminta maaf karena sudah mengintipku mandi!"
"Aku sudah bilang itu salah paham!"
Jiyue mendekat selangkah, Lin Tian kesal, juga mendekat selangkah. Mungkin karena keduanya sama sama keras kepala, atau mungkin karena keduanya tidak mau terlihat takut. Mereka beradu kepala, dahi saling menekan dengan mata menyipit saling menatap.
"Kenapa kau bisa sampai di sini? Aku sudah terbang secepat mungkin," tanya Lin Tian dengan suara kesal.
Jiyue menjawab dengan nada mengejek. "Karena aku mendapatkan sehelai rambutmu yang tertinggal di kolam. Aku punya teknik pelacakan rambut, jadi kemanapun kau pergi, aku akan tahu."
"Kau penguntit kurang ajar!" Lin Tian mendorong sedikit lebih kuat, hidung mereka hampir bersentuhan.
"Kau tukang ngintip tidak bertanggung jawab!" Jiyue juga semakin menekan, dahinya terasa sakit karena bersentuhan dengan dahi Lin Tian yang keras.
Mereka berdua berdiri di tengah hutan dengan posisi saling beradu kepala, tidak ada yang mau mengalah, dan tidak ada yang menyadari bahwa dari kejauhan, tiga pasang mata sedang mengamati mereka dengan senyum puas.