NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 23: Ritual Jam Dua Pagi

​Begitu pintu lift terbuka dan aku melangkah masuk ke dalam penthouse di lantai empat puluh, keheningan absolut langsung menyergapku.

​Rayan belum pulang. Tidak ada siapa-siapa di sini selain diriku dan deru halus dari mesin pendingin ruangan sentral.

​Aku melepaskan sepatu hak tinggi berbahan suede ini dan membiarkannya tergeletak di dekat pintu masuk. Kakiku terasa kebas. Aku berjalan tanpa alas kaki melintasi karpet ruang tamu, berhenti tepat di depan dinding kaca raksasa yang menampilkan lanskap malam ibu kota.

​Lampu-lampu gedung pencakar langit di bawah sana berkelap-kelip seperti lautan kunang-kunang elektronik. Kendaraan di jalan tol terlihat sekecil semut yang merayap di atas pita beton.

​Aku menyentuh permukaan kaca yang dingin itu dengan ujung jariku.

​Bagaimana aku bisa sampai di sini?

​Pertanyaan itu tiba-tiba berdengung di kepalaku. Beberapa bulan yang lalu, masalah terbesarku hanyalah bagaimana menyisihkan uang makan siang dan menghadapi raut wajah penuh ekspektasi Ibuku di meja makan yang sempit.

​Dan sore ini? Sore ini aku baru saja duduk di sebuah ballroom hotel bintang lima, memakai gaun sutra seharga motor sport, meminum teh Earl Grey dari cangkir porselen, lalu... membungkam sekumpulan sosialita elit menggunakan data hutang suami mereka.

​Ini gila. Benar-benar di luar nalar.

​Aku merasa seperti sedang tersedot ke dalam salah satu serial drama picisan yang sering ditonton Sari. Plotnya selalu sama dan mudah ditebak: seorang gadis miskin terikat kawin kontrak dengan seorang CEO tampan yang dingin. Mereka dipaksa tinggal seatap, saling membenci, lalu perlahan-lahan si pria es itu mencair, dan mereka jatuh cinta dengan dramatis di bawah guyuran hujan.

​Aku mendengus keras hingga napasku mengembun di kaca jendela.

​Persetan dengan naskah drama murahan itu.

​Cinta, dalam kamus hidupku, adalah variabel yang merusak kewarasan. Aku sudah melihat bagaimana 'cinta' Ibu padaku mewujud menjadi sebuah buku catatan merah berisi hutang seumur hidup. Aku melihat bagaimana 'cinta' membungkam Bapakku hingga ia menua tanpa suara di hamparan lumpur sawah.

​Dan Rayan Adristo? Pria itu bukan pangeran berkuda putih. Ia adalah tiran korporat yang sedang menyewa tameng hidup untuk menghindari gigitan keluarganya sendiri. Ciuman di sofa tempo hari murni adalah manuver darurat untuk menghindari audit dari Helena. Tidak lebih, tidak kurang.

​Aku menatap pantulan wajahku yang datar di kaca.

​Aku tidak akan jatuh cinta pada Rayan, janjiku pada diriku sendiri. Sebuah afirmasi final. Kontrak ini punya tanggal kedaluwarsa. Begitu enam bulan berlalu, aku akan mengemas koperku, mengambil sisa uangku, dan kembali menjadi Nara Kusuma yang merdeka.

​Aku membalikkan badan, berjalan menuju kamarku di Sayap Timur untuk mengupas zirah gaun ini dari tubuhku dan menghapus sisa peperangan hari ini.

​Pukul 02:15 dini hari.

​Mataku terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Otakku menolak untuk mati. Sistem sarafku mungkin masih menanggung residu adrenalin dari acara High Tea tadi sore, atau mungkin alam bawah sadarku sedang terdistraksi oleh data pengiriman PT Bina Tirta yang harus kurekap besok pagi.

​Apa pun alasannya, perutku mendadak berbunyi nyaring.

​Aku menyingkap selimut, merapikan piyama lengan panjang kedodoranku yang bermotif garis-garis pudar, lalu keluar kamar menuju dapur.

​Aku berekspektasi penthouse ini akan gelap gulita. Namun, saat aku membelok di ujung lorong, mataku menangkap pendaran cahaya dari arah kitchen island.

​Langkahku terhenti.

​Di sana, diterangi oleh lampu temaram dari bawah kabinet, duduklah Rayan Adristo.

​Ia tidak sedang mengenakan piyama sutra atau pakaian santai seperti di film-film. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja formal berwarna hitam pekat yang ia pakai berangkat pagi tadi.

​Namun, 'zirah' kebesarannya itu tampak berantakan. Jasnya entah dibuang ke mana. Dasinya tergeletak sembarangan di atas kursi kosong. Tiga kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, sementara lengannya digulung asal-asalan hingga sebatas siku, mengekspos jam tangan mahalnya.

​Rayan sedang duduk bertumpu pada sikunya, sebelah tangannya memijat pelipis dengan rasa frustrasi yang sangat kental. Di depannya, layar laptop menyala terang, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan sebuah iPad yang menampilkan grafik merosot tajam.

​Ini bukan visual seorang miliarder yang sedang menikmati kekayaannya. Ini adalah visual seorang jenderal perang yang sedang dikepung musuh dan kehabisan amunisi pada pukul dua pagi. Kudeta pamannya sepertinya makin memanas.

​Perutku kembali berbunyi, mengambil keputusan untukku. Pragmatisme selalu menang.

​Aku berjalan santai memasuki area dapur, mengabaikan aura gelap yang menguar dari tubuh Rayan. Pria itu sedikit tersentak, menoleh dengan mata merah dan tatapan tajam.

​"Apa yang kamu lakukan jam segini?" tanyanya dengan suara bariton yang sangat serak.

​"Bikin mi. Laper," jawabku santai, berjalan melewatinya menuju kabinet persediaanku. "Mikirin kelakuan teman-teman Tante Sonia tadi sore lumayan nguras kalori."

​Aku menarik keluar dua bungkus mi instan kuah rasa soto lengkap dengan minyak gurihnya. Amunisi yang kuselundupkan dari minimarket bawah.

​Aku lalu beralih ke rak peralatan masak, mengambil sebuah panci tembaga berlapis baja panci buatan Prancis yang harganya mungkin bisa buat DP rumah subsidi. Aku menyalakan kompor induksi, memasukkan air, lalu memecahkan dua butir telur saat airnya mendidih, disusul oleh dua blok mi instan murah tersebut.

​Dalam hitungan menit, aroma menyengat dari kaldu buatan, bawang putih bubuk, dan minyak gurih itu menginvasi seluruh sudut penthouse beraroma sandalwood ini. Bau yang sangat proletar, sangat 'kampung', namun tidak pernah gagal memicu kelenjar air liur.

​Aku mematikan kompor. Mengangkat panci tembaga super mahal itu langsung ke atas meja marmer, tepat setengah meter di sebelah laptop Rayan. Aku mengambil dua buah garpu, lalu duduk di kursi bar berseberangan dengannya.

​Rayan sedari tadi hanya diam memperhatikan prosesi kulinerku. Matanya beralih dari layar laptop, menatap panci tembaga berisi cairan kuning berminyak di depannya, lalu menatapku dengan dahi berkerut tajam.

Rayan: "Kamu masak mi instan berbungkus plastik penuh MSG itu... pakai panci Mauviel saya?"

Nara: "Panci seharga motor matic ini fungsinya tetap buat merebus air kan, Rayan? Lagipula, mi soto seharga tiga ribu perak ini adalah kasta tertinggi pelipur lara orang susah di jam dua pagi."

​Rayan melirik garpu itu. Ego seorang CEO jelas menolak makanan kelas pekerja tersebut. Tapi, suara perut kosong dan kelelahan tidak bisa dibohongi oleh gengsi. Dengan helaan napas berat yang terdengar seperti kekalahan, Rayan mengambil garpu itu.

​Ia menggulung sedikit mi, meniupnya pelan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

​Otot kaku di rahang Rayan perlahan mengendur. Ia tidak memujinya secara lisan, tapi ia kembali menggulung suapan kedua, lalu suapan ketiga dengan tempo yang jauh lebih cepat.

​Kami akhirnya makan langsung dari panci yang sama, di tengah malam buta. Tidak ada bahasa hukum, tidak ada topeng korporat, hanya suara denting garpu.

​"Laporanmu tadi sore... sangat rapi," kata Rayan tiba-tiba setelah menelan makanannya. Ia tidak menatapku, matanya kembali tertuju pada layar laptopnya. "Sonia langsung menelepon ibu saya, bertanya-tanya apakah perusahaan suaminya benar-benar masuk dalam daftar hitam saya."

​"Dia panik?"

​"Sangat." Sudut bibir Rayan ditarik membentuk senyum miring. "Kamu memukul mereka tepat di ulu hati."

​"Mereka yang mulai duluan," kataku santai, menyeruput kuah soto langsung dari ujung panci. "Orang-orang seperti mereka itu terlalu lama hidup di atas awan, Rayan. Mereka pikir orang biasa kayak aku ini gampang diinjak karena nggak punya silsilah. Padahal, justru karena aku nggak punya apa-apa untuk dipamerkan, aku nggak punya beban buat meruntuhkan panggung mereka."

​Rayan meletakkan garpunya. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap wajahku lekat-lekat. Sisa-sisa arogansinya menguap, digantikan oleh rasa penasaran yang murni.

​"Itu yang dari kemarin tidak bisa saya pahami dari jalan pikiranmu, Nara," kata Rayan pelan.

​Ia menunjuk ke arahku. "Di rekeningmu sekarang ada lima ratus juta rupiah. Secara finansial, kamu sudah mengamankan hidupmu untuk waktu yang sangat lama. Kebanyakan perempuan di posisimu akan pergi ke mal, membeli tas desainer, berhenti bekerja, atau setidaknya... ongkang-ongkang kaki di apartemen ini menikmati fasilitas."

​Rayan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu kenapa kamu masih memaksakan diri bangun jam lima pagi, berdesakan di KRL, dan kerja jadi bawahan di perusahaan logistik kecil itu untuk gaji lima juta sebulan? Buat apa kamu capek-capek?"

​Aku meletakkan garpuku. Menatap sepasang mata kelam yang sedang mencari jawaban itu.

​Aku terdiam sejenak, mengingat kembali hamparan sawah di belakang rumah masa kecilku dan tangan Bapak yang selalu kasar dipenuhi kapalan.

​"Orang kaya kayak kamu, Rayan, mungkin mikir lima ratus juta itu adalah jaring pengaman. Titik akhir dari sebuah masalah," kataku perlahan, suaraku terdengar tenang namun berat.

​"Tapi buat orang kayak aku... yang seumur hidup terbiasa ngitung recehan cuma buat beli buku LKS, uang kaget sebanyak itu adalah ilusi. Hari ini uangmu ada di rekeningku, tapi besok? Nenek Ratih bisa saja menyuruh pengacaranya memblokir semua aksesku. Kontrak kita bisa batal kapan saja."

​Aku menatapnya lurus-lurus.

​"Aku ini anak petani, Rayan," ucapku mantap. "Bapakku selalu bilang, sawah yang kita sewa bisa diambil yang punya kapan aja. Tapi cangkul, dan tenaga kita untuk mencangkul... itu murni milik kita sendiri. Nggak ada yang bisa merampasnya."

​Rayan mematung. Matanya seolah terkunci oleh kalimatku.

​"Kalau aku cuma ongkang-ongkang kaki menikmati uangmu sekarang," lanjutku, "lalu pas enam bulan lagi kontrak kita habis dan koperku dilempar keluar dari lift ini... aku jadi apa? Mantan istri jutawan yang nggak punya skill kerja? Gelandangan bergaun sutra?"

​Aku menggeleng pelan. "Keterampilanku ngolah data, KRL yang aku naiki tiap pagi, gaji lima juta yang aku dapat dari keringatku sendiri... itu realitas asliku. Itu jangkar kewarasanku. Itu yang bikin aku tetap menapak tanah, Rayan."

​Keheningan yang luar biasa tebal turun ke atas dapur marmer itu.

​Rayan menatapku dengan ekspresi yang sangat sulit dijabarkan. Bukan iba, bukan meremehkan, melainkan sebuah rasa takjub dan respect (hormat) yang luar biasa dalam. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang melihat kekayaannya sebagai tambang emas, tapi perempuan di depannya ini justru melihat kekayaannya sebagai istana pasir yang rapuh.

​"Sekarang giliranku," kataku, memecah kesunyian. Aku menunjuk tumpukan dokumen kusut di depannya.

​"Duitmu nggak berseri. Gedung ini memakai nama belakangmu. Kamu bisa beli pulau pribadi kalau kamu mau. Tapi jam dua pagi kamu duduk di sini, kemeja lecek, nahan stres mati-matian biar nggak ditusuk dari belakang oleh pamanmu sendiri."

​Aku memiringkan kepalaku. "Buat apa, Rayan? Apa enaknya jadi orang kaya kalau tidur aja kamu nggak bisa tenang?"

​Pertanyaanku menabrak telak pada eksistensi hidupnya. Di hadapan media, ia adalah pangeran bisnis yang tak tersentuh. Tapi di meja ini, ia hanyalah pria yang terpenjara oleh kerajaannya sendiri.

​Rayan menghela napas panjang dan kasar. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, membuang pandangannya ke arah dinding kaca yang gelap.

​"Semakin tinggi lantai tempatmu berdiri, Nara... semakin tipis oksigennya," jawab Rayan. Suaranya terdengar sangat lelah dan sangat jujur.

​"Uang dan kekuasaan di keluarga saya bukanlah alat untuk membeli kebebasan atau kebahagiaan. Itu adalah alat ukur seberapa besar target di punggungmu. Kalau saya lengah dan membiarkan Paman Haris mengambil alih kendali... ribuan karyawan di bawah Adristo Group akan dirumahkan demi restrukturisasi sepihak yang menguntungkan kantong pribadinya."

​Rayan menoleh kembali ke arahku. Mata kelamnya memancarkan beban yang biasanya ia sembunyikan rapat-rapat.

​"Saya tidak berjuang untuk menjadi kaya, Nara. Saya berjuang agar saya tidak hancur lebur di tangan darah daging saya sendiri."

​Aku terdiam. Dadaku mendadak terasa sedikit sesak.

​Di balik setelan jas mahalnya dan mobil mewahnya, Rayan Adristo memiliki kesamaan yang mengerikan denganku. Kami berdua sama-sama sedang bertarung mempertahankan nyawa dari ekspektasi dan keegoisan keluarga kami sendiri. Bedanya, ibuku menggunakan hutang budi, sementara keluarganya menggunakan saham.

​Kami tidak berbicara lagi setelah itu. Kami kembali menghabiskan sisa mi instan dari dasar panci tembaga.

​Tidak ada adegan saling menatap dengan penuh gairah seperti sinetron. Tidak ada sentuhan tangan yang disengaja. Tidak ada janji-janji manis.

​Namun di tengah malam buta itu, di bawah lampu dapur yang temaram, di antara tumpukan dokumen kudeta perusahaan dan sisa makanan murahan... sebuah batas akhirnya runtuh.

​Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku duduk berhadapan dengan seseorang tanpa perlu membuktikan bahwa aku berguna. Dan untuk pertama kalinya bagi Rayan, ia duduk bersama seseorang yang sama sekali tidak ingin memeras hartanya.

​Kami hanya dua orang manusia yang cacat dan kelelahan oleh dunia. Dan anehnya, untuk malam ini, keheningan di antara kami terasa sangat... membebaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!