NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon suami

"Kita pergi dari sini. Aku ingin bicara," bisik Rafan. Suaranya rendah, namun mengandung penekanan yang tak bisa dibantah.

"Hhh, aku tidak mau pergi denganmu," tolak Myra lugas. Ia menyunggingkan senyum sepat, menantang dominasi pria di depannya.

Rafan justru mengikis jarak tanpa ragu. "Menurutlah, atau kulumat bibirmu di depan pria itu."

"Brengsek! Apa dia pikir bisa mengancamku begitu saja?" gerutu Myra dalam hati. Ia beruntung sempat menghindar saat wajah Rafan nyaris bersentuhan dengannya. Napas pria itu terasa panas di kulitnya.

"Kamu pikir ini hanya gertakan?" Rafan menggeleng lirih. Secepat kilat, lengannya merangkul pinggang ramping Myra, mengunci pergerakan gadis itu dengan mudah. Ia sengaja mempererat pelukan, memastikan Myra merasa terpojok dan tidak meremehkan peringatannya.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?" pekik Yosep dari kejauhan.

Sedari tadi, Yosep tak melewatkan satu detik pun. Meski telah setuju memberi ruang, ia tetap waspada. Matanya menatap tajam, siap bertindak jika keadaan mencurigakan.

"Kami hanya ingin berfoto," sanggah Rafan santai. Ia menarik tubuh Myra lebih rapat, lalu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Gerakannya begitu mulus seolah sudah direncanakan matang.

"Berfotolah tanpa harus menyentuhnya!" tegas Yosep, suaranya naik satu oktav.

"Baik, aku mengerti!" sahut Rafan keras, lalu menunduk ke arah Myra. "Ayo ikut aku, atau kucium sekarang," bisiknya dengan senyum mengancam.

Myra menggeliat, berusaha melepaskan diri dari lilitan lengan kekar itu. Ia mendorong dada Rafan, namun kekuatannya tak sebanding. Di sisi lain, ia mati-matian menjaga rahasia, Yosep tidak boleh tahu identitas asli Rafan atau kerumitan hubungan mereka. Jika bukan karena situasi yang terjepit, Myra pasti sudah melayangkan tendangan ke selangkangan pria arogan ini.

"Myra, jangan buat aku menunggu..." suara Rafan merendah, terdengar berbahaya.

"Ck, baiklah. Tapi biarkan aku berpamitan dulu," ujar Myra sambil menunjuk ke arah Yosep.

Alis Rafan bertaut. "Kenapa harus pamit?" Ia merasa muak melihat perhatian Myra pada pria yang dianggapnya sebagai rival.

"Kamu ingin dia curiga dan mengikuti kita?" gumam Myra datar.

Argumen itu berhasil. Meski ragu, Rafan perlahan mengangguk. "Kamu benar. Pergilah, tapi cepat kembali."

Rafan melepas rangkulannya dengan berat hati. Rasanya seperti membiarkan burung peliharaan terbang bebas, ada ketakutan ia tak akan kembali. Ia menatap punggung Myra yang menjauh dengan cemas. "Jangan coba-coba untuk kabur dariku."

...----------------...

"Semoga Yosep tidak curiga," batin Myra saat mendekat.

"Yosep, sebenarnya masih banyak penggemar yang mengantre foto. Ini akan lama. Bagaimana kalau kamu pulang duluan? Lagipula aku bawa mobil sendiri," ucap Myra mencoba meyakinkan.

"Aku bisa menunggu. Pastikan saja kamu cepat," balas Yosep datar.

Myra memutar otak. Matanya menangkap papan nama sebuah toko di seberang jalan. Sebuah ide muncul.

"Ng, kalau begitu... sambil menunggu, bisa tolong belikan aku pembalut di depan sana?" Myra menunjuk swalayan.

Yosep terbelalak. "Apa?! Setelah tujuh tahun berpisah, hal pertama yang kamu minta saat kita bertemu kembali adalah... pembalut?"

"Hm," Myra mengangguk dengan senyum yang dipaksakan manis. Saat Yosep tampak ragu, Myra langsung menekuk bibirnya. "Tapi kalau tidak mau, ya sudah."

Sifat angkuh Yosep runtuh seketika. Ia tak pernah tahan melihat Myra bersedih. "Hhh---baiklah, akan kubelikan. Tapi sebelumnya, beri aku pelukan." Yosep merentangkan tangan.

Demi menyingkirkan Yosep secepat mungkin, Myra masuk ke dalam dekapan itu. Ia membalas pelukan Yosep sekilas, lalu segera menarik diri.

"Sudah! Cepat pergi. Cari yang ukurannya paling panjang, ya!"

"Panjang? Memangnya benda itu ada ukurannya?" Yosep mengernyit jijik.

"Tentu saja! Cari di internet atau tanya pelayannya," sahut Myra. Setidaknya itu bukan dusta sepenuhnya, dia memang sedang kedatangan tamu bulanan.

"Kamu yakin pria tadi tidak macam-macam? Dia menyentuhmu---"

"Sudah, tidak apa-apa. Itu biasa bagi penggemar. Kalau mereka kelewatan, aku bisa memukulnya sendiri," sanggah Myra sambil terkekeh dan mengepalkan tangan.

Begitu Yosep menyeberang jalan, Myra segera berbalik menghampiri Rafan. "Cepat, katakan apa maumu?"

Rafan diam. Rahangnya mengeras. Ia menyaksikan setiap detik pelukan Myra dan Yosep tadi, dan api cemburu membakar dadanya. Tanpa kata, ia menyentak tangan Myra, menyeret gadis itu menuju gang kecil yang sepi.

"Yang kumau adalah kamu," desis Rafan di balik geraman giginya.

"Cukup! Kamu terlalu berlebihan!" protes Myra, meronta sekuat tenaga. "Dengan alasan menyelamatkanku, kamu bersikap sok berkuasa!"

Sanggahan itu justru membuat amarah Rafan memuncak. Ia mencengkeram pergelangan tangan Myra hingga gadis itu meringis. "His, lepaskan!"

"Jangan harap," balas Rafan dingin. "Bukankah kamu suka diperlakukan seperti ini? Kamu bahkan menerima pelukan dan ciuman dari pria lain setelah aku tidak sengaja bicara kasar padamu."

"Aw---lepaskan! Kamu menyakitiku!"

Melihat wajah Myra yang mengernyit kesakitan, Rafan tersentak. Ia segera melonggarkan cengkeramannya, seolah baru sadar dari kesurupan amarah.

"Apa yang kamu lak---" Kalimat Myra terputus saat jemari Rafan menyentuh pipinya.

Keheningan menyergap. Rafan menempelkan keningnya pada kening Myra. Myra terpaku, napasnya tertahan. Ia bisa merasakan tubuh pria di depannya gemetar hebat.

"Maaf, Myra. Aku marah melihatmu dengan pria lain," bisik Rafan tanpa menjauh. Ia membuka matanya, menatap langsung ke dalam manik mata Myra. Tatapannya terlihat sangat rapuh sekaligus berbahaya. "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Rasanya... aku bisa membunuh pria tadi tanpa rasa menyesal sedikit pun."

Myra terdiam. Ia merasakan getaran di lengan Rafan yang masih menahannya. "Dia gemetaran?" Hati Myra berdenyut nyeri melihat ketakutan yang tersirat di mata pria itu.

"Tolong, jangan terima sentuhan dari pria mana pun. Aku mohon..." pinta Rafan, suaranya kembali melembut, memelas.

"Dia calon suamiku," ucap Myra datar.

Kata-kata itu seperti belati yang menghujam jantung Rafan. Genggamannya melemah. "Kamu bercanda, kan?"

"Tidak."

"Apa kamu mencintainya? Apa dia membuat hatimu berdebar? Apa dia selalu ada di pikiranmu?"

"Aku tidak akan menjawab pertanyaan dari orang asing. Berhenti bertanya dan menjauhlah dariku!" Myra mengumpulkan kekuatan, mendorong tubuh kekar Rafan dan melangkah pergi.

Hatinya bergejolak. Ia menyesal telah mengatakan kebenaran, namun ini adalah satu-satunya cara agar Rafan menjauh. Ia harus tegar. Hubungan di antara mereka adalah kemustahilan, seperti lebah yang mencoba menumbuhkan bunga pada kaktus berduri.

"Kamu tidak mencintainya!" pekik Rafan, menyambar tangan Myra tepat sebelum gadis itu menjauh. Ia melangkah mendekat dengan keyakinan baru. "Kamu tidak mau menjawab pertanyaan orang asing? Baiklah..."

Rafan menyibak helai rambut yang menghalangi leher jenjang Myra, lalu mengusap pipinya lembut. Myra terpaku, tak mampu mengelak dari pesona gelap pria itu.

"Bahkan jika kamu mencintainya, akan kupastikan cinta itu mati," bisik Rafan tepat di telinga Myra. "Lalu orang asing inilah yang akan merebut dan mengisi seluruh hatimu! Ingat itu, Myra. Ini bukan sekadar ancaman. Ini janjiku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!