NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 — Bayi di Tengah Medan Perang

Bau amis darah memenuhi udara.

Asap hitam membumbung dari reruntuhan bangunan yang masih menyisakan bara, menutupi langit senja yang semula merah keemasan menjadi kelam seperti pertanda akhir zaman. Tanah retak dipenuhi jejak kaki, genangan darah, potongan baju zirah, serta mayat para prajurit yang bergelimpangan tanpa sempat dimakamkan.

Di tengah kekacauan itu, seorang pria berjubah gelap berlari sekuat tenaga.

Jubahnya telah koyak di banyak bagian, dipenuhi debu, darah, dan luka bakar. Napasnya berat, langkahnya mulai goyah, namun kedua tangannya tetap mendekap erat seorang bayi yang dibungkus kain sutra emas.

Tangisan bayi itu pecah di tengah gemuruh perang.

Tangis yang kecil, rapuh, dan tak berdaya.

Namun justru karena tangis itulah, seluruh dunia malam ini seakan ingin memburunya.

“Sedikit lagi...” pria itu bergumam lirih di sela napas yang hampir putus. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan. “Sedikit lagi... aku harus membawa anak ini keluar dari sini.”

Di belakangnya, suara derap langkah terdengar semakin dekat.

Bukan satu atau dua orang Melainkan ratusan.

Pasukan pengejar dari dinasti musuh membelah reruntuhan seperti kawanan serigala lapar. Tombak dan pedang mereka memantulkan cahaya senja yang suram. Tatapan mereka dingin, haus darah, dan hanya tertuju pada satu sasaran yaitu bayi yang sedang menangis di pelukan pria itu.

“Jangan biarkan dia lolos!”

“Bunuh pembawanya! Rebut anak itu!”

“Perintah dari atas! Bayi itu harus mati malam ini!”

Teriakan-teriakan itu menggema di antara asap dan puing.

Pria berjubah itu mempercepat langkah, menerobos bangkai kereta perang yang terbalik, melompati tubuh-tubuh tak bernyawa, lalu menyelinap ke sela reruntuhan tembok batu yang nyaris ambruk. Namun tubuhnya jelas sudah mencapai batas.

Setiap langkah terasa seperti menginjak bara, setiap tarikan napas serasa menghirup api. Di tengah keputusasaan itu, pikirannya tanpa sadar melayang kembali ke empat jam sebelumnya—ke saat semua kekacauan ini bermula.

Flashback empat Jam Sebelum kejadian ~

Di pinggiran medan perang, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh.

Atapnya telah roboh separuh, dindingnya dipenuhi retakan panjang, dan lantainya dipenuhi debu tebal bercampur serpihan kayu lapuk. Tempat itu dulunya mungkin kuil tua atau rumah bangsawan yang telah lama ditinggalkan. Kini, ia hanya menjadi tempat perlindungan sementara bagi seseorang yang tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.

Di dalam bangunan itu, seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun duduk bersandar di pilar batu yang pecah.

Rambut hitamnya sedikit berantakan, sebagian menempel di wajah karena keringat. Tatapannya tajam, namun jauh di dasar matanya tersimpan kelelahan yang tak mudah disembunyikan. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang berwarna gelap, dengan gagang yang terukir pola kuno seperti bekas zaman yang telah lama dilupakan.

Dialah Ye Chen.

Ia sedang mengatur napas setelah melintasi setengah wilayah perang seorang diri.

Namun, ketenangan singkat itu tidak bertahan lama.

BRAK!

Pintu kayu bangunan itu mendadak terbuka kasar hingga salah satu engselnya terlepas.

Ye Chen refleks bangkit, tangannya langsung meraih gagang pedang.

Dari balik pintu, seorang pemuda masuk dengan langkah sempoyongan.

Pakaiannya jelas berasal dari keluarga kerajaan—jubah kebesaran dengan bordir naga petir emas di bagian dada—namun kini jubah itu telah koyak dan dipenuhi darah. Wajah pemuda itu pucat, napasnya kacau, namun sorot matanya tetap menyala keras seperti bara yang belum padam.

Di pelukannya, ada seorang bayi kecil yang terus menangis.

“Ye Chen...” suara pemuda itu parau, seolah tenggorokannya telah lama kering oleh darah dan debu. “Aku akhirnya menemukanmu.”

Tatapan Ye Chen langsung menajam saat ia mengenali wajah itu dalam sekejap. Justru karena mengenalinya, ekspresinya berubah semakin serius.

“...Lu Feng?” ucap Ye Chen dengan nada ragu.

Nada suaranya rendah, hampir tak percaya.

“Putra Mahkota Dinasti Leiting?” tanya Ye Chen dengan nada waspada.

Pemuda itu—Lu Feng—mengangguk pelan, meski tubuhnya nyaris roboh.

Ye Chen tidak langsung menurunkan kewaspadaannya. Tatapannya bergerak cepat dari wajah Lu Feng, ke darah di pakaiannya, lalu ke bayi di pelukannya.

Ada sesuatu yang sangat salah.

Sangat salah.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Ye Chen, dingin namun terukur. “Dan kenapa kau membawa bayi di tengah medan perang?”

Lu Feng tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Melainkan tawa pahit dari seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.

“Karena...” ujarnya serak, “aku sudah tidak punya tempat lain untuk dituju.”

Ye Chen menyipitkan mata.

Ia mengenal Lu Feng sebagai putra mahkota Dinasti Leiting—seorang jenius muda yang terkenal menguasai elemen petir emas, pewaris sah garis keturunan kekaisaran. Mereka bukan teman dekat, tapi pernah bertemu beberapa kali dalam pertemuan rahasia antar dinasti beberapa tahun lalu.

Dan lebih dari itu...

Lu Feng tahu persis siapa Ye Chen sebenarnya.

Bukan sekadar pendekar pengembara.

Melainkan salah satu anggota dari kelompok legendaris yang pernah mengguncang dunia.

Tujuh Pendekar Pedang Legendaris.

Tujuh orang yang pernah berdiri di garis depan dan menumbangkan makhluk kuno dari jurang kehancuran—monster purba yang nyaris menelan seluruh daratan.

Nama mereka dulu dipuja.

Kini... tinggal kenangan pahit.

Lu Feng menatap sekeliling, seolah memastikan tidak ada siapa pun yang menguping. Lalu ia melangkah lebih dekat.

“Mana yang lain?” tanyanya pelan. “Mana rekan-rekanmu?”

Pertanyaan itu membuat tubuh Ye Chen menegang.

Sejenak, suasana di ruangan itu berubah.

Dingin.

Mencekam.

Mata Ye Chen meredup, namun aura di sekelilingnya justru menajam seperti bilah pedang yang baru diasah. Udara di dekatnya bergetar tipis, seakan setiap partikel debu ikut merasakan niat membunuh yang terpendam.

Kilasan masa lalu melintas di benaknya—jeritan, api, darah, serta tubuh-tubuh yang tak sempat ia selamatkan. Tangannya pun mengencang di gagang pedang.

Namun sebelum suasana berubah menjadi pertarungan, Lu Feng justru berlutut.

Ye Chen terdiam dan bingung.

Lu Feng, putra mahkota sebuah dinasti besar, berlutut di atas lantai berdebu dengan bayi masih dalam pelukannya.

Kepalanya tertunduk.

Suara yang keluar dari bibirnya kali ini bukan lagi suara seorang pangeran.

Melainkan suara seorang kakak yang putus asa.

“Aku tidak datang untuk bertarung, Ye Chen.” Napas Lu Feng bergetar. “Aku datang untuk memohon.”

Ye Chen menatapnya tanpa berkata-kata.

Lu Feng mengangkat bayi itu perlahan.

“Bawa dia pergi.”

Ye Chen mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Bawa bayi ini pergi sejauh mungkin.” Suara Lu Feng pecah, namun ia tetap memaksa dirinya tegar. “Dia adikku.”

Ye Chen membeku.

Tatapannya beralih ke bayi kecil itu.

Wajahnya masih merah karena terlalu lama menangis. Matanya bahkan belum benar-benar terbuka sempurna. Jari-jari mungilnya mengepal kecil di balik kain sutra.

“Lu Feng...” suara Ye Chen merendah. “Kau sudah gila?”

“Aku berharap aku memang gila,” balas Lu Feng dengan senyum pahit.

Ye Chen melangkah mendekat, suaranya berubah tajam.

“Kau membawa putra keluarga kekaisaran ke tempat seperti ini? Apa kau tahu berapa banyak pembunuh yang akan mengejarnya? Apa kau paham bahwa siapa pun yang membawanya akan ikut diburu sampai ke ujung dunia?”

Lu Feng mengangkat wajah.

Tatapan matanya lurus menembus mata Ye Chen.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kenapa datang padaku?”

Karena untuk sesaat, di balik sorot dingin Ye Chen, Lu Feng masih melihat satu hal yang belum mati sepenuhnya—

kehormatan seorang pendekar.

“Karena hanya kau yang mungkin masih bisa menyelamatkannya.”

Ye Chen terdiam.

Lu Feng menarik napas dalam, lalu berkata pelan, seolah setiap kata yang ia ucapkan terasa lebih berat daripada luka di tubuhnya.

“Dulu, seluruh dunia percaya bahwa kelompok tujuh pendekar pedang legendaris lah yang akan mengakhiri perang antar sepuluh dinasti.”

Mata Ye Chen sedikit menyempit.

“Tapi ramalan itu berubah.”

Suasana mendadak terasa lebih berat.

Ye Chen tidak menyela.

Dan Lu Feng pun melanjutkan.

“Ramalan kuno dari Paviliun Bintang Surgawi telah dibuka tiga bulan lalu. Mereka mengatakan... akan lahir seorang anak dari garis darah Petir Kuning Leiting. Seorang anak yang kelak akan menyatukan sepuluh dinasti, mengakhiri perang yang berlangsung selama ratusan tahun, dan membawa dunia memasuki era baru.”

Lu Feng menunduk menatap bayi di tangannya.

Suaranya melemah.

“Anak itu adalah dia.”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Ye Chen benar-benar berubah.

Ia menatap bayi itu lebih lama.

Bukan sebagai bayi biasa.

Melainkan sebagai pusat badai yang bahkan belum cukup besar untuk memahami bahwa seluruh dunia sedang berusaha membunuhnya.

“Siapa yang tahu soal ramalan ini?” tanya Ye Chen pelan.

“Semua orang yang seharusnya tidak tahu,” jawab Lu Feng getir.

Lalu rahangnya mengeras.

“Dinasti Huangtu, Longhuang, Moyuan, dan Fenyan telah bersekutu. Mereka meluncurkan serangan mendadak . Istana utama jatuh hanya dalam waktu kurang dari satu jam.”

Nada suaranya mulai bergetar.

Bukan karena takut.

Tetapi karena luka itu masih terlalu segar.

“Ayahku...” Lu Feng menggigit bibirnya keras, hingga darah tipis mengalir. “Kaisar... gugur saat mempertahankan aula utara.”

“Dan ibuku... mati sambil memeluk adikku agar tidak direbut dari tangannya.”

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Bahkan tangisan bayi pun seakan menjadi lebih pelan.

Ye Chen tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Terkadang, tidak ada kata yang cukup untuk menghibur kehilangan seperti itu.

Lu Feng menelan ludah, lalu mengangkat tangan kecil bayi itu agar Ye Chen bisa melihat kalung mungil yang menggantung di lehernya.

Kalung itu terbuat dari logam emas pucat, berbentuk petir bercabang tiga, dengan ukiran karakter kuno di bagian belakang.

“Namanya Yel Feng,” ucap Lu Feng lirih. “Adik kandungku. Darah terakhir keluarga kekaisaran Leiting.”

Ye Chen memandangi kalung itu cukup lama.

Ia tahu lambang itu.

Lambang inti garis darah kekaisaran.

Sesuatu yang, jika terlihat orang yang tepat, akan mengundang malapetaka tanpa akhir.

“Kau harus menyembunyikan identitasnya,” kata Lu Feng. “Ganti namanya. Buang semua jejak keluarga kekaisaran darinya. Anggap dia anakmu sendiri jika perlu.”

Ye Chen mengangkat alis.

“Anakku?”

“Apa pun yang diperlukan agar dia hidup.”ujar lu feng

Kalimat itu diucapkan tanpa ragu.

Dan justru karena tanpa ragu itulah, Ye Chen menyadari satu hal—

Lu Feng benar-benar sudah menyerahkan segalanya.

“Dengarkan baik-baik.” Lu Feng menatap Ye Chen dengan sangat serius. “Aku sudah menyegel sebagian besar kekuatan garis darahnya.”

Ye Chen sedikit terkejut.

“Segel?”

Lu Feng mengangguk.

“Darah ‘Petir Kuning Surgawi’ di tubuhnya terlalu mencolok. Jika tidak disegel, para ahli spiritual dari dinasti lain bisa melacak auranya dari jarak ratusan li.”

Ia menempelkan dua jari ke dahi bayi itu.

Jejak cahaya kuning tipis sempat berpendar sesaat, lalu lenyap.

“Aku menutup jalur auranya, menyamarkan , dan menahan kebangkitan garis darahnya untuk sementara.”

Tatapan Lu Feng berubah muram.

“Tapi segel itu tidak akan bertahan selamanya.”

Ye Chen menghela napas pelan.

“Berapa lama?”

“Enam belas tahun.”

Mata Ye Chen langsung terangkat.

Lu Feng menatapnya mantap.

“Saat dia berusia enam belas tahun, segel itu akan mulai retak. Pada saat itu...” suara Lu Feng melambat, “aku akan mencarinya.”

“Kau yakin akan hidup selama itu?” tanya Ye Chen, datar namun jujur.

Lu Feng tersenyum tipis.

Senyum yang getir, namun keras kepala.

“Aku harus hidup.”

Ia berdiri perlahan, meski tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan.

“Aku akan kembali.”

Matanya yang semula penuh duka, kini menyala oleh tekad.

“Aku akan merebut kembali takhta ayahku. Aku akan membangun ulang Dinasti Leiting dari abu kehancuran. Dan ketika waktunya tiba...” ia menatap bayi itu untuk terakhir kalinya, “aku akan kembali untuk adikku.”

Tangisan bayi kembali terdengar.

Kali ini lebih pelan.

Seolah ia bisa merasakan perpisahan yang bahkan belum mampu ia pahami.

Lu Feng memejamkan mata sesaat.

Lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyerahkan bayi itu kepada Ye Chen.

Ye Chen menerima bayi itu dengan canggung.

Ia lebih terbiasa memegang pedang daripada menggendong kehidupan sekecil ini.

Tubuh bayi itu hangat.

Rapuh.

Ringan.

Dan entah kenapa, beban di tangannya terasa jauh lebih berat daripada pedang mana pun yang pernah ia ayunkan.

“Jangan biarkan dia mati,” bisik Lu Feng.

Untuk pertama kalinya, suara seorang pangeran terdengar benar-benar hancur.

Ye Chen menatap bayi itu.

Lalu menatap Lu Feng.

Dan tanpa sadar, sesuatu dalam dirinya yang telah lama membeku... bergerak lagi.

Ia menghela napas pendek.

“Aku akan membawanya pergi.”

Lu Feng menutup mata sesaat, seperti seseorang yang akhirnya diizinkan bernapas setelah sekian lama tenggelam.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar.

Dari luar bangunan tua, terdengar teriakan keras.

“Cari ke segala arah!”

“Putra Mahkota Leiting tidak mungkin jauh!”

“Bayi itu harus ditemukan!”

Ekspresi Lu Feng langsung berubah.

“Sudah terlambat.” Ia melangkah mundur sambil mengusap darah di sudut bibirnya. “Mereka sudah dekat.”

Ye Chen mengencangkan pelukannya pada bayi itu.

“Lalu kau?”ujar ye Chen

Lu Feng menoleh ke arah pintu yang terbuka.

Tatapan matanya kini bukan lagi tatapan seorang kakak.

Melainkan tatapan seorang pewaris takhta yang telah memutuskan untuk menukar hidupnya demi satu kesempatan terakhir.

“Aku akan menahan mereka.”ujar lu feng

Ye cen

“Lu Feng—”

“Pergi!” bentaknya tiba-tiba.

Ye Chen terdiam.

Lu Feng tidak menoleh lagi.

“Kalau kau masih punya sedikit rasa hormat pada orang-orang yang telah mati malam ini...” suaranya merendah, namun jauh lebih berat, “maka pastikan adikku tetap hidup.”

Suasana hening sejenak.

Lalu Ye Chen berbalik.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melompat keluar melalui jendela samping bangunan tua itu, membawa bayi kecil di pelukannya, menyelinap ke jalur reruntuhan menuju hutan luar.

Dan sejak saat itu mereka mulai diburu.

( Masa Sekarang )

Napas Ye Chen semakin cepat, sementara kakinya terasa sangat berat seolah diseret oleh batu.

Darah dari luka di bahunya terus menetes, meninggalkan jejak samar di tanah. Ia tahu, jika jejak itu ditemukan, para pengejar akan segera menyusulnya.

End Chapter 1

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!