"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Di Bawah Pengawasan Mata yang Lapar
Di Bawah Pengawasan Mata yang Lapar
Setelah kejadian di ruang fotokopi yang bikin jantung Raka hampir copot itu, suasana di antara kami bertiga berubah jadi sangat aneh. Raka sekarang lebih banyak diam, tapi aku tahu... matanya nggak bisa bohong. Di setiap kesempatan, saat Bella sedang nggak melihat, aku bisa merasakan tatapan Raka yang intens mengikuti gerak-gerikku.
Siang ini kami duduk di selasar kampus yang cukup ramai. Aku duduk di lantai, bersandar pada pilar, pura-pura sibuk membaca novel. Aku sengaja memilih posisi yang membuat rok denimku sedikit tersingkap di bagian lutut.
Raka duduk di bangku taman tepat di depanku. Dia memegang buku, tapi matanya nggak fokus ke tulisan. Dia berkali-kali melirik ke arah kakiku, lalu buru-buru membuang muka saat aku sengaja menoleh dan tersenyum lugu padanya.
"Rum, lo kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanya Bella ketus. Dia sedang sibuk menguncir rambutnya, gaya protektifnya makin menjadi-jadi. Dia seolah punya radar kalau ada sesuatu yang nggak beres antara aku dan Raka.
"Nggak apa-apa, Bel. Ceritanya lucu aja," jawabku dengan suara paling lembut yang aku punya. "Rak, lo kenapa bengong? Bukunya kebalik tuh."
Raka tersentak. Dia melihat bukunya dan benar, dia memegangnya terbalik. Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. "Eh... iya, sori. Lagi kurang fokus aja."
Bella menatap Raka curiga. "Kamu kenapa sih hari ini, Rak? Dari tadi gelisah terus. Mana keringetan lagi, padahal di sini adem."
"Nggak apa-apa, Bel. Mungkin kecapekan aja," sahut Raka parau. Dia mencoba menyesap air mineralnya, tapi matanya kembali "terpeleset" menatap leherku yang sengaja aku usap dengan sepotong es batu dari gelas minumanku.
Sementara itu, di samping kami, Tiara—si teman sengklek kami yang satu lagi—beneran lagi di dunia lain. Dia sama sekali nggak peduli sama ketegangan segitiga yang ada di depannya. Matanya terpaku pada layar HP, jempolnya bergerak cepat kayak lagi balapan.
"Heh, Ti! Lo ngapain sih dari tadi nunduk mulu? HP lo ada emasnya?" sindir Bella.
Tiara nggak mendongak. Dia malah senyum-senyum sendiri, tipe senyum yang bikin orang curiga kalau dia lagi chatting sama malaikat atau malah sama komandan sirkus.
"Diem dulu, Bel! Gue lagi di momen krusial nih. Si 'Mas Misterius' ini baru aja kirim foto... aduh, meleleh gue!" Tiara malah kegirangan sendiri sampai kakinya nendang-nendang udara.
"Mas Misterius siapa lagi sih?" tanya Bella kepo.
"Rahasia! Yang jelas dia itu beda banget sama cowok-cowok di kampus ini. Bahasanya itu lho... puitis tapi nakal. Duh, 'umhh' banget deh pokoknya!" Tiara kembali tenggelam dalam dunianya.
Aku kembali fokus pada Raka. Saat Bella sedang sibuk merebut HP Tiara karena penasaran, aku melakukan gerakan kecil. Aku melepaskan ikat rambutku, membiarkan rambutku jatuh menutupi wajahku, lalu aku mendongak menatap Raka.
Aku memasukkan ujung helai rambutku ke dalam mulut, menggigitnya pelan sambil menatap matanya dalam-dalam. Hanya dua detik, tapi aku bisa melihat jakun Raka bergerak naik-turun dengan cepat.
Raka langsung menutup mukanya dengan buku. Aku tahu, dia sedang berusaha menahan "gejolak" yang muncul lagi gara-gara ulah luguku.
"Rak, kamu mau ke kantin bareng aku?" ajak Bella sambil berdiri, sudah menyerah membujuk Tiara.
"Hah? Eh... iya, Bel. Ayo," Raka berdiri dengan terburu-buru, lagi-lagi menyampirkan tas punggungnya ke depan untuk menutupi bagian celananya.
"Jagain Raka ya, Bel. Kayaknya dia lagi butuh banyak minum biar nggak 'haus' terus," celetukku sambil melambaikan tangan dengan wajah tanpa dosa.
Bella hanya mendengus dan menarik tangan Raka pergi. Begitu mereka hilang dari pandangan, Tiara tiba-tiba mendongak.
"Rum... lo jahat banget ya sama si Raka," ucap Tiara sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Lho, gue kan nggak ngapa-ngapain, Ti?"
"Halah! Mata lo itu nggak bisa bohong. Lo lagi mainin dia kan? Hati-hati lho, cowok se-polos Raka kalau sekali meledak, bisa bikin lo 'ahhh' beneran sampai nggak bisa jalan."
Aku hanya tertawa kecil. "Gue cuma mau lihat sejauh mana dia bisa tahan, Ti."
Tiara menggelengkan kepala lalu kembali menatap HP-nya. "Ya udah terserah lo. Gue mau lanjut warming up sama Mas Misterius gue dulu. Oh iya Rum, hati-hati... Bella itu kalau udah cemburu bisa lebih serem dari macan betina."
Aku menyandarkan kepalaku ke pilar, menatap langit sore yang mulai menguning. Biarlah Bella jadi macan, karena aku adalah pawang yang tahu persis di mana titik lemah mangsanya. Raka sudah mulai memperhatikan, dia sudah mulai terjerat, dan sebentar lagi... dia yang akan datang mencariku tanpa perlu aku panggil.
jngan y thor