Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Setelah dzikir selesai, suasana kamar kembali hening.
Jam dinding berdetak pelan, sementara angin malam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Aroma kayu gaharu samar memenuhi ruangan, bercampur dengan hawa dingin menjelang dini hari.
Keira masih duduk di atas sajadahnya.
Entah kenapa ia belum ingin beranjak.
Sedangkan Gus Zayn menatap tasbih di tangannya sebentar sebelum akhirnya meletakkannya perlahan.
“Kamu lelah?” tanyanya lembut.
Keira menggeleng kecil. “Enggak.”
“Lalu kenapa diam saja?”
Keira menunduk menatap jemarinya sendiri. “Saya cuma... bingung.”
“Bingung apa?”
Gadis itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih,
“Kenapa Gus baik sekali sama saya?”
Pertanyaan itu membuat Gus Zayn memandangnya beberapa detik tanpa bicara.
Keira tertawa kecil hambar. “Saya bahkan belum bisa apa-apa.”
“Saya belum bisa ngaji dengan benar.”
“Belum hafal doa.”
“Shalat juga masih sering salah.”
Suaranya makin mengecil di akhir kalimat.
“Apa Gus nggak kecewa punya istri seperti saya?”
Hening.
Malam terasa semakin sunyi.
Lalu perlahan, Gus Zayn menghela napas kecil dan menggeser duduknya sedikit lebih dekat pada Keira.
“Lihat saya.”
Keira ragu-ragu mengangkat wajahnya.
Tatapan Gus Zayn begitu tenang.
“Kalau saya ingin perempuan yang sempurna,” ucapnya pelan, “maka saya akan kecewa sejak awal.”
Keira terdiam. Ia menunggu kalimat selanjutnya dari pria itu.
“Tapi saya menikahi manusia.” lanjut pria itu lembut. “Dan manusia itu tempatnya salah.”
Mata Keira mulai memanas perlahan.
Gus Zayn tersenyum tipis.
“Saya tidak butuh istri yang langsung sempurna.”
“Tapi saya ingin seseorang yang mau berjalan bersama saya. Pelan-pelan.”
Suara pria itu rendah sekali.
Namun setiap katanya terasa hangat di hati Keira.
“Dan saya melihat itu ada pada kamu.”
Keira menunduk cepat karena air matanya hampir jatuh.
“Kenapa nangis?” tanya Gus Zayn pelan.
“Saya nggak nangis...” bantahnya lirih dengan suara bergetar.
Gus Zayn tersenyum kecil, lalu tanpa banyak bicara ia mengulurkan tangan dan mengusap pelan puncak kepala Keira.
Gerakannya lembut sekali.
Seolah sedang menenangkan sesuatu yang rapuh.
“Tidak perlu takut salah saat bersama saya.” ucapnya lirih.
Kalimat itu runtuh begitu saja di hati Keira.
Air mata Keira jatuh perlahan membasahi pipinya. Ia buru-buru menunduk lebih dalam, merasa malu karena menangis di depan Gus Zayn. Jemarinya sibuk mengusap wajah sendiri dengan tergesa.
“Maaf...” gumamnya lirih.
Namun bukannya menjauh, Gus Zayn justru menatapnya semakin lembut.
“Kenapa minta maaf lagi?”
Keira menggeleng kecil. “Saya cengeng.”
“Menangis bukan berarti lemah.”
Suara pria itu rendah dan tenang, membuat dada Keira kembali terasa sesak oleh kehangatan yang asing.
Gus Zayn lalu mengambil sapu tangan kecil di sampingnya dan mengulurkannya pada Keira.
“Nih.”
Keira menerimanya pelan. “Makasih...”
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Tidak canggung.
Justru terasa nyaman.
Di luar sana, suara jangkrik malam terdengar samar bersahutan. Sedangkan di dalam kamar itu, lampu kecil di sudut ruangan memantulkan cahaya hangat pada wajah Gus Zayn yang terlihat teduh.
“Gus...” panggil Keira pelan.
“Hmm?”
“Kenapa Gus sabar banget?”
Pertanyaan itu membuat Gus Zayn tersenyum tipis.
“Karena dulu saya juga belajar.”
Keira sedikit terkejut. “Gus?”
“Saya tidak langsung menjadi seperti sekarang, zaujati.”
Tatapan pria itu turun sebentar, seolah mengingat sesuatu.
“Semua orang punya prosesnya masing-masing.”
Keira memperhatikannya diam-diam.
Entah kenapa...
Semakin lama berbicara dengan Gus Zayn, semakin ia sadar bahwa pria itu tidak pernah meninggikan dirinya meski memiliki banyak ilmu.
Justru sebaliknya.
Ia selalu berbicara seolah Keira adalah seseorang yang layak dipahami.
“Mulai sekarang,” ujar Gus Zayn pelan, “jangan takut bertanya pada saya.”
Keira menggigit bibir bawahnya kecil. “Kalau saya banyak nggak taunya?”
“Maka saya akan mengajarinya.”
“Kalau saya lupa terus?”
“Saya ingatkan.”
“Kalau saya salah?”
“Saya benarkan pelan-pelan, Zaujati..”
Jawaban-jawaban itu keluar begitu mudah dari bibir Gus Zayn.
Dan semuanya berhasil membuat hati Keira terasa semakin hangat.
Gadis itu menunduk malu kecil. “Gus bikin saya pengen nangis lagi.”
Terdengar tawa rendah dari Gus Zayn.
“Baru juga reda.”
Keira ikut tertawa kecil di sela matanya yang masih basah.
Gus Zayn memandang wajah gadis itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Keira.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah mau belajar bersama saya.”
Deg.
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Keira bergetar lebih hebat dari sebelumnya.
*
Pagi datang perlahan bersama udara dingin khas pesantren.
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar, jatuh lembut di lantai dan sajadah yang masih terbentang sejak tadi malam.
Keira membuka matanya pelan.
Beberapa detik gadis itu hanya diam menatap langit-langit kamar, sebelum ingatannya kembali pada semalam—shalat tahajud, suara lembut Gus Zayn, dan semua ucapan pria itu yang masih terasa hangat di hatinya.
Tanpa sadar, bibir Keira sedikit tersenyum.
Namun senyum itu langsung menghilang saat ia menyadari satu hal.
“Ya Allah...” gumamnya panik kecil.
Ia ketiduran setelah dzikir semalam.
Keira buru-buru bangun dan merapikan selimut tipis yang ternyata menutupi tubuhnya. Gadis itu sempat membeku bingung.
“Perasaan semalam nggak pakai selimut...”
Pipinya langsung memanas sendiri.
Tidak perlu berpikir lama untuk tahu siapa yang menyelimutinya.
Sedangkan di sisi lain kamar, Gus Zayn ternyata sudah tidak ada.
Hanya tersisa aroma samar minyak kasturi dan sebuah gelas air hangat di atas meja kecil.
Keira menatap gelas itu beberapa detik.
Dan lagi-lagi, dadanya terasa hangat oleh perhatian kecil pria itu.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Keira, sudah bangun nduk?” suara Ummi Halimah terdengar lembut dari luar.
“I-iya Ummi!”
Keira buru-buru membuka pintu.
Ummi Halimah tersenyum hangat melihat wajah gadis itu yang masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
“Sudah cuci muka?”
Keira langsung malu sendiri. “Belum...”
Tawa kecil Ummi Halimah terdengar pelan. “Kalau begitu cepat siap-siap. Temani Ummi ke dapur ya.”
“Ke dapur?”
“Iya. Hari ini belajar masak.”
Mata Keira langsung membulat sedikit.
Jujur saja...
Memasak bukan keahliannya.
Namun melihat senyum lembut Ummi Halimah, Keira akhirnya mengangguk pelan.
“Baik Ummi.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dapur ndalem.
Suasana dapur terasa hangat oleh aroma bawang goreng dan suara minyak yang berdesis pelan di atas wajan.
Beberapa santri putri membantu di sudut dapur, sementara Ummi Halimah berdiri di dekat meja kayu sambil menyiapkan bahan masakan.
“Nah, sekarang coba iris bawangnya.” ujar beliau lembut.
Keira menelan ludah pelan.
Ia memegang pisau dengan canggung sekali.
Ummi Halimah yang melihat itu langsung tersenyum geli. “Belum pernah masak?”
Keira tertawa kecil malu. “Jarang banget, Ummi.”
“Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja.”
Kalimat itu terdengar begitu mirip dengan seseorang.
Dan tanpa sadar, Keira langsung teringat Gus Zayn.
Sampai akhirnya—
“Aduh!”
Keira meringis kecil saat jarinya tidak sengaja terkena pisau.
Ummi Halimah langsung panik. “Astaghfirullah, sini Ummi lihat.”
Namun sebelum Keira sempat menjawab, sebuah suara tenang terdengar dari arah pintu dapur.
“Kenapa?”
Keira spontan menoleh.
Dan mendapati Gus Zayn berdiri di sana dengan tatapan yang langsung jatuh pada jarinya yang terluka kecil.